
"Dasar wanita gak tahu diri, dia pikir Arkan bakalan mau gitu sama dia, mimpi." Cibir Rania sembari berjalan cepat menjauh dari sana.
Rania kembali di sibukkan dengan pekerjaannya sendiri, mengelap setiap hiasan yang ada di rumah itu, baru dia sadari kalau jumlah benda-benda tak guna itu lebih dari ratusan jumlahnya, dan sialnya dia sendiri yang membelinya dulu.
"Bibi, aku akan pergi selama beberapa hari. Tolong bersihkan dan jaga kamar Allea selama aku pergi," suara Arkan yang bicara dengan Bibi Betty, tampak dia sudah rapi dengan setelan jasnya. Sepertinya dia akan pergi mengurusi urusan bisnis.
"Baik Tuan, apa ada lagi yang perlu saya lakukan?"
"Tidak, hanya itu saja. Oh ya, jangan sampai ada satupun benda yang hilang, atau pindah posisi, aku ingin kamar itu tetap sama seperti saat dia ada disini." Ucapnya dengan pandangan sulit di artikan.
'Sekarang kau bersikap seolah-olah kau sangat mencintaiku, namun pada kenyataannya itu hanya topeng untuk menutupi kesalahanmu. Aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa aku akan mencintai orang sepertimu dulu.'
flash back saat SMA.
"Kau Allea kan?" Seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri Allea yang tengah duduk sambil membaca buku di bangku taman.
"Iya, ada apa?" Tanya Allea menatap penasaran pada sosok laki-laki tersebut.
"Ada orang yang menunggumu disana." Tunjuknya ke balik dinding yang tak nampak dari posisi saat ini yang Allea duduki.
"Siapa?" Tanya Allea lagi, dia masih belum mengerti apa pun.
"Sudah kamu pergi saja, nanti juga tahu sendiri," keluhnya sembari pergi, dia tampak kesal karena Allea terus saja bertanya.
Allea berdecak kesal, namun tak urung dia pun pergi jua ke tempat yang di tunjukkan laki-laki tadi, yang entah siapa namanya, meski satu sekolah Allea juga tidak tahu nama semua murid yang bersekolah disini.
Allea berjalan menghampiri tempat tersebut, tampak seorang Pria tengah berdiri sambil bersandar ke dinding, dari mulutnya keluar asap putih yang berpendar lalu menghilang begitu saja. Dia menoleh saat Allea sampai di tempat itu, Allea mengernyitkan dahi menatap aneh pada laki-laki itu, terlebih lagi ada sebatang rokok yang di apit dua jari di tangannya.
"Apa kamu yang memanggilku?" Allea bicara langsung, dia tak ingin banyak bicara dengan orang begajulan seperti ini.
"Iya, aku yang manggil kamu." Jawabnya.
__ADS_1
"Ada apa? Aku merasa kita gak ada urusan apa pun, jadi cepat katakan, dan oh ya, matikan rokokmu, aku benci asap rokok." Keluh Allea sembari melipat tangan di dada, lalu memalingkan wajah.
"Ah maaf, aku akan membuangnya." Dia melakukan apa yang Allea katakan.
"Bagus, lagi pula kamu masih di lingkungan sekolah, kalau sampai guru tahu kamu merokok, kamu pasti akan di hukum berat."
"Aku hanya coba-coba saja, dan lagi pun rasanya gak enak." Dia nyengir kuda.
"Ya sudah cepat katakan, apa mau kamu?" Allea mulai tak sabar, terlebih lagi jam istirahat sudah akan berakhir beberapa saat lagi.
"Sebenarnya, aku suka kamu." Ucapnya tiba-tiba, membuat Allea melebarkan matanya.
"Hah, kamu gak salah? Kita gak kenal loh, bahkan aku juga gak tahu siapa kamu." Allea menatap tak percaya pada orang di hadapannya itu.
"Oke perkenalkan, namaku Arkana Ravindra aku kelas 11 C," ucapnya.
"Aku--,"
"Kamu menyelidiki aku," Allea menatap tak percaya.
"Kalau aku suka seseorang, aku akan mencari tahu segalanya tentang dia, bukankah itu wajar, semua orang juga melakukan itu kan." Allea memutar bola matanya malas sebagai tanggapan.
Sejak saat itu, Arkan selalu berada di sekeliling Allea, meski Allea tak menerimanya sama sekali, namun berkat kegigihannya selama berbulan-bulan akhirnya Allea pun luluh juga, cinta Arkan untuknya tak terbatas, dia sanggup melakukan apa pun untuk Allea, bahkan dia menentang keluarganya demi menikahi Allea.
Flash back of.
Setelah kepergian Tuan rumah, keadaan di kediaman jauh lebih santai.
Tampak Bibi Betty berjalan menuju lantai atas, Rania sudah dapat menebak kemana wanita itu pergi. Dengan segera Rania pun berjalan menyusul di belakang.
"Nyonya, anda mau membersihkan kamar almarhum Nyonya kah? Boleh aku membantu?" Ucap Rania yang berjalan mengekor di belakang Bibi Betty.
__ADS_1
Bibi Betty menghentikan langkahnya sejenak, "memangnya pekerjaan kamu sudah selesai?" Tanyanya dengan nada ketus.
"Sudah Nyonya, jadi ijinkan saya juga ikut, siapa tahu saya bisa membantu." Bujuk Rania.
"Baiklah, tapi ingat jangan pindahkan barang apa pun, jika aku bilang benda itu tak boleh di sentuh, maka tak boleh di sentuh." Ucapnya memperingatkan.
"Siap Nyonya." Akhirnya Bibi Betty mengijinkan Rania ikut, dan mereka pun masuk ke kamar Allea bersama-sama.
Kamar ini masih tampak sama seperti terakhir kali Allea mendatanginya, tak ada yang berubah, bahkan tata letak barangnya pun masih sama. Sebenarnya ini bukan kamar utama, ini lebih seperti lemari penyimpanan barang-barang Allea yang super banyak dan mahal-mahal.
Rania menatap nanar benda-benda miliknya dulu seperti pakaian, perhiasan, tas, dan sepatu yang terpajang rapi di dalam rak kaca, mereka semua tampak seperti barang yang di pajang di toko. Di kehidupannya sekarang, mungkin benda-benda semacam ini akan sulit dia dapatkan. Tapi di balik semua itu, dia banyak belajar untuk menghargai hidup dan uang.
"Nyonya, kenapa benda-benda ini tidak di jual saja, toh pemiliknya juga sudah tak ada, untuk apa tetap di simpan?" Celetuk Rania sembari membersihkan tempat tidur.
"Tuan tidak akan mungkin melakukan hal itu, semua barang yang ada di ruangan ini adalah barang-barang kesayangan Nyonya, dia tidak akan rela bila kenangan tentang Istri yang paling dicintainya sampai hilang." Ujar Bibi Betty, saat ini dia tengah mengelap sepasang sepatu hak tinggi berwarna silver.
'Istri tercinta? Betapa mirisnya kata-kata ini.' batin Rania bergumam.
Disaat itu, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, "siapa?" Tanya Betty bertanya.
"Ini saya Liana, Nyonya. Ada telpon untuk Anda," ujarnya dari balik pintu.
"Oke tunggu sebentar." Jawabnya, "Rania, kau lanjutkan dulu, aku akan segera kembali."
Rania pun mengangguk, bagai dapat angin segar, setelah Bibi Betty pergi dia pun langsung mencari tata letak berangkas tersebut, yang dia ingat ada di belakang lemari buku setinggi dua meter.
Rania mengambil salah satu buku yang ada di baris ke empat dari atas, tampak sebuah pintu kecil tersembunyi disana, baru saja Rania hendak menyentuhnya suara Bibi Betty terdengar dari arah belakang.
"Kau sudah selesai?" Tanyanya, yang hampir membuat Rania terlonjak saking terkejutnya.
"Be-belum Nyonya, sa-saya sedang mengelap buku-buku ini," dalih Rania gugup, dia kembali menyimpan buku tersebut ke tempat semula, takut ada yang menyadari benda di balik lemari tersebut.
__ADS_1