Kisah Horor

Kisah Horor
apartemen berhantu part 2


__ADS_3

Ketukan dari luar jendela


Hari itu sangat melelahkan, aku pindah ke apartemen baru. Proses pemindahan dan pengaturan barang pun memakan waktu lama. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk bermalam di apartemen baru, sekalian 'test drive'. Namun, keputusan itu tampaknya salah.


Malam itu aku menikmati hasil jerih payah dengan pesta kecil-kecilan dengan sahabat. Aku undang mereka ke apartemen baru yang bisa dibilang masih berantakan. Kami pun ngobrol dan dilengkapi makanan. Semakin larut, salah satu temanku izin tidur duluan. Tinggal aku dan Mika. Mika juga dikenal sensitif terhadap makhluk gaib.


Saat kami menoton, Mika tiba-tiba mulai menangis. Aku bingung dan mencoba menanyakan sebabnya. Dia tidak mengangkat kepalanya. Namun, bulu kudukku merinding saat mendengar suara erangan dari Mika. Suara itu juga tidak mirip dengan dirinya. Mika tiba-tiba tertawa, temanku yang awalnya tidur pun terbangun.


Kami panik. Tiba-tiba Mika pingsan dan kamu mengistirahatkan badannya di ranjang. Aku dan Dodi pun berjaga, takut ada apa-apa lagi. Tiba-tiba jendela apartemenku seperti terkenal lemparan batu, karena suaranya cukup keras. Aku dan Dodi pun bingung, tapi takut. Tiba-tiba seperti ada yang mengetuk jendela dengan keras dan cepat. Kami mulai panik. Saat itu juga Mika terbangun dan mulai tertawa lagi sambil berkata, "Jangan macam-macam, tinggalkan tempat ini".


Setelah itu Mika kembali pingsan. Dodi yang cukup berani pun berjalan ke arah jendela dan berteriak untuk mengusir apapun atau siapapun itu. Tidak lama ketukan terhenti. Malam itu kami putuskan untuk tidur. Sampai paginya kami membawa Mika ke rumah sakit. Mika bercerita kalau 'penjaga' apartemenku marah karena tanahnya terusik.


Apartemen kosong, tapi ada tetangga?


Ine memang sudah diperingati saat mau menyewa apartemen yang terkenal angker. Ine sendiri bersikeras kalau tidak ada apa-apa dalam kompleks itu. Apartemen harga murah itu memang terkenal angker. Lantai yang dipilih Ine pun termasuk yang terangker. Apartemennya bernomer 56B, tapi jarak tetangga terdekat adalah 50B.

__ADS_1


Malam itu Ine memutuskan untuk langsung tidur di apartemen barunya. Pukul 12 malam, Ine mendengar suara benda keras jatuh. Dia tahu bahwa suara nyari itu dari tetangga yang tepat di sebelahnya. Ine berpikir bahwa itu hanya halusinasi. Namun, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemennya.


Saat dibuka, seorang wanita yang terlihat pucat ada datang menyapanya. Wanita itu ramah, sangat ramah. Meski begitu, menurut Ine, aneh seseorang bertamu pada jam 12 malam. Namun, dirinya tetap berpikir positif. Ruang tamunya dilengkapi dengan sebuah kaca yang harusnya diletakkan di kamar. Beberapa menit setelah ngobrol, Ine melihat ke arah kaca. Betapa kagetnya ketika melihat tamunya tidak memiliki pantulan di kaca.


Ine mulai panik, bicaranya mulai gelagapan. Sosok wanita itu terdiam saat melihat Ine panik. Wanita itu pun tersenyum dan mengangguk menandakan kalau apa yang dipikirkan Ine benar. Ine pun panik, tidak bisa berbuat apapun. Setelah itu, dirinya pingsan. Saat terbangun, Ine ada di lorong tepat depan kamarnya. Ine dibangunkan tetangga lain yang melewati kamarnya. Anehnya, Ine tidak membawa kunci apartemen. Tetangga bercerita bahwa Ine sempat tertawa terbahak-bahak semalam sampai pukul dua pagi. Sejak saat itu, Ine pun memutuskan untuk menjual apartemen itu.


Sudut keramat.


Satu minggu di apartemen baru, aku sudah mengalami hal yang tidak mengenakkan. Siang itu, aku pulang dari belanja bulanan. Saat masuk aku melihat seisi apartemen berantakan. Aku pikir ada maling di siang bolong. Setelah aku periksa, tidak ada yang hilang. Aku pun kebingungan. Menjelang Maghrib, pintu toiletku tertutup sendiri.


Aku mencoba kembali tidur, tapi kali ini, ada bekas jejak kaki di kasurku. Jejak kaki itu terlihat seperti bekas tanah. Aku panik dan sangat ketakutan. Kemudian, aku segera menelpon temanku yang tinggal tidak jauh dari apartemen, tapi tidak diangkat. Saat itu ada yang mengetuk pintu apartemen. Namun, ketika dibuka tidak ada orang. Aku pun semakin panik. Sampai tiba-tiba di atas kasurku ada sosok hitam tinggi.


Sosok itu menatapku. Matanya bersinar putih, aku merasa sangat takut. Aku seperti dibisiki oleh seseorang. Namun, ternyata yang membisikiku adalah sosok itu. Dia memintaku untuk tidak mengganggu satu sudut di apartemenku. Sudut yang mana? Tempat aku menaruh kasur. Malam itu aku pun langsung memindahkan kasur dan mengosongkan sudut itu. Sampai sekarang, tidak ada gangguan lagi dari sosok itu.


Jejak kaki di sekeliling apartemen

__ADS_1


Hira malam itu baru pulang dari kantor. Saat itu dirinya sangat lelah dan memutuskan untuk langsung tidur. Namun, beberapa jam setelah tidur, dirinya terbangun akibat suara langkah kaki yang keras. Hira mengira suara itu adalah dari maling. Dirinya pun langsung pelan-pelan bangun dari kasur. Saat itu, dia mencoba ikut dari mana suara langkah itu.


Tiba-tiba, bulu kuduk Hira berdiri. Jendela apartemennya terbuka, dia ada di lantai tujuh. Dirinya pun yakin kalau ada maling yang masuk apartemennya. Dirinya pun membawa payung dan melangkah ke arah toilet. Suara tersebut menghilang dan Hira mengira maling tersebut mencoba sembunyi.


Saat masuk ke toilet, Hira langsung membuka paksa pintu, tapi ruangan itu kosong. Hira pun kebingungan. Dirinya langsung kembali ke arah tempat tidur. Namun, baru satu langkah keluar, dirinya melihat jejak kaki yang seperti baru menginjak darah pun ada di seluruh lantai apartemennya. Hira panik dan ketakutan.


Hira pun merasa ada yang menatapnya dari jendela. Benar saja, ada sosok wanita yang sedang melambai ke arahnya. Wanita dengan pakaian merah dan tangan serta kaki yang berlumuran darah. Hira pun terdiam, tidak mampu bergerak dan teriak, akhirnya pingsan. Paginya, Hira terbangun dengan dirinya ada di atas kasur. Kamarnya masih dipenuhi jejak kaki. Hari itu juga dirinya keluar dari apartemen tersebut.


Menyan dan penunggu yang mengerikan.


Aku sudah merasakan bau menyan sejak hari pertama menempati apartemen. Namun, aku berpikir itu hanya perasaanku saja sampai pada malam ketiga. Saat itu ada adikku yang menginap di apartemen baru. Dia memang memiliki sensitivitas terhadap makhluk gaib. Semakin malam, adikku pun mengatakan bahwa dia mencium bau menyan dan ada sosok wanita yang memerhatikan kami dari sudut ruangan.


Aku pun bingung dan takut dibuatnya. Aku berusaha tenang dan memintanya untuk tidak bercerita lagi. Namun, adikku semakin tidak tenang. Katanya, wanita yang memerhatikan kami memiliki taring panjang dengan rambut sampai menyentuh lantai. Saat dia mendeskripsikan sosok tersebut, aku pun merasa hampir kencing di celana.


Kemudian, aku pun mencium bau menyan yang semakin kentara. Adikku pun mengaku kalau sosok wanita itu sudah hilang, tapi ketakutanku tidak berhenti di situ. Adikku mengaku kalau sejak kedatangannya, ada kepala melayang di dalam toiletku. Aku pun semakin khawatir dan tidak berani berbuat apa-apa. Panik, aku mengajaknya pulang ke rumah orangtua. Malam itu juga kami minggat dari apartemen. Sejak hari itu, aku hanya satu kembali kembali ke sana, untuk mengurus perpindahan.

__ADS_1


Kisah-kisah di atas boleh kamu percaya atau tidak. Namun, kamu sendiri pernahkah rasakan pengalaman serupa?


__ADS_2