
Suasana sekolah masih sepi, yang terdengar hanya langkah Laura di lorong kelas. Hari ini hari pertama Laura akan menempati kelas barunya di kelas 3. Seperti tahun sebelumnya, langkahnya terhenti di depan mading sekolah. Sekali lagi ia melihat daftar nama siswa di dinding tersebut.
Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat daftar nama kelas 3 IPA 1. Namanya berada di daftar tersebut. No. 22, Laura Amalia. Perlahan lahan jarinya melihat daftar nama dibawahnya. Lily... Leonel.... Lily... Margaret... Michael... Moira... Natalie... Niko... jarinya berhenti. No. 29 Niko Fareli. Luara sampai harus melihatnya 2 kali utk memastikan. Ia menutup matanya kemudian membukanya lagi. Nama tersebut masih ada. Seulas senyum lebar menghiasi bibirnya. Akhirnya ia bisa sekelas jg dgn Niko. Laura meloncat kegirangan.
Laura berlari keruang kelas barunya. Ia melihat seisi kelas yg masih kosong. Selama 1 tahun berikutnya ia akan menghabiskan sisa masa SMA nya di ruang yg sama dgn Niko.
~•••~
Dua hari kemudian, Laura memandang Niko yg sedang membErikan tanda tangan utk para siswa kelas 1. Sebagai Ketua Osis, Niko memang sangat sibuk saat masa orientasi sekolah. Tapi tdk seperti rekan-2 nya yg mengerjai adik kelasnya dan membErikan tanda tangannya tanpa meminta mereka melakukan apapun. Hal itu membuat Laura semakin menyukainya.
Tiba-tiba Niko bertemu pandang dgn Laura, Jantung Laura seakan berhenti berdetak, wajahnya merah padam, lalu ia memalingkan wajah dan kembali ke kelas. Dengan lemas, ia duduk dibangkunya. ''Aku memang payah'', keluhnya dalam hati.
Di sinilah ia, satu tahun setengah setelah dua perkataan ''maaf'' dan ''thanks'' yg dilontarkannya pd Niko. Ia masih belum punya keberanian utk berbicara dgn nya. Pandangannya jatuh pd tempat duduk Niko, dua bangku di depannya.
Enam langkah, hanya enam langkah jaraknya kini dgn Niko. Tetapi Laura masih belum bicara dgn nya. Pandangannya jatuh pd tempat duduk Niko, dua bangku di depannya.
Dan pd akhirnya ia menyimpulkan ia memang tdk punya keberanian utk berbicara dgn orang yg ia sukai, saat masa orientasi sekolah usai, dan hari telah berganti minggu, Laura tetap tdk punya kesempatan utk berbicara dgn Niko. Niko selalu di kerumuni teman-temannya, terutama pacarnya, Erika dr kelas 3 IPA 2.
~•••~
Pada minggu ke empatnya di kelas, ketika memandangi rerumputan dr kaca jendela bus, Laura mendesah. Ia benar2 berharap diberi kesempatan utk berbicara dgn Niko, sekali saja.
__ADS_1
Tiba-2 bus yg dinaikinya berhenti, Laura membuka jendela bus & melihat kedepan jalan. Sepertinya tak jauh dr sana baru terjadi tabrakan antara truk & mobil barang. Hal itu menyebabkan jalan dr dua arah tdk bisa dilalui. Laura melirik jam ditangannya. Butuh waktu lama utk tim derek mobil tiba dilokasi & membuat jalan lancar kembali.
Laura menelepon wali kelasnya & memberitahu kemungkinan besar ia tdk bisa mengikuti setengah pelajaran pagi sampai istirahat. Padahal jam pertama ada ulangan fisika. Pak Bambang, sang wali kelas sekaligus guru fisika, memahaminya. Dia meminta Laura tdk usah khawatir & bisa mengikuti ulangan susulan sepulang sekolah.
Waktu menunjukkan pukul 10 ketika akhirnya Laura sampai disekolah. Setelah membuat laporan pd guru piket, Laura melangkah ke kelasnya. Terus terang, menunggu 3 jam didalam bus tanpa bergerak sama sekali benar-2 membuatnya bosan. Belum lagi, ia harus mengikuti ulangan susulan seusai sekolah. Dan dr perkataan teman sekelas yg didengarnya, soal fisika td pagi sangat sulit. ''Apalagi usai sekolah nanti'', keluhnya, ''pasti lebih sulit lagi''.
Saat itu Laura menyadari, masuk IPA dgn alasan supaya sekelas dgn orang yg disukainya adalah alasan yg salah. Ketika Pak Bambang membErikan soal ulangan seusai sekolah, Laura menerimanya dgn berat hati. Ia melihat selembar kertas bolak balik berisi 10 soal yg pasti sebentar lagi bisa membuat kepalanya pusing. Padahal ulangan kali itu open book.
15 menit berlalu, tapi Laura belum juga menemukan solusi utk sebagian besar soal di depannya. Pak bambang duduk di meja guru dgn santai sambil membaca koran.
Tiba-2 seorang cowok masuk dan duduk di meja sebelah Laura. Laura menatap cowok itu dan terkejut, Niko.
''Ah Niko'', sapa Pak Bambang sambil berdiri di depan meja Niko, ''kau juga td pagi tdk bisa ikut ulangan bapak kan? Ini soal ulangannya.''
Tangan Laura tdk bergerak selama beberapa saat. Ia tdk menyangka Niko akan mengerjakan ulangan yg sama dgn nya. Jantungnya berdetak lagi. Ia sama sekali tdk bisa berkonsentrasi dgn ulangannya sekarang. Niko berada disebelah mejanya. Ia melihat cowok itu membuka buku fisikanya, lalu mulai mengerjakan soal.
Bagaimana mungkin Laura bisa berkonsentrasi kalau dirinya hanya ingin memandang orang yg paling disukainya saat ini?
Perkataan Pak Bambang membuat Laura tersentak dr pandangannya pd Niko. ''OK bapak pergi dulu. Nanti kalau sudah selesai, tinggalkan saja jawaban kalian di meja guru. Kalian tdk akan bekerja sama,kan?''
Laura dan Niko menggeleng berbarengan. Lalu Pak Bambang keluar dr ruang kelas. Kini hanya tinggal Laura dan Niko disana. Laura berusaha sekuat mungkin mengerjakan soal didepannya, tp jawaban utk soal-2 tersebut hilang entah kemana.
__ADS_1
Kebalikan dirinya, ia melihat Niko mengerjakan soal tanpa masalah. Dua puluh menit kemudian, Laura menyerah. Ia yakin ia tdk akan mendapat nilai bagus utk ulangannya kali ini.
''Apa yg harus kulakukan?'' tanyanya dalam hati sambil menutup wajahnya dgn ke dua tangan. ''Aku tdk bisa mengerjakan soal-2 fisika kali ini.''
Ketika ia membuka matanya lagi, Niko sudah tdk ada di sana. Laura mendesah panjang. ''Dia pasti sudah selesai,'' pikirnya. Matanya kembali menatap soal-2 di depannya. Tiba-2 ia menyadari ada sehelai kertas terlipat di sebelah buku fisikanya.
Laura membuka kertas berlipat 4 itu dgn hati-2, dan membaca 2 kata yg tertera disana. JANGAN MENYERAH.
Perlahan-lahan Laura tersenyum. Ia yakin Niko yg menulisnya sebelum keluar dr ruang kelas. Senyum Laura semakin lebar. Kini,hatinya penuh dgn semangat baru. Perlahan tp pasti, Laura menyelesaikan semua soal ulangan fisika itu.
~•••~
Ketika sorenya ia makan malam dgn mama di meja makan, wajahnya masih tetap tersenyum.
''Kau kelihatan senang hari ini,'' komentar mama. ''Mau memberitahu mama apa yg membuatmu bahagia?''
Laura tersenyum tipis. ''Hari ini orang yg aku sukai memberi semangat. Tadi siang ketika ulangan fisika susulan, aku sudah menyerah. Tapi tiba-2 dia memberiku sehelai kertas. Isinya ''JANGAN MENYERAH'' .
''Jadi,'' lanjut mama,'' akhiranya kau bisa mengerjakan ulanganmu hari ini.'' Laura mengangguk.
''Laura.'' ujar mama serius, ''kau benar-2 menyukai cowok ini, ya?''
__ADS_1
Laura mengangguk lagi.
''Kau tau kan, mama percaya padamu.'' mama menatap putrinya dgn lembut. ''Mama hanya ingin kau berhati-hati.”