Jubah Merah

Jubah Merah
pertempuran melawan Karatzi.


__ADS_3

"Pak, bagaimana lukanya? Kalau berat mending kita kerumah sakit dulu" ujar pak Narto yang berdiri disamping Dario.


"Terima kasih tidak apa apa hanya goresan sedikit, kita harus bergerak cepat mencari dimana mereka" jawab Dario.


Dario menoleh kearah pak Rudi yang duduk menyender ketembok.


Ada kebencian dipikiran Dario, orang ini hampir saja membinasakannya.


Dario jongkok menghadap kearah pak Rudi, matanya tajam menatap.


"Sungguh memalukan kami dicorps polisi! Sayang sekali karir dan pangkatmu yang cemerlang hilang karena keserakahanmu! Apa maksudnya untuk membunuhku??! bentak Dario.


Pak Rudi tidak bisa menjawab ia hanya tertunduk, rencana gilanya hancur berantakan.


"Sekarang dimana posisi bosmu?" Tanya Dario.


Pak Rudi hanya menunduk, nampaknya ia tidak mau berbicara apa apa.


Plak!


Tiba tiba pak Bira yang sudah kesal dari tadi melihat enggannya Pak Rudi berbicara langsung menampar wajah pak Rudi.


"Jangan buat saya ngamuk! Karir mu sudah habis!" ia mengangkat pistol dan mengacungkan kepala Pak Rudi.


"Bos! Kita tembak aja sekalian biar mampus orang ini!" teriak pa Bira.


"Oke! Tahan! saya masih mau hidup! Kalau saya kasih tau, saya minta agar dijadikan justice collaborator" ucap Pak Rudi gugup.


"Kamu tu Ga tau malu! Gimana bos?" Tanya pak Bira.


"Oke..katakan dimana mereka" jawab Dario.


"Mereka sedang berkumpul dirumah Ratna untuk mengadakan pesta persembahan"


"Dimana itu? Di komplek Dharmo Rayakah?" Tanya Dario.


Pak Rudi menoleh kewajah Dario, seraya berkata..


"Betul..Dharmo Raya Jalan Sudirman 12" jawab Pak Rudi.


"Oke tim angkut dia! Kita ke Dharmo raya sekarang. Pak Narto, Bakir dan Patriot ikut saya, Ridwan dan pak Bira call Pak Muryanto kabareskrimsus sekarang dan bilang Minta kirim ambulan dan kepala provos setempat. Ceritakan semuanya, Minta pengawalan datang dan minta satu unit serbu ke Jalan Sudirman komplek Dharmo Raya sekarang juga!" Setelah memberikan arahan Dario dan tim langsung keluar.


"Pak! Setelah orang ini diamankan dirumah sakit, kami ijin ikut ke Dharmo Raya!" teriak pak Bira.


"Siap! Setelah dia aman dan tidak macam macam langsung kesana" Kata Dario.


...~...


Sementara itu prosesi persembahan baru saja dimulai. Karatzi nampak lahap memakan tubuh 2 korban yang terbujur Kaku diatas tempat tidur.


"Bagaimana lord Karatzi? Cukup lezatkah?" Tanya Ratna.

__ADS_1


"Hahaha! Kekuatanku bertambah! Lezat sekali persembahanmu, ini semua daging muda! Aku suka hahaha!!" Karatzi tertawa keras, dari sela sela giginya menetes darah segar.


"Kalian berdua mendekat kepadaku!" teriak Karatzi kepada Tania dan Nani.


Kedua wanita itu kaget ketika nama nama mereka dipanggil Karatzi. Tania menoleh kearah Ratna, seakan menanyakan langkah apa yang harus dilakukan.


Ratna mengedipkan satu Mata dan menganggukan kepalanya.


Tania dan Nani perlahan mendekati Karatzi.


"Kamu liat siapa disana?" ucap Karatzi sambil menunjuk kearah Alexir.


Keduanya menoleh kebelakang, mereka berdua kaget terperanjat bukan main melihat sosok Alexir yang kini berubah menjadi seorang laki laki ganteng, otot ototnya besar, dan laki laki itu tidak mengenakan busana.


"Ia sudah menunggumu..apa lagi yang kalian tunggu..berpestalah kalian!" Kata Karatzi.


Tania dan Nani dengan cepat berjalan kearah laki laki tampan itu. Ketiganya langsung tenggelam dalam nafsu yang menggebu gebu.


"Pejamkan matamu Ratna" ucap Karatzi.


Ratna memejamkan matanya, dadanya Naik turun menunggu perintah selanjutnya.


"Sekarang Buka matamu"


Ratna membuka matanya, dihadapannya berdiri seorang laki laki berambut pirang,hidung mancung dan berkata biru. Ia tampil bak seorang bintang film Hollywood.


"Ayok..kita berpesta bersama mereka" ucap Karatzi sambil menggandeng tangan Ratna.


...~...


"Oh Nuri kita sekarang menuju rumah Dharmo Raya katanya sedang diadakan persembahan disana"


"Hati hati, 2 sosok iblis ada disana, aku akan Minta Pak Narto memanggil gurunya agar bisa ikut berperang. Kamu tidak akan bisa membunuh iblis itu bahkan seluruh kekuatan polisipun belum tentu bisa" ucap Nuri berbisik ditelinga Dario.


"Baik,kami akan berhati hati"


Nuri kemudian masuk ketelinga Pak Narto membahas apa yang sedang terjadi dirumah Ratna.


"Baik terima kasih..Saya akan lakukan sekarang"


Dario menoleh kearah pak Narto..


"Bagaimana pak Narto?"


"Bapak Nanti masuk saja, Saya akan bantu dari luar..Insya Allah kita akan kuat melawannya'


Tidak lama kendaraan Dario sudah berada didepan rumah no 12 Jalan Sudirman. Nampaknya dari luar rumah itu seperti tidak Ada kegiatan apa apa. Didepan terparkir 2 kendaraan.


"Ayo kita turun, Patriot bisa ga Naik tembok itu dan buka dari dalam?"


"Bisa, saya dan Bakir akan memanjat"

__ADS_1


Dario kemudian bergerak kedekat pintu gerbang dan Patriot serta Bakir lari kesamping.


Selang beberapa menit pintu gerbang secara perlahan dibuka dari dalam. Rupanya patriot dan Bakir sudah berhasil turun dari tembok dan berlari kearah pintu gerbang.


"Kita masuk pak" bisik Patriot.


Dario memimpin didepan berlari kearah pintu masuk, gaya mereka semacam para Ninja.


Tanpa menunggu lama Dario masuk kedalam rumah, ruangan tamu terlihat lenggang tiada satu orangpun. Dario terus mengacungkan pistol kearah depan matanya liar melihat kita dan kanan. Dibelakang Dario patriot dan Bakir, mereka berpencar.


"Dario! Awas mereka ada dilantai bawah!" bisik Nuri.


"Siap" bisik Dario. Ia langsung memberikan aba aba akan turun kelantai bawah.


Dengan sekali tendangan keras pintu kamar terbuka. Suaranya tendangan itu keras, Alexir yang sedang bersenang senang dengan 2 wanita terhenyak kaget. Karatzi yang juga sedang bergumul dengan Ratna menghentikan segalanya.


2 mahluk itu merunah dirinya dalam sekejap kembali menjadi sosok sosok yang menakutkan. Ratna dan juga Tania serta Nani yang sedang terbuaipun langsung loncat, dengan cepat mencari pakaiannya yang terdengar dilantai.


Mata Dario terbelalak melihat 2 sosok mengerikan berdiri menghadap kejendela. Punggung ke2 sosok itu berwarna hitam sehitam warna kayu areng. Ditengahnya seperti ada sirip ikan hiu atau gundukan. Gundukan gundukan itu tumbuh dari batas bawah kepala terus membuat satu urutan garis gundukan sampai kebawah.


Dario sempat melihat salah satunya mempunyai tanduk seperti tanduk sapi tapi memanjang keatas dan satu lagi juga mempunyai tanduk tapi melengkung kedepan.


dengan gerakan pelan ke dua sosok itu memutar tubuhnya sekaligus menarik Jubah dari bawah lantai dan dengan santai mereka mengenakannya.


Dario, Patriot dan Bakir berdiri Kaku seperti orang yang kena sihir. Sosok apa ini? Menyeramkan sekali!


"Hehehe..Hahaha!!!" Karatzi tertawa sangat keras, suaranya melengking tinggi.


Dario tidak sanggup menerima suara itu yang masuk kegenteng telinganya. Ia menjatuhkan pistol kelantai dan menutup kedua telinganya.


"Aaaaa!!" teriaknya.


Hal mana juga diikuti Patriot dan Bakir. Ketiganya berjongkok sambil menutup telinga.


Tiba tiba Karatzi melibaskan tangan kanannya keudara. Sebuah kekuatan dahsyat melemparkan tubuh Dario dan kawan kawannya kebelakang.


Bertiga mereka jungkir balik hingga menabrak dinding tembok. Darah segar mengucur dari hidung dan telinga Dario.


Dengan susah payah Dario mencoba berdiri dibantu oleh Patriot dan Bakir.


Karatzi kembali menyerang, tangan kirinya ia angkat keatas. Kini tubuh Dario terangkat keatas, tubuhnya mengambang diudara.


"Aaaaa!!" teriak Dario, Patriot dan Bakir melihat tubuh Dario melengkung,perutnya terangkat keatas.


Tangan kiri Karatzi tiba tiba menunjuk kearah lantai. Bersamaan dengan itu Dario terhempas kelantai.


Darah segar dimuntahkan dari mulutnya, kini bukan saja hidung dan telinga. Dari mulut Dario keluar juga darah darah segar...


Patriot yang mencoba mendekat kearah Dario tiba tiba juga memuntahkan darah segar, tubuhnya menjadi lemas tidak berdaya.


Bakir yang melihat itu hanya pasrah..ia hanya bisa berdoa kepada Yang Maha Esa agar ada pertolongan yang bisa membantu mereka...

__ADS_1


...∆∆∆∆∆...


__ADS_2