Kisah Di Lereng Gunung Merapi

Kisah Di Lereng Gunung Merapi
15


__ADS_3

Dapur di rumah demang Pucang Kembar sore itu tampak sepi. Hanya ada seorang juru masak yang bernama Mbok Rongkot dan seorang pelayan perempuan di situ. Keduanya adalah perempuan-perempuan yang sudah bekerja lama. Sambil berbicara ngalor ngidul menyiapkan makan para bekel dan para bebahu serta untuk Miranti yang masih belum pulih benar.


“Aku memasak begini banyak, seperti yang diminta ki demang. Akan tetapi, den ayu Miranti hanya makan sedikit sekali. Hampir tak pernah menyantapnya lebih dari separuh...”


“Dimakan atau tidak, sudah tugas kita memasak dan menghidangkan. Sebenarnya aku kasihan melihat den ayu. Baru dua hari terbaring namun, tubuhnya sudah terlihat susut,” jawab si pelayan.


Saat itu pintu dapur terbuka. Kedua pelayan. Satu hal yang tidak pernah terjadi bahwa seorang pimpinan pengawal kademangan yang tidak ada hubungan sanak kadang dengan ki demang tiba –tiba masuk ke dalam dapur.


“Pangestu...?” Mbok Rongkot keluarkan suara keheranan. Dua perempuan tua itu langsung lega ketika mereka melihat Pangestu justru tersenyum lebar.


“Semua orang sudah menunggu di pendopo. Kalian berdua masih bekerja di sini. Kalau boleh tahu yang mana jatah makan untuk Miranti?”


“ Ini Pangestu. Makanan untuk den ayu Miranti. Sesuai dengan yang diminta oleh ki Galih Asem. Den ayu harus banyak makan sayuran. Kami berdua membuat pecel dan urap telur di campur dengan kacang panjang “


“Kalau begitu cepat bawa keluar dahulu untuk para tamu di pendopo. Biarlah makanan untuk Miranti letakkan dulu di atas meja itu!”


Mbok Rongkot di bantu oleh pelayan satunya dengan cepat mengambil nampan besar, meletakkan bermacam-macam makanan di atas nampan itu, dua bumbung besar wedang sereh lalu membawa semua itu ke pendopo.


Begitu dia hanya tinggal seorang diri di tempat itu, dari balik sakunya Pangestu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang terbuat dari daun waru. Begitu lipatan dibuka di dalamnya terlihat sejenis bubuk berwarna putih. Dengan cepat bubuk ini di siramkannya di atas makanan yang ada di meja.


Baru saja dia hampir selesai menuangkan seluruh bubuk, tiba-tiba pintu dapur terbuka. Mbok Rongkot muncul dan melangkah masuk. Membuat Pangestu kaget dan membentak.


“Ada apa Mbok? Mengapa kau kembali?!”


“Selendang saya... Selendang saya tertinggal Pangestu...”


“Mbok…! Kau tak akan mati tanpa selendang itu! Keluar sana!”


Mbok Rongkot keheranan mengapa sikap Pangestu tiba –tiba berubah kasar. Setengah ketakutan orang tua itu keluar dari dapur dengan langkah tergopoh –gopoh sembari membawa nampan berisi makanan yang akan diantarkan pada Miranti. Pangestu mengikuti dari belakang. Di ujung pintu butulan dia membelok ke kanan. Sebelum berlalu, dia masih sempat melihat Mbok Rongkot berbicara dengan dua orang pembantu perempuan yang berdiri di depan pintu bilik Miranti. Lalu pintu dibuka dan Mbok Rongkot masuk ke dalam.


Mbok Rongkot tertegun di pintu bilik. Ketika ia melihat tubuh yang terbaring diam itu, rasa-rasanya dadanya bergejolak keras sekali. Wajah Miranti nampak pucat sekali. Baru beberapa saat saja ia tidak melihatnya. Namun nampaknya Miranti menjadi sangat kurus dan lemah.


Mbok Rongkot terperanjat ketika ia mendengar Miranti berbisik, “Masuklah, jangan hanya termangu di depan pintu Mbok.”


Dengan ragu-ragu Mbok Rongkot melangkah masuk. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar ketika ia kemudian melihat Miranti memiringkan kepalanya.


Seleret senyum membayang diwajah yang pucat itu. Kemudian terdengar suaranya parau dikerongkongan, “Maafkan, aku merepotkan mu.”


Rasa-rasanya dada Mbok Rongkot bagaikan bergetar. Suara Miranti yang lemah, dalam dan parau itu. Perlahan-lahan Mbok Rongkot melangkah mendekat.


“ Den Ayu makanlah. Ini simbok buatkan makanan kesukaan den ayu “


“ Bapa mana Mbok? “


“ Ki demang sedang di pendopo ada pertemuan dengan para jagabaya, bebahu dan bekel kademangan yang ada di sekitar Pucang Kembar. Sepertinya ada sesuatu yang penting sedang mereka bicarakan. Nanti akan simbok sampaikan kepada ki demang. Kalau den ayu mencari beliau Den ayu makanlah, mumpung nasinya masih hangat. Simbok ke dapur sebentar“


Sepeninggal mbok Rongkot, Miranti menatap sesaat makanan yang diletakkan perempuan di tepi ranjang, entah mengapa sekali ini timbul saja hasratnya untuk mencicipi makanan itu. Sayuran yang direbus, sambel kacang, rap telur dengan kacang panjang lalu nasi putih yang masih mengepulkan asap tipis dan sesisir pisang raja. Perlahan –lahan Miranti duduk di ranjangnya. Kepalanya masih terasa berdenyut –denyut.

__ADS_1


Perlahan –lahan gadis itu mengambil sayur satu suap. Enak. Dijumputnya segenggam nasi dan disendokkannya sambal kacang. Tambah enak. Selama dua hari hampir tidak makan, hanya minum obat yang diramu oleh Ki Galih Asem. Maka, hidangan yang ada di meja disantapnya dengan lahap meskipun tidak keseluruhannya sanggup dihabiskan.


Baru saja matahari menerangi jagat pagi itu, sinarnya belum menyengat benar di permukaan kulit. Kertopati yang tegak di belakang jendela berpaling manaka di halaman rumahnya muncul dua orang berkuda.


Kertopati keluar ke arah serambi. Dua orang penunggang kuda itu lantas turun dari tunggangan masing –masing. Setelah mengikat kuda –kudanya di patok bambu yang sudah tersedia. Dua orang itu lantas naik ke serambi. Kertopati sudah berdiri disana.


“ Kakang, Ki Demang menyuruh kami memanggil kakang untuk datang ke banjar desa "


“ Ada apa sebenarnya. Pagi –pagi seperti ini Ki Demang menyuruhku datang ke banjar desa “


Kertopati merasa keheranan. Namun, pemuda itu lantas masuk ke dalam rumah untuk berganti baju. Setelah sebelumnya mempersilahkan kedua tamunya untuk menunggunya di pringgitan. Tidak terlalu lama tiga ekor kuda telah keluar dari regol kediaman Kertopati. Tiga penunggangnya seperti hendak beradu lari. Kuda –kuda itu lari bagaikan berkejar –kejaran dengan hantu.


Ketika Kertopati masuk ke dalam pendopo banjar desa itu, didapatinya Demang Pucang Kembar duduk berhadap-hadapan dengan Pangestu. Kertopati mengangguk memberi hormat. Lantas dengan perlahan duduk di hamparan tikar pandan.


“ Ki Demang, ada apakah memerintahkan saya menghadap?” bertanya Kertopati.


Di dalam hati dia sudah menduga ada sesuatu yang penting, mungkin tidak beres. Apalagi dilihatnya Pangestu ada di sana dengan memasang wajah kelam, tegang tapi sinis.


“Salah seorang pengawal bawahan Pangestu baru saja melaporkan bahwa tiga orang pengawal yang sekiranya akan aku panggil sebagai saksi ditemukan mayatnya di tepi bulak Dawa.


Apa yang dikatakan Demang Pucang Kembar ini tentu saja membuat Kertopati terkejut. Sekilas dia melirik ke arah Pangestu yang kini tampak duduk lebih santai.


“Maaf Ki Demang, saya sama sekali belum mendapat laporan. Apakah diketahui sebab kematian ketiga orang itu?”


Yang menjawab justru adalah Pangestu. “Justru kau dipanggil kemari untuk segera melakukan penyelidikan adi Kertopati!”


“Kalau begitu, saya minta diri untuk melakukan pemeriksaan.”


“Tunggu dulu,” Demang Pucang Kembar cepat berkata.


“Turut penjelasanmu beberapa hari lalu bukan mustahil ketiga orang itu dapat memberikan kesaksian bahwa Miranti tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang Pajang yang ditemuinya secara sembunyi –sembunyi itu...”


Kini ternyata mereka sudah mati. “Kalau mereka mati sekaligus di tempat yang sama, ini satu hal yang aneh. Bukan mustahil mereka dibunuh!”


“Berkata begitu apakah kau punya bukti-bukti adi Kertopati? Menyelidikpun belum, bagaimana kau bisa berkata demikian? Apakah kau pernah mendengar tentang seekor harimau kumbang yang kelihatan muncul di sekitar bulak Dawa beberapa hari belakangan ini?”


“Saya mendengar memang, kakang... Tapi... Entahlah, saya harus menyelidik lebih dulu. Kelak akan memberikan laporan hasil penyelidikan pada Ki Demang dan padamu. Saya minta diri sekaang!”


Di bulak Dawa, tiga mayat digeletakkan di atas tiga usungan bambu. Sewaktu Kertopati sampai di situ dan memeriksa keadaan mayat satu persatu, di tubuh mayat memang terlihat luka-luka menganga, tercabik memanjang.


“Mereka seperti dikoyak harimau...” kata Kertopati dalam hati.


“Tapi aneh, cabikan ini terlalu rapi dan bersih bukan harimau benaran. Koyakan harimau tidak serapi ini. Tubuh-tubuh ini dikoyak dengan pisau besar, mungkin celurit atau kelewang. Ada orang yang telah membunuh mereka! Edan! Mereka saksi-saksi yang kuharapkan bisa menyelamatkan den Ayu Miranti. Ah... bagaimana sekarang?”


Bersama beberapa pengawal yang sengaja dibawanya Kertopati kembali ke induk kademangan Pucang Kembar. Ketiga mayat itu dibawa menggunakan gerobak yang ditarik dua ekor sapi. Saat dia menghadap Demang Pucang Kembar, Pangestu tak ada lagi di situ.


“Bagaimana hasil penyelidikanmu Kertopati?” Demang Pucang Kembar langsung bertanya.

__ADS_1


“Ketiga orang yang malang itu memang mati dicabik-cabik harimau Ki Demang,” jawab Kertopati.


Baru saja matahari menerangi jagat pagi itu, sinarnya belum menyengat benar di permukaan kulit. Kertopati yang tegak di belakang jendela berpaling manaka di halaman rumahnya muncul dua orang berkuda.


Kertopati keluar ke arah serambi. Dua orang penunggang kuda itu lantas turun dari tunggangan masing –masing. Setelah mengikat kuda –kudanya di patok bambu yang sudah tersedia. Dua orang itu lantas naik ke serambi. Kertopati sudah berdiri disana.


“ Kakang, Ki Demang menyuruh kami memanggil kakang untuk datang ke banjar desa "


“ Ada apa sebenarnya. Pagi –pagi seperti ini Ki Demang menyuruhku datang ke banjar desa “


Kertopati merasa keheranan. Namun, pemuda itu lantas masuk ke dalam rumah untuk berganti baju. Setelah sebelumnya mempersilahkan kedua tamunya untuk menunggunya di pringgitan. Tidak terlalu lama tiga ekor kuda telah keluar dari regol kediaman Kertopati. Tiga penunggangnya seperti hendak beradu lari. Kuda –kuda itu lari bagaikan berkejar –kejaran dengan hantu.


Ketika Kertopati masuk ke dalam pendopo banjar desa itu, didapatinya Demang Pucang Kembar duduk berhadap-hadapan dengan Pangestu. Kertopati mengangguk memberi hormat. Lantas dengan perlahan duduk di hamparan tikar pandan.


“ Ki Demang, ada apakah memerintahkan saya menghadap?” bertanya Kertopati.


Di dalam hati dia sudah menduga ada sesuatu yang penting, mungkin tidak beres. Apalagi dilihatnya Pangestu ada di sana dengan memasang wajah kelam, tegang tapi sinis.


“Salah seorang pengawal bawahan Pangestu baru saja melaporkan bahwa tiga orang pengawal yang sekiranya akan aku panggil sebagai saksi ditemukan mayatnya di tepi bulak Dawa.


Apa yang dikatakan Demang Pucang Kembar ini tentu saja membuat Kertopati terkejut. Sekilas dia melirik ke arah Pangestu yang kini tampak duduk lebih santai.


“Maaf Ki Demang, saya sama sekali belum mendapat laporan. Apakah diketahui sebab kematian ketiga orang itu?”


Yang menjawab justru adalah Pangestu. “Justru kau dipanggil kemari untuk segera melakukan penyelidikan adi Kertopati!”


“Kalau begitu, saya minta diri untuk melakukan pemeriksaan.”


“Tunggu dulu,” Demang Pucang Kembar cepat berkata.


“Turut penjelasanmu beberapa hari lalu bukan mustahil ketiga orang itu dapat memberikan kesaksian bahwa Miranti tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang Pajang yang ditemuinya secara sembunyi –sembunyi itu...”


Kini ternyata mereka sudah mati. “Kalau mereka mati sekaligus di tempat yang sama, ini satu hal yang aneh. Bukan mustahil mereka dibunuh!”


“Berkata begitu apakah kau punya bukti-bukti adi Kertopati? Menyelidikpun belum, bagaimana kau bisa berkata demikian? Apakah kau pernah mendengar tentang seekor harimau kumbang yang kelihatan muncul di sekitar bulak Dawa beberapa hari belakangan ini?”


“Saya mendengar memang, kakang... Tapi... Entahlah, saya harus menyelidik lebih dulu. Kelak akan memberikan laporan hasil penyelidikan pada Ki Demang dan padamu. Saya minta diri sekaang!”


Di bulak Dawa, tiga mayat digeletakkan di atas tiga usungan bambu. Sewaktu Kertopati sampai di situ dan memeriksa keadaan mayat satu persatu, di tubuh mayat memang terlihat luka-luka menganga, tercabik memanjang.


“Mereka seperti dikoyak harimau...” kata Kertopati dalam hati.


“Tapi aneh, cabikan ini terlalu rapi dan bersih bukan harimau benaran. Koyakan harimau tidak serapi ini. Tubuh-tubuh ini dikoyak dengan pisau besar, mungkin celurit atau kelewang. Ada orang yang telah membunuh mereka! Edan! Mereka saksi-saksi yang kuharapkan bisa menyelamatkan den Ayu Miranti. Ah... bagaimana sekarang?”


Bersama beberapa pengawal yang sengaja dibawanya Kertopati kembali ke induk kademangan Pucang Kembar. Ketiga mayat itu dibawa menggunakan gerobak yang ditarik dua ekor sapi. Saat dia menghadap Demang Pucang Kembar, Pangestu tak ada lagi di situ.


“Bagaimana hasil penyelidikanmu Kertopati?” Demang Pucang Kembar langsung bertanya.

__ADS_1


“Ketiga orang yang malang itu memang mati dicabik-cabik harimau Ki Demang,” jawab Kertopati.


__ADS_2