Kepompong

Kepompong
MERRY CHRISTMAS, VAL!


__ADS_3

Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi rasanya otakku mengalami kelumpuhan saat ini. Aku tidak bisa berpikir.


"Terry, dengarkan aku. Jangan karena masalah ini kamu menyalahkan Kak Tia. Maksudku, mungkin karena pelupa, Kak Tia gak sengaja menjodohkanku dengan adiknya sendiri. Kamu juga nggak perlu khawatir, masalah perjodohan ini hanya kita yang taHu. Jadi, anggap saja semuanya gak pernah terjadi dan ...."


Hening sejenak, aku masih menunggu apa yang akan dikatakan Val. "kuharap kau menemukan kebahagiaan dengan gadis yang sangat beruntung itu. Itu saja yang ingin kukatakan. Merry Christmas, Ter. Jangan lupa besok ke gereja, ya," pesan Val sebelum menutup sambungan telepon.


Jantungku mencelos, Val bahkan tidak memberiku kesempatan bicara. Aku menatap layar sentuh yang sekarang menampilkan wajahku dan Val yang semringah dengan latar belakang Museum Angkut.


Oh, Tuhan, apa yang harus kulakukan? Val menganggap semuanya tidak pernah terjadi, apakah itu berarti dia ingin menyingkirkanku dari hidupnya? Aku menelan gumpalan yang sedari tadi mengganjal di tenggorokan. Siapa pula 'gadis yang sangat beruntung' yang dimaksudnya?


Aku baru teringat apa yang tadi ingin kutanyakan padanya, tanganku membuka applikasi chatting dan segera mengetikkan sesuatu. Jawab aku, Val, yang mana yang kausuka—sunrise atau sunset?


Meski dua buah centang biru muncul, tapi tidak ada jawaban darinya. Ini benar-benar membuatku frustrasi, dan parahnya aku tak punya teman untuk mencurahkan kegalauanku saat ini. Oh, ada satu!


Aku menekan panggilan telepon dan segera saja sambungan itu terangkat. "Jay, katakan padaku, apakah aku sudah bertindak bodoh? Kenapa?"


'Kamu lebih dari bodoh dari seekor keledai! Aku terkejut setengah mati, ketika Val mengatakan padaku bahwa kau pergi bersama seorang gadis yang spesial.'


"Gadis yang mana sih? Kemarin aku pergi dengan Susan."


'Iya, betul,' sahut Susan.


"Tunggu, apakah kamu dan Susan sudah resmi berpacaran? Sejak kapan?" tanyaku curiga.


'Urus saja urusanmu sendiri. Aku tidak tau siapa gadis yang dimaksud Val. Hush-hush! Sana pergi, jangan gangguin orang pacaran.'


Katanya sobat, tapi begitu aku mau curhat malah diusir macam kucing lewat. Sahabat macam apa dia? Aku mendengkus kesal. "Satu lagi, Jay. Val suka sunrise atau sunset ya?"


'Hah? Tanyakan saja sendiri!' hardik Jaya kasar sebelum memutuskan sambungan telepon.


*****


Tanyakan saja sendiri! Selama perjalanan pulang dari kantor sampai pada saat aku berbaring di atas ranjang apartemen seperti sekarang, kalimat itu bergaung dalam otakku. Seakan-akan Jaya telah menatonya di otak kecilku.


Gara-gara beberapa gelas kopi yang kuminum siang ini untuk membuatku tetap terjaga, sekarang aku menderita insomnia. Mataku sampai perih karena terus menatap nyalang langit-langit yang polos, padahal aku ingin sekali tidur dan melupakan banyak hal. Belum lagi ditambah suara yang menyuruhku 'tanyakan saja sendiri' terus menghantui, rasanya sebentar lagi aku akan gila.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, seakan mendapatkan ilham, aku sadar dan bangkit berkemas.


Subuh dini hari, aku sudah berada di depan rumah Val dengan menaiki penerbangan pertama Jakarta-Malang. Mungkin belum ada yang bangun sepagi ini karena semua lampu tampak padam. Tak masalah jika aku harus menunggu di teras rumahnya, ditemani gerimis kecil dan angin sepoi-sepoi.


Beberapa jam yang terasa lama kemudian, lampu dari jendela kaca terlihat menyala satu per satu, sebentar lagi seseorang seharusnya membuka pintu depan dan menemukan seorang gelandangan di teras rumah. Aku pasti tampak kacau sekarang. Lupakan ganteng, tidak tidur dua hari ditambah dua double-shots espresso lagi di atas pesawat, membuat mataku berbayang sekarang dan tanganku mulai gemetar karena kafein.


Aku bangkit berdiri ketika knop pintu berputar. "Val?" panggilku pada sosok buram yang mematung di depan pintu.


"Kamu sopo? Pagi-pagi gini dah di rumah orang. Bawa ransel besar gitu, mau ngapain?"


Sudah pasti bukan Val. Nada tinggi dan aksen medok perempuan di depan membuat kepalaku berdenyut. Mau tak mau aku memejamkan mata dan seketika tubuhku limbung. Hampir saja aku jatuh, jika tidak ada sepasang tangan yang menahan punggungku.


"Terry, apa yang kau lakukan di sini?"


"Merry Christmas, Val." Dengan sisa tenaga pada otot wajahku yang kaku karena kedinginan semalaman, aku memaksakan seulas senyum.


"Merry Christmas, Ter," balasnya datar. "Ayo masuk! Mam, tolong buatkan sesuatu yang hangat ya."


Ah, ternyata tadi ibunya Val. Untung saja aku tidak menghardik balik calon mertuaku, pikirku geli sambil berjalan kemana pun Val mendorongku. Dalam ruang tertutup, dia mendudukkan aku di ranjangnya, kemudian tangannya bergerak membuka jaket dan bajuku.


"Mikir apa kamu? Mandi pakai air hangat sana! Aku pinjam baju Papa dulu untukmu," perintah Val, kemudian lekas-lekas dia mendorongku masuk ke kamar mandi.


Aku terkekeh, menutupi rasa lega dan kecewa yang muncul bersamaan. Senang karena tiba-tiba aku merasa sudah menjadi suami Val hari ini. Dimasakkan makanan oleh Ibu mertua, dipinjamkan pakaian oleh Ayah mertua, dan mandi di kamar mandi milik Val. Paling tidak kebodohan membuatku sedikit beruntung mendapat perhatian dari keluarga Val.


Kecewa karena ini semua bukan kenyataan, Oh Tuhan, kemana akal sehatku hingga berharap terlalu tinggi bahwa Val akan menerima perasaanku tanpa halangan.


Melangkah keluar kamar Val, ternyata seluruh anggota keluarganya sudah menunggu. Aku jadi tidak enak hati. Dulu, kami berempat sering kali main ke rumah Val, semoga mereka belum melupakanku.


"Om, Tante, Jenni," sapaku canggung.


Sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas sudah tersedia di atas meja. Tanpa banyak bicara, aku segera menyantapnya di bawah tatapan keluarga Val.


"Ibu sampe gak ngenalin kamu, Ter. Kumuh banget," celetuk ibu Val di tengah suapanku.


Aku hanya bisa terkekeh menanggapi komentarnya. Syukurlah, tadi beliau tidak berteriak memanggil satpam lingkungan untuk melemparku ke jalanan. Begitu aku selesai sarapan, Val segera menarikku pergi dari rumah.

__ADS_1


Di dalam mobil yang berjalan, aku bertanya, "Mau kemana kita?"


Val tidak menjawab, menatapku dari belakang kemudi pun tidak. Ketika aku menangkup tangannya yang berada di atas perseneling gigi mobil, barulah dia menoleh. Tatapan yang menyiratkan kemarahan membuatku merasa bersalah.


"Apa kamu marah?"


Gerimis dengan cepat berganti hujan lebat ketika dia memarkir kendaraannya, diambilnya payung lebar dari belakang tempat dudukku dan segera keluar. Perhatianku yang sedari tadi tertuju padanya membuatku baru sadar bahwa sekarang kami berada di depan rumahku. Sebentar kemudian, Val keluar bersama ibuku.


Astaga, Ibu! Aku sampai lupa dengan ibuku sendiri, sementara Val ingat. Bagaimana perasaanku tidak carut marut dengan kenyataan ini? Jaya benar, malaikat bernama Valerie Lukman, hanya ada satu di dunia. Dan, dia bersamaku sekarang.


"Terry? Kapan kamu pulang?" heran ibu dari kursi belakang.


"Ibu, maaf, aku lupa mengabari. Merry Christmas, Bu."


"Merry Christmas. Ah, kamu itu, Ter. Mau pulang ya pulang, mau pergi ya pergi, sama dengan kakakmu, Tia. Untung ada Valerie, dia selalu bisa diandalkan, lebih daripada anak sendiri."


Aku menatap Val yang sudah berada di belakang kemudi lagi. "Terima kasih, Val." Gadis itu masih menolak menatapku.


Kami berkendara dalam hujan, untung saja tidak terlambat untuk mengikuti misa Hari Natal di Gereja Kayu Tangan. Di dalam, Susan dan Jaya melambai dari tempat duduk yang sudah mereka siapkan untuk kami. Aku duduk di tengah, diapit oleh ibu dan Valerie. Bahu gadis itu yang menempel ketat di lenganku memberikan perasaan damai.


Kupejamkan mata, menautkan jemari, dan masuk dalam doa yang khusyuk. Sudah lama rasanya aku tidak merasakan perayaan Hari Natal yang berkesan. Sudah lama pula aku tidak berkumpul bersama orang-orang yang perperan besar dalam hidupku, yaitu ibu dan sahabatku. Tahun ini, aku kembali seutuhnya.


Aku sadar Tuhan, bahwa selama ini yang membuatku berkelimpahan adalah doa dari Ibu dan para sahabat. Maka, di hari Natal ini dan hari-hari setelahnya, aku berdoa untuk mereka, semoga berkat Natal dan kasih karuniaNya yang besar juga mengalir ke dalam diri orang-orang terkasih.


Setelah menghadiri misa Natal yang berjalan lancar, Val mengantarkan kami pulang. Di teras rumahku, Ibu dan Val berpelukan dan saling mencium pipi. "Terima kasih ya, Val. Ibu jadi tidak enak ngerepotin kamu terus. Kayak waktu kaki ibu sakit, kamu terpaksa harus menjemput Terry ke Bandara. Maafkan dia juga ya kalau banyak salah sama kamu," ujar ibu yang ditanggapi Val dengan senyuman.


Ah, jadi itu sebab Val tahu tanggal pulangku. Kurasa, sekarang aku berhutang seumur hidupku padanya. Aku menunggu hingga Ibu masuk ke dalam sebelum beranjak perlahan mendekatinya. "Kurasa aku sudah dimaafkan atas permintaan ibuku."


"Aku tidak mengiyakannya." Hening sejenak. Kecanggungan seperti hantu yang lewat di tengah jarak antara aku dan Val. Dia menarik napasnya dalam-dalam sebelum berkata, "Hujannya deras juga. Aku harus pulang sekarang."


Aku mencegatnya, berdiri di antara dia dan payung putih miliknya yang tergeletak di sudut teras. "Boleh kita bicara sebentar Val? Kalau nanti, karena hujan kamu gak bisa pulang, ada kamar di sini yang bisa kautempati. Jangan khawatir."


Sekali lagi Val menarik napas dan membuang pandangannya ke samping, lagi-lagi menghindar dari tatapanku. "Bicaralah, aku mendengarkan."


Satu kesempatan, manfaatkan ini baik-baik, Ter. Kutarik napas dalam-dalam dan dengan satu embusan napas kuberanikan diri berkata, "Aku menyukaimu, Val."

__ADS_1


__ADS_2