
.
.
.
.
naina dan rania pun pulang bersama...
naina masih dalam keadaan syok..., muka nya yg masih terlihat pucat, dan pergelangan tanganya yg membengkak membuat rania khawatir.
"nai... pergelangan tanganmu membengkak... kita mampir ke apotik dulu ya kita beli salep sama plester untuk mengobati lenganmu yg bengkak" sahut rania yg berusaha membuat naina bicara.
"iya ran terserah kamu aja" sahut naina yg masih lemas.
mereka pun berjalan menuju ke depan gerbang.
kring*****, bunyi ponsel naina berdering, dilihatnya seorang wanita menelpon nya, seorang wanita yg sangat di sayangin oleh naina, seoarang wanita yg setiap hari menelponya karena cemas,seorang wanita yg setiap hari membujuk naina untuk pulang kerumah, dia adalah tak lain mamanya naina itu sendiri.
"iya hallo... ma"
suara naina yg menyambut telpon dari mamanya.
"hallo... nak kamu dimana??"
suara wanita paruh baya yg terdengar dari seberang telpon, dia adalah mamanya naina.
__ADS_1
"di kampus ma, ini baru mau pulang sama rania" sahut naina.
"oh iya,
nai kamu yakin gak mau pulang".
sahut mama nya naina yg berusaha membujuk naina untuk pulang kerumah.
"yakin ma, aku mau belajar hidup mandiri ,aku gak mau nyusahin mama terus dan aku melakukan ini agar mama terbiasa tanpa aku, jadi mama nanti gak terlalu merindukan aku ketika aku pergi untuk selamanya."
kalimat naina yg membuat mama nya itu sedih.
*******
naina seorang putri tunggal dari pasangan hana dan hanif, hanif/ papanya naina seorang karyawan yg bekerja di perusahaan bokapnya ken.
*******
"mama tau nai ini keputusan mu sendiri untuk tinggal di asrama.
tapi mama sama papamu sangat cemas di sini, setiap malam mama gak bisa tidur nyenyak memikirkan kamu terus, pulang ya nak mama sangat merindukanmu" suara mamanya naina yg terdengar ingin menangis.
"gak ma ini sudah menjadi keputusan naina,mama jangan cemas, naina bisa jaga diri kok ma, kalo ada apa apa pasti nanti naina telpon mama, lagi pula ada rania yg selalu mendampingin naina, pokoknya mama jangan cemas, mama kan bisa mampir nanti ke asrama nya naina, " sahut naina
"ya udah kalo kamu tetap nekat untuk tinggal di asrama mm gak bisa maksaiin kamu, kamu jaga diri ya nak di sana, selalu bersama rania, jangan sampai sendirian terus, kalo jantungmu kumat lagi cepat" langsung telpon mama /rania, mana rania??mama mau ngmg sama dia"sahut mamanya naina
naina pun menjulurkan tangan nya ke rania dan menyuruh rania untuk berbicara dengan mamanya.
__ADS_1
"iya hallo te... " sahut rania.
"rania tante minta tolong ya.. jaga naina baik baik,tetap selalu bersamanya, saat ini hanya kamu yg bisa tante percayain, karena kamu sahabat dekat nya naina".
sahut mama nya naina.
" ok siap tante... pasti rania jagain te, tante tenang aja, kalo ada apa apa pasti nanti rania kabarin ke tante"sahut rania.
"ya udah... tante tutup ya telpon nya"
"iya tante "
tut... ***suara telpon yg sudah di akhiri.
"nih... nai ponselmu" rania yg mengulurkan tanganya yg sedang memegang ponsel nya naina.
"udah udah... jangan cemberut terus nai, mana senyuman naina, biasanya setiap hari selalu tersenyum dan tertawa... kok hari ini murung terus... "
kedua tangan rania yg merangkul di pundaknya naina dan memberi semangat kepadanya.
"iiiiii... 😁😁, nih ak sudah senyum, mana nih taksi online nya kok gak muncul muncul dari tadi" sahut naina yg kembali tersenyum lagi.
"nah gitu dong ini baru naina.
bentar aku cek dulu, bentar lagi sampe kok taksi nya kita tunggu aja... " sahut rania.
naina dan rania pun pulang berbarengan, untuk beberapa hari rania menginap di asrama nya naina, karena orang tua nya rania lagi pergi keluar kota, jadi gak mungkin rania tinggal sendiri di rumah.
__ADS_1