Laki-laki Penghuni Hutan Tanggamus

Laki-laki Penghuni Hutan Tanggamus
Episode 2. Gangguan


__ADS_3

Suara derit jendela terdengar. Dan saat jemari tangan Neha berusaha mengunci daun jendela itu, sosok yang semula ada di balik keremangan ruangan kini mendekati Neha.


Sebelah tangannya bersinggungan dengan tangan Neha. Hal tersebut tentu membuat Neha terkejut sekaligus membangunkan sisi pendekar Neha.


Neha pun menyikut tubuh laki-laki yang tak lain adalah Aabid. Sikutan itu tepat mengenai perut laki-laki yang baru satu hari menjadi suaminya. Aabid pun mengaduh. Namun itu hanya sebentar.


Sementara itu, Neha yang belum menyadari kehadiran Aabid, langsung menjauh dan ambil langkah seribu. Neha berlari ke luar kamar. Rasa mencekam yang ia rasakan membuatnya histeris.


"Ibu....ibu....!" teriak Neha berulangkali.


Polah Neha tersebut tentu membuat seisi rumah gempar. Ibu yang mulai terlelap terbangun. Begitupun dengan beberapa asisten rumah tangga.


Maryam, ibu dari Aabid cemas. Ia teringat peristiwa yang menimpa keenam menantu seharinya. Maryam segera keluar kamar dan mendapati Neha yang menangis. Sebuah pemukul baseball terpancang di tangannya. Gadis yang baru sehari menjadi menantunya itu langsung memeluk Maryam ketika mendapati kehadirannya.


"Ada apa, Ndok..." ucap Maryam cemas.


Namun belum lagi, Neha menjawab Aabid berdiri di ambang pintu. Dengan gontai ia melangkah mendekati Maryam yang masih memeluk Neha.


"Sebenarnya tidak ada apa-apa, Bu. Neha hanya terkejut" ucap Aabid sambil duduk di di sofa, dekat Maryam dan Neha.


"Terkejut, bagaimana?!" ucap Maryam.


"Neha terkejut melihat saya. Saya salah juga, mendekati Neha dengan tiba-tiba tanpa ba-bi-bu..." jelas Aabid.


Beberapa asisten rumah tangga yang ada terdengar cekikikan. Dan mereka berusaha menahan tawa sambil menutup mulut mereka dengan tangan. Hal tersebut saat Aabid menatap ke arah mereka. Isyarat dingin pun Aabid berikan kepada para asistennya itu. Lebih tepatnya perintah agar para asistennya itu meninggalkan ruangan tersebut.


"Walaaah, Ndok. Ibu kira ada apa. Ini suami mu loh. Kok ya malah takut"


"Tapi, Bu...." ucap Neha.


"Apa perlu ibu temani tidur kalian?" goda Maryam.


"Ya... Tidak begitu juga, Bu" ucap Aabid.


"Sudah....pergi kembali ke kamar. Sudah larut malam" ucap Maryam sambil tersenyum.


Neha pun menuruti Maryam. Sedikit ragu ia melangkah sejajar dengan Aabid yang terlihat dingin.


"Apa benar tadi adalah kak Aabid? Kenapa ada perasaan aneh begini saat berdekatan dengan kak Aabid?" batin Neha hingga sampai kembali di ruang pribadi mereka.


Aabid tersenyum tipis. Matanya menatap sesaat wajah cantik Neha. Tangan kekarnya membetulkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Neha.


"Istirahat lah. Aku akan menjaga mu" ucap Aabid.


"Tapi....Apa yang tadi itu kakak?"

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Kau tidak percaya? Ah, sudahlah. Em, aku ke dapur dahulu ya. Ingin mengambil air minum. Kebetulan sudah habis" ucap Aabid sambil menunjuk gelas kosong di meja.


Neha mengangguk sesaat sebelum Aabid melangkah. Pengantin baru itu tampak menatapi punggung laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu. Di bawah temaram lampu, siluet Aabid kian tegap. Tapi tunggu...di bawah temaram cahaya lampu, Aabid tampak menghentikan langkahnya. Dan hal itu membuat Neha penasaran. Mengapa laki-laki gagah itu tak melanjutkan langkahnya.


Tak sampai hitungan detik, Aabid memutar tubuhnya dengan perlahan. Seiring dengan itu terbitlah seringai menghiasi wajah Aabid. Selain itu kepalanya pun bergerak-gerak tak terkendali. Begitu mengerikan. Wajah tampan itu telah berubah menakutkan. Kemudian mendadak tubuh Aabid berubah. Ia menjadi besar dan tinggi hingga mencapai bubungan atap. Melihat itu, Neha kembali histeris. Ia begitu ketakutan mendapati Aabid yang seperti demikian.


"Akhhhh.....!!!" teriak Neha.


"Jangan...! Jangan mendekat....!!" ucap Neha berulangkali.


"Neha...Neha!! Bangun..." ucap Aabid sambil menepuk-nepuk pipi istri yang baru semalam itu.


Neha terbangun. Peluhnya membanjiri tubuh. Nafasnya pun memburu.


"Kau bermimpi?" ucap Aabid.


BUK...


Neha memukul dada Aabid. Cukup keras sehingga laki-laki itu pun meringis menahan sakit.


"Ada apa dengan mu?!" ucap Aabid sedikit meninggikan suara.


"Ada apa dengan mu?!"


"Ada apa??!! Apa kakak tidak ingat, jika sebentar lalu kakak baru saja jadi raksasa yang menakutkan. Tinggi kakak mencapai bubungan langit-langit rumah....!!!"


"Lalu yang tadi....."


"Rasanya begitu nyata. Tidak mungkin jika itu mimpi"


"Sudah, mandi sana....Sebentar lagi tanggapan Jaranan akan mulai"


"Tanggapan Jaranan? Ah, tidak. Neha tidak mau. Sejak dahulu Neha paling ogah melihat tontonan itu. Neha di dalam saja ya..." ucap Neha.


"Di kamar maksud mu? Nanti ada raksasa lagi loh..." ucap Aabid.


Mendengar ucapan Aabid, Neha buru-buru mendekati Aabid. Lebih tepatnya lompat. Neha mengapit lengan Aabid. Beberapa pukulan ringan pun bersarang di tubuh Aabid. Laki-laki itu tertawa ringan mendapati polah istri ketujuhnya itu.


"Wah, ibu senang melihat pengantin baru seperti ini..." ucap Maryam yang tiba-tiba saja sudah berada dalam kamar.


"Ibu..." ucap Aabid dan Neha hampir bersamaan.


Neha pun buru-buru melepaskan apitan tangannya pada lengan Aabid. Wajahnya memerah. Dan diam-diam ujung mata Aabid memperhatikan wajah Neha walau sesaat. Maryam tersenyum melihat polah anak laki-laki semata wayangnya itu.


"Maaf, ibu masuk tanpa ketuk pintu. Tadi ibu lihat pintunya terbuka, jadi ibu masuk saja. Dan ibu bahagia mendapati kalian baik-baik saja" ucap Maryam sumringah.

__ADS_1


Bagaimana Maryam tidak bahagia, satu malam telah dilewati Aabid dan Neha. Dan Maryam berharap ini adalah pertanda baik untuk keberlangsungan rumah tangga keduanya. Walau ada bayang ketakutan akan berulangnya peristiwa yang menimpa keenam menantunya, namun terbersit harapan mulai menyelimuti hati Maryam saat mendapati keduanya baik-baik saja di padi hari.


"Ah, tidak apa-apa Bu..." ucap Neha yang langsung membantu Maryam meletakkan menu sarapan.


"Sengaja ibu bawakan makan pagi kalian. Agar bisa asyik berduaan saat makan..." bisik Maryam sambil mengusap pucuk kepala Neha.


Neha tersenyum. Wajahnya kembali merona. Rasa takutnya terusir oleh kata canda Maryam yang sangat membuatnya malu hati. Bahkan rasa sedihnya karena harus menikah cepat pun berangsur hilang.


"Ngobrol terus, kapan makannya..." ucap Aabid.


"Oiya, Haha...." tawa Maryam disambut yang lain.


Seraya dengan itu, Maryam bersama seorang asisten rumah tangganya itu pun meninggalkan ruangan pribadi pengantin baru itu sekaligus menyisakan senyum di ujung bibir keduanya.


"Kak Aabid, mau sarapan sekarang?" tanya Neha sambil merapikan makanan.


Neha mengangkat wajahnya. Tanyanya tak mendapat perhatian.


Deg.


Wajah Neha kembali merona karena saat itu, Aabid tengah menatapnya. Senyum tipis pun menghiasi wajahnya.


"Kak..." ucap Neha.


Tangannya menggugah lengan Aabid.


"Sstt...." isyarat Aabid sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


Neha celingukan. Matanya menyisir sisi kanan-kiri. Mencari sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan, mengapa Aabid berlaku demikian. Tapi nihil.


"Ada apa, Kak...?" ucap Neha setengah berbisik.


Neha pun sedikit mendekat pada Aabid, khawatir ada sesuatu yang membahayakan. Bukankah Aabid adalah tempatnya berlindung kini?


"Biarkan aku menatap wajah cantik mu, Neha..." ucap Aabid setengah berbisik.


"Apaan sih, Kak...." ucap Neha malu.


Tanpa basa-basi, Aabid merengkuh Neha dan memeluknya erat.


"Neha....."


Sebuah suara menyisip di antara angin yang baru saja masuk melewati jendela yang terbuka.


Neha terkesiap. Bulu kuduknya meremang. Neha menajamkan telinga. Khawatir salah.

__ADS_1


"Neha...."


Dan sekali lagi, neha mendengar suara lalu yang terasa menakutkan itu.


__ADS_2