
Mereka kembali menuju ruangan di mana tamu berkumpul, dan kini penghulu yang akan menikahkan Wisnu dan Kinan sudah datang Wisnu di minta langsung duduk berhadapan dengan penghulu sedangkan Kinan dengan di temani Fina kini sudah duduk bersanding dengan Wisnu, di tengah-tengah acara sebelum ijab kabul penghulu kembali memeriksa data-data Wisnu dan Kinan.
Sementara Bian kini sudah tidak perduli dengan apapun di sekeliling nya, dirinya hanya diam merenung kan kenyataan besar yang baru saja di ketahui nya, Bian berharap jika ini hanya mimpi, ia menatap wanita yang sangat di cintai nya.
Mamah yang sudah membesarkan nya, dengan kasih sayang yang tulus, dengan beragam masalah yang sudah di perbuat nya, Mamah sangat sabar menghadapi dirinya yang selalu saja mengecewakan Mamah, tak terasa air mata Bian menetes.
Dada nya kembali sesak, ingin rasanya Bian bersimpuh di kaki Mamah, ingin rasanya Bian mengatakan terimakasih banyak Mah, kasih sayang Mamah tidak akan dapat di bayar dengan apapun.
Tapi Bian kembali tersadar Siapa Ibu ku.
Pertanyaan itu kembali berputar-putar di otak Bian.
"Siapa Wanita yang sudah melahirkan aku, bagaimana bisa aku lahir di tengah-tengah Mbak Anggun dan Wisnu."
"Jarak kelahiran ku dengan mbak Anggun hanya 2 tahun, apa mungkin...."
Bayangan Tasya dan Kinan yang bersamaan mengandung Anak nya melintas, Bian sibuk menebak-nebak, akan kah dirinya Anak dari istri kedua Papah ?
Lamunan Bian pecah saat penghulu menuntun Wisnu mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawin nya Kinanti Azania Binti Herman dengan maskawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Bagaimana saksi sah...."
"Sah...."
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."
Dengan haru Kinan mencium tangan pria yang kini menjadi suami nya, Wisnu memakai kan cincin nikah dan mengecup pucuk kepala Kinan.
Tak lupa mereka menyalimi tamu dan para saksi yang sudah datang, di lanjutkan dengan bersua foto, suasana sangat berbeda kini Kinan rasakan, jika pernikahan pertama nya sehabis ijab kabul Kinan di tinggal di pinggir jalan saat ini suami nya terus setia menggenggam tangan Kinan dan berada di samping nya.
Kinan menatap Wisnu yang sedang bercengkrama dengan para tetangga dekat ada juga beberapa teman nya, lalu bergantian menatap tangan nya yang tidak di izinkan Wisnu terlepas dari genggaman nya.
Kinan melihat Anggun dan Mamah yang terlihat tidak seperti biasanya, wajah mereka sedikit murung dan hanya tersenyum dan berbicara ala kadar nya.
"Kenapa Mbak Anggun dan Mamah, atau mungkin mereka...."
Kinan menggeleng mencoba membuang jauh-jauh fikiran buruk nya.
πππ
Waktu menunjukkan pukul 23:30.
Kinan sudah mandi dan mengenakan piyama tidur tubuh nya sudah segar, sementara Wisnu masih di bawah, Kinan kembali terbayang Mamah dan Anggun yang tiba-tiba berubah, Kinan berdiri melangkah menuju balkon kamar.
"Apa Mamah dan Mbak Anggun ngak senang kami menikah, tapi kenapa tadi siang mereka setuju, aku harus apa sekarang, aku ngak bisa bayangin rumah tangga ku kandas untuk yang kedua kali nya, Ya Allah...."
Air mata Kinan menetes, tanpa ia sadari Wisnu sudah beridiri di belakang nya, Wisnu yang baru saja datang heran kenapa Kinan menangis.
"Kinan....." Panggil Wisnu, dengan cepat Kinan menghapus air mata nya, ia segera berbalik dan tersenyum kepada Wisnu.
"Iya..."
"Kamu kenapa...?"
"Kenapa, aku ngak kenapa-napa."
"Kamu nangis..."
"Ngak..."
__ADS_1
"Tuh mata kamu sembab, kamu kangen Kafeel."
"Emm...iya..."
"Besok pagi-pagi kita jenguk Kafeel jangan sedih."
Kinan mengangguk.
"Ayo kita masuk..."
Wisnu yang menarik tangan Kinan masuk ke dalam kamar, mereka berada di kamar milik Wisnu, mereka duduk di atas ranjang.
"Alhamdulillah semua nya berjalan lancar, walau dalam waktu singkat, kamu bahagia."
"Iya."
Wisnu menatap Kinan, wanita dambaan nya kini sudah menjadi istri nya.
"Frans ngak dateng ya..hhh.." Ucap Wisnu sedikit terkekeh.
"Iya."
Jawab Kinan singkat, Wisnu yakin ada sesuatu yang Kinan sembunyikan.
"Ada apa sih Nan ?"
"Ngak ada apa-apa."
"Cerita sama aku ada apa ?."
"Ngak ada apa-apa."
"Mamah sama Mbak Anggun kenapa jadi murung semenjak...."
"Itu yang nganjal fikiran kamu." Ucapan Kinan di potong Wisnu, lalu Kinan mengangguk.
"Sini..." Wisnu merentangkan tangan nya agar Kinan masuk dalam dekapan nya, dengan sedikit berdebar Kinan menuruti mau Wisnu.
Wisnu mengecup pucuk kepala Kinan sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Istri ku ini, jangan main simpan-simpan rahasia, ngak baik sayang.."
Jantung Kinan kembali berdegup kencang saat Wisnu mengucap kata sayang, untung saja Wisnu tidak melihat wajah nya karena kini pipi nya sudah merah merona.
"Om Ardi tadi ngungkapin sesuatu yang buat Mas Bian termasuk Mamah, Mbak Anggun dan aku sekalipun down, walau aku udah tau hal ini dari lama."
Kinan mengerjitkan kening nya lalu duduk menatap wajah Wisnu dengan serius.
"Apa itu ?"
"Sebenernya Mas Bian itu bukan Anak kandung Mamah."
"Hahh...." Pekik Kinan, dengan cepat ia menutup mulut nya.
"Iya, sebenarnya Mamah belum siap ini terbongkar, tapi Om Ardi, mungkin dia udah jengah liat Mas Bian yang nggak berubah-berubah jadi terpaksa Om Ardi bongkar ini semua, itu yang nyebapin Mamah sama Mbak Anggun keliatan banyak murung."
"Ya Allah kasian Mamah, dan Mbak Anggun."
"Iya."
"Kok di lepas pelukan nya, peluk lagi sini, sekalian cium boleh."
__ADS_1
Pipi Kinan kembali merona.
"Mandi gih..."
"Heheh... Siap istri ku...."
Wisnu kembali mengecup pipi Kinan lalu menyambar handuk nya, ia mengguyur tubuh nya di bawah air shower yang dingin.
Wisnu keluar kamar mandi dengan handuk melilit sebatas pinggang nya, terlihat Kinan sedang melamun.
Wisnu mengenakan kaos dan celana santai seperti biasa, ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 12:45.
Kaki nya melangkah mendekati ranjang lalu memeluk Kinan dari belakang.
"Kinan...."
"Kamu ngagetin."
Ucap Kinan tanpa menolak pelukan Wisnu.
"Jangan di fikirin masalah tadi."
"Ngak kok."
"Hadap aku sini."
Kinan memutar tubuh nya Wisnu langsung mengecup dahi Istri nya penuh cinta.
"Cantik nya Istri ku."
"Kamu Mah, jangan gitu."
"Memang cantik kok, oh iya sekarang kenapa jadi kamu manggil nya perasaan tadi pagi masih Wisnu."
"Nggak sopan kalo manggil nama."
"Terus manggil nya apa, masa kamu, Mas boleh atau sayang gitu."
"Mas aja.."
"Yaudah boleh."
Mereka tersenyum dan saling memandang, perlahan-lahan Wisnu mengecup bibir Kinan.
"Jangan .... "
"Kenapa..." Tanya Wisnu heran.
"Aku kan masih nifas."
Wisnu menepuk jidat nya.
"Oh iya lupa, yaudah sekarang kita tidur."
"Maaf ya...."
"Iya, yuk tidur."
Wisnu membawa Kinan dalam dekapan nya, malam pengantin meraka lalui dengan mimpi indah.
Hadiah , Vote Jempol nya mana π₯π₯π₯ππ, semangat nya pudar π₯Ίπ₯Ί
__ADS_1