Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 51 - Hancur


__ADS_3

"Wooil, tunggu aku!"


"Kau kenapa menempel padaku terus, sih? Nggak punya teman lain, ya? Bisa-bisa dikira anak-anak lain kita pacaran," protes Wooil.


"Ih, kau nggak suka banget ya kalau digosipkan pacaran denganku?" ucap Ahn Chae Rin bersungut-sungut.


"Iya, nanti perempuan yang aku sukai bisa salah paham."


"Kau? Orang yang disukai? Ternyata kau menyukai perempuan juga," ujar Ahn Chae Rin sambil tertawa.


"Hei Kau pikir aku ini pria seperti apa? Aku juga suka perempuan dong," balas Seon Wooil.


"Hahaha... Emangnya wanita itu juga suka padamu?" tawa Ahn Chae Rin.


"Nggak tahu juga. Mungkin iya, mungkin juga enggak," kata Wooil.


"Gosh! Dia pasti tertekan sekali disukai oleh orang sepertimu," ucap Chae Rin lagi.


"Hei kau sendiri, memang aku tak punya teman lain selain aku? Jangan-jangan temanmu hanya cuman satu ya?" balas Wooil.


"Jangan dekat-dekat padaku. Aku tak akan memberikanmu contekan lagi." Seon Wooil mendorong tubuh Chae Rin menjauh darinya.


"Hey jangan kasar sama wanita. Lagipula aku tidak akan mencontek PR mu, kok," sahut perempuan berambut cokelat yang dikeritingnya tersebut.

__ADS_1


"Aku sekarang sudah les di tempat mahal loh. Kamu nggak tahu, kan?" lanjut cewek itu lagi.


"Baguslah kalau gitu. Tapi tetap saja aku tidak mau berteman denganmu," kata Wooil sambil mempercepat langkahnya.


Tiba-tiba sekelompok anak perempuan berlari kembali, masuk ke dalam kelas.


"Awas! Lari, ada orang gila!" teriak mereka ketakutan.


"Orang gila?" Seon Wooil dan Chae Rin saling berpandangan. Masa sekolah elit seperti ini bisa ada orang gila? Kan ada satpam yang menjaga di depan.


Beberapa saat kemudian, dari ujung lorong mereka melihat seorang perempuan dengan rambut terurai panjang, memegang pisau yang berlumuran darah.


Matanya membesar. Seluruh giginya rapat. Bajunya terlihat compang-camping, padahal yang ia pakai adalah seragam SMA Seodau-Gu.


Tidak ada seorang pun yang mengira bahwa perempuan di hadapan mereka adalah siswi SMA tersebut. Sekilas, Ia memang terlihat seperti orang gila.


Tapi kenapa pisaunya berdarah? Siapa yang baru saja ia lukai?


"Min Ji, apa yang baru saja terjadi padamu?" tanya Seon Wooil. Tiba-tiba pemuda itu merasa iba melihatnya


Kim Min Ji tidak menjawab. Sorot matanya hanya menggambarkan kemarahan. Image wanita paling cantik dan anggun di sekolah itu, telah gugur darinya.


"Min Ji, ini aku. Seon Wooil." Perlahan, cowok tampan itu mendekati sang perempuan untuk mengambil pisaunya.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" cewek remaja itu menodongkan pisaunya ke arah Seon Wooil. "Kalian semua sudah menghancurkan hidupku!" serunya.


Air mata membasahi seluruh wajahnya, "Gara-gara kalian Ayahku dipenjara!" teriaknya lagi.


Mereka semua akhirnya sadar apa yang baru saja terjadi. Hari itu adalah Sidang terakhir dari tuan Kim. Min Ji pasti sangat terpuruk.


Hidupnya yang biasa mewah dan berfoya-foya, kini hanya tinggal kenangan. Semua asetnya telah disita. Dengan kata lain keluarga Tuan Kim jatuh miskin.


Tidak lama kemudian para guru pun datang. Selangkah demi selangkah mereka mendekati wanita itu, dan merebut pisaunya.


Tap! Pak Guru berhasil merebutnya.


"Tidak! Jangan lakukan itu!" teriak Kim Min Ji. Remaja perempuan itu, berusaha merebut kembali pisau miliknya. Namun, gerakannya kalah cepat dibandingkan para guru laki-laki tersebut.


"Aku tidak akan membiarkan kalian semua! Kalian semua harus hancur. Terutama Seo Bitna." Kim Min Ji berteriak histeris.


Ahn Chae Rin yang melihat itu semua bergidik ngeri. Dalam hati ia berjanji, tidak akan mau membully siapa pun lagi.


"Anak-anak, pergilah. Jangan ada yang membullynya lagi. Mentalnya bisa semakin hancur," ucap para guru sambil menenangkan siswi tersebut.


Tapi di saat yang bersamaan, Song Gae Nam, salah satu pria yang membuat Kim Min Ji terpuruk justru hadir di hadapannya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2