
Sekte Tujuh Bela Diri.
Sebagai salah satu dari enam sekte besar dari Dinasti Xuanbei, Sekte Tujuh Bela Diri telah didirikan lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Fondasinya dalam, dan memiliki banyak ahli.
Pada hari ini, pegunungan tempat Sekte Tujuh Bela Diri berada dihiasi dengan lentera dan spanduk berwarna. Langit bergema dengan suara gong dan genderang, dan dipenuhi dengan suasana meriah.
“Hahaha, sekte kita memiliki tetua baru. Fondasi dari Sekte Tujuh Bela Diri kita jadi semakin kokoh!”
“Ya, aku mendengar bahwa Tetua He Peng telah mengembangkan Tubuh Emas Nirvana sebelum usia empat puluh tahun. Dia akan segera menerobos ke Ranah Surga.”
"Tapi, apa hubungannya ini dengan kita?"
“Oh ya, benar juga. Satu tetua bertambah atau satu tetua berkurang dalam sekte, tidak akan memengaruhi situasi sekte. Perawatan yang kita dapatkan tidak akan berubah, dan Tetua He ini juga tidak akan memberi kita amplop merah.”
“Lalu… apa yang membuat kita senang?”
“Jangan banyak tanya? Jika pihak sekte menyuruh kita untuk senang, kita harus senang! Ayo, turun ke jalan dan tersenyum, jangan lupa tabuh gong dan genderang.”
Adegan seperti itu sering terjadi di mana-mana.
Wuss!
"Sekte Pedang Mentari datang untuk memberi selamat!"
Pada saat ini, suara tajam seorang pria paruh baya terdengar. Cahaya pedang berbentuk manusia terbang dari arah barat laut.
"Sekte Pedang Salju Utara datang untuk memberi selamat!"
Cahaya pedang lain terbang dari arah lain.
Seolah-olah ada reaksi berantai, sosok-sosok bemunculan dari segala arah di langit.
"Sekte Pedang Bulan datang untuk memberi selamat!"
"Lembah Tengkorak datang untuk memberi selamat!"
"Istana Timur datang untuk memberi selamat!"
"Istana Barat datang untuk memberi selamat!"
"Klan Chu dari ibukota kekaisaran datang untuk memberi selamat!"
..
Upacara berlangsung sepanjang hari.
Kekuatan teratas dari Dinasti Xuanbei semuanya telah tiba. Tidak hanya ada ahli dari lima sekte besar lainnya, banyak klan teratas, dan bahkan Keluarga Kekaisaran telah mengirim seorang kepala eksekutif.
Kasim Chen Diao!
Kasim tua yang mengenakan jubah merah cerah bermotif piton, yang juga memiliki rambut abu-abu dan dagu tak berbulu. Namun, semua orang menghormatinya.
Bukan hanya karena dia adalah bawahan kaisar yang paling tepercaya, tetapi juga karena kekuatannya yang hebat!
Kasim tua ini telah mencapai Ranah Surga tingkat kelima bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, kekuatannya jelas semakin tak terduga.
Yang mengejutkan He Peng adalah….
Tidak ada yang tidak terduga terjadi selama perayaan ini. Dengan kata lain, tidak ada manusia sombong yang maju untuk mencari kesalahan, atau membuat masalah padanya.
Semua orang di Sekte Tujuh Bela Diri, dari ketua sekte hingga tetua dan pelayan, sangat sopan padanya. Adapun para tamu, mereka juga sangat sopan.
__ADS_1
Tuan rumah sangat murah hati dan sopan.
Para tamu juga sopan dan santun.
Ini….
Ada yang salah dengan acara ini!
He Peng merasa sedikit kecewa karena tidak mendapat kesempatan untuk uji kebolehan. Biasanya, hal semacam ini setidaknya bisa diperpanjang untuk beberapa bab oleh author.
“Mungkinkah aku bukan karakter utama? Maka dari itu aku tidak mendapatkan perlakuan khusus seperti itu?
Acara berlalu dengan cepat, He Peng, yang sedang duduk di atas batu besar di tepi tebing dan menyaksikan matahari terbenam, menunjukkan senyuman seperti mencela dirinya sendiri.
Pada saat ini, suara gembira He Ri datang dari belakang.
“Ayah, Sekte Tujuh Bela Diri benar-benar murah hati. Mereka benar-benar memberi kita gunung sebesar ini, lengkap dengan istana dan pelayannya!”
He Peng menoleh untuk melihat.
Dia melihat He Ri berjalan ke arahnya. Di belakang He Ri adalah istana yang besar dan megah.
Di bawah sinar matahari terbenam, istana ini tampak keemasan dan berubah menjadi latar belakang yang mulia untuk He Ri.
“Huh, gunung dan istana saja sudah membuatmu sangat bersemangat. Lihatlah betapa payahnya dirimu.”
He Peng tersenyum menghina.
Nyatanya.
Dia juga sedikit antusias.
Tapi, dia harus berpura-pura!
Jangan tanya tentang ekspresi apa yang harus digunakan, angkat saja hidung ke langit! Dalam hal apa saja, meremehkan adalah sikap dari para ahli yang tak terkalahkan!
He Ri berjalan mendekat dan duduk di samping He Peng, ikut memandangi matahari terbenam yang merah di langit.
“Ayah, bisakah ayah menceritakan kisah antara ayah dan Ibu?”
Suaranya sangat rendah, seolah-olah dia yang sedang mengajukan pertanyaan, tapi di sisi lain, caranya berbicara seperti sedang mengigau dalam tidurnya, menandakan suasana hati yang penuh kerinduan.
Wajah He Peng agak menegang, dan kemudian dia dengan cepat menunjukkan ekspresi penyesalan. "Hehe, apa yang bisa dikisahkan tentang hal semacam itu?"
“Hanya saja aku merasa itu pasti menarik.”
He Ri mengangkat kepalanya dan menatap He Peng.
He Peng mengerutkan bibirnya.
Kemudian, dia melihat matahari terbenam di cakrawala yang jauh. Wajahnya, yang diterangi oleh sinar keemasan dari matahari terbenam, sekali lagi mengungkapkan ekspresi penyesalan.
“Pria yang bahkan tidak bisa melindungi wanitanya sendiri. Hehe, memang menarik… sangat menarik!”
Suaranya sedikit bergetar. Pada akhirnya, bahkan ada semacam gebrakan kemarahan saat dia mendadak berdiri.
"Bang!"
Dia menghentakkan kakinya, dan seketika, batu besar di bawah hancur berkeping-keping!
Kemudian, dengan lambaian lengan bajunya yang longgar, dia berbalik dan berjalan menuju istana. Latar di belakangnya seketika menjadi sepi dan sunyi.
__ADS_1
"Ayah...."
He Ri menatap kosong ke arah punggung ayahnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa ayahnya, yang selalu tenang dan tangguh, akan menjadi sangat terpukul.
Lebih jauh lagi, dia menyadari bahwa bahu ayahnya, yang memunggunginya, tampak sedikit gemetar.
Apa ayah… menangis?
Untuk sesaat, He Ri tidak tahu harus berkata apa. Dia bahkan tidak berani mengejar untuk menghibur ayahnya.
Karena dia secara naluriah merasa bahwa dia telah menusuk bagian yang paling rentan dari pria ini.
Pria yang kuat dan tak terkalahkan ini sebenarnya memiliki bekas luka yang tidak bisa disentuh….
“Dia pasti sangat mencintai ibumu.”
Pada saat ini, desauan yang dalam terdengar.
He Ri menoleh untuk melihat.
Dia melihat seorang wanita pirang cantik berdiri di belakangnya. Cahaya matahari terbenam menguraikan sosok “tubuh jiwa”-nya, membuat kecantikannya terlihat semakin tak ada bandingannya.
"Guru!"
He Ri tanpa sadar melemparkan dirinya ke pelukan wanita pirang itu, dan air matanya mengalir tak tertahankan.
“Aku tidak sengaja melakukannya. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak tahu bahwa menyebut ibu akan menyebabkan ayah sangat terpukul…. huhu….”
Wanita pirang itu memegang kepala He Ri dan menghiburnya dengan lembut,” Sebenarnya, kamu tidak salah. Sebagai seorang putra, kamu memiliki hak untuk mengetahui tentang ibumu. Hanya saja.…”
Dia berhenti sejenak, dan ekspresi rumit muncul di wajahnya, “Ayahmu terlalu mencintai ibumu….”
“Semakin tinggi tingkat kultivasi seseorang, semakin sulit bagi seseorang untuk jatuh cinta. Tetapi begitu orang itu jatuh cinta, cintanya akan sangat dalam, dan bahkan lebih penting daripada nyawanya sendiri!”
“Selama ini, hati ayahmu pasti selalu menderita. Meskipun dari luar, dia terlihat tidak berbeda dari yang lain, tapi hatinya… lebih pahit dari orang lain.”
Saat wanita pirang itu selesai berbicara, dia menggigit bibirnya sendiri.
Dia tidak tahu kenapa, tapi hidungnya juga terasa sedikit berair, dan sepertinya ada semecam lonjakan air mata di matanya.
Reaksi ini tak ubahnya saat dia masih kecil, ketika dia mendengar bahwa sosok yang dia idolakan telah mati, dia tanpa sadar akan meneteskan air mata. Pada akhirnya, dia akan berlari ke kamarnya dan bersembunyi di bawah selimut, menangis dengan keras.
"Huaa!"
He Ri meninju batu di sampingnya, menenggelamkan tinjunya ke dalamnya. Sambil menggertakkan giginya, dia bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan untuk menghentikan penderitaan ayah?”
Gadis pirang itu mengerutkan bibirnya dan menghela nafas, "Satu-satunya cara adalah menyelamatkan ibumu dan membuat ayahmu bersatu kembali dengan ibumu."
“Tapi… bahkan ayahmu saja tidak bisa berbuat apa-apa. Jika ingin melakukannya, itu akan teramat sulit, bahkan lebih sulit daripada menembus langit.”
"Aku tidak takut! Aku memiliki tubuh dewa dan potensi yang tak terbatas. Selama aku berusaha keras, aku pasti bisa melakukannya!
He Ri mengepalkan tinjunya. Tampak seolah-olah ada bola api yang menyala di matanya.
Wanita berambut pirang itu terdiam sejenak. Kemudian, dia tanpa sadar menghindari tatapan He Ri dan berkata, "Ya, aku... percaya padamu!"
Dia menghela nafas diam-diam.
Bocah ini masih belum tahu musuh macam apa yang dia hadapi. Bahkan “Pria” itu tidak bisa melakukannya. Memangnya kenapa jika memiliki tubuh dewa?
Bisakah dia benar-benar menjadi dewa?
__ADS_1
Namun, bagaimanapun juga, dia akan mencoba yang terbaik untuk mengajari dan membuat He Ri sekuat mungkin!
“Sepertinya aku harus menggunakan cara itu. Namun… metode itu sangat menyakitkan untuk diolah. Entah bisakah Ri’er menanggungnya....”