
Leon menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Dilihatnya sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Nafasnya berat.
.
.
.
.
Ruang kerjanya terasa sangat dingin meskipun AC nya sudah maksimal bekerja. Ia membungkukkan badannnya, berusaha meraih laci paling bawah meja kerjanya. Sesuatu perlahan ia keluarkan dari dalam laci. Sebuah boneka anak ayam yang memegang tomat di depan mulutnya. Mata stoic ayam itu mengingatkan kita pada seseorang.
Leon berdecak kesal sambil memandang boneka itu.
"Apanya yang teman?" Ia meletakkan boneka ayam itu di pinggir meja, saling berhadapan dengannya.
"Kau pikir aku mau jadi temanmu?" Ucap Leon, seakan-akan bertanya pada boneka di depannya.
"Teman, heh?" Ia tersenyum sinis.
"Aku mau lebih dari itu." Ia memeluk boneka ayamnya. Menumpukan dagunya pada boneka ayamnya sambil memejamkan matanya.
"Sampai kapan?" Ucapnya lirih.
…
Tujuh tahun lalu musim panas , bulan juli
"Leon!"
Aku bosan, sejak tadi dia selalu memanggilku.
"Hm." Aku hanya menengok sekilas lalu kembali terfokus melihat keluar, bukan pemandangan di luar jendela yang kulihat, untuk apa aku lihat hal membosankan itu.
Sesuatu yang ku lihat lebih menyenangkan dari itu, bayangan seseorang yang terpantul di kaca jendela.
"Leon!" Panggilnya lagi.
"Kalau kau mau tanya hadiah apa yang ku inginkan. Jawabannya tidak ada!" Aku kembali menatap bayangan yang terpantul di jendela. Rambut coklat tua hampir menyerupai hitam dinaikkan oleh angin. Ia duduk di kursinya, di belakangku. Matanya terpejam. Kepalanya terpangut-pangut.
Ia tertidur di posisinya yang sedang duduk. Sesekali ia terbangun tetapi tidak sepenuhnya terjaga kemudian tertidur lagi. Akhir-akhir ini ia sering tertidur. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan sampai harus begadang.
"Aku hanya ingin membuat mu senang, Leon." Ucapnya lagi. Ia duduk di sampingku, aku tahu ia sesekali melirikku.
"Aku sudah punya segalanya." Ucapku datar.
"Tidak perlu memberiku apapun." Tambahku
"Baiklah." Ia tersenyum. Aku kembali melanjutkan kebiasaanku. Terus memperhatikannya. Dia masih tertidur dalam posisi yang sama. Kepalanya kembali termangut-mangut. Terus ku perhatikan dirinya
sampai-sampai..
Jduuk…
Ups, kepalannya terbentur meja. Terlihat menggelikan bagiku. Ia gelagapan menyentuh keningnya yang memerah sambil meringis kesakitan. Senang sekali melihat tingkah bodohnya itu.
"Kau kenapa leon?"
"Tidak ada apa-apa, fan."
Hampir saja Stefani menyadari apa yang kulakukan. Hari ini bel tanda pulang terdengar lebih cepat dari biasanya. sekarang sudah menunjukkan pukul 4 sore.
__ADS_1
Aku tidak terlalu suka pulang sekolah karena aku tidak bisa lagi melihat dia, tingkah konyolnya yang biasa membuatku tersenyum tanpa sadar. Ia selalu ceroboh, makanya tingkahnya selalu membuatku tertawa.
Walaupun lebih ceroboh si bodoh itu, tetapi hanya dia yang bisa membuatku merasakan ada hembusan angin di rongga dadaku, terasa tenang.
"Leon!"
Lagi-lagi dia. Aku mengacuhkannya, terus saja dia aku berjalan menuju parkiran.
"Leon!" Dia berteriak sekali lagi.
"Ada apa?" Tanyaku ketus. Dia hanya memamerkan cengiran nya. Entah apa yang disukainya dari pria ini. Banyak wanita yang rela ku duakan, ah tidak, ditigakan asal bisa menjadi pacarku, wanita itu malah memilih pria ini. Apa karismaku ini kurang untuknya?
"Kita bareng yah!"
"Hm."
Kulihat wanita itu melihat kami berdua dari gerbang sekolah. Dia langsung membuang muka ketika aku berbalik melihatnya. Aku menghembuskan nafas berat. Selalu saja begitu.
Tahun pertama sekolah di mana aku pertama bertemu dengannya. Dia aneh dan bodoh, kesan pertama saat mengenalnya tetapi seiring berjalannya waktu, aku mulai memahaminya. Ia memang tidak pintar, maka itu ia selalu berusaha keras. Dia aneh karena aku tidak mengenalnya, itu kesimpulanku.
Entah kenapa segalanya bisa berubah. Bagiku, dia mempesona karena kebaikannya. Ia pernah terlambat sekolah karena menolong kucing yang tidak bisa turun dari pohon. Akhirnya dia naik dan seperti yang terjadi pada kucing itu, ia pun tidak bisa turun.
Aku tertawa melihatnya, tampangnya lucu sekali, pucat. Ingin aku menolongnya tetapi ia sudah terjatuh duluan. Dan bukannya meringis kesakitan, ia malah bersorak-sorai karena bisa turun dari pohon. Dan pertanyaanya kenapa aku ada di sana? Kalian pasti tahu jawabannya.
Aku membanting tubuhku di sofa. Lelah sekali harus mengendarai mobil untuk pulang sekolah, ditambah harus mendengar celotehan si bodoh tanpa henti.
"Sayang, Mama sudah membeli kapal pesiar untuk merayakan ulang tahunmu. Kau senangkan." Mama menghampiriku, ia duduk disampingku sambil mengusap kepalaku.
"Mama juga sudah menyebarkan semua undangannya, bagaimana? Kau sukakan?" Mama kembali bertanya matanya mengerling kearahku.
Aku hanya menghembuskan nafas lelah.
"Aku bukan gadis remaja yang ingin seventeennya dirayakan, Mam."
"Kau sudah pulang ,, mana Papamu?" Mama mulai beralih pada kakakku. Eric hanya mendelik ke arah belakang.
"Kau sudah pulang, adikku sayang." Seperti biasanya, Eric berusaha menggodaku sambil mengacak-acak rambut kesayanganku.
"Cih."
"Bagaimana kau mau kan Leon?" Kembali Mama bertanya. Aku mengacuhkannya.
"Kenapa tidak mau? Bukankah ini menyenangkan. Kau bisa berlayar seminggu penuh di Samudra Pasifik?" Eric ikut menimpali.
"Kau mau, kau saja yang pergi," Ucapku acuh.
"Dasar, jangan menyesal nanti tidak bisa melihat wanita-wanita cantik berbikini. Ah.. mereka pasti memiliki tubuh yang bagus, walaupun sedikit rata dadanya." Eric mulai berkhayal yang tidak-tidak. Sukses mendapatkan jitakan dari Sang Mama.
"Wanita berbikini apanya?" Aku kembali acuh. Ku ambil majalah yang ada di atas meja lalu membacanya.
"Memang tidak ada satupun teman wanitamu yang kau sukai?"
Yang ku sukai? Entah kenapa bayangan Merisa menyerobot pikiranku.
"Bayangkan bagaimana saat dia memakai bikini…"
Merisa memakai bikini?
"Pasti dia seksi, bisa melihat lekuk tubuhnya, lehernya yang jenjang, kakinya yang mulus tanpa cela…"
Lekuk tubuh Merisa, lehernya yang jenjang, kakinya yang mulus.
__ADS_1
Tanpa sadar aku membayangkan itu semua. Sial! Aku sudah tidak waras. Hei, aku juga pria pastilah wajar membayangkan hal itu.
"Baiklah." Jawabku cepat diikuti teriakan dari Mama.
"Jadi penasaran, siapa wanita yang kau sukai itu," Eric mengedipkan matanya padaku. Sukses membuatku merona, malu. Hal ini membuat Mama dan Eric menggodaku habis-habisan sampai Papa datang.
Aura yang dibawanya selalu bisa membuat semuanya hening.
"Ada apa?" Tanyanya sambil membuka jasnya. Mama menghampirinya, berusaha membantu melepaskan jas kerjanya.
"Anak bungsu kita jatuh cinta pada temannya." Mama berbicara sambil terkikik. Papa hanya memandang ku dengan wajah stoicnya. Aku hanya diam begitu pun Eric.
"Jika kau tidak ada waktu luang, lebih baik belajar." Ucap Papa. Nada suaranya terdengar tidak suka. Seketika semuanya terasa hening. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku.
"Wanita tidak hanya tertarik pada pria tampan tetapi juga pada yang pria pintar." Ucapnya sambil berlalu.
Aku terkejut mendengar penuturannya begitu pun yang lain tetapi pada akhirnya Mama dan Eric tertawa geli begitu pun aku walaupun aku masih kaget dengan yang barusan ia katakan. Secara tidak langsung dia mendukungku.
Aku berdebar-debar menanti ulang tahunku sendiri, tahu dia akan datang. Aku tidak henti-hentinya mengembangkan senyuman tetapi itu tidaklah lama. Khayalanku luntur semua. Dia tidak datang.
Aku kesal, bertanya-tanya apakah dia tidak menerima undanganku? Aku pulang lebih cepat. Untuk apa berlama-lama di sana? Niko dan Stefani menelfonku tetapi sama sekali tidak ku angkat.
Ingin rasanya pergi kerumahnya, menyeretnya, memaksanya mengucapkan ulang tahun untukku, memaksanya memberikan kado padaku. Heh, aku benar-benar tidak waras.
Dengan gusar aku pulang ke rumah, Eric menatapku keheranan.
"Kenapa kau pulang?" Ia terus membuntutiku.
"Bukan urusanmu!" Dengan cepat ku langkahkan kakiku menuju kamar.
"Tadi ada yang mengantarkan kado untukmu." Ucapnya disertai teriakan karena aku terus saja melajukan langkah kakiku menaiki tangga menuju kamarku.
"Buang saja!" Teriakku padanya.
"Kau yakin? Ini dari Azkanida, Merisa Azkanida!" Teriaknya. Aku berhenti melangkah. Kakiku seakan-akan lupa caranya berjalan.
"Kemarikan!" Aku melihatnya dari bawah menjulurkan tanganku, menginstruksikannya untuk melempar kado itu keatas. Berniat menjahiliku, dia malah membawa kabur kado itu. Terpaksa aku mengejarnya dengan beringas.
"Kembalikan!" Teriakku padanya. Ia tidak menggubris teriakanku, malah tawanya semakin menjadi-jadi. Kami saling berebut kado itu dan tanpa sengaja kami berdua melemparkan kado itu ke kolam renang.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menceburkan diriku ke kolam, masih dengan pakaian formal lalu berenang mengambilnya tidak berfikir kalau aku tidak bisa berenang.
…
Seorang pria memandangi boneka ayam yang ada ditangannya. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dilihatnya seorang pria yang hampir mirip dengannya sedang tertidur di ranjang.
Rambut pria yang tertidur lelap ini basah karena aksi nekatnya beberapa saat yang lalu. Kembali ia menatap boneka ayam itu bengantian. Menghembuskan nafas berat.
"Begitu berharganya boneka ini dibanding nyawamu, Leon?" Lagi-lagi ia menghembuskan nafas berat.
Dilihatnya boneka ayam itu. ia menyerngitkan dahinya melihat betapa jeleknya jahitan boneka ayam yang ada di genggamannya.
"Dasar bodoh." Ia mengelengkan kepalanya, prihatin.
"Walaupun jelek, dilihat lagi ayam ini mirip denganmu, Leon." Pria ini terkikik pelan kemudian meletakkan boneka itu di samping Leon. Perlahan ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar adiknya, Leon.
from : Merisa Azkanida
To. : Leon Alvalendra
Selamat ulang tahun 🙂
__ADS_1
To be continue.....