Musim Menggapai Bintang

Musim Menggapai Bintang
Chapter 35


__ADS_3

Dokter Riswan tersenyum. “ aya bisa menyelamatkan kakinya.”


Niko benar-benar merasa lega. Di belakangnya Luki juga merasakan hal yang sama.


“Tapi ada kemungkinan Laura tidak bisa berjalan dengan normal,” kata Dokter Riswan. “ aya harus melihat perkembangan selanjutnya setelah operasi.”


Luki dan Niko tidak peduli seandainya Laura tidak bisa berjalan normal seperti biasa. Yang penting Laura masih bisa menggunakan kakinya. Kalaupun misalnya Laura harus kehilangan kakinya, Niko tetap akan mencintainya. Tapi Laura pasti akan sedih. Untunglah hal itu tidak terjadi.


Para suster membawa Laura keluar. Niko melihat wajah Laura yang tertidur. Niko menggenggam tangan Laura. “Kau akan baik-baik saja,” ujarnya perlahan.


Luki segera menelepon kedua orangtuanya dan memberitahukan kabar baik yang baru diterimanya.


Saat Laura membuka mata, ia melihat Luki sedang menatapnya.


“ udah waktunya kau bangun,” ucap  uki sambil tersenyum. “Kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari.”


“Kakiku.....,” ucap Laura perlahan.


“Kakimu baik-baik saja.”  uki tersenyum lagi. “Dokter Riswan berhasil menyelamatkannya.”


Laura merasa sedikit lega. Ia melihat balutan putih di kaki kanannya. Ia benar-benar bahagia kakinya bisa diselamatkan.


“Kau mau minum?” tanya  uki.


Laura mengangguk.

__ADS_1


Luki mengangkat kepala Laura dengan hati-hati dan memberinya minum.


“Kau tidak terlihat seperti gelandangan kali ini,” ucap Laura perlahan pada Luki.


 uki tertawa. “Kau sudah bisa bercanda. Aku senang. Yah, kali ini bukan aku yang seperti gelandangan. Tapi Niko benar-benar kusut. Dia menjagamu siang-malam tanpa henti. Barusan saja aku baru bisa meyakinkannya untuk beristirahat.”


Laura menggenggam tangan  uki. “Aku tidak mau menemuinya.”


 uki berdecak. “Niko sudah tahu semuanya. Berhentilah membuatnya sengsara, Laura. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”


“Kau tidak mengerti,” sanggah Laura. “Aku tidak bisa menjadi bagian dari hidupnya.”


Luki memutuskan untuk angkat tangan dalam masalah Laura dan Niko. “Aku rasa kau harus mengatakan sendiri padanya tentang hal itu. Aku tidak mau mencampuri urusanmu dengannya lagi. Tapi kau harus tahu, aku mendukungnya.”


“Aku tidak akan memberitahumu.”  uki tersenyum penuh rahasia. “Kau menyukainya. Niko menyukaimu. Kalian bersama selamanya. Sederhana sekali, bukan? Kau tidak perlu membuatnya menjadi rumit.”


Laura menggeleng. “Tidak sesederhana itu.”


“Kalau begitu kalian harus bicara,” kata  uki sambil menyentuh wajah Laura perlahan. “Kau harus mengalahkan ketakutanmu. Kau mencintainya. Katakan itu padanya. Kau tidak perlu takut lagi. Niko tidak akan meninggalkanmu walau apa pun yang terjadi.”


Selama seminggu berikutnya, Laura berusaha menghindari pertemuan dengan Niko. Ia meminta para suster untuk tidak mengizinkan Niko masuk ke kamarnya. Karena khawatir akan kesehatan pasien, para suster akhirnya menuruti permintaan Laura. Niko hanya bisa menungguinya di luar kamar. Pada minggu berikutnya, Niko sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Saat tidak ada seorang pun yang menjaga Laura, Niko masuk ke kamar rawat Laura.


Laura terkejut melihat kehadiran Niko. Tapi kemudian ia menenangkan diri. Memang sudah waktunya mereka bicara.


“Duduklah, Niko,” kata Laura.

__ADS_1


Niko duduk di kursi sebelah ranjang Laura. “Kenapa kau tidak mau menemuiku?”


“Aku perlu menata kembali perasaanku,” Laura berterus terang.


“Jadi...” Niko menatap Laura, “Bagaimana perasaanmu sekarang?”


“Aku lebih tenang sekarang,” senyumnya mengembang perlahan. “Tapi... aku tetap tidak bisa menerimamu, Niko.”


Niko mendesah, tampak putus asa. “Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa melihat bahwa aku tidak peduli apakah di kakimu ada bekas luka atau tidak? Apakah kau masih memiliki kakimu atau tidak. Apakah kau selamanya akan cacat atau tidak. Kau terlihat sempurna di mataku.”


“Aku tahu,” jawab Laura tenang. “Tapi aku tidak bisa melihat diriku bersanding denganmu dan menipu diriku sendiri bahwa aku terlihat sempurna.”


Niko pindah duduk di ranjang Laura. “Aku mau tanya sesuatu...” Niko menatap mata Laura dengan serius. “Kalau kakiku yang cacat, bukan kakimu, apakah kau akan meninggalkanku?” Laura terdiam sesaat. “Pertanyaanmu tidak relevan. Kakimu tidak cacat,” sanggahnya.


Niko tersenyum. “Tapi jawabannya tetap tidak, bukan? Kau tidak akan meninggalkanku. Aku tidak akan meninggalkanmu juga.  ampai kapan pun.”


Laura mencoba metode lain untuk meyakinkan Niko supaya meninggalkannya. “Kau sudah meraih semua impianmu. Hidupmu sudah sempurna. Kau tidak memerlukan kehadiranku dalam hidupmu. Aku mau bertanya satu pertanyaan penting. Aku mau kau jujur padaku. Apakah... kau akan memakai sebuah berlian cacat pada rancangan perhiasanmu?”


Niko mengerti kemana Laura ingin membawa pembicaraannya. Perlahan tangan Niko terangkat, lalu meraih kalung yang melingkari lehernya. Dilepaskannya kalung tersebut. Kemudian dia meraih tangan Laura dan meletakkan kalungnya di telapak tangan gadis itu.


Laura melihat seuntai kalung dengan sebuah berlian kecil. Keningnya berkerut keheranan. “Kenapa kau memperlihatkan kalungmu kepadaku?”


Niko menatap Laura dengan lembut. “Berlian kecil di pinggiran besi itu adalah berlian yang pertama kali kupotong. Aku melakukan satu kesalahan kecil. Kesalahan pertama dan satusatunya yang kubuat. Aku membuat berlian itu kehilangan cahayanya. Berapa kalipun aku mencoba memperbaikinya, berlian itu tetap cacat selamanya. Sekarang, kau bertanya padaku apakah aku akan memakai sebuah berlian cacat untuk perhiasanku? Jawabannya tentu saja tidak. Berlian yang kau pegang itu tidak berharga pada perhiasan manapun. Tapi... bongkahan batu kecil itu sangat berharga bagiku. Lebih daripada berlian manapun. Aku selalu mengenakannya setiap hari. Hidupku tidak akan sempurna tanpa berlian cacat itu. Hidupku tidak akan sempurna tanpa dirimu.”


Niko mencondongkan tubuhnya dan memegang wajah Laura dengan kedua tangannya. “Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Laura. Dan aku tidak akan meninggalkanmu

__ADS_1


__ADS_2