Married With Ketua OSIS

Married With Ketua OSIS
oEp 4


__ADS_3

happy reading guys!!😘😘


Sontak Oliv, Silvi, Cinta diam karena takut ditatap seperti itu oleh senior mereka. Sedangkan Zahra, ia terlihat seperti meminta bautuan kepada ketiga sahabat barunya untuk menolongnya dari manusia es disampingnya ini. Tapi ketiganya menggelengkan kepala pertanda tidak tau bagaimana cara agar dapat menolong dirinya.


Setelah Zahra naik ke atas panggung semua peserta MOS langsung Berbisik-bisik. sedangkan ia hanya memasang wajah datar pada ketiga sahabatnya karena mereka tidak bisa menolongnya. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan mereka, toh ini salahnya juga.


"Ih beruntung banget sih jadi cewek itu, bisa Deket masa ketua OSIS kita yang ganteng banget"


"Kenapa tuh, wah pasti dia bikin masalah tuh"


"Ih sok kecantikan, cantikan juga gw"


Seperti itulah bisik-bisikan yang bisa didengar oleh Zahra.


"Mohon perhatiannya sebentar!" Setelah cowok itu berbicara semua langsung dia. Dan memperhatikan apa ya akan terjadi berikutnya


"Assalamualaikum Wr. Wb" ucapnya memberi salam pembuka dengan lantang dan sopan.


"Wa'alaikumssalam Wr. Wb.


Jawap mereka serempak.


"Kali ini saya ingin berbicara sesuatu. Saya ingin memberi hukuman untuk teman saya angkatan kalian. Saya tidak akan memberi hukuman jika saja dia tidak terlambat di hari pertama MOS!" Ucapnya dengan lantang


"Siapa nama kamu?" Tanyanya dengan lantang.


"Zahra" jawap Zahra seadanya


"Yang keras!!" Bentaknya.


"Oke, nama gw Tasya Khanza Azzhara. Puas Lo" sahut Zahra tak kalah keras.


"Gitu! Sekarang saya minta kamu keliling lapangan basket 10 kali" perintahnya.


Belum sempat Zahra ingin protes sudah dipotong oleh cowok itu


"Gak ada penolakan!" Seakan dia tau apa yang ingin Zahra katakan.


Akhirnya Zahra pun menuruti saja perintah cowok itu. 30 menit kemudian Zahra sudah selesai berlari mengelilingi lapangan, dan ia berhenti untuk berteduh tapi tiba-tiba saja pandangannya kabur. Kemudian


Brukkk


 


Zahra pingsan tepat disamping ring basket dan untung saja ada yang sigap menopang tubuhnya dari belakang.


 


***


Saat ini Zahra sudah berada di UKS sekolah. Tanpa ia ketahui sedari tadi ada seseorang yang setia menunggu Samapi ia sadarkan diri


"Erghh...." Zahra tersadar dari pingsannya


Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam matanya. Kemudian ia memperhatikan sekelilingnya dan pandangannya tertuju pada seseorang yang telah membuatnya seperti ini. Siapa lagi kalu bukan Niko.


"Udah sadar?" Tanya Niko dengan nada dingin.


"Gw dimana?" Bukannya menjawab pertanyaan Niko, Zahra malam bertanya balik. Dan itu semakin membuat tatapan dingin Niko bertambah saat menatap Zahra.


"Udah sadar?" Ulang Niko dengan nada yang lebih dingin.


"Lo punya mata kan? Kalo gw belum sadar gak mungkin sekarang gw bisa ngomong sama Lo!" Ucap Zahra dengan sewot


"Hmm"


"Gw dimana?" Tanyanya lagi dengan data sedikit ketus


"UKS" Jawapnya sambil memasang wajah datar.


"Emang gw kenapa? Dan siapa yang bawa gw kesini?" Tanya Zahra.


"Tadi Lo pingsan, trs gw bawa kesini" Jawapnya tetap senang wajah datarnya itu.


"Oh ya udah makasih" Ucap Zahra dan ingin beranjak pergi dari UKS, tetapi ada tangan yg mencengangkan pergelangan tangan Zahra.


"Mau kemana?" Tanya Niko


"Lapangan lah kan masih ada kegiatan MOS." Ucap Zahra sambil mengenakan sepatu.


"Lo disini aja, nanti Lo pingsan lagi. Nyusahin orang lagi" ujarnya


"Ya udah iya" Ucap Zahra yang akhirnya mengalah


"Gitu nurut gak usah ngeyel"


"Lo juga sih yang sebenar-benarnya salah" Guamam Zahra.


Namun ternyata Niko bisa dengankan Guamannya itu. Dia mendeka pada Zahra yang sudah kembali berbaring. Lalu ia berbisik pada cewek itu.


"Ngomong apa barusan?" Tanya Niko dingin dengan sorot mata tajam menuju kearah Zahra.

__ADS_1


Saat ini jantung Zahra sudah berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Ia gugup ditatap seperti itu oleh Niko. apalagi nafas Niko yang berbau mint menyapu seluruh permukaan mukanya yang sudah memerah dari tadi. Itu membuat perasaan Zahra menjadi tak karuan saat ini.


"G-gak ngomong apa-apa kok barusan" ucap Zahra gugup


Niko tersenyum miring "yakni?"


"I-iya"


Niko menjauhkan wajahnya dari Zahra. "Lo bilang kalo gw kan yang buat Lo jadi kayak gini?"


"Iya" ucap Zahra tanpa sadar


1 detik


2 detik


"Eh, bukan maksudnya. Hehe” ralat Zahra


"Terserah lo" Jawapnya dingin


***


Niko menjadi dari brankar dan membuatkan teh manis untuk Zahra. Ia kembali pada Zahra dan menyerahkan segelas teh manis buatannya.


"Minum" perintahnya


Gadis itu mengambil segelas teh manis dari seniornya ini.


"Thanks"


"Hmmm"


Niko terus memperhatikan gadis didepannya itu. Tanpa ia sadari sudut bibirnya terangkat dan membentuk senyum. Ia tersenyum hanya karna memandangi Zahra yang sedang minum teh manis buatannya.


Saat Zahra ingin meletakkan gelas yang isinya tinggal setengah gelas itu, Niko langsung meraih dan diletakkannya di atas meja kecil yang tersedia di dalam UKS.


"Makasih"


"Ya"


Kriuk kriuk...


Suara perut Zahra yang berbunyi nyaring diruang yang hening ini. Ia memegangi perutnya sendiri dan meringis kecil. Sepertinya ia tau apa yang terjadi pada perutnya sekarang ini.


"Dasar perut gak bisa diajak kerjasama banget sih, kan malu gw nya" batin Zahra


Niko terkekeh pelan mendengar suara perut Zahra. Ia yakin cewek ini pasti sudah lapar sekarang.


Zahra hanya meringis kecil memegangi perutnya. Ia memejamkan mata berusaha untuk menahan rasa sakit itu.


Niko yang melihat perubahan wajah Zahra pun menjadi khawatir.


"Lo kenapa?"


"Sa-kit" Jawapnya terpatah patah


Sekarang cowok itu panik melihat cewek dihadapannya merintih kesakitan seperti itu.


Ia segera mengambil minyak kayu putih di kotak P3K. Lalu segera diserahkan pada Zahra


"Diolesin dulu" perintahnya


Zahra menerima minyak kayu putih tersebut. Ia segera membuka kanci baju bagian bawah seragamnya. Bodo amat jika Niko melihat kejadian ini.


Selesai mengoleskannya, ia kembali merapikan bajunya dan menyerahkan minyak tersebut pada Niko.


"Masih sakit??"


"Udah mendingan. Boleh minta tolong lagi gak??" Tanya Zahra ragu.


"Apa?"


"Tolong ambilin obat maag dong"


Tak mau pintar panjang Niko segera mengambilnya dikotak P3K. Lalu diserahkan kepada Zahra.


Zahra menerimanya dan langsung meminumnya.


"Sakali lagi makasih" tutur Zahra.


"Hmm, Lo sakit maag??" Jawap Niko sambil bertanya .


Zahra tersenyum tipis " Gw punya penyakit maag. Dan tadi pagi cuma makan roti doang. Biasanya gw makan nasi, tapi tadi lupa"


"Lain kali sempetin makan nasi. Lo tuh tipe orang yang kalo belum makan nasi gak bakal kenyang. Dan ujung-ujungnya maag Lo kambuh" ucap Ivan datar.


"Iya" jawap Zahra tersenyum tipis


Tapi percayalah dibalik sikap datarnya. Ia sangat khawatir pada gadis yag ada dihadapannya itu.


"Gw beliin makna bentar" ujar Niko

__ADS_1


"Gak usah" tolak Zahra cepat


Niko berdecak kesal, "Ck. Lo mah tambah sakit?"


"Enggak" jawap Zahra sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya udah tunggu gw beliin makanan dulu"


Tak lama Niko kembali dengan membawa kantong plastik berwarna putih. Ia mengeluarkan isinya dan memberikannya kepada Zahra.


"Makan" perintah Niko


"Apaan ni??" Tanya Zahra girang


"Bubur ayam"


"Owh"


"Oh ya kenalin nama gw Tasya Khanza Azzhara, panggil aja Zahra" ujar Zahra memperkenalkan diri


"Udah tau" Jawapnya dingin.


"Trs nama Lo?" Tanyanya lagi.


"Lorensius Niko Farmansyah, pangil aja Niko" jawap Niko.


"Oh" Jawapnya


Mereka memang sudah saling kenal tapi bukan berarti mereka berteman.


***


Niko duduk di kursi samping berakar Zahra. Ia terus mengamati wajah Zahra yang damai, berbeda jauh saat ia sedang berdebat dengan dirinya.


Selesai makan, Zahra meminum air mineral ya dibelikan oleh Niko. Kemudian ia kembali berbaring


"Istirahat aja disini"


Zahra mengganggu patuh,


"Lo gk balik?" Tanya Zahra


"Males, panas di lapangan"


" Ketos lembek" ucap Zahra lirih


"Ngomong apa barusan?"


"Eh enggak kok" jawap Zahra


Niko tidak mempedulikan ucapan Zahra Barusan. Ia malah sekarang mulai memejamkan matanya. Manang dari kemarin ia kurang tidur.


"Es batu"


Dengan terpaksa Niko kembali membuka matanya "apa?" Tanyanya malas.


"Kalo capek tidur aja tuh di brankar samping.


Karena memang sudah lelah, maka Niko hanya menurut. Tak lama deru nafas teratur Niko mulai terdengar. Zahra hanya tersenyum tipis.


"Lo tuh aneh ya. Orangnya dingin tapi bisa juga perhatian" ucapnya ngawur.


"Pasti cewe yang dapetin Lo beruntung" ucap Zahra makin ngawur


Sadar dengan ucapannya Zahra buru buru menggelengkan kepalanya.


"Ih, mikir apaan sih ni otak?" Kesalnya sambil memukul pelan kepalanya


"Tidur aja gak usah ngomong gw" ucap Niko


Zahra menoleh kaget ternyata Niko Belum sepenuhnya tidur


"iya-iya"





**Maaf ya kalo ceritanya jelek dan mohon dimaklumi jika ada kesalah dalam ceritanya baru pertama kali buat soalnya 😅 ✌️


Jangan lupa like dan komen 😘


kalau suka jangan lupa tambahkan kedalam favorit 😘


agar author lebih cepat up✌️


see you again ✨**


__ADS_1


__ADS_2