Kehidupanku Yang Sulit

Kehidupanku Yang Sulit
Disiplin


__ADS_3

Aku menggapai jam di atas nakas, menyipitkan mata yang masih mengantuk. Sepertinya aku tidur terlalu larut. Memikirkan... iris mata coklat dan bulu mata lentik?


Pukul 7 pagi. Membuatku segera terlonjak. Jam segini harusnya aku sudah bersiap. Lalu tepat waktu sampai di kantor. Aku selalu disiplin.


Tapi saat kuraih handphone, mengirim pesan pada Liva, sekretarisku, untuk mengirimkan jadwal meeting hari ini, balasan yang kuterima mengejutkan. Meeting dan pekerjaanku dihandle oleh Alex. Atas perintah Opa.


Argh. Kulempar handphone ke atas springbed setelah meminta Liva untuk terus melaporkan perkembangan dan masalah apapun di kantor. Aku sangat tidak tenang meninggalkan pekerjaan seperti ini. Apalagi, Alex yang menggantikan.


Tiga hari, Opa memberikan waktu untuk 'bersenang-senang' setelah menikah. Bahkan menawarkan tiket bulan madu yang tentu saja segera kutolak. Opa tidak tahu, jangankan berbulan madu, melihat wajah Miranda saja aku tak pernah.


Ah ya, Miranda. Si mata coklat itu sudah membuatku bangun kesiangan.


Jangan-jangan dia kesiangan juga karena terus memikirkan ketampanan dan kesempurnaanku ini. Ya, bisa saja kan?


Padahal harusnya, dia menggantikan pekerjaan Bi Hali. Menjadi pembantu di apartemen ini.


Segera aku bangkit. Menyiapkan amunisi untuk 'marah-marah' pada dia yang sudah mengacaukan hidupku. Berani masuk ke hidupku dengan semua keterbatasannya sebagai gadis desa.


Dia harus faham posisi dan tugasnya, mengurus apartemen ini. Mencuci, mengepel, dan seluruh pekerjaan rumah tangga lainnya. Ralat maksudku pekerjaan pembantu. Enak saja mau berpangku tangan di rumah ini. Aku paling tidak suka dengan pemalas. Apalagi pemalasnya tidak menarik sepertinya.


Kubuka handle pintu kamar dan segera melangkah keluar. Ingin memberikan instruksi yang pasti akan membuat gadis desa itu ketakutan dan amat tertekan. Mulai dari bagaimana cara mengepel lantai yang kuinginkan, cara menata rumah, dan seterusnya. Aku sangat perfeksionis. Pasti sulit baginya untuk mengimbangi. Pembantu-pembantuku saja, banyak yang menyerah dan undur diri karena tak tahan oleh sifat perfeksionisku.


Tapi saat kubuka pintu kamar, penciumanku langsung diserbu oleh wangi segar di segala penjuru. Lantai mengkilat dan semua sudut ruangan yang nampak rapi.


Aku mengangkat alis, menikmati kesegaran pagi ini. Dari... pengharum lantai yang terasa kesat ini. Juga bunga-bunga hidup yang terendam bunga di empat sudut meja.


"Kamarnya, mau dipel juga nggak?"


Tiba-tiba gadis itu berdiri di sampingku, memegangi ember berisi sabun lantai dan alat pel di sebelah tangannya yang lain.


Aku terkejut. Dan langsung memalingkan muka. Khawatir dia benar-benar menggunakan ilmu ghoib yang membiusku lewat matanya itu.


Amunisi 'marah-marahku' langsung melebur begitu saja. Belum saja kuperintahkan, dia sudah berinisiatif sendiri.


Hari ini dia menggunakan pakaian dan cadar warna merah muda. Terlihat lebih fresh walau tetap saja seperti memakai kain karung. Longgar dan bukan tipeku banget lah.


Aku mendorong pintu kamar, memberikannya akses masuk. Tentu saja, aku membutuhkannya untuk membereskan kamarku.

__ADS_1


Lalu kutinggalkan dia menuju kamar tamu tanpa menjawab. Mengecek pekerjaan lewat laptopku. Biar dia mengerjakan pekerjaannya.


Duduk di kursi santai sambil memangku laptopku, ia datang membawakan minuman dan makanan yang baru dikeluarkannya dari sebuah kotak.


"Ini pesan, delivery order dari restaurant yang kemarin kakak pesan makanan juga. Mii nggak buat sendiri kok. Jadi ini aman, tenang aja. Bayarnya langsung potongan dari debit kakak."


Ia menyusun makanan dan minuman di atas mejaku.


Sigap. Dan sangat cekatan. Cepat sekali dia beradaptasi dan memenuhi kebutuhanku. Menyiapkan sarapan tanpa kuminta bahkan mencari tahu sendiri restaurant favoritku sampai detail metode pembayarannya.


Aku lagi-lagi tak menjawab. Bahkan untuk sekedar mengucapkan terimakasih. Aku tak terbiasa. Kecuali kepada orang-orang penting yang level kastanya jauh di atasku. Baru pantas. Kalau pada orang sepertinya, tak lah. Rasanya, itu menjatuhkan harga diriku. Lagipula, ini kan memang tugasnya. Untuk apa aku mengucapkan terimakasih?


Dia beranjak melakukan entah apa. Sementara aku terus menatap layar sambil menikmati sarapanku.


Satu jam berlalu, aku kembali ke kamar. Menemukan kamarku yang langsung menguarkan wangi segar ketika kubuka. Lantainya nampak mengkilat dan ranjang, meja, kursi sudah tertata rapi. Spreinya juga sudah diganti dengan yang baru. Dan, apa itu di sudut ranjangku? Aku menyipitkan mata melihat ke arah itu dan mendekati. Berdiri meraihnya. Pakaian gantiku? Dia juga menyiapkannya?


Aku mengangkat alis. Terasa... mengesankan.


Tapi, ya buat apa kufikirkan? Ini kan memang pekerjaan pembantu.


Lagipula, memang aku belum mandi.


Lantas keluar dengan rambut basah. Segar sekali. Mengenakan pakaian yang sudah disiapkannya.


Baguslah kalau dia cepat faham dan sangat inisiatif seperti ini. Walau aku jadi sulit mencari alasan untuk memarah-marahinya.


Aku keluar ke balkon kamarku yang bersebelahan dengan balkon kamarnya. Hanya dipisahkan oleh sedinding kaca riben. Terlihat dari posisiku tapi tak terlihat dari posisinya. Aku yang mendesaign khusus area ini. Agar aku bisa memantau jika ada tamu di apartemenku ini tanpa disadari, minimal lewat balkon kamar ini.


Aku menyandarkan dada pada pagar, sambil memainkan handphoneku, mengecek pergerakan saham. Saat kutoleh, ternyata Miranda juga ada di balkonnya. Duduk bersila menghadap ke arah depan. Sedang menunduk, membaca buku sepertinya. Entah sedang membaca apa.


Aku beralih pada handphoneku lagi. Membalas pesan-pesan kolega bisnis. Mengamati pergerakan saham. Menerima setiap laporan yang dikirimkan Liva. Lalu melihat ke arahnya, yang fokus tak beranjak dari posisi itu, sejak tadi. Mengamati setiap gerakan tangannya membalik-balik lembaran buku. Terlihat serius sekali. Membuatku penasaran, buku apa yang sedang dibacanya? Ah, kenapa aku jadi ingin tahu begini? Tidak penting! Logikaku tiba-tiba menolak.


Aku di balkon ini, sampai siang, sampai ia tak ada lagi di balkonnya, baru aku beranjak juga.


Siang, aku keluar kamar. Lalu menuju dapur untuk memeriksa isi kulkas. Terasa lapar. Mungkin sebentar lagi aku akan memesan makanan. Dan ternyata, di meja makan, sudah tertata makan siangku. Kembali dengan menu dari restaurant favoritku. Lagi-lagi ia sudah memesankan dan menyiapkannya. Lalu, dia dimana?


Aku memakan sajian ini. Menyelesaikan sampai tuntas. Melewati kamarnya yang sedikit terbuka, ternyata dia ada di kamar. Apakah aku perlu memanggilnya? Untuk alasan apa? Harga diriku yang sangat tinggi ini menolak. Atau mengintip saja? Toh pintunya memang tidak rapat tertutupnya. Ini konyol. Tapi... tapi... entahlah, aku, hanya ingin tahu saja apa yang dia lakukan di dalam. Tak apa-apa kan? Demi keamananku. Siapa tahu di dalam ia sedang merakit bom misalnya.

__ADS_1


Sembari berlalu, aku melambatkan langkah. Menengok, mengintip dari renggangan pintu. Dia sedang sholat, membelakangi pintu ini. Jadi wajahnya tak terlihat.


.


.


.


Tiga hari ini berlalu baik-baik saja. Tidak sebar-bar yang kufikirkan. Bahkan sangat jauh dari bayanganku. Kukira, akan menghadapi hari-hari na'as yang begitu menderitakanku. Mengacaukan hari-hariku. Berhadapan dengan gadis desa yang aneh, masih berusia sembilan belas tahun, pasti manja, udik, dan berbagai prasangka burukku lainnya.


Ternyata, tidak seburuk itu. Ia tidak sekanak-kanak yang kukira. Dan sangat faham terhadap semua kesepakatan sepihak yang kubuat. Dia benar-benar tidak pernah melepaskan cadar dan seluruh penutup tubuhnya itu di hadapanku. Bahkan semalam, sempat kubuka kamarnya yang tak terkunci saat ia tertidur. Tertidur pun ia masih mengenakan semua itu. Sesuai yang kuperintahkan di awal.


Dia sangat cekatan mengerjakan segalanya. Melayani kebutuhan sehari-hariku, mengurus rumah dan segalanya. Makananku, minumanku, pakaianku. Sampai aku tak memiliki alasan untuk memarahinya. Dia juga tak sedikitpun menggangguku. Tuntas pekerjaan rumah tangga yang ia lakukan, ia segera masuk ke kamarnya. Menutup pintu dan entah melakukan apa saja di dalam kamar. Hanya jika ia sedang di balkon kamarnya baru bisa kutahu apa yang ia kerjakan. Entah membaca buku, mengaji, atau menelepon.


Dia sepertinya sangat faham dengan kesepakatan sepihak yang kubuat. Agar menjaga jarak, hidup masing-masing. Sebagai tetangga kamar saja.


Tepat setelah hari ketiga masa cuti menikahku, aku begitu bersemangat memulai hari ini. Banyak PR yang harus kutuntaskan di perusahaan. Termasuk proyek yang ditangani Alex dan sepertinya mengalami kekacauan. Dia memang tak bisa diandalkan.


Selesai mandi aku segera memakai pakaian kerjaku. Kemeja coklat lengkap dengan dasi dan jas hitam. Miranda sudah menyiapkannya dengan sempurna. Sangat licin dan wangi.


Seperti kemarin-kemarin, ia juga sudah menyiapkan sarapanku. Kufikir jikapun tak terjebak dalam pernikahan terpaksa seperti ini, aku bisa mempekerjakannya sebagai pembantu di apartemen ini. Bahkan di rumah Opa.


Jarang sekali aku begitu puas dengan pekerjaan asisten rumah tangga. Biasanya, aku selalu naik pitam tiap berhadapan dengan pekerja-pekerja rendah seperti mereka. Entah di rumah, di apartemen, di kantor. Selalu, ada saja ulah cacat pekerjaan yang mengundangku untuk murka. Yang ceroboh, yang lamban, yang pelupa, yang tak disiplin, yang sulit menangkap perintah karena keterbatasan wawasan dan faktor lainnya. Membuat urat emosiku selalu terpancing hingga meledak.


Tiga hari ini berlalu dalam hening dan tanpa marah-marahku pada hasil kerjanya. Mau marah, tak ada bahan yang bisa dimarahkan.


Sesaat sebelum aku beranjak dari meja makan, Miranda keluar dari kamarnya dan segera menemuiku. Membawa tas tanggung dan meletakkannya di atas meja. Mau kemana dia? Bisikan halus menyapu penasaranku.


"Kak, mau ijin ya?" Ucapnya dengan nada bertanya sambil membereskan sisa sarapanku.


Aku memainkan handphone seakan tak mendengar. Demi harga diri. Lalu memandangnya ketika ia berbalik menuju wastafel.


Ijin? Untuk apa ijin? Bukankah sudah kubilang kita hidup masing-masing? Jadi tak perlu minta ijin bukan?


Tapi kalau dia mau begitu, ya terserah. Bukan aku yang mau mencampuri dirinya dan urusannya.


Aku mengangkat kepala, menatapnya yang mengenakan pakaian lengkap warna coklat tua hari ini. Pakaian longgar berkain tebal dan jilbab senada yang panjangnya melebihi setengah kakinya sepertinya. Apa nggak panas sih dia menggunakan pakaian segitu tertutup? Apa 'aib' di tubuhnya separah itu sampai begitu dijaga dengan sangat rapat? Kasihan sekali.

__ADS_1


Matanya mengerjap. Lagi-lagi, pamer banget sama bulu mata lentiknya itu.


"Hari ini sudah masuk kuliah lagi. Kemarin ijinnya cuma tiga hari. Pulangnya sorean habis ashar ya." Ia menjelaskan tanpa kutanya.


__ADS_2