Kepompong

Kepompong
JAYA MEMANG BERENGSEK!


__ADS_3

Aku berlari mengikutinya, kemudian ketika aku dapat menyamakan langkah, kusodorkan jaketku. "Pakai itu, kemejamu gak layak," teriakku di tengah hujan deras. Tanpa banyak protes, Val mengenakannya sambil terus berlari.


Pintu rumah sakit membuka otomatis saat kami sudah berada di depannya. Terkejut aku mendapati Jaya berdiri di sana, matanya menyorot tajam padaku. "Ngapain kamu di sini?" Pertanyaannya yang bernada dingin membuatku mematung di tempat.


Aku baru akan membuka mulut, ketika Val mendahuluiku menjawab pertanyaan Jaya. "Aku mengajaknya makan malam." Dagu gadis itu terangkat menantang, seperti mencoba melindungiku. Namun dari apa? Apakah kondisi di antara mereka begitu parah?


Bahkan saat Jaya menjelaskan situasi darurat, tatapannya yang tajam tak lepas dariku. "Susan di IGD, tangannya terluka dan butuh jahitan."


"Dan kamu masih di sini?" tanya Valerie tajam. Aku mendengar Val mengumpat, gadis itu mendorong dada Jaya kasar dan segera berlari ke dalam.


"Kamu gak akan membantunya, Jay?" tanyaku khawatir, setengah canggung karena Jaya masih saja menatapku tajam tanpa berkedip.


"Gak perlu."


"Kenapa kamu menatapku begitu?"


"Karena sekarang aku membencimu," desis Jaya yang langsung berbalik tanpa menunggu penjelasan apapun dariku. Kutatap punggungnya yang pergi menjauh dengan rasa kecewa.


Ah, sudahlah! Percuma. Meskipun aku menjelaskan pada Jaya sekarang hingga mulut berbusa, saat hatinya sedang panas, penjelasan macam apapun tidak akan masuk ke akal sehatnya. Jadi kuputuskan untuk menunggu kedua gadis itu di ruang tunggu. Paling tidak aku cukup berguna untuk mengantarkan mereka berdua pulang ke rumah di tengah hujan deras.


"Terry, kau masih di sini? Dengan pakaian yang basah seperti ini, kamu bisa sakit." Suara Val yang khawatir hilang timbul dalam pikiranku.


Perlahan mataku membuka dan menatap bergantian pada Val dan Susan. Susan! "Kau tidak apa-apa, San? Jaya memang b3rengsek!"


Susan tertawa. "Hanya kecelakaan kerja kok, bukannya aku mau bunuh diri. Ketika sampai di sini, bukannya menolong, Jaya malah memarahiku karena ceroboh dan hal lainnya. Itu membuatku jadi marah dan kami bertengkar. Aku menolak jika dia yang mengobatiku. Di mana harga diriku, huh!" jelas Susan memadamkan kekhawatiranku.


Malamnya, aku tidak bisa tidur. Semua kejadian hari ini berputar-putar di kepala, terutama bagian di mana kakakku berusaha menjodohkan Val pada lelaki yang tidak jelas. Kak Tia juga mau mengenalkanku pada seseorang yang dia lupa. Apa pesanan desain pakaian sedang sepi sampai-sampai kakak beralih profesi menjadi mak comblang?


Besok aku harus menemui kakak, toh rumahnya hanya di sebelah. Jika perlu, aku akan mengacak setiap sudut studio desain pakaiannya, mungkin di sana akan ada petunjuk mengenai lelaki yang sudah mendaftar untuk dia kenalkan ke Val. Dari situ, aku akan memanggil dan mewawancarai mereka satu per satu, jika calonnya lebih dari satu. Aku tidak mau sahabatku celaka karena ulah kakak.


Tidak banyak waktu tersisa, acara Linda tinggal tiga hari lagi. Setelahnya, aku sudah harus kembali ke Jakarta segera. Selain karena meeting proyek, aku tidak ingin berada terlalu lama di sini, kota ini dan seisinya mulai membuatku betah.


*****


Aku sedang mengacak-acak isi kotak besar ketiga yang tersimpan dalam studio desain kakak esok paginya, ketika suara pintu terbuka disusul jeritan seorang perempuan yang bisa membuat gendang telingaku pecah.

__ADS_1


"Ya ampun, Terry! Kupikir pencuri! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya kakak panik. Ditariknya tanganku hingga keluar studio desainnya dan mengunci pintu itu segera. "Katakan ada apa?"


Dagu kakak terangkat tinggi menatapku, dia pasti marah. Memang salahku karena tidak meminta izin untuk menggeledah studionya, tapi apa boleh buat. Aku sudah menunggunya, tapi kakak tak kunjung pulang dari pasar untuk membeli kain. Jadi aku memutuskan untuk bertindak.


"Kak, apa kamu ingat telah menjodohkan Val pada seseorang? Gadis itu masih menunggu untuk bertemu dengan lelaki yang kau jodohkan dengannya. Kupikir kau pasti menyimpan foto atau CV lelaki itu di suatu tempat di dalam, jadi aku berniat membantumu mencari."


"Tentu saja aku ingat! Hanya saja, aku lupa siapa lelaki itu. Benar juga katamu, ide yang bagus, Ter. Nanti akan kucari foto atau CV-nya." Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkan dengan mata menerawang, "Aku ingat sesuatu!"


"Apa, Kak? Cepat katakan!" desakku. Mumpung di sini, aku bisa membantunya mengingat.


"Gaun gadis yang akan kujodohkan denganmu sudah diambil, kata Ibu Sumi, penjahitku yang baru. Artinya, gadis itu akan pergi ke pesta pernikahan besar tanggal 23 Desember. Temui dia di sana."


"Pernikahan Linda?" tanyaku.


Dalam kondisi normal, aku akan menganggapnya biasa saja. Namun kata-kata kakak barusan yang disertai tatapan menerawang, terdengar seperti Mama Lauren si peramal. Aku merinding.


"Entah pernikahan siapa. Gadis itu akan menggunakan gaun yang kudesain."


"Gaun yang mana?" tanyaku memastikan. Namun kakak lupa dan harus mencarinya di suatu tempat. Oh, Tuhan!


Kutinggalkan kakak, ketika dia sibuk menerka-nerka desain pakaian yang dibeli si gadis. Aku menyarankan pada kakak untuk menanyakan langsung ke Ibu Sumi, gaun macam apa yang kemarin diambil oleh gadis itu. Tanpa informasi tersebut, bagaimana mungkin dia menyuruhku mengenali si gadis di antara para tamu undangan.


Pertama-tama, aku harus meluruskan sesuatu dengan Jaya. Dia pasti cemburu. Selain dari pada Val mengajak makan malam, gadis itu juga mengenakan jaketku. Kuarahkan mobil menuju pelataran parkir rumah sakit. Seiring langkahku masuk untuk mencari Jaya, aku berdoa dalam hati, semoga Tuhan niat baikku dilancarkan.


*****


"Tidak, Jay. Sudah kujelaskan, aku tidak akan pergi denganmu." Langkahku terhenti ketika mendengar suara Val memantul di lorong yang sepi.


"Lelaki itu Terry kan? Jawab aku!"


Rupanya Jaya masih saja memaksakan kehendaknya. Melihat itu, emosi memenuhi ruang dadaku, bagaimana mungkin dia melakukan ini pada Val? Aku memutar langkah mendekati kedua sahabatku.


"Bukan! Demi Tuhan sudah kukatakan padamu, aku tidak tau!" Kalimat Val mulai terdengar frustrasi.


Aku tidak tahan lagi melihat Val tersudut seperti itu dan menyahut, "Jika lelaki itu aku, kenapa?"

__ADS_1


Mereka berdua menoleh. Mata Jaya memicing menatapku yang berjalan mendekat. Dengan kebencian yang sama seperti kemarin, bahkan lebih, dia meneriakiku. "Teman gak tau diri!"


"Kamu teman yang gak tau diri! Sudah ditolak masih maksa," hardikku tak kalah sengit.


Perlahan kutempatkan diri di depan Valerie dengan rasa protektif. Sepanjang pengetahuanku, Jaya adalah lelaki yang tak mudah melepaskan jika sudah ada maunya. Benar saja, tangan Jaya seketika terulur, berusaha menjangkau Valerie. Dengan refleks, aku mendorongnya mundur.


"Jangan macam-macam, Jay!"


Aku tidak melihat kepalan tinju yang menghantam wajahku dari samping dan membuatku terjungkal. Val berteriak dan dengan segera membantuku berdiri. Melihat itu, kurasa Jaya semakin geram, satu langkah panjang membawanya mendekat.


Aku lupa, Jaya itu kuat dan pintar, yang mana membuatnya selalu terpilih menjadi kapten basket, sementara aku dulu hanyalah penghangat kursi cadangan.


"Hentikan, kalian! Kita ini sahabat, kenapa jadi begini?" tanya Val dengan mata berkaca-kaca.


"Tanyakan itu padanya!" sembur Jaya berapi-api.


"Kau gila! Kalau sampai kau menyakiti Val atau Susan, kau akan berhadapan denganku!" balasku sok jago, padahal untuk berdiri saja aku masih mengandalkan bahu Val. Kurasakan cairan hangat perlahan turun dari hidung dan mengelapnya. Darah. Sial! Ini bakal membuatku tampak tidak macho di hadapan Valerie.


"Susan itu keras kepala, kalian tidak tau itu!"


"Semua demi kebaikanmu, Jay. Dia sudah lama suka padamu," terang Val lembut.


"Persetan!" umpat Jaya sebelum pergi.


Dalam kamar praktek Valerie, aku berteriak ketika dia dengan sengaja menekan pipiku yang mulai membiru. "Sok jago."


"Gara-gara kamu aku jadi korban, bukannya terima kasih," cibirku.


Kami bertatapan lama sebelum akhirnya dia berkata, "Terima kasih. Aku gak tau arsitek bisa juga berantem."


Apakah itu pujian? karena aku tidak tahan untuk menyeringai. Senyumnya yang ditujukan padaku, bagai paracetamol yang membuat nyeri pipiku reda. "Aku gak tau dokter juga bisa tinju. Kalau gak ada kamu, mungkin aku sudah jadi isian samsak. Terima kasih, Val."


Senyumnya mengembang lebih lebar, membuatku menarik napas dan lupa menghembuskannya untuk beberapa waktu. Apa sih aku ini? Seperti orang kasmaran saja. Pikiran itu menghantamku--oh tidak, tidak mungkin.


Dulu, dengan Linda, aku memujanya setengah mati. Dia cantik, cerdas, ceria, sosok gadis yang sempurna. Aku selalu berusaha mengimbanginya, karena menurutku, itu yang harus dilakukan jika benar-benar mencintainya. Namun itu sungguh melelahkan, dan pada akhirnya dia tetap merasa aku tidak cukup.

__ADS_1


Berbeda dengan Val, bagaimana aku harus menjelaskannya? Dengan gadis ini, aku tidak perlu menjadi orang lain selain diriku sendiri. Semuanya terjadi begitu saja--alami, tanpa dipaksakan--seperti potongan puzzle yang jatuh di tempat yang tepat.


Dasar kutu kupret! umpatku pada diri sendiri. Aku seharusnya belajar dari hubungan asmara dengan Linda yang kandas dan berakhir dengan rusaknya persahabatan, bukannya sekarang malah naksir pada Val? Tapi bagaimana cara seseorang menghindari chemistry yang kuat dengan orang lain?


__ADS_2