
Tubuhnya terbakar dengan panas sekuat lava vulkanik dan satu-satunya yang bisa menyelamatkannya adalah pria di depannya ...... Dia berpegangan erat pada kulit seperti marmer yang dingin, nalurinya untuk bertahan hidup akhirnya membuatnya menyerahkan semuanya ...... Rasa sakit disertai dengan kesenangan yang perlahan-lahan naik sedikit demi sedikit, seperti layar kembang api yang melintas di benaknya. Membuatnya merasa seperti dia adalah satu-satunya orang yang berada di perahu lautan api ...... Bangkit, lalu tenggelam, sulit baginya untuk membebaskan dirinya sendiri.
——
"Hei, bangun …… Di sini dingin, nanti masuk angin"
Tekanan di bahunya membuat Carly bangun tiba-tiba, tatapan bingungnya bertemu dengan mata perawat yang memperhatikan. Dalam sekejap wajahnya memerah, dia berharap dia bisa merangkak ke dalam lubang tanah karena malu. Meskipun sudah lama sekali setelah malam mabuk itu, malam yang panas dengan Lucas terus muncul dalam mimpinya dari waktu ke waktu. Berkat mabuk itu, dia tidak memiliki banyak memori malam itu. Kalau tidak dia tidak tahu bagaimana menghadapi abang lucas. Perawat melihat dia akhirnya bangun dan menyerahkan kertas di tangannya kepadanya.
"Anda lupa mengambil hasil kesehatan kehamilan Anda, pak dokter ingin Anda datang lagi minggu depan!"
Carly menerima laporan itu dengan senyuman manis, dia meletakkan kertas-kertas itu dengan hati-hati di tasnya. Lucas masih di luar negeri, dia akan balik hari ini, Carly memikirkan pertemuan malam ini dengan grogi. Karena daerah tempat Lucas yang terpencil sampai anaknya lebih dari 7 bulan baru bisa menghubunginya. Carly sedikit gugup memikirkan keterkejutan yang dialami Lucas ketika dia tahu dia hamil.
Apakah itu karena dia sangat sensitif karena kehamilan?
__ADS_1
Carly merasa bahwa Lucas tidak bahagia seperti dia. Dokter menghiburnya kalau laki-laki selalu seperti itu dengan anak pertama karena mental mereka membutuhkan waktu untuk menahannya!
Tapi …… tidak mungkin mengenai pernikahan, dia harus menjadi orang pertama yang berbicara?
Cuaca yang panas ketika dia keluar dari rumah sakit. Carly berjuang untuk menopang pinggangnya, ketika dia akan memesan taksi, sebuah mobil sport merah menyilaukan bergegas ke arahnya. Jantung Carly berdebar dan mundur beberapa langkah ke belakang..
Mendengar suara melengking dari rem, mobil sport pun berhenti tiba-tiba. Hati Carly hampir berhenti karena terkejuat akan mobil sport itu. Dia melihat seorang wanita mengenakan gaun merah, menyibakkan rambutnya yang bergelombang ketika dia turun dari mobil.
Della menatapnya, tertawa dengan makna yang tersirat. Della berjalan menghadapnya dengan tangan bersilang dan bergaya sampai dia berdiri di depan Carly. Karena Della memakai sepatu hak tingginya, dia dengan angkuh memandangi Carly yang perutnya buncit.
“Apa? Takut aku akan membunuh anak banjingan di perutmu itu? " kata dari Della
Carly tanpa sadar langsung melindungi perutnya sambil mundur ke belakang, dia memandangnya dengan waspada. "Della! Jangan kelewatan! "
__ADS_1
Meskipun tahu bahwa Della selalu cari masalah dengannya, Carly tidak berpikir bahwa dia bisa mengucapkan kata-kata jahat seperti itu.
"kelewatan? Kaulah yang kelewatan! Setelah mabuk melakukannya hubungan dengan pria liar dan hamil, kamu menjadikan Lucas sebagai ayah dari anak yang kamu kandung itu dan membuat dia bertanggung jawab untuk semua ini. Tsk tsk ...... Carly, Carly bukankah kamu yang tak tahu malu! "
Carly membeku, "Omong kosong apa yang kamu katakan?"
"Hei, jangan bilang kau benar-benar percaya bahwa pria yang tidur denganmu malam itu adalah Lucas?" Della tertawa.
"Kalian adalah kekasih masa kecil tapi Kamu tidak tahu seperti apa sosoknya?"
Carly menjadi lebih pucat setelah dia mendengarkan, meskipun berdiri di bawah sinar matahari yang panas tapi seluruh tubuhnya terasa dingin.
Ya, pria di malam itu …… Dia berpikir ...... Lucas lebih kokoh dari yang dia bayangkan setelah tumbuh dewasa. Sekarang dia tiba-tiba teringat bahwa selain tubuh, pria di malam itu memang sangat berbeda dari Lucas.
__ADS_1