
"Jadi ... Mommy merestui hubungan kita, Yank?!" tanya Irene merasa tak percaya dengan cerita Leon tentang Mommy Shira yang sudah memberikan restu.
"Iya, Yank. Tapi ada syaratnya sih!" ucap Leon yang masih menyuapi Irene, sedari tadi Mommy Shira menguping pembicaraan Irene dan Leon di balik pintu kamar, kebetulan pintu itu seidkit terbuka.
"Syarat? Apa syarat yang diajukan Mommy?!" tanya Irene penasaran dengan syarat tersebut.
"Gampang sih, Yank. Syaratnya aku harus mendapatkan pekerjaan dulu. Masa iya sih, wanitaku ini hanya dikasih makan cinta saja."
Dengan manjanya kepala Irene langsung bersandar di bahu Leon. "Semangat ya, Yank. Aku yakin, kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan. Berapa pun upahnya, syukuri saja. Dari pada nganggur, iya kan?"
Leon mengangguk. Leon semakin kagum saja kepada Irene, meski Irene mempunyai segalanya namun gadis itu tidak pernah memandang Leon sebelah mata. Menerima Leon apa adanya. Akan tetapi, disisi lain Leon berpikir, apakah rahasia yang ia sembunyikan dari Irene selamanya aman? Leon takut, rahasia itu terbongkar. Rahasia yang pastinya akan menyakiti hati Irene.
Mommy Shira pun stop menguping, ia melihat betapa Irene begitu sangat mencintai Leon, laki-laki yang sudah menaburkan benihnya di rahimnya. 'Harusnya aku merestui dari awal, kalau aku merestui dari kemarin-kemarin, kejadian malam itu antara aku dan Leon tidak akan pernah terjadi,' ucap Mommy Shira dalam hati.
Mommy Shira memang tidak punya pilihan lain lagi selain memberikan restu. Ia membuang egonya demi kebahagian Irene, tidak mau hubungannya dengan Irene renggang hanya karena masalah restu.
Irene sudah selesai makannya, meskipun makanya tidak banyak, setidaknya perut Irene sudah terisi tidak kosong lagi.
"Sekarang kita ke rumah sakit, ya!" ajak Leon namun malah mendapatkan gelengan kepala dari Irene.
"Lah ... Kenapa?!" Tanya Leon sampai dahinya mengkerut, Irene masih demam bahkan mukanya masih pucat, Leon sangat mencemaskan keadaan Irene, tidak mau sampai sakitnya Irene memburuk.
"Aku hanya butuh kamu, Yank. Bukan butuh Dokter. Percayalah... Jika kamu terus di sini menemaniku, aku pasti akan sembuh!"
Lagi-lagi Irene bersandar di bahunya Leon, Irene lagi pengen dimanja oleh kekasihnya. Irene tak ingin apa pun, dia hanya ingin terus berada dalam dekapan Leon.
"Kamu lebay banget, Yank!" ucap Leon tersenyum seraya tangannya mengelus rambut Irene.
__ADS_1
"Aku kangen! Pokoknya aku lagi kangen kamu!" kata Irene menegaskan.
Akan tetapi, meskipun Irene tidak mau diperiksa. Mommy Shira tetap menghubungi Dokter, meminta Dokter datang ke rumah untuk memeriksa keadaan Irena. Bukan hanya Leon saja yang cemas akan kesehatan Irene, Mommy Shira pun sama. Sangat-sangat mencemaskan kesehatan putrinya.
Hingga tak terasa Irena pun tertidur dalam dekapan Leon, perlahan Leon pun merebahkan tubuh Irene. Mata elangnya menatap netra wajah Irena. 'Yank ... aku harap, kejadian malam itu antara aku dan Mommy kamu tidak sampai tercium olehmu. Yank ... aku merasa sudah berdosa sekali, tapi mau gimana lagi? Jika aku menjauh darimu, mungkin kamu akan lebih nekad lagi,' ucap Leon monolog dalam hatinya.
Leon pun menyelimuti tubuh Irene, setelah itu ia pun ke luar dari dalam kamar Irene.
Di ruang tengah ada Shira yang tengah duduk santai, menuggu kedatangan Dokter yang akan memeriksa Irena.
"Tante, Irena sudah tidur. Saya mau izin pulang dulu. Saya mau menemui Kakak saya di Restoran, siapa tahu masih ada lowongan pekerjaan di sana," kata Leon terlihat canggung sekali. Leon teringat kejadian pagi itu, ya walaupun saat nananina, Leon tidak begitu ingat tapi kenikmatan penuh gelora itu masih terasa hingga saat ini, dalam bayangan Leon, Shira adalah Irene.
Shira hanya mengangguk saja, tak ingin bersuara. Gegas, Leon pun segera ke luar dari rumah. Sebenarnya... Leon masih malas buat bekerja, dia masih ingin menikmati kesehariannya yang enggak jelas itu. Namun, karena desakan Shira, itu pun jika Leon ingin tetap bersama Irene, Leon harus bekerja.
Selang beberapa menit setelah Leon pamit, tak lama dari itu Dokter pun datang, Shira langsung mengajak Dokter ke kamar Irene. Di dalam kamar, Irene masih tidur. Shira terpaksa membangunkan Irene.
"Nak ... bangun dulu!" kata Mommy Shira seraya mengelus wajah Irene.
"Dokter sudah datang. sekarang kamu diperiksa dulu, ya. Mommy tidak akan tenang sebelum kamu diperiksa. Jangan nolak, Mommy sudah mengalah demi kamu."
Irene mengangguk.
Dokter pun segera memeriksa Irene. Ternyata Irene sangat lemah, dia harus di infus. Di rawat inap di rumah saja tak harus ke rumah sakit. Dokter memasang infusan, Irene harus di infus karena kekurangan cairan.
"Tapi, Dok. Tidak ada yang serius kan?!" Shira sedih melihat putrinya yang lemah.
"Tidak ada yang serius. Nyonya Shira tenang saja," ucap Dokter meyakinkan Shira.
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih kalau begitu!" ucap Mommy Shira.
Setelah itu, Mommy Shira pun keluar mengantar Dokter yang akan pergi. Irene kembali melanjutkan tidurnya, pengaruh obat yang dicampurkan lewat infusan membuat Irene jadi semakin ngantuk saja.
***
Leon sudah ditempat kerja Kakaknya, bahkan sudah bertatap muka dengan Kakaknya kebetulan sang Kakak tidak terlalu sibuk.
"Ada apa, Leon? tumben sekali kamu kesini?" Tanya sang Kakak, mata elangnya menatap netra wajah adiknya yang pengangguran tersebut.
"Kak, apakah di sini masih membutuhkan pekerjaan?! Kalau masih membutuhkan, Leon ingin melamar kerja di sini," kata Leon.
Sang Kakak malah ketawa seakan mengejek Leon.
"Lah, kok Lo malah ketawa sih, Kak?!" kata Leon kesal, dia sudah serius namun malah ditertawakan oleh sang Kakak.
"Lo serius?! Jangan sampai Lo kerja di sini bikin malu gue!"
"Gue serius, Kak. Gue pengen kerja, ini syarat yang diajukan calon mertua gue. Kalau gue mau menikahi putrinya, ya gue harus mendapatkan pekerjaan dulu!" jelas Leon apa adanya.
"Oke! Tapi Kakak enggak janji ya, Leon. Lo bisa kerja di sini atau enggak, Lo siapin saja lamarannya."
"Yaelah! Ngapain harus pakai lamaran segala sih, Kak. Kek kerja di kantoran saja."
"Ini sebagai formalitas saja, Dek. Ya ... Pokoknya siapin saja lamarannya," kata sang Kakak.
Leon pun mengangguk, dia akan mempersiapkan lamarannya segera mungkin siapa tahu rezeki Leon bisa bekerja di tempat ini bersama dengan Kakaknya.
__ADS_1
Leon pun pergi, dia tidak akan menghubungi Irene dulu sebelum dirinya mendapatkan pekerjaan, untuk saat ini Leon akan fokus merubah kebiasaan buruknya tersebut. Demi Irene, Leon akan menghilang kebiasaan pemalasnya. mumpung mendapatkan lampu hijau dari calon Mama mertua, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan mata.
'Semangat Leon! Lo pasti bisa! Ini demi Irene.'