
SMA Astana Nagara. Salah satu SMA favorit yang kerap kali dijadikan ajang kegiatan nasional maupun internasional. Memiliki fasilitas cukup lengkap, dengan gedung aula, beragam lapangan olahraga dan asrama terbaik di antara sekolah lainnya.
Kali ini, sekolah yang banyak memberi beasiswa pada anak tidak mampu itu, menerima siswa dari berbagai negara.
Mereka semua menginap di asrama khusus Astana Nagara selama sepuluh hari, sebelum akhirnya mengikuti perhelatan fisika tingkat internasional.
Salah satu yang ditempatkan di SMA Astana Nagara adalah utusan dari Korea Selatan. Empat orang dari sekolah berbeda di Kota Seoul itu telah berada di Indonesia sejak hari minggu pagi.
"Hmmm... segar sekali udara di sini. Mau jalan-jalan?" ajak salah seorang teman Jun Hyeon.
"Memangnya boleh?" ucap Jun Hyeon ragu.
"Kita kan nggak masuk ke area terlarang. Cuma jalan-jalan sebentar cari angin, kok," ajak siswa sari sekolah khusus pria di Kota Seoul itu.
Jun Hyeon pun tidak menolaknya. Mereka berdua berjalan-jalan di sekitar halaman asrama, sampai akhirnya ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.
"Seo Bitna?" gumam Jun Hyeon. Ia melihat wanuta asal Korea itu, berjalan bersama gadis lokal menuju ke halaman belakang gedung utama.
"Kau pergilah ke asrama duluan. Ada sesuatu yang harus aku urus dulu," ucap Jun Hyeon pada temannya.
"Kau mau mengurus apa? Jangan lama-lama. Jam tiga kita harus ikut acara pembukaan," ucap cowok itu.
Tapi itu beberapa jam yang lalu, sebelum Bitna membuat rencana pembalasan. Pagi ini semuanya berubah. Baru saja matahari memunculkan mahkota keemasan miliknya, Park Jun Hyeon sudaj dikejutkan dengan beberapa siswi yang berkumpul di depan asramanya.
Mereka semua memegang sepucuk surat dan beberapa hadiah kecil. Semua ditujukan untuk ullzang Korea, putra dari aktris terkenal In Dae Young.
"Oppa, ini untukmu. Senang bertemu denganmu," ucap Nelvi dengan sangat percaya diri. Gadis itu menggunakan seragam kelas satu miliknya dulu, yang sudah sangat ketat. Kalau saja guru BK melihatnya, pasti sudah digunting.
"Apa-apaan ini? Kalian siapa?" tanya Jun Hyeon merasa risih.
"Kami fansmu, oppa. Kami boleh meminta foto bersama, kan?" kata Risa dan beberapa siswi lainnya.
"Tidak! Kalian salah! Aku bukan artis. Dan jangan memanggilku oppa!" Jun Hyeon berusaha mengelak.
"Ah... Kenapa oppa jahat banget, sih? Katanya oppa cowok paling baik. Bahkan sampai memberikan hadiah setiap hari kepada seorang cewek. Masa kami minta foto aja nggak boleh?" kata Nelvi dengan gaya aegyeo.
"Pergi, kalian," usir Jun Hyeon.
"Hei, anak-anak! Kenapa kalian bisa sampai di sini? Area ini kan terlarang bagi perempuan?" salah seorang guru pengawas memergoki gadis-gadis itu.
"Fyuh! Syukurlah mereka segera pergi! Jun Hyeon merasakan seluruh tubuhnya gemetar ketakuan. " Dasar Bitna," gumamnya kesal.
...πππ...
Hari senin pagi. Mentari bersinar dengan sangat cerah. Tidak ada gumpalan awan yang menaungi. Angin sepoi-sepoi yang biasa datang menyapa pun, tidak terasa berhembus sejak tadi.
__ADS_1
Seo Bitna berdiri tegak dalam barisan. Peluh mulai mengalir di balik baju seragamnya. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Kakinya terasa pegal. Ini pertama kalinya ia mengikuti upacara bendera. Kegiatan wajib setiap senin pagi di SMA seluruh Indonesia.
"Ssstt... Bitna. Kau masih kuat, nggak? Kalau nggak kuat ke UKS aja," Bisik Devi yang berdiri tepat di samping Bitna.
"Aku masih kuat, kok," balas Bitna dengan berbisik pula.
Lagu Indonesia Raya baru saja selesai dinyanyikan. Bendera merah putih berkibar di ujung tiang bendera, berlatarkan langit biru yang Indah.
Bapak Abdul Hamid, kepala sekolah, baru saja akan memulai memberikan amanat. Pandangan Bitna semakin membayang. Suara Pak Kepala Sekolah terdengar samar-samar di telinga Bitna.
Bruk! Bitna pun ambruk ke atas semen lapangan upacara.
"Bitna!" seru semua teman sekelas. Pak Hamid pun menghentikan amanatnya sejenak.
Grep!
Dengan cekatan, seseorang langsung membopong gadia Korea itu menuju ke UKS yang letaknya lumayan jauh. Beberapa siswa perempuan mengikutinya.
...πππ...
"Pusing... Kepalaku pusing sekali."
Bitna mengerjapkan matanya berkali-kali. Secara perlahan, kesadarannya pun kembali. Ia melihat seorang pria tampan mengenakan seragam sekolah, duduk di samping tempat tidurnya.
"Eh, Bitna? Kau sudah sadar?" ucap Alva dengan lembut.
"Kenapa aku di sini?" tanya Bitna.
"Menurutmu?" tanya Alva seraya memerikan segelas teh hangat. "Ini, diminum dulu," ujarnya.
"Apa... Aku pingsan?" tebak Bitna. Alva mengangguk.
"Maaf merepotkan. Nggak biasanya aku kayak gini," ujar Bitna dengan wajah merah padam.
"Nggak apa-apa. Tubuhmu pasti belum bisa beradaptasi sepenuhnya dengan cuaca tropis. Apalagi ikut upacara bendera," kata Alva sambil melemparkan senyuman manis.
Deg! Jantung Bitna seakan terasa berhenti.
"Kok badanku hangat lagi? Apa aku demam, ya?" gumam Bitna.
"Huh? Apa? Kau demam?" tanpa sadar Alva meletakkan tangannya di kening Seo Bitna. "Suhunya normal, kok?" ujarnya kemudian.
Akan tetapi Bitna justru merasa, tubuhnya semakin menghangat, ketika jemari pemuda itu menyentuhnya.
"Tapi kenapa wajahmu semakin memerah, ya? Apa kau alergi sinar matahari langsung?" tanya Alva dengan polos.
__ADS_1
"A-aku nggak apa-apa. Ini nanti bisa membaik sendiri," sahut Bitna buru-buru.
"Kau yakin?" tanya Alva memastikan.
Bitna mengangguk. Remaja perempuan itu baru menyadari. Jika ia hanya berdua saja dengan Alva di ruangan itu.
"Teman-teman ke mana? Kenapa hanya kamu di sini?" tanya Bitna kemudian.
"Mereka semua sedang di kelas, mengikuti ulangan Matematika. Bu Dokter juga lagi sibuk di klinik sekolah, mengurusi para peserta olimpiade yang sakit. Jadi aku yang diminta menemanimu di sini," kata Alva.
"Loh, ulangan Matematika kan jam pelajaran kedua?" ucap Bitna dengan kening berkerut.
"Emang," jawab Alva singkat.
"Emang. Kamu tuh pingsan udah hampir tiga jam. Itu pingsan apa tidur, sih?" ucap Alva sambil terkekeh.
"Astaga..." Bitna menutup wajahnya dengan bantal karena malu. "Tapi aku nggak sampe ngorok, kan?" tanyw Bitna penasaran.
"Kasih tahu nggak, ya?" kata Alva sambil tertawa jahil.
"Ih, kasih tahu, dong. Aku malu, nih," seru Bitna heboh.
"Kamu sama sekali nggak mendengkur, kok. Tidurmu cantik banget, kayak putri salju."
Lagi-lagi debaran jantung Bitna tidak beraturan, ketika mendengar ucapan dari Alva. Perempuan bermata cokelat itu bahkan mengalihkan pandangannya, untuk menghindari kontak mata dengan cowok tampan di hadapannya.
"Eh, btw kamu nggak ikut ulangan juga?" tanya Bitna mengalihkan pembicaraan.
"Aku? Nanti bisa ikut ulangan susulan, kok. Tenang aja. Kamu kan nggak ikut ulangan juga."
"Emangnya bisa gitu?" ucap Bitna khawatir.
"Bisa aja. Aku juga lebih suka di sini, kok. Enak, bisa ngadem sambil ngemil," kata Alva santai.
Alva tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, kalau sebenarnya ia tidak perlu ikut ulangan lagi. Karena nilainya selalu sempurna, bahkan di atas rata-rata.
"Btw kamu lapar, nggak? Kita pesan delivery, yuk. Aku yang traktir," ajak Alva.
"Emang boleh? Apa kita nggak ke kelas aja? Aku udah sehat, kok."
"Boleh, dong. Udah, kita di sini aja dulu. Nanti kamu di kelas malah pingsan lagi lihat soal ulangan," bujuk Alva. "Kamu belum pernah coba pesan nasi padang, kan? Aku pesenin, ya." Alva langsung mengeluarkan sebuah HP dari dalam sakunya. Ia pun memesan makanan delivery.
"Loh, Alva kok bisa pegang HP dengan santai? Ini kan bukan hari minggu?" pikir Bitna bingung.
(Bersambung)
__ADS_1