Korban Perasaan

Korban Perasaan
Apes


__ADS_3

Untuk menghindari panggilan Cahya yang bertubi-tubi, aku yang semakin risih inipun kepikiran untuk pergi saja sejenak dengan meninggalkan ponselku di apartemen. Karena hanya dengan cara seperti itulah aku mampu mengabaikannya.


Aku membuka lemari pakaianku. Nampak berjejer pakaian yang kumiliki. Aku mencari-cari yang pas untuk aku gunakan. Hingga tanganku menyibak sebuah dress yang telah lama sekali kubeli namun baru dipake sekali. Dress yang cukup terbuka itu, membuatku kepikiran untuk pergi ke club malam saja.


Aku pun bersiap-siap, kupoleskan make-up natural dan lipstik yang dibuat ombre supaya tak terlalu monoton dengan dress blink-blinkku ini. Setelah aku selesai bersiap, aku pun turun kebawah.


25 menit diperjalanan, kini aku sudah sampai di sebuah club malam di daerah Sen*pati atau biasa disebut Sen*party oleh kalangan anak muda karena banyaknya tempat ajib-ajib (dug*m alias dunia gemerlap) di daerah ini. Aku berjalan di dalam club sembari mencari tempat yang cocok untuk aku yang hanya datang seorang diri. Hingga akhirnya aku memilih duduk di depan meja bartender. Ia menawariku berbagai macam jenis minuman yang memiliki kadar alk*hol cukup tinggi, aku hanya menggerakkan tanganku tanda kalau aku tidak tertarik dengan semua minuman itu.


Dengan sedikit berteriak di depan pria bartender, aku memesan secangkir minuman yang berwarna bening dengan topping jeruk nipis dan memiliki cita rasa yang tebal di lak-lakan. Minuman itu mampu kuhabiskan hanya dalam dua kali teguk saja.


Ahh. Begitu kurasakan sensasi dari minuman itu.


Musik semakin meriah. Beberapa pria mengajakku bergabung dengan mereka, hanya saja aku pandai menolak hingga akhirnya mereka bosan sendiri lalu pergi dariku. Dan aku terus saja memesan minuman yang persis seperti tadi.


Semakin banyak aku menenggak minuman itu, semakin cepat pula aku merasakan efeknya. Kepalaku terasa berat. Ini adalah level mab*k terparah yang pernah aku rasakan. Tubuhku perlahan sudah tak bisa lagi aku kuasai.


POV Airish end


Airish meracau sampai tertunduk-tunduk di depan bartender yang melayaninya itu. Berulang kali ia memaki-maki pria itu. Tapi sejurus kemudian ia menangis. Si pria bartender mengabaikan Airish sembari melakukan pekerjaannya. Karena ia sudah sering melihat orang mab*k yang lebih parah lagi dibanding Airish saat ini.


"Sampah. Sampah. Kamu kayak sampah. Kamu udah aku buang ditempat sampah. Dan dipungut sama si Nisa. Apa? Mau bicara apa lagi? Hiks hiks hiks... Kamu bilang kamu menginginkanku. Buktikan. Cerein istri kamu dan kembali sama aku. Aku mau kok nerima kamu lagi, aku masih cinta sama kamu hiks hiks"


Semakin lama tindakan Airish justru semakin parah. Bartender yang tadinya cuek akhirnya mengalah dan membantunya untuk pulang. Ia memesankan sebuah taksi untuk mengantarkan Airish pulang. Karena walau Airish dalam keadaan oleng parah, ia masih mampu menjawab si bartender saat menanyakan alamat tempat tinggalnya.


Begitu sampai di tower apartemen tempat tinggalnya, kini Airish menjadi beban bagi sopir taksi yang mengantarkannya. Beliau harus lari-larian mencari satpam untuk dimintai pertolongan karena Airish tak bisa bangun dan harus dibopong.


Seorang satpam yang sedang berjaga sendirian pun bersedia membantu ketika mendengar salah satu nama penghuni apartemen yang ia jaga disebut oleh si sopir taksi. Mereka berdua pun akhirnya gotong-royong menurunkan tubuh Airish dari dalam mobil.


Setelah itu pak sopir langsung pamit karena merasa sudah tidak ada tanggung jawab lagi atas Airish. Ia sudah melakukan pekerjaannya dan oleh karena itu ia langsung memutuskan untuk pergi.


Airish dibantu oleh satpam tadi untuk masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka naik menuju lantai unit apartemen Airish. Kondisi Airish masih lancar meracau yang tak jelas hanya saja tubuhnya tidak begitu kokoh berdiri sehingga pak satpam memeganginya erat agar tidak jatuh ke lantai.

__ADS_1


Ting


Lift berhenti di lantai 13. Pintu perlahan terbuka. Airish di tuntun pak satpam untuk melangkahkan kaki keluar.


Diluar lift, secara samar-samar Airish melihat ada seorang pria yang berperawakan seperti Cahya. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, pakai kemeja digulung sampai siku, dan memakai ikat pinggang pula. Persis style Cahya pulang dari resto.


Raut wajah Airish mendadak menjadi berang. Secara mendadak ia jadi mampu berdiri sendiri. Dengan mata melotot ia mendorong tubuh lelaki tadi sampai pak satpam harus minta maaf pada si pemuda.


"Heh! Ngapain kamu kesini? Jangan pernah temui aku. Aku memang gak baik karena sempat tergoda sama kamu, tapi sekarang aku mulai sadar kalo kamu memang gak menginginkan aku!"


"Mas maaf, mbaknya lagi mab*k aduh gimana ini" Pak satpam terus mencoba memberi pengertian pada pemuda itu di tengah-tengah makian Airish.


Airish semakin menjadi. Ia menghantamkan tubuh si pemuda itu ke dinding sampai si empunya mengaduh kesakitan.


"DAN JANGAN HUBUNGI AKU LAGI. AKU MUAK DENGAR PERKATAAN KAMU SEAKAN MENGINGINKAN AKU TAPI TINDAKAN KAMU MALAH SEBALIKNYA. KALO AKU JADI LAKI-LAKI, AKU GAK AKAN SEPENGECUT KAMU. AKU AKAN PERJUANGIN ORANG YANG SETIA SAMA AKU WALAU BAGAIMANAPUN KEADAANNYA APALAGI SAAT TAHU ORANG ITU MENGGANTUNGKAN DAN MEMPERCAYAKAN SEMUANYA SAMA AKU. KARENA SETIA ITU MAHAL, DAN KOMITMEN ITU SAKRAL!"


Airish terperosot dan menangis sejadi-jadinya di lantai setelah melepaskan cengkeramannya di kerah pemuda itu.


Pak satpam pun mempercayakan hal itu karena gelagat Airish yang memang seperti mengenal si pemuda tadi. Si pemuda juga langsung meraih kedua tangan Airish dan membantunya berdiri.


"JANGAN SENTUH AKU! APA ISTRI KAMU SANGAT TIDAK MENGGODA SAMPAI KAMU MASIH TERUS MEMUJA AKU? KAMU TERUS TERBAYANG DENGAN CIUM*NKU?" Airish yang masih tergeletak dilantai semakin liar meneriaki pemuda itu. Dengan pakaian minim yang Airish gunakan membuat pria itu harus buru-buru membawa Airish dari sana.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Cukup beritahu aku dimana letak unitmu" Kata si pemuda itu dengan mencoba kembali membantu Airish berdiri.


"Emh? Kamu rupanya masih sangat menggilaiku?" Airish nurut. Ia berdiri walau masih sempoyongan. Tapi si pemuda dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang Airish agar Airish tidak jatuh.


"Pintu 137. PIN 6969. Kan dulu kamu yang ngatur PINnya" Ucap Airish menyebutkannya dengan menggoda si pemuda.


Sesampainya mereka masuk di dalam unit apartemen Airish, Airish semakin liar lagi menggoda si pria. Ia terus saja menyebut pria itu dengan Nama Aya. Sedangkan si pemuda itu tidak mengenal lelaki bernama Aya dan saat ini ia dengan sekuat tenaga menahan hawa n*fsunya karena Airish yang bertindak semakin diluar batas.


Walau bagaimanapun pemuda itu tak kehilangan akalnya. Ia mengeluarkan ponsel dan merekam aksi Airish yang menarik dirinya ke dalam kamar lalu mendudukkannya ditempat tidur.

__ADS_1


"Tolong jangan berbuat nekat. Aku sangat buas jika kau ingin tahu" Ucap si pemuda itu agar Airish takut padanya.


"Cocok sekali sayang. Kamu buas, aku ganas"


Pemuda itu menolak berkali-kali saat Airish hendak duduk di pangkuannya. Sampai pada saat Airish membuka dressnya dengan sukarela si pemuda pun refleks mendorong Airish sampai terjungkal kebelakang. Karena khawatir Airish cedera si pemuda itu pun menghentikan aksi perekamannya dan menolong Airish.


◇◇◇


Pukul 04 pagi, Airish terbangun karena merasakan hawa yang begitu dingin disekitar dadanya. Terpaan AC (Air Conditioner) seakan sangat dekat dengan tubuhnya. Masih dalam keadaan mata tertutup, ia menarik selimut yang nangkring diatas perutnya sampai ke dada. Tapi entah kenapa, selimut itu terasa berat. Airish bergerak miring kanan-kiri agar selimut itu terbebas dari himpitan tubuhnya.


Hingga kemudian...


POV Airish


Kesadaranku perlahan mulai muncul. Aku mulai bertanya-tanya kenapa selimut ini tidak mau beranjak dari atas perutku. Dan juga, aku merasakan ada benda berat diatas tubuhku.


Perlahan-lahan kucoba membuka mata. Apa??? Aku syok melihat bahu sampai dad*ku polos dan ada sebuah tangan kekar berurat khas tangan laki-laki yang berada di atas selimut dan yang lebih mengagetkan lagi, jemari pemuda itu hanya berjarak 1cm dari put*ngku.


"Aaaaaaaa" Teriakku sekencang-kencangnya.


Aku meronta-ronta diatas tempat tidur. Kutarik kasar selimut itu agar menutupi seluruh tubuhku dan langsung memunggungi si lelaki itu. Aku jijik, aku sangat jijik padanya.


Aku sungguh tidak pernah menduga akan jadi korban pelec*han untuk yang kedua kalinya. Aku tak berniat menoleh pada laki-laki yang sedang terperanjat di belakangku. Tak bisa kubayangkan nasibku akan sesial ini. Dan pikiranku semakin kacau saat membayangkan kalau ternyata pria bej*t itu ternyata seorang pekerja kasar dan miskin pula. Bisa kacau kalau aku harus menikah dengannya. Apa kata Aya nanti, jika aku menikah dengan pria yang jauh dibawahnya. Dan bagaimana pula sedihnya Ayah dan Ibu kalau anaknya merantau jauh-jauh ke Jakarta dapatnya yang miskin juga.


"Hei, jangan berisik!" Gertaknya.


"Huaaaa" Aku semakin tak terkontrol. Semua dugaanku tadi seolah benar. Pria ini tangannya berurat dan kekar tanda ia pekerja kasar, lalu dia yang sudah mengambil keuntungan dariku tapi kemudian dengan berani-beraninya ia menggertakku. Fix, tidak berpendidikan. Sudah pasti miskin ini.


"Bisa diam gak? Aku butuh istirahat" Ujarnya tanpa sudi untuk kulihat.


Aku menggulung selimut ke tubuhku, lalu beranjak ke kamar mandi. Aku sangat tidak suka satu ruangan dengannya. Dan aku perlu berpikir untuk mencerna semua masalah ini.

__ADS_1


__ADS_2