Love Reborn

Love Reborn
Bab 16 - Perubahan sikap Arkan


__ADS_3

Arkan membuka mata, dia memiringkan kepala, "kenapa, kau tidak percaya?"


Rania tampak gelagapan, takut jika Arkan mencurigainya, "haha, kenapa juga aku tidak percaya. Toh itu urusan pribadi Tuan," pungkas Rania.


"Sadar diri juga rupanya kamu," komentarnya, kemudian kembali memejamkan mata.


Hish, sudut bibir Rania sedikit berkedut, kesal namun tak bisa membantah "fokus menyetir sana, nanti bukannya sampai rumah, malah sampai ke akhirat duluan."


'Dasar. Kenapa dia jadi ngeselin gini sih, padahal dulu dia itu tipe cowok yang manis, dingin di luar tapi lembut di dalam,' keluh Rania dalam hati.


"Gwen bukan pacarku, dia anak dari saudara jauh Ibuku," ujar Arkan setelah mereka terdiam cukup lama. Rania tak menjawab, dia tetap fokus pada jalanan yang dilaluinya, "dan dia juga sudah menikah."


Cekittt.... Bruk...


Sebuah mobil menabrak bemper mobil Arkan dari belakang, karena Rania ngerem mendadak tanpa aba-aba "woy kamperet! Bisa nyetir gak sih!" Suara teriakan di iringi kata-kata makian terdengar dari arah belakang.


"Astaga, ma-maafkan saya Tuan, saya terkejut ada kucing lewat tadi," dalih Rania memberi alasan sembari menepikan mobilnya.


"Ya udah gak papa, lain kali hati-hati untung gak terjadi kecelakaan," rutuknya sembari berlalu.


"Haish, untung saja," Rania menghembuskan nafas kasar.


"Untung, kamu bilang? liat bodi belakang mobilku, penyok semua," gerutu Arkan.


"Ya, itu salah Tuan, kenapa juga nyuruh saya nyetir," Rania berkilah.


"Ya kalau kamu gak ngerem mendadak mana mungkin orang tadi nabrak pantat mobilku," keluh Arkan tak mau kalah.


Rania manyun, matanya sedikit mendelik pada Arkan yang masih tampak tenang walau mobilnya yang tidak bisa di bilang murah itu belakangnya penyok, 'lebih baik aku diem aja deh, kalau aku debat lagi, nanti malah di suruh ganti rugi lagi, aku mana ada duit,' batin Rania, dia mulai melajukan kembali mobilnya di jalanan. Kali ini, dia lebih berhati-hati.


"Kamu udah punya SIM belum?" Tanya Arkan lagi, yang di kira Rania sudah tidur.


"Belum. Untuk apa aku punya SIM, mobil juga gak punya."


"Tapi kamu bisa nyetir?"


"Belajar otodidak," kilahnya.


"Hah, masa?" Arkan nampak tak percaya. Rania hanya mengangkat bahu pelan, dia sudah habis kata-kata soal alasan dia bisa menyetir. Nyatanya, Arkan sendiri yang mengajarinya menyetir dulu, saat dia masih menjadi Allea.

__ADS_1


"Kamu mengingatkan aku pada seseorang," Arkan tersenyum lemah.


"Siapa? Gwen?"


"Bukan, untuk apa aku mengingat dia."


"Lalu?"


"Istriku, Allea."


Deg... Jantung Rania berdegup kencang, Rania tersenyum pelan, "memangnya Nyonya itu seperti apa orangnya, Tuan?" Rania bertanya ragu-ragu.


"Kenapa kamu ingin tahu?" Alis Arkan sedikit terangkat.


"Ya biar aku tahu, dimana letak kemiripan kami."


"Siapa bilang kamu mirip dia? Kamu dan dia bagai pungguk dan rembulan," cibir Arkan sudut bibirnya sedikit tertarik keatas. Entah kenapa dia sangat suka menggoda Rania, seakan dia punya mainan baru.


'Sialan.' batin Rania kesal.


"Ya sudah kalau begitu," Rania malas meladeni Pria menyebalkan di sampingnya.


'Aku tahu, dasar berisik.' Rania mulai geram.


"Lambat banget sih kamu nyetir," lagi-lagi Arkan berkomentar.


"Kenapa, Tuan ingin cepat menuju akhirat?" Jawab Rania sarkas, karena bibirnya sudah gatal ingin menjawab kata-kata menyebalkan dari Arkan.


"Boleh, tapi harus kamu duluan," ada saja jawaban yang dia punya untuk terus memperpanjang perdebatan mereka.


"Tuan lebih baik tidur. Tuan kan sedang mabuk."


"Aku tidak mengantuk, lagi pula toleransi alkoholku sangat tinggi, hanya minum sedikit saja tidak akan membuatku mabuk," ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Lalu, untuk apa saya disini kalau Tuan sebenarnya tidak mabuk?" Geram Rania kesal karena telah tertipu oleh Pria di sampingnya itu.


"Tapi tetap saja, aku habis minum alkohol, jadi tidak boleh membawa kendaraan." Dia terus saja mencari alasan.


'Sialan. Pria ini benar-benar menyebalkan.'

__ADS_1


"Jadi tadi Tuan hanya pura-pura di depan Nona Gwen?"


"Hem, dia ingin membuatku mabuk dan meniduriku." Jawabnya datar sambil memainkan ponsel di tangannya.


"Apa? Apa wanita itu sudah gila, bukannya dia sudah menikah?" Rania merasa terkejut dan tak habis pikir dengan kelakuan Gwen.


"Aku juga baru tahu hari ini, ternyata Gwen wanita seperti itu. Dulu saat Allea mengatakan tentang Gwen aku tidak pernah mempercayainya, tapi hari ini aku melihat sendiri sifat aslinya." Tersirat raut penyesalan di wajah Arkan.


'Syukurlah, akhirnya matamu terbuka Arkan. Aku tidak ingin kamu terjebak dalam permainan wanita gila itu.'


"Tapi rasa sesalku juga sudah terlambat, dia sudah tidak lagi di sampingku." Lirihnya.


"Meski Nyonya sudah tidak bisa bersama Tuan lagi, mungkin di suatu tempat dia dapat melihat keadaan Tuan saat ini, dan berharap Tuan bisa melupakan masalalu dan membuka lembaran baru dalam hidup Tuan." Ujar Rania, kini perasaannya terasa lega, karena ternyata Arkan tidak pernah berselingkuh dan selama ini dia selalu setia dan memikirkannya seorang.


"Kamu benar, tapi itu sangat sulit. Dia wanita pertama yang membuat aku jatuh cinta, membuat aku melupakan segalanya, uang, keluarga, warisan. Aku membuang semua itu demi dia seorang, dan memilih pergi untuk memulai hidup baru bersamanya. Segalanya terasa mudah saat dia di sampingku." Lirihnya, ujung matanya sedikit berair.


'Arkan menangis?' nyut...ada sesuatu yang menekan ulu hati Rania, terasa sesak membuat dia harus mengambil napas dalam-dalam untuk menekannya.


"Namun saat dia pergi, seakan seluruh dunia juga ikut pergi bersamanya. Membuat aku berdiri sendirian." Lanjutnya.


Rania tak mampu berkata-kata, dia hanya diam dan mendengarkan cerita Arkan, tanpa ada niat menyela.


"Allea adalah wanita yang sangat sempurna dimataku, aku tak pernah menuntut apa pun darinya, meski pernikahan kami sudah berjalan dua tahun tapi Allea belum hamil juga. Mungkin, aku yang kurang mampu," dia terkekeh pelan, "aku tidak pernah menyalahkannya, meski mungkin kami tidak akan pernah di karuniai seorang anak, bagiku itu bukan masalah. Asalkan, dia tetap bersamaku." Suaranya terdengar parau.


Rania mengalihkan pandangannya, berusaha menahan air mata yang terus menerus ingin menerobos keluar, 'sial, aku ingin menangis.' batinnya bergumam.


"Aku haus," Gumamnya sambil meregangkan otot-ototnya, sepertinya epek mabuknya sudah benar-benar hilang.


Dia memicingkan mata menatap jalanan dengan seksama, "kita dimana ini?"


"Bukannya ini jalan ke rumah Tuan?" Timpal Rania.


"Dasar bodoh, kamu lihat sendiri kita ada dimana."


Rania lekas menghentikan laju kendaraannya dan melongokan kepala keluar jendela, "astaga, kita salah jalan!" Pekiknya saat melihat letak keberadaan mereka di tempat asing dan agak jauh dari perkotaan.


"Tuan kita harus bagaimana?" Rania tampak panik.


"Ya harus bagaimana, bensin mobilnya pun sudah mau habis, terpaksa kita harus menunggu di tempat ini sampai ada orang yang menolong." Arkan mengangkat bahu ringan, dia lantas turun.

__ADS_1


"Turunlah, lihat tempat ini lumayan bagus." Ucapnya, membuat Rania pun ikut turun.


__ADS_2