
Setelah melewati berbagai petualangan dan menghadapi bahaya bersama, Lexia dan Amos semakin mengerti satu sama lain. Ikatan persahabatan mereka semakin dalam, dan mereka merasa seperti saudara kandung yang tak terpisahkan. Namun, di tengah kebahagiaan mereka, Amos terlihat sering kali terlihat hampa, terutama ketika melihat langit malam.
Suatu malam, saat mereka berkemah di bawah langit berbintang, Lexia bertanya dengan penuh kepedulian, "Amos, mengapa kau sering terlihat murung ketika melihat langit malam?"
Amos menghela nafas dan menatap langit dengan tatapan bersedih. "Langit malam mengingatkanku pada masa laluku yang kelam," jawabnya pelan. "Aku dulu adalah bagian dari kelompok naga pemberontak yang berusaha melawan kekuatan jahat. Namun, perang itu menyebabkan banyak saudaraku kehilangan nyawa. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan mereka."
Lexia merasa haru mendengar cerita Amos. Dia menggenggam erat tangan naga itu dengan penuh kehangatan. "Amos, kamu harus tahu bahwa itu bukanlah kesalahanmu. Kamu telah berjuang untuk melindungi orang-orang yang kamu cintai, dan tidak ada yang bisa melakukan lebih dari itu."
Amos tersenyum lembut, merasa terhibur dengan kehadiran Lexia. "Terima kasih, Lexia. Kehadiranmu membuat beban hatiku menjadi lebih ringan."
__ADS_1
Perjalanan mereka berlanjut, dan Lexia dan Amos bertemu dengan seorang penyihir bijaksana yang tinggal di dalam gua tersembunyi. Penyihir itu memberitahu mereka tentang Cermin Kehilangan, sebuah cermin ajaib yang konon dapat menunjukkan kenangan pahit yang ingin dilupakan.
Lexia merasa penasaran dan ingin menghadapi kenangan buruk yang Amos sembunyikan dalam hatinya. Meskipun ragu, Amos akhirnya setuju untuk melihat apa yang Cermin Kehilangan tampilkan.
Ketika mereka berdiri di depan cermin itu, cahaya misterius mulai memancar dari permukaannya. Secercah kenangan pun tampil di hadapan mereka. Lexia melihat Amos berjuang dalam peperangan yang sengit, kehilangan saudara-saudaranya satu per satu. Amos tampak putus asa dan kesal, meratapi kematian saudaranya dan merasa dirinya lemah karena tidak bisa menyelamatkan mereka.
Namun, Amos menggeleng dan berkata dengan penuh keberanian, "Tidak, Lexia. Aku harus menghadapinya. Aku harus menerima kenyataan dan memaafkan diriku sendiri."
Amos terus menyaksikan kenangan pahitnya dengan perasaan bercampur aduk. Dia merasa sakit, tetapi dia juga merasa tumbuh lebih kuat. Akhirnya, ketika kenangan itu berakhir, Amos berbalik pada Lexia dengan senyum yang lembut.
__ADS_1
"Aku telah melawan rasa sakit ini selama ribuan tahun. Tetapi berkat keberanianmu, aku akhirnya bisa menghadapinya," ucapnya dengan perasaan lega.
Lexia tersenyum penuh kebanggaan. "Kamu adalah naga yang kuat, Amos. Dan aku akan selalu ada di sampingmu untuk menemanimu menghadapi segala tantangan."
Dengan beban hati yang ringan dan rasa persahabatan yang semakin dalam, Lexia dan Amos melanjutkan perjalanan mereka. Mereka menyadari bahwa terkadang menghadapi masa lalu dan menghadapi ketakutan adalah langkah penting dalam menjadi lebih kuat.
Perjalanan mereka membawa mereka ke berbagai tempat yang menakjubkan dan berbahaya. Mereka menemui suku-suku ajaib, bertemu dengan makhluk-makhluk legendaris, dan menyaksikan keindahan dunia fantasi yang tak terbatas.
Namun, bahaya semakin dekat ketika keberadaan Lexia dan Amos menarik perhatian kekuatan jahat yang bersembunyi di bayang-bayang. Petualangan mereka belum berakhir, dan tantangan lebih besar menanti mereka. Dengan kekuatan persahabatan dan tekad yang kuat, Lexia dan Amos siap menghadapi masa depan yang tak terduga dan melindungi dunia fantasi dari kekuatan gelap yang mengancamnya.
__ADS_1