
Saat Jo terbangun, ia mendapati Zizi masih berada dalam pelukannya. Jo memandangi wajah istrinya yang tidur dengan damai, seakan apa yang terjadi di pesta ulang tahun mamanya sudah dilupakannya.
Inilah yang aku dambakan dari dulu, saat aku memutuskan untuk menikah denganmu, aku ingin membuatmu nyaman berada di sampingku, tapi sayangnya aku baru bisa melakukannya sekarang.
Perlahan Zizi mulai membuka matanya saat deru nafas Jo menerpa wajahnya. Zizi bangun dan langsung di hadapkan dengan sosok pria yang jauh lebih tampan dari sebelumnya.
"Pagi mas." Sapa Zizi sambil menjernihkan matanya, wajah natural tanpa make-up terlihat begitu cantik dimata Jo.
"Pagi sayang. Apa tidurmu cukup nyenyak malam tadi?" tanya Jo dan Zizi langsung mengangguk.
"Ini adalah kali pertama setelah kamu pergi, aku bisa merasakan tidur dengan sangat nyaman. Kamu sudah membuatku menderita mas, kamu harus mengganti semua penderitaanku dengan kebahagiaan yang baru." Zizi menyamankan posisinya, dan meletakkan kepalanya di lengan Jo.
"Tentu saja, aku akan mengganti setiap detik kesedihan yang kamu rasakan beberapa bulan terakhir, dengan kebahagiaan yang terus mengalir. Tapi sekarang kamu harus bangun dan buatkan aku sarapan. Aku ingin sarapan dari masakan yang di masak istri cantikku." Jo mencubit hidung istrinya pelan sebelum ia bangun lebih dulu.
Zizi segera menyusul, ia pun segera menyiapkan sarapan dengan penuh cinta. Inilah yang di inginkan Zizi, bisa melayani semua kebutuhan suami. Sayangnya sejak pertama menikah Zizi tidak diizinkan untuk menyiapkan sarapan dan justru sebaliknya, Jo lah yang selalu membuat sarapan atas perintah Ana.
Dibantu pelayan menyiapkan masakannya di meja, Zizi bergegas kembali ke kamar dan membantu Jo bersiap.
"Aku sudah buat sarapan buat mas, aku harap mas menyukainya. Kalau nanti rasanya tidak enak, mas harus jujur padaku, biar aku bisa belajar lagi," ucap zizi yang sadar diri jika dirinya tak terlalu bisa masak.
"Aku harap tidak mengecewakan." Goda Jo.
Setelah sarapan pagi, Zizi pun meminta izin untuk pergi bekerja." Mas aku ... aku mau minta izin untuk pergi ke butik. Aku tau mungkin ini salah karena kita baru saja bersama kembali tapi aku malah sibuk dengan butik. Aku hanya tidak ingin meninggalkan butikku begitu saja. Selain itu juga, ada pesanan yang harus aku selesaikan. Aku harap kamu tidak marah mas." Jelas Zizi dengan suara pelan karena dia ragu kalau Jo akan menyetujuinya.
__ADS_1
Jo terdiam sejenak, lalu menatap istrinya, "Kenapa sekarang kamu takut denganku? Aku tetap sama seperti yang dulu, Jo yang selalu mengiyakan kata-kata istrinya. Pergilah aku tidak akan melarang, Aku tidak mau membuatmu tertekan. Bersikaplah seperti biasa sama seperti saat kita satu atap dengan orang tuamu." jawab Jo, membuat Zizi berkaca-kaca. Ia merasa sangat beruntung bisa memiliki suami seperti Jo dan tidak ada penyesalan sampai detik ini.
Mereka pun pergi bersama menuju tempat kerja. Jo mengantarkan lebih dulu Zizi ke butiknya yang searah menuju kantor.
"Silahkan turun tuan putri." Jo membukakan pintu mobil untuk istrinya dan segera saja Zizi keluar dari dalam mobil sambil memegang tangan Jo.
"Jangan lupa hubungi aku kalau mau pulang biar nanti aku atau bawahanku yang menjemputmu."
" Iya mas."
Sebelum pergi Jo mencium kening istrinya lebih dulu. Baru ia pergi meninggalkannya. Seperti sebuah rutinitas yang wajib di lakukan.
Setelah Jo pergi dan Zizi ingin membuka butiknya, Zizi menyadari ada orang lain datang dan saat Zizi menoleh ternyata itu adalah Ana ibu kandung Zizi.
"Mama?!" ucap Zizi terkejut dan langsung memeluk sang mama.
"Ana, mama minta maaf. Mama gak seharusnya bersikap seperti itu pada kalian. Mama benar-benar menyesal. Setelah kejadian itu Papamu juga marah-marah dengan mama dan menyuruh mama minta maaf pada Jo. Tapi mama takut kalau Jo tidak mau memaafkan mama yang punya banyak salah ini, hiks... hiks...,"
Zizi segera memeluk mamanya dan menenangkannya. Sebesar apapun kesalahan seorang Mama, Zizi sebagai seorang anak tak mungkin bisa membencinya.
"Mama tenang ya, aku akan coba bicara dengan mas Jo pelan-pelan. Mungkin tidak mudah bagi mas Jo tapi aku akan berusaha untuk membujuknya. Mama jangan sedih lagi ya." Bisik Zizi sambil menenangkan Ana.
Keduanya pun melepas pelukannya. Zizi segera mengambilkan minuman yang ada di lemari pendingin dan juga kue yang baru ia beli bersama suaminya.
__ADS_1
"Aku harap kamu bisa segera memberi kabar itu pada mama, agar mama bisa lebih tenang."
Zizi hanya tersenyum dan menemani sang mama menikmati makanan yang ia sajikan.
"Zi, Kamu dan Jo kan sudah menikah dan dihitung-hitung sudah hampir dua tahun, Sepertinya sudah waktunya kalian berdua memiliki momongan. Suamimu kan pria kaya raya dan punya banyak uang, kalau kamu tidak segera mengikatnya, nanti bisa-bisa suamimu kepincut Wanita lain."
"Ah, mama ngomong apa sih, gak mungkin mas Jo seperti itu. Dia itu sayang banget sama aku ma dan kami berdua sudah berjanji untuk saling setia. Jadi aku tidak pernah berfikir buruk tentang mas Jo." Jawab Zizi.
"Kamu itu ya di kasih tau malah jawab, mama jauh lebih berpengalaman daripada kamu. Mama sudah menikmati asam manisnya hidup berumah tangga. Dulu kalau mama tidak segera hamil kakakmu Kania, mungkin Papamu sudah bawa istri baru ke rumah. Mama cuma ingin kamu bahagia zi, apa yang mama lakukan hanya ingin masa depanmu terjamin. Turuti kata-kata mama kalau kamu tidak ingin menyesal." Jelas Ana, membuat hati Zizi menjadi bimbang. Namun apa yang dikatakan Ana ada benarnya, Sebuah pernikahan tak akan lengkap tanpa hadirnya seorang anak.
Entah apa yang ada di pikiran Ana yang tiba-tiba berubah dan seolah sekarang lebih perduli dengan kebahagiaan anaknya sampai mau menasehatinya. Mungkin saat tau jika menantunya adalah seorang konglomerat yang jauh lebih kaya dari keluarganya yang membuatnya ingin mempertahankannya dan tak akan membiarkannya lepas begitu saja. Tak mungkin membuang harta karun yang sudah ada di depan matanya.
"Sepertinya apa yang mama katakan benar, Aku harus bisa segera memberikan keturunan buat mas Jo, bukan semata-mata takut kehilangan saja, tapi juga untuk menambah keharmonisan hubungan kami, mungkin dengan kehadiran seorang bayi, kami kehidupan kami akan lebih bewarna." Jawab Zizi mengiyakan nasehat sang mama.
"Nah begitu donk, kalau begitu mama pergi dulu. Kabari mama lagi kalau semuanya sudah berhasil, terutama maaf dari Jo. Mama pergi sayang, jaga diri baik-baik dan jangan lupa jaga kesehatan." Ana mengusap punggung putrinya dengan hangat.
"Iya ma."
Ana pun segera meninggalkan Butik putrinya. Setelah menjauh senyum jahat terlihat jelas di wajah Ana. Entah apa yang direncanakannya tapi semuanya bisa di tebak, tidak mungkin seseorang bisa berubah secepat kilat.
Setelah meninggalkan Zizi, Ana mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi menantunya yang kedua yaitu Sandi untuk menjemputnya.
Setelah sang mama pergi, zizi kembali masuk kedalam butik dan kembali duduk di sofa tempatnya tadi. Zizi memikirkan semua kata-kata mamanya yang menginginkan dirinya agar segera hamil.
__ADS_1
Kalau aku bicara dengan mas Jo reaksi apa yang akan dia berikan? Senang atau malah sebaliknya. Kenapa aku malah jadi dilema begini? Darimana aku harus memulainya?
To Be continued ☺️☺️