Kehidupanku Yang Sulit

Kehidupanku Yang Sulit
Dokumen Horor Teman


__ADS_3

Dion masuk ke rumah. Pertemuannya dengan Abimanyu menyisakan sedikit luka. Ternyata fisik laki-laki itu nyaris sempurna. Pantas saja Adisti mau menjadi istrinya.


Namun, mengingat ucapan Ustaz Ramli, Dion menggeleng pelan. Mencoba menghilangkan pikiran buruk tentang Adisti. Ya, wanita itu tidak bersalah. Ustaz Ramli mengatakan bahwa Adisti terkena mantra Abimanyu. Karena itulah wanita itu mau menikah dengan makhluk tak kasatmata itu.


Saat masuk kamar, pandangan yang pertama kali ia lihat adalah Adisti yang hanya mengenakan handuk dililitkan di tubuh dan membelakanginya. Menampakkan kaki jenjang Adisti yang putih bersih. Tentu saja jiwa kelelakian Dion keluar. Namun, mengingat hubungan mereka seperti apa, segera ia membalikkan badan.


"Segera pakai baju! Jika tidak kamu akan saya terkam malam ini!" perintah Dion.


Mendengar suara Dion, segera Adisti menoleh ke sumber suara lalu berteriak.


Mendengar teriakan Adisti, dengan cepat Dion mendekati wanita itu lalu menutup mulutnya dengan tangan.


"Diamlah! Kamu pikir ini di hutan?" hardik Dion sambil berbisik.


Adisti berusaha melepaskan diri dari Dion karena laki-laki itu menutupi mulutnya dengan erat. Kemudian ia berinisiatif menggigit tangan Dion yang menutup mulutnya.


"Au! Sakit Adisti!" Dion mengibaskan tangan yang digigit Adisti.


Wanita itu segera masuk ke kamar mandi lagi setelah membawa baju ganti. Ia tidak memedulikan Dion yang terus meringis kesakitan.


"Siapa suruh masuk kamar sembarangan!" gerutu Adisti kesal sambil menutup pintu.


Sementara itu di luar, Dion mengamati tangannya yang memerah. Apalagi bekas gigitan itu terlihat jelas di tangan.


"Gila! Kasar sekali wanita itu." Dion mengelusi tangan yang sakit.


Tak lama kemudian, Adisti muncul. Kini ia sudah memakai baju lengkap. Kaos kebesaran dan hot pants di atas lutut.


"Masih sakit?" tanya Adisti pelan. Ia merasa tidak enak sudah menggigit laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu, suami di atas kertas.


"Hmm." Dion mengabaikan Adisti. Setelah melirik wanita itu, ia bergegas mengambil baju ganti lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia tidak mau tergoda dengan pesona Adisti. Belum saatnya ia menyentuh wanita itu. Ia ingat betul apa kata Ustaz Ramli beberapa waktu lalu. Jangan sampai menyentuh Adisti sebelum wanita itu benar-benar sembuh.


Merasa diabaikan, membuat Adisti merasa bersalah. Ia menghela napas lalu berjalan menuju dapur. Ia ingin membuat sesuatu untuk menebus kesalahannya. Ya, andaikan ia tidak membuka baju seenaknya dan berteriak, mana mungkin Dion akan mendekatinya dan membekap mulutnya.


Adisti lupa, bahwa dirinya sudah tidak sendiri lagi. Ada Dion yang leluasa masuk kamar.


"Mbak Darsih, masak apa?" tanya Adisti pada pengasuh ibu Dion. Wanita itu melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 7 malam.


"Anu, Non. Ini manasin ayam kecap. Sebentar lagi waktunya makan malam."

__ADS_1


Adisti mengangguk mendengar jawaban Darsih. Ia sampai lupa perutnya belum diisi sejak pagi. Pernikahan sederhana yang terlalu cepat itu masih membuatnya syok dan melupakan makan.


"Pak Dion biasanya minum apa?" tanya Adisti membelakangi Darsih.


Wanita muda itu berpikir sejenak, tangannya berhenti mengaduk ayam yang ada di wajan.


"Pak Dion biasa minum kopi pahit dengan sesendok gula, Non." Darsih mematikan kompor. Lalu menyiapkan bahan membuat kopi.


"Biar aku saja, Mbak." Adisti mengambil alih membuat kopi, ia selalu bertanya pada Darsih, bagaimana membuat kopi yang disukai Dion.


"Sudah lama bekerja di sini, Mbak?" tanya Adisti membuka percakapan setelah mereka selesai menata makanan di atas meja makan.


"Baru beberapa bulan, Non. Semenjak Nyonya besar sakit, saya diminta membantu di sini. Apa pun pekerjaan saya lakukan."


Adisti mengangguk. "Ke mana semuanya? Kenapa belum ke sini?"


"Oh, mungkin masih sholat semua, Non. Saya juga mau sholat dulu. Permisi." Darsih berlalu meninggalkan Adisti yang melongo di tempatnya berdiri.


Mendengar kata sholat, ia mengernyit. Entah kapan terakhir kali ia melakukan ibadah itu. Ia merasa asing dengan istilah sholat. Apalagi melakukannya. Karena bosan menunggu, Adisti kembali ke kamar sembari membawa kopi di tangan.


Saat Adisti masuk, tampak Dion sedang sholat di sebuah ruangan kecil yang sepertinya sengaja dibuat khusus untuk sholat. Ruangan berukuran 2x3 meter itu tampak bersih dan mewah. Beberapa Al-Qur'an berjejer di rak yang berada di sisi kanan.


Dion segera membalikkan badan, ia membelalak saat melihat Adisti terduduk di lantai. Cangkir kopi pecah berhamburan di lantai.


"Kamu kenapa?" tanya Dion yang sudah berada di dekat Adisti. Laki-laki itu membimbing Adisti keluar kamar. Ia membawa istrinya untuk duduk di ruang keluarga. Sementara itu dirinya mencari alat untuk membersihkan pecahan beling dan bekas kopi.


Adisti menatap kepergian Dion dengan pandangan entah. Belum lama berada di rumah Dion, ia merasa tidak nyaman. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Mendengar azan kepalanya sangat pusing, lalu melihat Dion sholat dan mendengar kalimat Allah ia merasa tidak enak badan seketika. Aneh memang dan Adisti tidak tahu jawabannya.


Beberapa menit kemudian, Dion selesai membersihkan kamar. Saat melintasi ruang keluarga, ia berhenti sejenak karena melihat Adisti ternyata sudah tertidur di sana.


Dion menggeleng lalu segera mengembalikan alat yang dibawa. Ia mendekati Adisti lalu membangunkannya dengan menepuk pipi. Sayangnya gagal. Wanita itu sangat susah dibangunkan. Terpaksa Dion mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke kamar.


Dion membaringkan Adisti pelan. Namun, saat akan menjauh tiba-tiba Adisti mengalungkan kedua tangan ke leher Dion. Laki-laki itu menghela napas, batal menjauhkan diri dari Adisti.


"Puaskan aku, Sayang," gumam Adisti dalam tidurnya.


Seketika Dion membelalak. Mungkinkah saat ini wanita itu sedang bermimpi bercinta? Gila! Dion tidak habis pikir dengan Adisti. Belum hilang rasa terkejut Dion, kepalanya sudah ditarik Adisti lalu bibirnya dicium Adisti dengan liar.


Sial! Dion mengumpat dalam hati. Segera ia melepaskan diri dari Adisti lalu bergegas keluar kamar. Membiarkan Adisti yang terus meracau tidak karuan. Napas Dion tidak beraturan. Apalagi detak jantungnya.

__ADS_1


Ia berpikir menghadapi Adisti tidak sesulit itu. Justru nyatanya kini Dion yang takut. Takut tergoda oleh Adisti yang tiba-tiba liar seperti tadi.


"Dion!" panggil Dini yang duduk di kursi roda dengan Darsih di belakangnya.


"Iya, Bu." Dion berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak aman.


"Mana Adisti?" tanya Dini sambil celingukan mencari keberadaan wanita yang beberapa saat lalu sah menjadi menantunya.


"Adisti tidur, Bu." Dion menggantikan Darsih mendorong kursi roda ibunya menuju dapur. Walaupun dalam keadaan sakit, Dini memaksakan diri makan bersama setiap Dion berada di rumah.


Tampak gurat kecewa di wajah Dini mendengar jawaban Dion. Ia mengira bisa makan bersama Adisti malam ini, tentu akan menyenangkan. Ternyata wanita itu telah tidur.


"Jangan lupa bangunkan dia untuk sholat, Dion." Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibir Dini.


"Sayang, kamu harus kembali ke rumahmu agar bisa melakukan ini lagi," bisik Abimanyu. Ia berhasil masuk ke mimpi Adisti malam ini. Ia membawa jiwa wanita itu menuju alamnya untuk menuntaskan hasrat yang sudah lama dipendamnya.


"Mengapa begitu? Kenapa tidak seperti ini saja?" tanya Adisti sambil menutupi tubuhnya yang polos menggunakan selimut.


"Mana mungkin aku menculikmu setiap hari. Aku ingin bertemu ragamu juga, tidak hanya seperti ini," protes Abimanyu sambil memanyunkan bibirnya.


"Baiklah, aku akan menyempatkan pulang setelah pulang bekerja. Tapi ... apakah kamu tidak bisa muncul di siang hari?" tanya Adisti lirih.


"Tentu saja tidak bisa, Sayang. Aku hanya bisa muncul pada malam hari saja." Abimanyu membelai rambut wanitanya dengan lembut.


"Tapi aku ingin seperti orang lain yang bisa bertemu suaminya di siang hari, atau bepergian bersama." Adisti menunduk sambil menautkan jemarinya.


Abimanyu terdiam. Mana mungkin ia bisa mengabulkan permintaan Adisti kali ini.


Tiba-tiba mata Abimanyu menatap jemari Adisti yang memakai cincin bermata merah. Ia tersenyum senang karena ternyata wanitanya mau memakai salah satu perhiasan yang diberikan.


"Sayang, jangan pernah lepaskan cincin ini. Kamu bisa memanggilku dengan ini." Abimanyu menunjuk cincin yang berada di jari manis Adisti.


Adisti mengernyit. "Cincin ini?"


Abimanyu mengangguk. "Panggil namaku tiga kali, setelah itu aku akan muncul dan akan memuaskanmu!"


Adisti mengangguk senang. Seperti anak ayam yang patuh dengan induknya, Adisti hanya diam dan menuruti apa pun ucapan Abimanyu. Rupanya mantra yang Abimanyu kirimkan untuk Adisti sangat kuat. Buktinya wanita itu selalu kesakitan saat mendengar nama Allah.


Abimanyu tersenyum penuh kemenangan. Ia senang bisa menguasai tubuh Adisti sepenuhnya. Setelah bercinta dengan istri yang lain di alamnya, ia bisa menuntaskan hasratnya lagi pada Adisti.

__ADS_1


__ADS_2