
Juan langsung mematikan sambungan telepon tanpa membalas ucapan orang yang baru saja menghubunginya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan kembali beradu pandang dengan Thea.
"Sudah selesai? Jadi, aku bisa memukulmu sekarang?" kata Thea ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maaf sa ... maksudnya aku sudah membuatmu terkejut tadi," Juan berbalik dan kembali ke ruang tengah
"Ah, terserah saja. Yang penting kamu segera pergi dari sini," ucap Thea yang kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk menyeduh secangkir teh hijau tanpa gula.
Sementara itu, Juan tengah berdiri tepat di depan laci yang di atasnya terletak belati yang melukainya tadi. Lelaki itu mengambil belati tadi dan memasukkannya ke dalam kantong sebelum Thea kembali.
"Kalau caramu menggunakan senjata seperti tadi, bisa-bisa kamu sendiri yang akhirnya akan terluka," kata Juan menyambut kedatangan Thea dengan secangkir teh yang masih mengepulkan asap.
"Apakah aku terlihat peduli?" Thea meletakkan cangkir berisi teh di atas meja.
"Aku serius...," Juan melangkah mendekati teh hijau yang aromanya sudah menguasai indera penciuman lelaki itu. "..., jangan sampai terluka ketika ingin melindungi diri."
Thea masih terlihat tidak peduli. Manik matanya enggan menatap Juan yang kali ini telah meraih cangkir bening yang menampilkan warna kehijauan dari teh yang Thea seduh beberapa saat lalu.
"Aku bisa mengajarimu sedikit ilmu beladiri dengan atau tanpa senjata," tukas Juan, kemudian menyesap habis teh dari dalam cangkir.
"Berhenti berbicara denganku dan segera pergi!" Suara Thea sedikit bergema di dalam ruangan itu.
Juan hanya tersenyum kecil. Ia meletakkan cangkir yang telah kosong dan menghampiri Thea yang mukanya sudah memerah padam akibat amarah.
__ADS_1
"Aku serius. Aku hanya ingin kamu benar-benar bisa melakukan pembelaan diri tanpa harus terluka."
"Tidak perlu ikut campur dengan urusanku. Aku bisa bertahan hidup sendiri tanpa harus bergantung kepada orang asing sepertimu!" Mata Thea membulat sempurna, menatap tajam mata Juan.
"Ah, baiklah aku menyerah," Juan menganggukkan kepala.
"Sudah sepantasnya kamu menyerah dan segera pergi dari sini."
"Sesuai dengan permintaanmu. Aku pamit dulu," Juan menatap jarum jam di pergelangan tangannya. "Selamat menikmati muffin. Aku tidak meracuni makanan itu jadi jangan khawatir," lanjutnya.
Thea menatap ragu ke arah Juan. Matanya menemukan aliran kecil berwarna merah dari lengan kanan Juan. Thea menahan Juan dengan menarik bagian sudut bawah jaket yang dikenakan lelaki itu. Juan menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu.
"Apakah saat ini aku sedang ditahan untuk tidak pergi?" kata Juan, memiringkan kepala untuk bertemu pandang dengan perempuan yang lebih pendek darinya itu.
Juan terkekeh dan berkata, "Khawatir? Hahaha, luka sekecil ini tidak terlalu berarti bagiku."
"Bukan begitu, aku sudah melukaimu. Ba-bagaimana kalau kamu tiba-tiba melaporkanku ke polisi?" Thea melepaskan tangannya dari jaket Juan dan menunduk gelisah.
"Tidak apa, No... Maksudku Theana." Juan tersenyum dan mengacak rambut Thea sekali lagi. 'Karena senjata dan darah sudah menjadi keseharianku,' batin lelaki itu.
"Ya sudah terserah saja. Silakan pergi," kata Thea sambil menepis tangan Juan.
Kaki Juan melangkah menuju pintu dan meninggalkan Thea. Ia kembali memikirkan perkataan Peter beberapa waktu lalu. Ia tidak boleh melibatkan Thea dalam urusan ini. Juga tidak boleh ikut campur dalam hal apapun—kecuali memastikan bahwa perempuan itu aman.
__ADS_1
'Aku hanya akan melakukan semuanya sesuai instruksi.' batin Juan yang kini berhenti di ambang pintu.
"Apa lagi?"
"Ah, benar juga. Mungkin lebih baik aku melaporkanmu ke polisi," Juan berucap tanpa membalikkan badan.
"Apa maksudnya? Bukankah tadi kamu yang bilang tidak apa-apa? Dan kamu juga yang menolak untuk pergi ke rumah sakit. Ternyata kamu hanya mau mengan...,"
Juan membalikkan tubuhnya dan langsung memotong kalimat Thea. "Kecuali kamu menyetujui syarat dariku. Biarkan aku mengajarimu beladiri."
"A-apa? Jangan laporkan aku ke polisi, aku mohon!"
"Aku anggap permohonan barusan sebagai bentuk persetujuan. Aku pergi dulu."
Tanpa melanjutkan perbincangan lagi, Juan meninggalkan kediaman Thea. Raut wajah ramahnya berubah garang seketika. Langkah panjangnya terus berjalan menuju luar apartemen.
'Ya, aku tidak melanggar apapun. Aku melakukan ini demi memperlancar pekerjaanku menghadapi perempuan ini.'
Thea buru-buru menutup pintu apartemennya setelah tamu tak diundang tadi keluar. Badannya bergetar hebat dan terduduk di lantai. Nafasnya memburu, berlomba dengan pikirannya yang kalut.
"Gila, aku hampir saja membunuh orang!" rutuk Thea kesal. Dengan sedikit gontai ia bangun dari lantai dan duduk di sofa sembari mengistirahatkan punggungnya.
'Bagaimana ini? Apakah berarti aku akan bertemu lagi dengannya?' batin Thea.
__ADS_1