
Tubuh Aabid lunglai. Kepalanya hampir menyentuh lantai. Beruntung Neha berhasil memberikan pangkuannya sebagai tempat jatuh kepala suaminya itu.
Berulangkali Neha menyebut nama suaminya. Dari caranya berucap jelas ada panik yang menyelimutinya. Segala kepanikan dari peristiwa yang ia alami selama dua minggu ini terasa tak sebanding saat mendapati kondisi Aabid.
Neha mengusap kepala Aabid. Berulangkali ia melakukanya. Mulutnya pun komat-kamit membaca doa. Ajaib tak berapa lama Aabid tersadar. Laki-laki tampan itu membuka matanya. Perlahan sekali.
Mata elang milik Aabid menilik wajah Neha yang masih berdoa dengan memejamkan mata. Kemudian Aabid bangun dari pangkuan Neha. Tangannya mengusap wajah. Mengetahui kesadaran Aabid telah kembali, Neha membuka matanya yang telah basah dengan air mata itu. Sumringah wajah Neha mendapati kesadaran Aabid telah kembali.
Kemudian tanpa ba-bi-bu lagi Aabid meraih tangan Neha. Ia mengecupnya. Dibalas Neha dengan kecupan takzim di punggung tangan Aabid.
"Terima kasih telah menjadi istriku yang luar biasa..."
"Ah, gombal. Apanya yang luar biasa..."
"Sungguh. Sudah dua minggu ini, setiap peristiwa yang aku alami, kau selalu hadir. Mengulurkan tangan. Memberikan bantuan kepadaku. Contohnya peristiwa barusan"
Neha bingung. Pernyataan Aabid tak dapat diterima akalnya. Karena seingatnya, tiada yang ia lakukan selain rasa ketakutan hebat yang menghantuinya. Namun demikian Laila tetap tersenyum menerima pujian dari suaminya itu. Terlebih saat ia harus melakukan hal seperti apa yang dilakukan Aabid, yaitu memuji Aabid.
"Kakak juga luar biasa..."
"Eemmm....gombal. Hehe..." ucap Aabid diakhiri dengan tawa.
Pun demikian, tangannya mengusap pucuk kepala Neha yang masih terbungkus mukena itu. Dan sekali lagi Aabid memuji dan berucap terima kasih kepada Neha. Neha tersenyum. Rasanya ces di hati saat Aabid melakukan itu.
"Kita makan sekarang, Kak..."
"Emm, ini ajakan atau perintah...?"
"Hehe...perintah" ucap Neha sambil merapikan mukena yang baru saja ia lepas.
"Siap laksanakan, Nyonya muda..." ucap Aabid.
Sebelah tangannya memberi hormat. Hal tersebut makin membuat Neha tertawa.
__ADS_1
"Ada-ada saja..."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Neha menuang menu makan siang di piring Aabid. Ada senyum yang selalu menghiasi wajah Neha saat melakukannya. Sesekali matanya pun mencuri pandang wajah tampan Aabid. Laki-laki tajir melintir itupun demikian. Ia melakukan hal yang sama. Matanya menatap lekat Neha yang berkerudung merah muda dengan motif bunga kecil-kecil.
Aabid berharap bahwa Neha lah yang akan menemaninya hingga menua nanti. Walau usia pernikahannya barulah berumur dua minggu, namun Aabid cukup pandai untuk menilai dan menjatuhkan pilihannya kepada Neha. Perempuan yang memang nyata telah memikat hatinya. Perempuan yang baik, cerdas dan selalu menenangkan hatinya itu.
Aabid menyudahi santap siangnya saat sebuah panggilan tertera di layar ponselnya. Aabid langsung menerima panggilan tersebut dan meninggalkan meja makan setelah berisyarat kepada Neha.
Langkah Aabid begitu cepat hingga kata yang siap meluncur dari bibir Neha pun tak terucap. Neha menatap punggung laki-laki tampan yang kadang berubah menakutkan itu. Neha menghela nafas, tekadnya untuk membantu membebaskan Aabid dari ikatan janji darah seperti yang diungkapkan makhluk hitam bertubuh besar waktu lalu itu.
Pukul satu lewat lima belas menit. Neha mengantar Aabid hingga pintu rumah. Senyum Neha mengembang saat Aabid memutar tubuh dan menatapnya. Sorot matanya begitu membuat nyaman, jauh berbeda saat ia dikuasai makhluk mengerikan itu. Neha melambaikan tangan saat Aabid meninggalkan halaman rumah. Sampai mobil mewah itu hilang di ujung jalan barulah Neha menurunkan tangannya.
Neha meregangkan tubuh sesaat. Sekedar melepas penat. Kemudian perempuan cantik itu duduk di kursi kayu berukir indah. Sebelah tangannya membetulkan ujung kerudung yang baru saja terulur ditiup angin. Mata Neha menyapu seluas halaman yang ditumbuhi tanaman hijau dan bunga warna-warni itu.
Lama Neha menghabiskan waktu di halaman. Ia asyik bergelut dengan bunga-bunga. Sekedar membersihkan bunga dari daun yang kering ataupun dari rerumputan yang ada. Senyum Neha mengembang. Ia puas akan hasil kerjanya.
Kemudian mata Neha menyasar ke arah timur bangunan. Tepatnya pada ruangan yang bergembok ganda itu. Neha benar-benar penasaran akan ruangan tersebut. Selain karena adanya larangan ayah mertuanya terdahulu, juga karena peristiwa dan penglihatan yang ia alami beberapa waktu ini.
Kaki Neha hampir saja menuruti kata hatinya untuk kembali ke ruangan tersebut. Namun urung, karena keburu sebuah mobil memasuki halaman rumah. Maryam pulang. Perempuan paruh baya yang masih cantik itu tampak terburu-buru meninggalkan mobil. Karena terburu-buru, Maryam tak memperhatikan jika ada Neha yang memperhatikannya.
Kaki Maryam melangkah cepat. Dan arah yang dipilih adalah arah timur bangunan rumah itu. Mungkinkah Maryam menuju ruang bergembok ganda itu? begitu fikir Neha penasaran.
Perlahan langkah Neha mengikuti Maryam. Rasa penasarannya kian membawanya kian dekat dengan ruang yang bergembok ganda itu.
Tampak Maryam membuka gembok itu satu persatu. Kemudian dengan perlahan ia masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ada ibu masuk ke dalam ruangan itu? Bukankah ruangan itu dilarang dimasuki siapa saja?" batin Neha.
Matanya terus mengamati Maryam yang sudah hilang ke dalam ruangan. Neha pun kemudian mencari tempat atau celah yang bisa ia gunakan untuk melihat apa yang dilakukan Maryam. Neha tersenyum, saat sebuah celah berhasil ia temukan.
Mata Neha pun langsung menilik isi ruangan melalui celah tersebut. Membulat sempurna mata Neha saat menyaksikan apa yang dilakukan Maryam.
__ADS_1
Sebuah keris diapit kedua tangan Maryam, menyisakan bilah tajamnya. Ia meletakkannya di atas kepala. Bibirnya komat-kamit merapal mantra. Entah apa, Neha tak dapat mendengarnya. Sesaat kemudian Maryam meletakkan kembali keris tersebut pada sebuah kotak kayu berukir di sisi kanan meja yang penuh sesaji. Suasana mendadak terasa mencekam.
"Ibu..." gumam Neha.
Neha menutup mulutnya yang mulai menguarkan suara karena terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Maryam menebar serbuk berbau harum. Mungkin itulah yang disebut dengan kemenyan. Aromanya tercium oleh Neha dari celah. Dan Neha pun menutup hidungnya. Ia tak suka dengan tebaran wewangian yang menyengat itu.Tak lama kidung pun terdengar dari bibir Maryam yang terlihat bergetar. Bersamaan dengan itu, Maryam bangkit dan melakukan gerakan-gerakan gemulai. Maryam menari.
Sembari bergerak dengan gemulai, Maryam mengelilingi sebuah kotak di tengah ruangan. Tangannya sesekali menabur bunga dan serbuk berwarna putih membentuk lingkaran. Neha bergidik. Terlebih saat gerakan Maryam kian lama kian cepat. Dan entah dari mana, mendadak ada asap putih tipis menyelimuti ruangan itu. Menambah suasana kian mencekam.
Hari kian senja. Surau-surau telah ramai. Suara binatang malam pun mulai terdengar. Dan langit mulai di selubungi kabut hitam. Neha masih menatap isi ruangan lewat celah itu. Ia menilik Maryam yang saat itu tengah menari gemulai. Dan mendadak dari dalam kotak itu keluar bayangan hitam.
Neha mendekap mulutnya. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bayangan hitam itu bergerak mengikuti irama kidung dan tarian Maryam.
"Ibu...." gumam Neha sekali lagi.
PLOK....!
Sebuah tangan menepuk bahu Neha. Dan itu membuat Neha terkesiap. Segera Neha memutar tubuhnya untuk mengetahui siapa si empunya tangan.
"Kak Aabid...!" ucap Neha yang kemudian langsung menutup mulutnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku...aku mengikuti ibu?' ucap Neha sambil menunjuk ke ruangan yang sejak tadi ia tilik.
"Ibu....? Ikut aku..." ucap Aabid.
Tangan Aabid meraih lengan Neha. Dan membawa istri dua minggunya itu mengikuti langkahnya. Mata Neha sesekali menatap wajah Aabid yang terlihat dingin itu.
"Kau lihat itu...' ucap Aabid.
Matanya mengisyaratkan agar Neha mengikuti arah tatapannya. Alangkah terkejutnya Neha saat melihat Maryam yang tengah sibuk di dapur bersama dua asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Tapi tadi....Ibu..." ucap Neha bingung.
"Mengapa ibu ada di sini? Bukankah tadi ada dalam ruangan itu..." batin Neha.