ISTRI CADANGAN

ISTRI CADANGAN
Episode 6


__ADS_3

“Bi, tadi ke mana?” tanya Ibra saat kembali lagi ke dapur setelah selesai membersihkan diri. Rahma sudah tidak terlihat di sana.



“Pergi ke supermarket, Pak. Beli kebutuhan dapur.” Bi Mirna langsung memberikan teh hangat kepada Ibra. Sesuai pesanan Rahma.



“Bapak ke mana saja? Sibuk sekali sepertinya?” Bi Mirna berdiri di samping Ibra yang duduk di kursi.



“Pekerjaan saya banyak, kemarin terlalu lama berlibur.” Ibra memang mengurus pekerjaan yang terbengkalai. Selain itu, dia merasa belum siap satu atap bersama Rahma tanpa kehadiran Marrisa.



Selama satu minggu ini juga komunikasinya dengan Marrisa berlangsung lancar. Walaupun di setiap pembicaraan Marrisa mengungkit Rahma, Ibra tetap menikmatinya.



Dia merindukan Marrisa. Merindukan malam-malam mesra yang baru saja mereka nikmati. Ini terlalu singkat, Ibra sadar inilah risiko yang sudah diingatkan Marrisa sebelumnya.



Ada Rahma di dekatmu, Ibra. Dia halal bagimu. Mendadak suara Marrisa terngiang di kepala Ibra.



“Di mana dia sekarang, Bi?” tanya Ibra.



Seolah tahu maksud sang majikan, Bi Mirna tersenyum lagi. “Maksudnya Ibu Rahma?”



Mendengar panggilan ‘Ibu Rahma’ membuat Ibra menaikkan alisnya. “Kenapa dia juga dipanggil seperti Ibu Marrisa?”



“Dia juga istri Bapak, kan?”



Ibra menyesap teh hangat pelan. Dia harus tenang, menerima status Rahma di rumah ini. Kedudukannya sama dengan Marrisa. Hanya saja, Marrisa tidak ada di sini sampai waktu yang belum bisa dipastikan.



“Orangnya baik, Pak. Pintar masak, membuat kue. Dan setelah dekat, dia sangat bawel. Bibi merasa mudah dekat dengannya. Apalagi dia suka berkebun, bunga di taman belakang dia yang merawat. Bibi serasa melihat Nyonya Nadira di rumah ini.”



Ibra semakin bingung dengan ucapan Bi Mirna.



“Kenapa Bibi jadi promosiin dia? Jangan samakan dia dengan Mama. Jelas berbeda,” desis Ibra kesal.



“Bibi tidak bilang sama, tapi memang mirip. Cobain deh, ini brownies buatan Ibu Rahma. Ini kedua kalinya dia membuat dan rasanya mirip buatan Nyonya Nadira.” Bi Mirna membuka tudung saji. Kebetulan brownies buatan Rahma memang sudah jadi. Ibra mencoba sesuap rasa brownies itu. Rasanya sungguh mirip buatan sang mama, hati Ibra tidak bisa berbohong. Bahkan saat tadi dia sampai ke rumah, aroma kue ini memang menyambutnya. Ibra merasa seperti pulang ke rumah orangtuanya.



Ibra sempat menduga kehadiran sang mama di rumah ini, meskipun kemungkinan itu sangat tipis. Mengingat rumah ini masih rahasia, Ibra belum memberitahukan rumah ini kepada orangtuanya. Terlalu berbahaya. Terlebih kehadiran Rahma, rahasia ini harus dijaga selamanya.



“Enak, kan?” Lamunan Ibra terganggu oleh suara Bi Mirna.



“Iya mirip,” jujur Ibra.



“Semoga Bapak selalu perhatian dengan Ibu Rahma. Dia sepertinya orang baik.”



Ibra mencemooh dalam hati. Baik tapi menjual bayinya.

__ADS_1



“Sekarang dia di mana?” tanya Ibra. Suka tidak suka, Ibra memang harus mencoba dekat dengan Rahma. Membayangkannya saja sudah membuat kepalanya pusing. Marrisa, anak, dan pernikahan. Semua menjadi satu, bahkan ditambah Rahma.



“Aku akan menemuinya.” Ibra mengatur napas tenang. Harus dihadapi. Ibra berdiri dan segera melangkah naik ke atas. Tempat Rahma berada.



Ibra harus membicarakan kesepakatan dan perjanjian antara Rahma dan Marrisa. Ibra yang akan menyelesaikannya. Marrisa sudah berpesan perihal uang yang Rahma terima dan pelunasannya. Mengingat itu membuat Ibra semakin tak percaya. Rahma benar-benar menjual darah dagingnya demi uang.



Setelah menaiki tangga, Ibra melihat sosok istri keduanya kembali. Masih berpakaian sama seperti sebelumnya, Rahma duduk di sofa yang tersedia di sana. Menatap layar televisi dengan mata menerawang tak jelas. Anehnya, Rahma juga sedang menyelipkan earphone di telinganya. Sepertinya sedang mendengarkan lagu. Ibra menggelengkan kepala, dasar wanita aneh.



“Rahma, bisa kita bicara?” Rahma sepertinya tak sadar jika Ibra sudah berdiri di sampingnya.



“Rahma,” panggil Ibra lagi, Rahma masih setia mendengarkan lagu. Ibra melihat Rahma menggerakkan kepalanya santai.



Dan dengan gerakan tak terduga, Rahma sedikit terkejut. Dia langsung menatap ke arah sampingnya. Ibra baru saja menarik pelan telinga Rahma. “Bisa kita bicara?” ucap Ibra tak memedulikan reaksi tak suka Rahma. Ibra melewati Rahma untuk duduk di sofa sampingnya.



“Bisa sapa aku dengan sopan, kan?” sinis Rahma kesal. “Aku bukan anak kecil yang nakal.” Rahma mengusap pelan telinga yang baru saja ditarik Ibra.



Ibra mengangguk tak peduli. “Tadi saya sudah panggil kamu, tapi kamu tidak dengar,” jawab Ibra jujur.



“Masih ada cara lain, kan?” sinis Rahma.



“Mungkin mengagetkan kamu akan terlihat lebih main­stream.”




“Ada perlu apa?” tanya Rahma sambil memalingkan wajah. Kenapa jadi gugup, ya?



“Apa kabar?” tanya Ibra sedikit kikuk. Mendadak menatap lebih dekat pada Rahma hingga membuatnya tak bisa berkata-kata. Ibra akui, Rahma terlihat memesona. Cara berpakaian yang sederhana, sapuan riasan yang tak terlalu mendominasi. Rahma tampil apa adanya. Dia adalah Marrisa dengan versi sederhana.



“Baik,” jawaban Rahma sungguh singkat.



Ibra tak terima.



“Baik dalam arti?”



“Baik-baik saja,” jawab Rahma lagi.



“Baguslah.” Ibra mengangguk, lalu kembali meneliti Rahma. Tangan Rahma menjadi pusat perhatiannya. Di sekitar lengannya terlihat merah.



“Tangan kamu kenapa?”



“Kena ujung oven tadi.” Lagi-lagi Rahma menjawab singkat dan tetap memalingkan wajah. Ibra hampir tersulut. Seharusnya Rahma menimpali, bukankah komunikasi mereka harus bisa terjalin baik?

__ADS_1



“Sakit nggak?”



“Menurut kamu?” tanya balik Rahma. Dan kali ini Rahma berani menatap wajah Ibra. Mungkin dia mulai jengkel.



“Menurut aku sakit.” Rahma semakin jengkel mendengar jawaban Ibra.



Apa maunya pria ini? Seminggu tak memberi kabar, lalu datang tiba-tiba berperilaku sok akrab seperti sekarang.



“Sudah tahu kelihatan sakit, kenapa masih bertanya?” ketus Rahma yang semakin kesal.



“Kamu nggak tahu orang sedang berbasa-basi?” Rahma melebarkan matanya. Pria ini?



“Basa-basi apa? Kamu itu aneh, tahu nggak. Seminggu nggak ada kabar, terus sekarang datang-datang berusaha sok kenal sama aku? Lupa kalau ada istri yang lain di rumah?” Entah kenapa Rahma merasa perlu meluapkan isi hatinya. Kecewa karena ditinggal pergi. Aneh kamu Rahma, jangan berlagak sebagai istrinya sungguhan. “Maaf.” Rahma sadar sepertinya dia berlebihan. Ibra hanya diam menatap emosi Rahma.



“Anggap saja saya nggak pernah dengar gerutuan aneh kamu,” jelas Ibra tenang.



Rahma masih memalingkan wajah, walaupun mau tak mau dia harus mengangguk. “Iya.”



“Marrisa kirim salam,” ucap Ibra lagi. Rahma tidak menjawab. Ini pertama kalinya mereka duduk berdua dengan situasi yang bisa terbilang canggung. Mereka suami istri sah, padahal.



“Marrisa juga bilang, apa kamu selalu menjaga kesehatan?” Pertanyaan macam apa itu?



“Seperti yang kamu lihat,” jawab Rahma ketus lagi.



Ibra kembali menaikkan alisnya. Kenapa dia marah? “Apa saya berbuat salah dengan kamu?” Rahma ingin berdiri tetapi Ibra lebih dulu menahan tangan Rahma. Memaksa Rahma kembali duduk.



“Dengar, kita perlu bicara! Kamu tidak bodoh bukan kalau kita harus segera dekat?” Pertanyaan Ibra sungguh frontal. Rahma semakin gugup. Dia tahu harus melakukan apa dengan Ibra.



“Iya, aku tahu.”



“Karena itu kita harus membicarakannya sekarang!” Ibra menarik tangan Rahma untuk duduk satu sofa dengannya. Rahma mengikuti tanpa membantah, tangan Ibra tak bisa dilepaskan.



“Maaf kalau satu minggu ini saya tidak menemani kamu,” ucap Ibra pelan, sadar mungkin saja Rahma sama gugup dengannya. Ibra juga gugup, tetapi harus dia tahan. Sekilas Ibra merasakan dinginnya tangan Rahma. Benar, istri keduanya itu mungkin gugup. Mungkin Ibra akan mengerjainya sedikit. Tidak ada salahnya, batin Ibra bersuara.



“Kita harus terbiasa seperti ini, Rahma. Saya butuh dekat dengan kamu.”



Rahma menahan napas saat wajah Ibra mendekat ke arahnya.



Tidak, jangan sekarang!


__ADS_1



__ADS_2