
"Oh!" Saya berteriak ketika saya mendengar batuk. Di belakang kita. Dari lorong. "Itu dia!" aku berbisik. "Ini Hitungan Malam-
sayap!"
"Hancurkan jendelanya!" Cara bersikeras. "Tidak. Dia akan mendengar kita! Dia akan menemukan kita!" aku balas berbisik.
Saya menurunkan wajan ke lantai. Dan berbalik untuk mempelajari jendela.
Batuk lagi. Lebih dekat kali ini. "Dengar," bisikku pada Cara. "Itu mendorong keluar, saya pikir." Aku meraih dengan kedua tangan dan mendorong kaca jendela yang berlumuran debu. Bersandar ke dalamnya. Didorong dengan seluruh kekuatanku. Perlahan, perlahan, jendela itu meluncur keluar. Dengan erangan, aku mendorongnya terbuka sejauh mungkin. Hembusan angin malam yang sejuk menyapu tubuhku. Aku meraih tangan Cara dan mulai memberinya dorongan.
Sebuah suara di belakang kami di ambang pintu membuatku terlonjak. "Buru-buru!" aku berbisik. "Dia datang!" Jantungku berdebar kencang, aku mendorong Cara ke jendela. Lalu kami berdua bergegas keluar dengan panik ke langkan "Apakah dia melihat kita? Apakah dia ada di dapur?" Cara berbisik.
"Aku tidak tahu," kataku padanya. "Aku tidak melihat. Tapi dia pasti ada di aula."
"Jika dia melihat kita... Cara mulai. Embusan angin menenggelamkan sisa kata-katanya.
Angin malam terasa sejuk dan menyegarkan di kulitku. Awan tebal melayang di atas bulan purnama, menjerumuskan kami ke dalam kegelapan total.
Kami berdua berlutut, membelakangi dapur. Meringkuk dekat di samping Cara, aku berjuang untuk menjaga keseimbanganku di langkan jendela batu yang sempit.
__ADS_1
"Mari kita pergi." aku mendesak.
Kami berdua berbalik dan menghadap ke jendela. Kemudian, mencengkeram langkan batu dengan kedua tangan, kami mulai menurunkan kaki kami ke dinding, menurunkan diri ke tanah. Lebih rendah. Lebih rendah... "Hei, aku berteriak ketika kakiku tidak maupadat. Seberkas cahaya bulan menembus awan. Saya melihat ke bawah. Dan membuka mulutku dengan teriakan serak.
Kakiku menendang udara. Tanganku mencengkeram langkan di atasku. Aku menatap ke bawah ke ruang kosong.
Jauh di bawah aku bisa melihat bebatuan gelap bergerigi yang bersinar redup di bawah sinar bulan.
Jauh dibawah!
Mil di bawah!
"Ohhhhh." Aku mengerang ketakutan. Kastil itu dibangun di atas tebing batu terjal. Dan kami sekarang tergantung di samping. Menggantung di lengan kami. Teruntai...
Lenganku mulai sakit. Aku bisa merasakan tanganku tergelincir, kehilangan cengkeramannya pada langkan jendela batu di atasku.
"Cara-!" aku terkesiap.Tanganku menggores batu-batu gelap di dinding, aku berjuang untuk berpegangan pada sesuatu-apa saja!
Tapi aku jatuh terlalu cepat. Kakiku menendang. Aku meronta-ronta. Angin bertiup ke arahku seolah mencoba mendorongku kembali
__ADS_1
ke atas.
Apakah itu aku yang melolong seperti itu? Aku jatuh terlalu cepat untuk mendengar jeritanku sendiri. Dan kemudian tiba-tiba saya berhenti.
Berhenti berteriak. Berhenti jatuh. Bayangan hitam menyelimutiku. Aku merasakan sesuatu yang tajam menusuk bahuku. Napas panas menyerempet bagian belakang leherku.
Saya mendengar suara mengepak yang keras. Detak jantung yang berdebar-debar.
Tercengkeram di dalam bayangan ini, aku merasa diriku ditarik ke atas.
Aku menoleh ke belakang-dan melihat dua cahaya- mata merah. Nafas panas keluar dari mulutnya yang menganga. Ini akan membuatku marah! Saya menyadari.
Aku terjebak di dalam bayangan mata merah ini. Terjebak di cakarnya saat membawaku lebih tinggi. Lebih tinggi.
Dan kemudian kegelapan mengelilingi saya.
s. Saya mendarat di suatu tempat. Mendarat dengan keras di atas kakiku dengan bunyi keras.
Kegelapan terangkat. Aku membuka mata dan melihat Cara. Mulutnya terbuka karena takjub. "Freddy!" dia tersedak. "Freddy-?"
__ADS_1