
Sudah di usir pakek cara halus sampai cara kasar pun tetap saja tidak berhasil. Dior malah kini duduk nyantai sampai kakinya naik ke atas meja. Tampang petakilannya membuat Airish jengah.
"Yang, remot Tv mana?" Tanya Dior.
"Aku bukan Shena" Ujar Airish ketus sembari berlalu hendak masuk ke kamar.
"Aku kan emang gak manggil kamu sayang. Tapi kuyang"
"Gak lucu"
"Kuyang, alias yang KUsaYANG"
Airish masuk kamar dan tak keluar-keluar lagi. Bodo amat dengan laki-laki yang sekarang tiduran di sofa depan Tv. Kalau di usir gak bisa, mending pakek cara lain, buat dia setidak nyaman mungkin.
Beberapa jam kemudian, Airish kelaparan. Ia keluar kamar dan melihat-lihat diluar kamar tampak begitu aman dan tenteram walau Tv masih menyala. Begitu Airish berjalan lebih jauh menuju dapur, nampaklah seorang pria lagi bertelanjang dada ketiduran di sofa.
Airish merutuk dalam hati. Aish, gue kira udah pergi.
Airish pun lanjut ke dapur memeriksa bahan masakan yang ia punya. Kemudian mulai memasak yang mudah dan simple saja.
Pertama-tama ia masak nasi dulu, dengan takaran cukup buat berdua aja. Lalu mencuci ayam untuk direbus dengan sedikit garam, kemudian sembari menunggu ayam matang ia mengulek sambal. Lalu setelah itu, ayam yang telah direbus di suwir-suwir dan dimasak beserta sambal, jadilah sambal ayam suwir. Kemudian untuk sayurnya, ia merebus buncis. Dan taraaa, masakan Airish sudah jadi.
Wangi masakan Airish tercium sampai kepenjuru ruangan. Dan mampu membangunkan singa yang tertidur di sofa.
"Hooaaam"
"Kamu masak?" Tanya Dior berjalan menghampiri Airish.
"Kamu jangan dekat-dekat. Pake baju dulu sana!"
"Gak mau ah, gerah"
Airish meletakkan seluruh hidangan ke atas meja serta setoples kerupuk kulit. Airish memang selalu nyetok kerupuk karena dirinya paling gak bisa makan tanpa kerupuk.
Walau masih ketus dan jutek pada Dior, tapi Airish masih punya hati. Piring dan gelas buat Dior ia ambilkan.
Mereka makan bersama. Dior berusaha memperbaiki suasana diantara mereka. Yang lama kelamaan membuat Airish sedikit lebih bermurah hati padanya.
"Tau gak makanan apa yang paling enak?" Tanya Dior.
"Makanan gratis" Tebak Airish.
"Salah, ada yang lebih enak lagi"
"Apa?"
"Makanan yang udah kita ikhlasin ke orang, terus kita ambil lagi"
Airish tertawa, "Oh iya iya, apalagi kalo orang itu nampak seneng banget kita kasih. Gak taunya kita ambil lagi"
◇◇◇
Hubungan Airish dan Dior memang mencair, tapi jelas tidak sama seperti sebelumnya. Karena setelah kehadiran Shena waktu itu, Airish berubah jadi cuek dan tidak pernah menghubungi Dior duluan. Terkadang, ucapan selamat pagi Dior malah dibalas besok sore.
Wajar saja Airish berubah, karena ia sendiri pun tak tahu bagaimana perasaan Dior padanya. Sehingga membuat dirinya berprinsip: Dior chat ya balas, Dior telepon ya angkat, Dior hilang ya biarin.
Bukannya dendam atau apa, hanya saja Airish merasa perlu untuk menghindari dirinya patah hati lagi. Setidaknya gak bodoh-bodoh amat.
Namun anehnya, Dior malah seakan nunjukin kesabarannya yang sering dicuekin oleh Airish. Ia senantiasa tetap memanggil Airish dengan sebutan Kuyang dan juga semakin sering ngasih kabar.
Yang mana pada akhirnya, luluh-luluh juga. Airish kini malah berada di dalam pelukan hangat Dior. Dengan alasan tak bisa tidur, yang akhirnya membuat Dior dari rumah sakit langsung ke apartemen Airish dan nginap disana. Murni tidur, tidak macam-macam.
Hingga di keesokan harinya, Airish menggeliat dan merasakan hembusan hangat di pipinya. Dilihatnya, pria tampan disampingnya masih tertidur pulas. Airish memiringkan tubuhnya sehingga berhadap-hadapan dengan Dior.
Tak lama Dior membuka matanya, mendapati Airish tengah memperhatikannya dengan sangat dekat.
"Apa liat-liat? Nanti naksir" Candanya.
__ADS_1
"Kamu tahu gak? Aku rugi banyak saat kenal kamu" Timpal Airish.
"Rugi apa?"
"Masa aku sama sekali gak ingat sama kejadian waktu aku mab*k. Kan kamu bilang aku ngobok-obok kamu, setidaknya kalo itu gak bisa diulang minimal aku ingat bentuknya, rasanya" Airish menerawang membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya.
Dior tertawa tepat depan wajah Airish.
"Ih bauuu" Ucap Airish seraya menutup hidung.
"Kamu juga sama, aku aja yang pandai nahan napas"
Keduanya lanjut saling meledek. Hingga akhirnya Dior merangkum wajah Airish dan berkata, "Apa kita ulang?"
"Mauuu" Teriak Airish senang.
Dior beringsut mundur dan kabur ke kamar mandi. Setelah itu ia langsung pamit undur diri karena harus bekerja lagi.
Di malam-malam berikutnya, setiap kali Airish tidak bisa tidur Dior selalu bersedia menemaninya. Memastikan Airish tidak begadang dan aman disampingnya.
Hingga beberapa bulan berlalu, Airish kembali tak bisa tidur. Anehnya, Dior saat dihubungi malah tak bisa. Lelaki itu mungkin sedang sibuk atau apalah.
POV Airish
"Tapi kan harusnya jam segini udah pulang dari rumah sakit" Gumamku.
Karena sebegitu khawatir dengan Dior, aku pun bergegas mencari Dior di rumah sakit. Sampai sana perawat yang jadi asisten Dior bilang kalau Dior sudah pulang sejak dua jam lalu. Karena mengetahui hal itu, aku jelas langsung pergi ke rumah Dior.
Begitu sampai disana, nampak terparkir mobil Dior dan satu mobil lagi yang aku tidak kenali. Yang jelas bukan mobil orang tua Dior.
Selayaknya tamu biasa, aku pasti ngetuk pintu terlebih dahulu. Dan dibukakan sama salah satu Asisten Rumah Tangganya (ART). "Dior ada, Bi?" Tanyaku yang memang sudah beberapa kali dibawa Dior kesini.
"Ada, Mbak. Tapi lagi sama Mbak Shena didalam"
Jderrr
"Iya Mbak"
Aku masuk ke dalam rumah, baru melewati ruang tamu aku langsung bisa melihat dua orang yang tengah rangkulan diruang tengah. Kufoto mereka, kujadikan wallpaper ponselku.
"Bi, jangan bilang ke Dior kalau aku kesini"
Esok harinya, Dior datang ke apartemenku. Seperti biasa, datang lalu bermanja.
"Kamu gak kerumah sakit?" Tanyaku.
"Hari ini nggak"
"Oh. Eh ambilin Hp aku dong"
Dior mengambilkan ponselku yang sedang di charging. Begitu kabelnya di copot, jelas ponsel itu menampilkan layarnya.
Dior melihat foto dirinya dan Shena sedang rangkulan dari angle (sudut) belakang. Aku bisa melihat perubahan raut wajah Dior setelah melihat layar ponselku.
"Rish, kamu semalam kerumah aku?"
"Iya. Karena aku gak bisa tidur semalam. Terus kamu juga aku hubungin gak bisa-bisa. Akhirnya aku khawatir sampe cari kamu kerumah sakit. Sampe sana dibilang katanya kamu udah pulang dua jam lalu. Aku jelas langsung kerumah kamu, begitu sampe sana ternyata lagi sama Shena"
"Rish, aku cuma berteman sama Shena" Dior mulai menjelaskan lagi. Jujur aku sudah tidak mau tahu, dia bohong atau jujur sumpah aku tidak mau tahu.
"Iya, kamu berteman sama dia. Sama siapapun juga kamu berteman, iya kan?"
"Rish, aku bingung dengan perasaan aku. Disatu sisi aku masih ada rasa sama Shena, tapi aku juga gak mungkin lupa dengan perselingkuhan dia"
"Kalau kamu sadar dia udah khianatin kamu, tapi kamu masih kasih dia kesempatan, itu tandanya kamu cinta sama dia. Mending kamu balikan aja sama dia" Aku memberinya saran yang padahal hati aku sendiri udah nyut-nyutan.
"Bodoh Rish kalau aku balik lagi sama dia yang jelas-jelas udah rusak"
__ADS_1
"Terus mau kamu? Kamu mau aku selalu standby disisi kamu dan kamu juga tetap bisa bersama Shena, begitu? Kamu sendiri tahu mana tindakan bodoh mana nggak. Aku juga gak mau sebodoh itu. Sekarang gini deh, biar kita sama-sama enak langsung aja kita tentuin bagaimana nasib per-te-ma-nan kita kedepannya.
Kamu pilih aja, pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan aku atau kamu tinggalin Shena buat aku"
Dior diam, lama dia memikirkan kalimat apa yang saat ini bisa ia lontarkan.
"Rish, aku gak bisa tanpa Shena"
Plak
Tamparan keras melayang ke pipi Dior.
"Kalau begitu apa arti selama ini? Kamu perhatian, kamu pengertian, kamu begitu baik. Itu untuk apa? Hanya untuk memberitahu cara memanusiakan manusia? Aku jatuh cinta sama kamu sejak kita sering menghabiskan waktu bersama. Aku gak bisa lama-lama marah sama kamu karena aku cinta. Secuek apapun aku tetap saja akan luluh sama kamu. Pergilah kalau memang bukan aku yang terbaik menurutmu"
"Rish... Rish" Dior berusaha menggapai tanganku namun selalu kutepis.
"Pergi dari sini sekarang juga!!!"
POV Airish end
◇◇◇
POV Dior
Malam harinya aku menghubungi salah seorang teman dekatku untuk menemaniku berjaga-jaga didepan sebuah club malam. Aku khawatir Airish akan kembali mab*k-mab*kan karena aku sudah mengecewakannya.
Aku dan temanku yang bernama Viktor duduk di dalam mobil sembari memperhatikan siapa-siapa saja yang masuk kesana. Pengintaian kami sudah berjalan 30 menit namun aku belum melihat kedatangan Airish ditempat itu.
"Mau sampai kapan kita disini?" Tanya Viktor.
"Lo sabar, gue takut banget dia kesini lagi"
"Dia siapa? Lo lagi deket ama cewek? Tanya Viktor.
"Bukan deket lagi, tapi pacar gue"
"Widih, udah bisa ngelupain Shena nih? Kok gak pernah dikenalin ke kita-kita"
"Yah, gimana mau dikenalin. Orang gue cuma ngaku-ngakuin doang. Soalnya dia udah muak banget kayanya sama gue"
"Lo punya fotonya? Jadi penasaran nih gue"
"Kalo foto sih ga punya, tapi video dia ada. Cuman... Lo gak boleh liat"
Yakali video Airish buka baju gue liatin ke Viktor. Eh, lagian kenapa masih gue simpan yak?
"Ih, video apa tuh? Sampe gue gak boleh liat"
"Hahaha becanda"
Sudah hampir mendekati subuh aku disana masih tak melihat Airish. Ya sudah, kami pulang saja. Yang penting Airish tidak kesini.
POV Dior end
Diwaktu yang sama, sebelum subuh Airish terbangun. Kerongkongannya kering, ia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah itu dirasa matanya sudah tak ngantuk lagi, ia pun mengambil ponsel.
Di grup chat Kru perfilman, banyak sekali spam chat yang belum Airish baca. Grup itu sudah jarang sekali aktif, karena penasaran Airish pun membukanya.
"Turut berduka cita, semoga amal ibadah almarhumah diterima disisiNya"
Ada banyak sekali ucapan bela sungkawa yang dihaturkan oleh orang-orang disana. "Siapa yang meninggal?" Tanya Airish sembari menggulir layar sampai ke atas karena ia merasa sudah ketinggalan banyak info.
Dan ternyata, orang yang pertama kali memberi ucapan bela sungkawa adalah adalah Dimas. Orang yang sangat Airish benci. Dimas memberi tahu bahwa Putri MUA (lengkap dengan foto Putri) telah berpulang ke rahmatullah pukul 03.00 dinihari.
Tidak dijelaskan meninggalnya karena apa, Airishpun lagi-lagi menggulir kebawah barangkali sudah ada yang mewakili pertanyaannya. Dan ya, disitu akhirnya Dimas menjelaskan kalau Putri meninggal dalam kecelakaan bus menuju ke Jakarta.
Airish menangis sejadi-jadinya. Sudah beberapa hari ini ia menghubungi Putri namun tak pernah tersambung. Sekarang, Putri malah dikabarkan meninggal. Airish sangat syok mengetahui hal ini.
__ADS_1
Ia pun mengirimkan sebait doa untuk sang sahabat yang telah berpulang pada pangkuan sang pencipta. Airish berjanji, akan menjaga kucing milik Putri dengan sepenuh hati sebagai kenang-kenangan terakhir dari Putri untuknya.