Lara Luka Lama

Lara Luka Lama
2. Luluh sudah hatiku


__ADS_3

Astaghfirullah,. "


Lelap sekali aku tidur sampai matahari sudah terbit, bergegas aku mandi, membersihkan sekujur tubuh ini, waktu sudah menunjukkan jam 09;50 menit harusnya jam 10 pagi ini aku mengantarkan souvenir ucapan terimakasih untuk penutupan pameran itu kerumah pak Alfi. Pamerannya akan berakhir besok malam,


Ma.. Mama, barang yang mau diantar kerumah pak Alfi dimana ya? Kok gak ada ya ma? Semalam Riry letakkan di meja kerjanya papa loh ma,.


... Ia" kebetulan tadi bu Dewi datang kesini, dia bawa kue putu, tuh masih ada dimeja buat Riry, jadi souvenirnya udah mama kasih ke bu Dewi, oh ya Bu Dewi itu istrinya pak Alfi, ibu dilingkungan yang paling cetar, paling bisa meramaikan suasana dengan gaya bicaranya yang nyeplos nyaris gak ada titik komanya, bu Dewi juga orangnya ramah, setiap aku melewati rumahnya, aku juga selalu diteriakin,. Rii. Riry pakai rok sekali-sekali, hahahahaha ucapku berlalu sambil terbahak,


Kalau ditelisik kebelakang, koleksi rok yang aku punya hanya seragam sekolah dulu, itu juga dipakai karena emang udah peraturannya seperti itu ^_^


Kuambil kue putunya, dengan segelas teh manis hangat, kubawa hendak dinikmati diteras rumah sambil menikmati paparan matahari, sayup sayup mulai kudengar alunan suara gitar, arahnya pas didepan rumah, jarak 15 meter tepatnya dirumah pak Bani, dan betul saja dia, si Fahmi... Ah no no si Ihsan yang sedang bernyanyi sambil memainkan gitarnya, aku lebih suka memanggilnya Ihsan saja, nama yang sudah langsung terhapalkan sesaat setelah waktu pertama kali bertemu,


🎵🎵🎵


Datanglah sayang dan biarkan ku berbaring


Di pelukanmu walaupun tuk sejenak


Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua


Bila kulelah tetaplah disini


Jangan tinggalkan aku sendiri


Bila kumarah biarkanku bersandar


Jangan kau pergi untuk menghindar


Aku hanya tersenyum getir, masih jam segini ini orang udah buat ribut, modal suara pas-pas an tapi udah over percaya diri, tak henti hati ini berujar dengan sendirinya, yaaaaa,. Karena emang itu lagu kesukaan jadi ku nikmati saja sambil nge teh, sejenak terbersit keinginan untuk menyapa, tapi apa ia aku yang menyapa duluan,


Malam ini akan jadi malam terakhir diadakannya pameran, kami bersama semua sanak keluargapun ikut meramaikan kegiatan tersebut, kembali aku bertemu dengan Ihsan, tapi kali ini dia terlihat berbeda, agak lebih rapi dari biasanya, Haii ry, sudah mencoba jagung bakar di depan sana belum? Ee belum sih, suka barbeque gak? Lumayan, sambutku


Ya sudah wait ya, kulihat dia berlari kecil kearah abang-abang penjual jagung bakar itu, diambilnya beberapa helai uang dari saku celananya, dibawanya beberapa buah jagung bakar dengan berbagai varian, kok banyak banget belinya? Aku pun bertanya,. Memangnya jagung ini mau dibelikan khusus buat Riry ya? Kan kita disininya rame, ini buat kamu, ini buat Ibu, Bibi, dan yang lainnya, hehe mendadak mukaku memerah, tersadar apa ada yang salah ya dari ucapanku tadi, Nanti yaaa aku beliin khusus buat kamu, kalau kamunya mau jadi tunangan aku, cengirnya


Apaan sih...batinku! Belum apa-apa udah mau ngajak tunangan aja, emangnya aku mau ya sama kamu?


Sepertinya sih begitu, tangkasnya ! Jadi gimana mau gak? Ya Ampun ini orang gak ada romantis-romantisnya ya kayak di film-film itu, cuma bermodalkan ngasih jagung doank, sama sekali gak ada usahanya, ngelakuin ini kek apa kek (dalam hayalku).


Deg.. deg, deg...

__ADS_1


Seumur-umur rasanya belum pernah aku punya teman yang to the point dadakan begini, ntah ini serius atau hanya ingin sekedar isengin aku aja, tapi memang aneh, ada yang beda di akunya seperti baru pertama kali merasa badan panas dingin, hati kegirangan. Jantungku pun berdegup kencang. tak berhenti aku menghela nafas mencoba untuk mengatasi segala kegugupanku, agar tak terlihat salah tingkah atas apa yang sudah diutarakannya.


Puncak acara telah tiba, pameran pun usai, kami berjalan pulang menuju rumah masing-masing, disepanjang jalan, aku beriringan dengan Ihsan, bercerita tentang banyak hal, mencoba mendalami satu sama lain, memanfaatkan waktu yang terasa singkat untuk lebih saling membuka hati, seperti sedang mencari sebuah kecocokan diantara kita berdua, kulihat Mama, papa, Ibu dan sanak famili lain, hanya tersenyum melihat kedekatan kami, seolah-olah memberi sinyal untuk sebuah restu.


Tapi mengambil sebuah keputusan bukanlah hal yang mudah, menetapkan hati juga butuh waktu,


Rasa ini memang datang, namun masih gantung dipandang, senyumnya telah menegur kesendirianku, membuka jendela harap akan hidup dimasa depan yang lebih indah, namun ketakutanku berjalan beriringan dengan sebuah pengharapan, aku hanya tidak mau dan merasa takut jatuh cinta dengan orang yang tepat di waktu yang salah atau malah sebaliknya, waktunya sudah tepat untuk menjatuhkan hati, namun dengan orang yang salah, semuanya menari-nari dibenakku, entahlah aku tidak tau harus menjawab apa,


2 hari berlalu kami tidak saling bertemu muka, hanya sesekali saja komunikasi via telp, karena memang dia sudah bekerja, dan aku sedang menanti jadwal untuk masuk ke perguruan tinggi,.


Ah, kangen..."


rasa yang tidak karuan, isi dari pesan singkatnya


Aku membenarkan isi pesan tersebut didalam hati, ternyata aku juga sudah masuk dalam fase ini, jatuh hati, sama dengannya ada rasa yang tidak karuan berkecamuk dalam dada ini,


Kenapa kangen? Coba kubalas pesan itu,


....."sekitar 20 menit sudah aku menunggu kelanjutan balasan pesan darinya, tapi tak kunjung ada,. 10 menit kemudian ku buka ponselku lagi, tak jua kutemui balasan, akhirnya ku putuskan untuk pergi saja kerumah temanku yang bernama Neya,.


Temanku, yang biasa tidur dirumah, si tukang makan, hobby nyanyi, kesayanganku, yang sudah kuanggap saudaraku sendiri, lama sudah kami tidak bertemu, karena memang 4 hari belakangan dia sedang menghabiskan waktu dengan berlibur bersama keluarganya ke kota Padang.


Walaikumsalam, udah ketemu Neya kabari papa ya nak.." siap komandan


Kemudian akupun berjalan agak kedepan untuk memudahkan mencari taksi, Ihsan datang dengan sepeda motornya menawarkan tumpangan,


"Ayo naik,. Tanpa pikir panjang aku langsung naik saja, Berharap aman jika bepergian dengan orang yang sudah dikenal, hampir setengah perjalanan kami berdua hanya diam, tanpa membahas apapun


Aku mulai canggung, kucoba memulai percakapan lebih dulu,


"Tau dari mana Riry mau pergi?


..... Kebetulan aja lewat, jawabnya


Semuanya bermula dari sebuah kebetulan kan, kebetulan kita kenal, keluarga juga memang udah kenal,.. Iaaa jawabku pelan,. Oh ya lagi sibuk ya, gak balas massage aku tadi? Enggak sih, memang lagi gak kepingin balas aja,. Uhm jawaban yang tidak mengasyikkan,


Setibanya dirumah Neya,. Makasih ya, udah ngantarin Riry, "sampai jam berapa disini? Bentar aja paling 1 jam, oke, jawabnya !


Tapi tak kukihat dia putar arah untuk pulang,

__ADS_1


Kuhampiri lagi dia sebelum masuk kerumah Neya, kenapa belum pulang? Lah? Riry kenapa gak ajak aku masuk? Haus tau, dijalan panas, cengirnya


Hehehe. Ia maaf ya, lain kali harus peka dong, celetuknya, sambil menebar senyum.


Waaaaah, ditinggal beberapa hari udah ada bodyguard aja ya, sambut Neya sambil menyuguhkan jus jambu buatannya.


Ini itu Bang Ihsan, keponakannya pak Bani, kenalkan Ihsan pacarnya Riry..uhm anehnya aku tidak menolak, dan tidak juga mengiyakan, seketika aku cuma berusaha agar suasana melepas rinduku bersama Neya tetap hangat.


....Selamat ya, rayu Neya, oh ya udah kemana aja berdua, baru kesini jawabku cepat, supaya arah pembicaraan tidak menjadi kemana-mana,


Ya sudah ini, oleh-olehnya titip papa mama ya, ini juga ada buat bang Ihsan, Alhamdulillah dapat juga ya, oh ya Neya, Riry galak ya, tanya nya terang-terangan kepada Neya dihadapanku, Neya tak berhenti tertawa sambil menahan perutnya, Riry ini tu gak galak sih, tapi emang rada tomboy aja, anaknya tu cuek, tingkat peka nya kurang banget malah, syukur-syukur udah ada yang mau,


Mulai deh, jawabku sambil menyolek Neya. Hari makin sore, kami pun berpamitan pulang. Jaga baik-baik ya bang perempuan kita yang satu ini. Teriaknya


Aman..." Serahkan saja semuanya kepada abang.


Gombalan apa ini? Tapi memang kehadirannya membawa warna baru dihidupku, sering sudah beberapa kali tanpa sadar kutemui diri sedang berdiri tepat didepan kaca hanya untuk terlihat lebih cantik, hehehehe


Kami tidak langsung pulang kerumah, kami berhenti sejenak di pinggir jalan raya, ada sebuah tempat jajanan disudut belokan itu, rupanya selain mengisi perut yang keburu lapar lagi setelah pulang dari rumah Neya, ada niat lain yang terselubung,


Jadi bagaimana ri? Mau jadi tunangan aku?


...Kalo udah tunangan berarti kan mau nikah? Dengan cekatan aku menjawab, aku belum siap


Tidak seperti itu juga ri, aku mau serius, aku rasa kamu orang yang tepat, setelah kamu lulus kuliah kita akan menikah, aku mengikatmu, aku juga akan mengumpulkan uang, untuk melamarmu kelak,


Aku membebaskanmu, kita jalani saja seperti biasanya, berteman baik, saling memberi kabar, hanya saja untuk tujuan bersama di masa depan.


"Jujur.. sebelumnya aku kaget, karena memang belum pernah mengalami hal yang seperti ini, aku telah mengagumimu, perlahan aku juga mulai memikirkanmu, aku tidak tau, bahkan aku masih saja bingung,.


.... Mau kan sama-sama kita berjuang, menjalin kedekatan agar hubungan ini semakin erat, ku tundukkan kepalaku kucoba memikirkannya sekali lagi, toh cita-citaku di masa yang akan datang juga tidak akan terhalang dengan adanya dia, semoga saja hadirnya bisa menjadi penumbuh semangat, penghapus lara dan kegundahanku,


Akan ada orang lain yang menjagaku, selain keluargaku,


Dan akupun memberikan jawabanku,."seiring berjalannya waktu, kuharap jangan berubah ya, aku telah membuka hatiku, kau adalah orang asing pertama yang kusambut hadir direlungku,


Terimakasih ya ri,. Aku sangat bahagia dengan jawabanmu,


Mungkin ini yang dinamakan cinta pertama, bisa membuat kita tumbuh dan berkembang, rasanya segala sesuatunya menjadi lebih baik apabila dilakukan bersama, luluh sudah aku,.

__ADS_1


"Teruntuk kamu yang kini telah ada dihatiku, mari saling menyayangi dan menemani, sampai tiba waktunya nanti".


__ADS_2