
...◇◇◇...
Entah kenapa malem ini pikiran Haris kalut banget. Bukan cuma soal neneknya Echan yang mau operasi, tapi juga tentang cowo itu tadi malem.
Jadi gini kejadiannya.
Jadikan Haris lagi sedikit dongkol sama Echan soalnya dia tuh dari sore mau magrib sampai abis isya belum juga balik ke bangsal. Kan Haris juga laper pengen makan. Yakali bilang gini, "nek, Haris laper. Minta dikit ya."
Kan mustahil☺️🔨
Terus Haris ijin sama si nenek buat nyari Echan. Kebetulan juga nenek udah makan sama minum obat. Langsung deh dia cus buat nyari si muka duda itu.
Waktu ketemu, pas udah mau ngeluarin talking no jutsu, entah kenapa perasaan Haris waktu liat keadaan Echan tuh kayak, gimana ya.
Ish! Mesgul bahasa Indonesianya apa sih? Kayak terharu tapi lebih kesedih gituloh.
"Emang Echan ngerokok ya?" batinnya waktu liat cowo itu lagi duduk habisin rokoknya di dalem mobil. "Tapikan di sini ga boleh ngerokok," sambung Haris masih dalam hati.
Terus beberapa detik kemudian, ada telepon masuk. Otomatis Haris langsung pindah posisi ke belakang mobil buat menghindar.
"Eh adek, gimana? Operasi mama lancar?" Tanya Echan. Nadanya bahagia banget.
Bentar. Ini operasi apaan nih? Emaknya Echan emang sakit apaan eh? Kok Haris ga tau? Ah boro-boro Haris, orang keluarganya aja gak ada yang tau. Bahkan nenek si Haris yang statusnya ibu dari mamanya Echan aja ga tau.
"..."
"Hah?" Ini suaranya Echan langsung memelan. Terus mulai bergetar, "jangan bercanda deh. Orang tadi pagi masih teleponan sama abang."
"..."
__ADS_1
Tepat saat itu juga, Haris mendengar dengan jelas kalau Echan mulai nangis. Bahkan sudah menelungkupkan kepala ke stir mobil.
Bahu yang selalu dia lihat tegak dan penuh wibawa, perlahan bergetar, seiring dengan isak tangis yang mulai menguar. Memenuhi malam sunyi langit Solo.
Perlahan, Haris mulai menjauh. Melangkah kembali dengan pikiran yang melayang jauh. Antara penuh tanda tanya dan perasaan yang sulit diartikan.
Sampai beberapa saat kemudian, Haris berpikir, "apa si Irine gue ikhlasin aja ya?" Semisal hubungan Haris sama Echan semakin buruk, dia takut kedepannya tentang status mereka.
Lagipula memutus tali silaturahmikan juga tidak dibenarkan.
Selama perjalanan kembali itupun, Haris masih berpikir tentang apa saja yang udah disembunyikan keluarganya. Tentang bagaimana baiknya mereka, sampai tentang Echan yang selalu sungkan untuk menolak permintaan tolong orang lain.
Kecuali kalau dimintai tolong buat nikahin janda. Tentu tidak. No besar.
Meskipun dulu Echan pernah kecantol sama seseorang, tapi si doi malah udah disambet saat tu makcomblang malah ngenalin dia ke orang lain. Padahal Echan juga udah setuju banget dan mau bahas hal tersebut sama keluarganya, walaupun udah ada anak satu. Tapi masih bayi kok.
Sekarang, kepercayaan Echan sama makcomblang lansgung sirna begitu saja. Cih, cukup ya Echan dikecewakan.
"Tadi ada urusan, tapi udah mau balik kok," balas Haris yang ga tega kalo mau jujur.
Mana besok kan mau operasi. Kalau tensinya naik takut diundur lagi.
"Kamu udah makan?"
Mau jawab "belum" juga sungkan, tapi masa mau bohong lagi?😩👉🏼👈🏼 Eh tepat beberapa saat, hampir satu jam sih setelah Haris cuma haha-hihi sambil bilang kalau belum laper, Echan dateng bawa nasi bungkus.
"Belum makan kan? Nih," ucap Echan pake senyum lembut banget.
Udah kayak beda orang sama sosok yang ada di mobil tadi. Bahkan bekas nangisnya aja ga ada. Ya mungkin cuma matanya yang masih agak memerah sih, tapi keliatannya kayak lagu milik iKON.
__ADS_1
"I'M OK"
Yakin ga bohong.
"Eh makasih bang.Gue jadi ga enak." Haris membalas. Rasanya ga enak banget. Sumpah.
"Mau makan di sini apa luar?" Echan natap Haris.
Awalnya pengen di sini, tapi Haris inget kalau cuma diijinin satu orang saja buat berjaga. "Di luar aja deh. Makasih ya bro."
"Santai. Ini kartunya," kata Echan sambil ngasih Haris kartu penunggu.
Iya jadi KTP Echan ditahan selama nunggu di sini. Sebagai ganti, dia dikasih kartu penunggu sebagai identitas kalau yang makai bukan orang yang mau menjenguk.
Korona rek korona🗿
Akhirnya, dengan perasaan yang mau nangis sampai ga bisa nelen makan, Haris tetep memaksa diri buat makan. Antara sungkan sama Echan sampai kepikiran soal mamanya.
Terus dengan tangan yang belepotan sambel, Haris rogoh saku buat ambil hp. Mau menghubungi Jihan.
"Eh buset." Ternyata udah banyak panggilan tak terjawab dari keluarganya.
Dari emak, bapak, Ahfes, Niki sampai Jihan serta mbok dhe, pak dhe hingga para sepupu. Terus ada panggilan lagi dari emaknya Haris. Langsung deh dia angkat.
"Kenapa ma?" tanya Haris setelah menjawab salam.
"Bude kamu ngga ada," bales mamanya Haris to the point.
Bentar. Bude yang mana ini? Kok perasaan Haris ga enak ini. "Bude yang mana, ma?"
__ADS_1
"Mamanya Echan."
...◇◇◇...