
Adrian duduk di tepi jendela kamarnya, memandangi langit yang mendung. Dia merasa sesuatu yang tak biasa hari ini, seolah-olah ada kehadiran tak terlihat yang mengitari dirinya. Usianya yang masih 14 tahun tidak membuatnya terlalu mengerti tentang hal-hal seperti itu, tetapi dia merasa takut.
Beberapa hari terakhir, Adrian telah melihat sosok bayangan di sudut matanya. Suara-suara samar yang hanya bisa didengarnya, menghantui pikirannya. Dia mencoba bercerita pada ibunya tentang pengalaman anehnya, tetapi ibunya hanya menganggapnya sebagai imajinasi anak-anak.
Suatu malam, ketika Adrian sedang tidur lelap, dia terbangun oleh suara gemuruh yang mengerikan. Dia melompat dari tempat tidurnya dan bergegas turun ke lantai bawah. Di sana, dia menemukan ibunya tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Bu! Bu, bangun!" seru Adrian sambil mencoba membangunkan ibunya. Tetapi tak ada reaksi. Dia panik dan mencoba mengingat apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat seperti ini. Dia meraih telepon rumah dan menelepon nomor darurat.
Ketika petugas medis tiba, mereka segera membawa ibunya ke rumah sakit. Adrian duduk di kursi tunggu dengan hati yang berdebar. Dia merasa sangat sendirian dan takut. Pikirannya kembali kepada sosok bayangan yang telah menghantuinya selama beberapa hari terakhir. Apakah itu memiliki hubungan dengan keadaan ibunya?
Setelah beberapa jam yang terasa seperti selamanya, seorang dokter mendekati Adrian dengan ekspresi serius di wajahnya. "Maafkan saya, Adrian," kata dokter dengan lembut. "Ibumu telah meninggal dunia."
Adrian merasa dunianya runtuh. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Air mata mengalir deras dari matanya saat dia merenung tentang betapa rapuhnya hidup dan betapa cepatnya semuanya bisa berubah.
Dia merasa kehilangan dan kosong. Adrian berjalan pulang ke rumah dengan hati yang berat. Di kamarnya, dia duduk di tepi tempat tidurnya dan memandangi foto ibunya yang tersenyum. Dia merasa begitu kecil dan lemah tanpa sosok ibunya yang hangat.
Pada malam itu, Adrian terbangun oleh kehadiran sosok bayangan di ruang tidurnya. Kali ini, dia tidak merasa takut. Dia merasa kehadiran itu membawa ketenangan. Dalam keheningan gelap, sosok bayangan itu berbicara padanya dengan lembut.
"Adrian, aku adalah ibumu," bisik sosok itu dengan suara yang penuh kasih sayang.
"Aku akan selalu menjagamu dan melindungimu, meski aku tidak lagi berada di dunia ini," lanjut sosok bayangan dengan suara yang lembut.
__ADS_1
Adrian merasa hatinya hangat mendengar kata-kata itu. Meskipun ibunya telah pergi, dia merasa ada kekuatan yang tak terlihat yang tetap menyertainya. Dia memegang erat foto ibunya dan merasakan kehadirannya dalam setiap pikirannya.
Hari-hari berlalu, dan Adrian belajar untuk menghadapi kehidupan tanpa kehadiran fisik ibunya. Dia belajar memasak, membersihkan rumah, dan merawat dirinya sendiri. Meski terkadang masih merasa kesepian, dia terus membawa semangat ibunya dalam hatinya.
Adrian juga mulai mengunjungi pemakaman ibunya secara teratur. Di bawah sinar matahari yang hangat, dia duduk di samping nisan ibunya dan berbicara tentang harinya, cerita-cerita sekolah, dan impian-impian masa depannya. Dia merasa bahwa dengan berbagi cerita, ibunya masih hadir dalam hidupnya.
Suatu hari, saat Adrian sedang duduk di pemakaman, dia melihat seorang anak kecil berlari-lari di antara makam-makam. Anak itu tampak penuh semangat dan tak terbebani oleh beban dunia. Adrian tersenyum melihatnya dan teringat pada masa kecilnya sendiri.
Dia mendekati anak kecil itu dan bertanya, "Hai, namamu apa?"
"Aku Kevin!" jawab anak kecil itu dengan riang.
"Apakah kamu sering datang ke sini?" tanya Adrian.
Adrian tersenyum dan merasa ada ikatan yang kuat antara mereka berdua. Dia mulai menghabiskan waktu bersama Kevin di pemakaman, saling berbagi cerita, dan mendukung satu sama lain dalam kesedihan mereka.
Ketika Adrian beranjak remaja, dia menyadari bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun ibunya telah pergi, dia masih ada di hatinya dan di setiap langkah hidupnya. Dia belajar untuk menerima kehilangan dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk tumbuh dan berkembang.
Kisah Adrian mengajar kita bahwa meskipun kematian dapat menghancurkan kita, kita masih dapat menemukan kekuatan dalam kesedihan. Kehadiran orang yang kita cintai tidak pernah benar-benar hilang, selama kita tetap mengingatkannya dalam hati dan membiarkan cinta mereka memandu langkah-langkah kita ke depan.
****
__ADS_1
Berikut adalah Quotes dari cerpen di atas;
"Kehadiran orang yang kita cintai tidak pernah benar-benar hilang, selama kita tetap mengingatkannya dalam hati dan membiarkan cinta mereka memandu langkah-langkah kita ke depan."
"Kematian bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari kekuatan yang tersembunyi dalam diri kita untuk tumbuh dan berkembang."
"Kehidupan yang rapuh mengajarkan kita untuk menghargai setiap momen yang kita miliki, karena semuanya bisa berubah dengan cepat."
__ADS_1
Jika anda merasa cerpen ini bermanfaat, silahkan follow Instagram saya, @Ricky_Wahyudi213