
Sinar matahari masuk dari ventilasi dan celah lain di ruangan kecil milik Thea. Menghasilkan bayangan dua tubuh milik Thea dan Juan yang tengah berselisih paham.
Mata Juan menangkap bayangan gadis di belakangnya. Sebilah belati sudah siap mendarat ke punggung lelaki tinggi itu.
"Bukankah sudah kubilang berhenti menyebutku Nona?" fokus Juan lebih tertuju pada gerakan Thea dibandingkan suaranya. Juan mengubah arah berdirinya enam puluh derajat ke kanan. Tangan kanannya terangkat dan menghampiri pisau yang dari awal sudah menentukan tujuan ke tubuhnya.
Crash...
"Akhh..." lelaki itu mengagkat tangan kanannya sedetik setelah goresan pertama mendarat di lengannya.
Tubuh Thea bergetar hebat. Ia berhasil merobek baju hingga kulit milik lelaki yang ia curigai itu. Bukannya puas, ia justru bingung dengan keputusan yang baru saja ia lakukan.
'Dia orang jahat, kan? Jadi bukan salahku kalau dia terluka. Aku hanya mencoba membela diri,' ujar Thea dalam hati.
"Wah, aku tidak menyangka balasan atas sekotak muffin adalah sebuah tusukan?" Juan menutup lukanya dengan telapak tangan sembari membungkuk kesakitan.
"Kenapa? Mau membalasku? Coba saja kalau berani!" lantang Thea, masih dengan belati di tangan.
Juan tersenyum disela erangannya. Ia kembali menegakkan badan dan menghadap lurus ke arah Thea. Matanya kini menatap intens menuju mata wanita di depannya.
"A-apa?" Thea melangkah mundur sambil terus mengacungkan ujung belati ke arah Juan.
"Kau boleh menusukku sampai mati. Tapi jangan sekarang," Juan kembali memangkas jarak keduanya.
Thea terus menuntun kakinya menjauh dari Juan. Naas, tubuhnya sudah tersudut. Juan melangkah lemah ke arah Thea. Tangan sang lelaki kini melingkar di pergelangan tangan si perempuan yang terlihat begitu pucat. Kepala lelaki itu bergerak menuju samping wajah Thea.
__ADS_1
"Benda ini tidak cocok berada di genggaman cantikmu," Juan berbisik sembari mengambil belati dari tangan Thea.
"Jangan macam-macam," genggaman Thea pada belati masih kuat.
"Aku bersedia kau bunuh dengan belati, senjata api, ataupun racun," pinta Juan. Ia menatap lekat ke dalam mata Thea dan berkata, "tapi tolong tunda pembunuhanku, masih ada hal yang harus aku lakukan sebelum mati," pungkasnya, diakhiri dengan senyuman.
Thea melepaskan pisau dari genggamannya. Belati itupun lolos dan beralih ke tangan Juan. Lelaki itu meletakkan logam tajam bergagang kayu tadi di atas laci.
"Jadi? Bisakah Nona cantik yang tidak mau dipanggil Nona ini bertanggung jawab atas luka saya?" ujar Juan sambil terus memangkas jarak antara tubuhnya dan Thea.
Wanita bermata besar di depan Juan itu akhirnya sadar dengan ruangan antara dia dan lelaki di depannya yang semakin sempit. Ia bergeser ke kanan dan meraih kotak Pertolongan Pertama (PP), membuang pandangan dari tubuh Juan.
"Uhm, aku tidak terlalu mengerti tentang merawat luka. Jadi lebih baik kamu pergi ke rumah sakit. Biar aku yang membayar ongkosnya," kata Thea yang nampak bingung dengan peralatan di depannya.
Juan yang melihat Thea hanya mengacak-acak isi kotak PP akhirnya turun tangan. Ia menepuk bahu Tea dan berkata, "Biar aku sendiri yang obati lukanya," Juan mengambil alih kotak berbahan plastik itu dari Thea.
"Sebagai gantinya jangan mencurigaiku lagi, deal?" Juan berjalan ke dapur dan menyalakan wastafel untuk membasuh lukanya.
Thea hanya diam. Memandangi tubuh lelaki yang baru saja ia lukai. Pikirannya berkecamuk, antara rasa bersalah sekaligus rasa tidak aman. Matanya bergetar basah serupa air yang hampir meluap, namun tertahan dan tak ada setetespun yang lolos.
Sementara Thea sibuk dengan pergulatan dalam hati, Juan mulai membersihkan lukanya dan mengaplikasikan obat cair di atas lukanya. Keningnya membentuk kerutan beberapa kali, berusaha menahan perih dari hasil sayatan Thea.
"Nona, sudah selesai melamunnya? Saya butuh pertolongan," Juan memecah keheningan dalam ruangan.
Thea terkesiap dan buru-buru menghampiri Juan. Matanya memandangi acak beberapa benda di atas meja. Bingung apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
"Ini, tempelkan ini lalu rekatkan dengan ini." Juan menunjuk kain kasa yang telah ia potong serta segulung plester.
Wanita itu bekerja dalam diam. Ia mengikuti instruksi dari Juan dan menutup luka yang sepertinya cukup panjang dan dalam.
"Terima kasih, Nona." ucap Juan dibarengi senyuman.
"Berhenti memanggilku Nona!" Thea melirik Juan skeptis.
"Kalau begitu beri tahu namamu agar saya tidak memanggilmu Nona lagi." Juan mengulurkan tangannya.
"Theana." jawab Thea singkat tanpa menyambut tangan Juan.
Juan menarik kembali tangannya dengan agak canggung. Tangan Thea kini sibuk membereskan perlengkapan PP.
"Bolehkah saya mendapatkan secangkir teh hijau atau susu hangat?" tanya Juan berusaha menghilangkan kecanggungan.
"Berhenti berbicara formal dan silakan segera pulang," Thea berlalu meninggalkan Juan menuju dapur.
Dengan mantap Juan mengikuti tubuh Thea melangkah. Thea yang sadar bahwa lelaki itu tengah mengekor sengaja menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
Juan hampir saja menabrak tubuh wanita yang lebih pendek darinya itu. Beruntung refleksnya masih bagus dan berhasil berhenti sebelum mencapai kontak fisik.
Thea berbalik dan hendak mendaratkan pukulan ke arah Juan sebelum getar ponsel lelaki itu menghentikannya. Juan mengacak rambut Thea dan tersenyum sebelum mengangkat telepon yang masuk.
"Hah! Dasar tidak sopan!" Thea mati-matian menahan amarah dengan mengepalkan kedua tangannya sembari terus menatap Juan dengan tajam.
__ADS_1
"Ambil barangnya dan bunuh target W13 dua jam dari sekarang." kata seorang pria dari seberang telepon.