
Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Gagak Kluyur termasuk orang yang dikagumi di desa itu. Tetapi Sukmo Aji dengan mudahnya dapat menjatuhkannya. Belum lagi mereka sempat berpikir lebih banyak, mereka dikejutkan oleh suara Cangkil yang gemuruh seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Gagak Kluyur, adik kandung sekaligus orang kepercayaannya dipermainkan orang asing itu, hatinya menjadi panas.
Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was. Cambuknya yang besar dan panjang dengan karah –karah besi itu diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing. Sukmo Aji kini harus benar-benar waspada.
Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat Cangkil akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya Sukmo Aji dapat menyelamatkan diri. Cambuk Cangkil yang berputar-putar itu, cepat sekali menyambar leher Sukmo Aji, tetapi secepat itu pula Sukmo Aji membungkuk menghindari, sehingga cambuk itu tidak mengenai sasarannya. Sukmo Aji melihat sorot mata Cangkil yang menyala itu. Ia pun segera mempersiapkan dirinya pula. Cangkil tentu tidak akan sekedar bermain-main lagi.
Sejenak kemudian Cangkil pun mulai menyerang. Serangannya terasa lebih mantap dan lebih cepat. Namun Sukmo Aji masih merasakan betapa Cangkil itu ilmunya berlapis –lapis jauh di bawah tataran ilmu kanuragannya. Meskipun Cangkil sudah meningkatkan tataran ilmunya, namun Sukmo Aji masih merasa sangat leluasa untuk menghindar atau pun sesekali balas menyerang dengan garang. Pada pertarungan berikutnya. Sukmo Aji benar-benar ingin mengajari agar Cangkil tidak terlalu meremehkan orang lain.
Karena itu maka ketika Cangkil mulai menyerangnya lagi dengan ujung cambuk yang mematuk bagai ular bandotan macan, Sukmo Aji yang mengetrapkan ilmu pada tataran yang lebih tinggi, telah mendahuluinya. Seperti angin pusaran Sukmo Aji melanda Cangkil. Cangkil terkejut. Tetapi ia terlambat. Serangan Sukmo Aji telah mengenai dadanya.
__ADS_1
Justru Cangkil lah yang telah tergoncang. Wajah Cangkil menjadi merah membara ketika ia harus berusaha untuk mempertahankan keseimbangannya, ia merasa telah direndahkan oleh Sukmo Aji sehingga pertahanannya berguncang.
Karena itu, dengan lantang iapun berkata, “Hai anak muda. Agaknya kau benar-benar tidak tahu diri. Baik. Baik. Aku tidak akan merunut sampai dimana tataran kemampuanmu. Jika kemudian serangan-seranganku menghancurkanmu, itu adalah tanggung jawabmu.”
Sukmo Aji tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sebenarnyalah Cangkil yang marah itu telah meningkatkan ilmunya pada tataran puncak. Ia benar-benar ingin mempermalukan Sukmo Aji dihadapan para warga kademangan Pucang Kembar. Sejenak kemudian, maka serangan Cangkil pun sudah menjadi jauh berbeda dengan serangan-serangan sebelumnya. Serangannya itu pun menjadi jauh lebih cepat, lebih mantap dilandasi dengan tenaga wadagnya yang sangat besar.
Tetapi Sukmo Aji pun sudah siap sepenuhnya. Seberapa pun Cangkil berdiri pada tataran ilmunya, Sukmo Aji tidak akan mengecewakannya. Dengan demikian, maka pertempuran antara dua orang itu pun segera meningkat menjadi semakin sengit Mereka tidak lagi bertempur pada tataran awal ilmu mereka, tetapi mereka bertempur pada tataran yang jauh lebih tinggi. Cangkil yang agak pendek dan kekar itu berloncatan menyambar-nyambar. Cambuknya terayun-ayun mengerikan. Hembusan angin yang tergetar oleh ayunan cambuknya terhempas ke tubuh Sukmo Aji.
Sebenarnya Sukmo Aji masih akan menghindari bentrokan-bentrokan secara langsung, sebab ia tidak ingin lawannya itu cedera parah sehingga membuat persoalan menjadi semakin rumit.
__ADS_1
Tetapi kali ini, ia harus melawan serangan kaki Cangkil yang dengan deras menyambar kea rah ulu hati. Maka untuk tidak mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki atas dirinya, terpaksa Sukmo Aji mempergunakan sebagian besar dari tenaganya yang dipusatkan pada siku tangan kanannya. Ia merendah sedikit sambil memiringkan tubuhnya. Maka, terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Cangkil dengan siku tangan Sukmo Aji. Akibatnya hebat pula. Cangkil ternyata telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan ketika ia melihat bahwa Sukmo Aji tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali.
Tetapi dugaan itu ternyata meleset sama sekali. Ketika kaki Cangkil yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu menyentuh siku tangan Sukmo Aji, Cangkil merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang gemeretakan, sedangkan ia terpental oleh kekuatannya
sendiri dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri.
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak hatinya bergetar, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Cangkil terbanting di tanah hingga pingsan. Seperti Gagak Kluyur. Demang Pucang Kembar hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu hal, dia lah yang harus bertanggungjawab.
Cepat-cepat ia mendekati Cangkil yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Cangkil yang membentur siku Sukmo Aji. Kaki itu terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak lekas-lekas mendapat pertolongan. Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan orang asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Gagak Ijo dan kemudian sekaligus Cangkil.
__ADS_1
Sementara itu Cangkil dan Gagak Ijo telah diangkat orang ke dalam sambil menunggu Ki Galih Peksi. Kini perhatian orang seluruhnya tertumpah kepada Sukmo Aji yang masih belum bergeser dari tempatnya. Hanya sebentar mereka melirik juga kepada Demang Pucang Kembar, sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah seterusnya yang akan diperbuat oleh demang tua itu?
Sebenarnya pada saat itu Demang Pucang Kembar telah mengambil keputusan untuk mempersilahkan Sukmo Aji masuk ke rumah kademangan dan memberikan keterangan-keterangan. Tetapi segera keadaan menjadi tegang kembali ketika seseorang dengan langkah yang tegap dan tenang memasuki gelanggang.