NEVERLAND

NEVERLAND
Counter Attack


__ADS_3

Disinilah tempat persembunyian Medusa." Kata Sun begitu mereka sampai di depan sebuah goa yang cukup besar. Keberadaan goa itu sedikit tertutup semak-semak yang ada di hutan tersebut dan ditumbuhi banyak lumut sehingga keberadaan goa itu sedikit tersamar dari pandangan mata.


"Sepertinya tempat ini kosong… " kata Rika yang berusaha melongok ke dalam goa yang begitu gelap, dia tak dapat merasakan adanya Medusa di dalam.


"Apa yang sedang kalian cari!" mendadak muncul sosok yang memang sudah mereka cari-cari. Medusa dengan wujud setengah ularnya kini sedang menggeliat di belakang mereka.


"Kami kemari untuk mencari penawar racun untuk teman kami yang kau kutuk!" jawab Reza dengan setengah berteriak. Dia sudah tidak dapat menahan rasa kesalnya terhadap Medusa.


"Beraninya kalian bocah-bocah kurang ajar! Beraninya kalian terhadapku!" Medusa mendelik tajam ke arah Sun dan kawan-kawan. Dia mendesis menjulurkan lidahnya yang menyeramkan itu, bola mata putihnya melotot tajam, rambut-rambutnya yang terbentuk dari ular berdiri semua.


"Akan kuhabisi kalian semua disini!" Medusa benar-benar mengamuk. Dia mengibaskan ekor besarnya ke arah Sun dan yang lainnya. Seketika mereka semua terhempas akibat serangan mendadak yang dilancarkan Medusa itu.


Queen Heart Castle...


.


.


"Cepatlah kalian bersembunyi! Biar kami yang menghadapi mereka!" kata Michael menyuruh Alice, Erik dan Lisa untuk bersembunyi.


"Maaf Mike... Aku tak bisa… Aku tidak boleh tertangkap disini… Maaf sekali lagi." Kata Rey yang mendadak jalan menjauh dari Michael dan yang lainnya.


"Rey... Kau mau ngapain?" tanya Michael bingung dengan sikap Rey yang mundur ke belakang.


"Maaf…" hanya kata itu yang mampu diucapkan Rey. Dia menghentakkan kakinya ke salah satu lantai tersebut, dan lantai itu terbuka seperti sebuah jalan rahasia bawah tanah. Begitu terbuka Rey segera melompat masuk ke dalamnya.


"Rey!” Michael berusaha untuk mengejar Rey yang kabur tapi Sinta segera menahannya.


"Jangan Michael, kita tak punya waktu untuk mengejarnya sekarang!" Temari mencegah Michael untuk mengikuti Rey.


"Itu benar, lagipula… Lantai rahasia itu hanya muncul secara random, jadi meskipun kau berusaha mengejarnya belum tentu lantai itu akan terbuka lagi." Kata Alice menjelaskan perihal lantai rahasia yang ada di dalam Queen hearts castle.


"Michael! Kami tau kalian ada di dalam! Keluarlah!" terdengar seperti suara Melisa yang meminta Michael untuk keluar.


"Kita tak ada pilihan, ayo kita keluar… Lisa, Erik, Alice… Kami serahkan Anna, Tomi dan juga Queen Marie pada kalian." Kata Angel menyuruh Lisa, Erik dan Alice untuk cepat pergi.


.


\~o0o\~


.


BRUKH!


Sun dan yang lainnya terjatuh secara bersamaan akibat serangan ekor yang dilancarkan Medusa.


"Keterlaluan!" Rika segera bangkit dan berusaha untuk menyerang Medusa, tapi dia dihalangi oleh ekor Medusa dan dia kembali terhempas jatuh.


"Kau akan mati bocah!" kata Medusa yang kemudian merubah ujung ekornya menjadi tombak yang sangat tajam dan siap menusuk Rika.


"Boomerang Scythe!" Arkhan lebih cepat lagi mengeluarkan jurusnya. Scythe yang berputar itu berhasil memotong ekor Medusa.


"…Seranganmu sama sekali tidak berarti!" tanpa terduga ekor Medusa kembali lagi seperti bentuk semula.


"Dia bisa beregenerasi rupanya, menyebalkan!" Rika berdecak kesal begitu dia melihat kemampuan yang dimiliki Medusa yang mampu meregenerasi anggota tubuhnya yang terpotong.


"Jangan terkejut dulu, karena aku masih memiliki kemampuan lainnya! Toxic!" Medusa mengeluarkan asap racun dari mulutnya.


"Semuanya, jangan hirup asap beracun itu!" kata Sun yang segera menyuruh yang lainnya untuk segera menutup hidung dan menghindari asap tersebut.


Asap itu mulai menebal, kemudian Arkhan menggunakan senjatanya untuk menghilangkan asap tebal itu. Dia memutar-mutarkan sabit besarnya sehingga muncul angin yang cukup kuat dan menghilangkan asap tersebut. Medusa segera memutar-mutarkan tubuhnya, kemudian dia melesat dengan cepat menggigit tangan Arkhan, terkejut dengan gigitan Medusa yang tiba-tiba itu Arkhan segera mundur.


"Ugh…" tampak Arkhan tak bisa menjaga keseimbangannya. Dia menggunakan scythe miliknya untuk menopang tubuhnya yang nyaris terjatuh.


Medusa kembali berniat untuk menyerang Arkhan tapi segera dihalau Sun dan Rika.


"RAGE!" Rika melipat gandakan kekuatannya, dengan cepat dia mendorong Medusa dan menyerangnya bertubi-tubi.


"Hahahaha percuma! Seranganmu itu tak berarti!" kata Medusa yang mentertawakan Rika, tampaknya serangan Rika tadi tidak memberi efek apa-apa padanya.


"Tubuhnya keras… Sepertinya sisik-sisik ular itu melindunginya dari serangan fisik…" kata Rika yang menyadari kekebalan tubuh Medusa.


"Kalau begitu… Bagaimana dengan ini! OGRE!" Reza memanggil guardian miliknya yang bernama Ogre. Ogre merupakan perwujudan mahkluk besar berwarna hijau dan selalu membawa pemukul kayu kemana-mana, dia memiliki elemen api.


"FIRE BREATH!" begitu keluar Ogre segera meniupkan api besar yang keluar dari mulutnya ke Medusa. Serangan itu membuat sang wanita ular terbakar kesakitan.


"Ryu, Yumi. Kalian berdua pergi ke dalam goa dan cari penawarnya, biar kami yang menghadang Medusa!" kata Rika yang menyuruh Ryu dan Yumi untuk pergi mencari obat penawar di dalam goa tersebut.


"Tak akan kubiarkan!" Medusa berusaha untuk menyerang Ryu dan Yumi yang berniat untuk memasuki goa miliknya.


"Hadapi kami dulu! Ogre, serang lagi!" kata Reza yang memerintahkan Ogre untuk menyerang Medusa. Sang Ogre melayangkan senjata pemukulnya ke arah Medusa membuat Medusa menggeliat mundur dari serangan tersebut. Merasa kesal dia melemparkan bebatuan yang ada disana dengan menggunakan ekornya ke arah Reza.


"Wind Shield!" Kaze dengan cepat melindungi Reza dengan membuat perisai angin yang cukup besar.


"KURANG AJAR!" Medusa kembali menggunakan ekornya dan menyerang Kaze yang sedang melindungi Reza dengan perisai anginnya. Medusa terus-terusan menyerang Kaze dengan ekornya berkali-kali. Akhirnya perisai itu hancur juga, Kaze segera melompat membawa Reza untuk menghindari serangan Medusa.


Ogre guardian milik Reza segera mengayunkan tongkat kayunya untuk menyerang Medusa, tapi Medusa lebih cepat dari Ogre.


Medusa mengambil senjata itu dari tangan Ogre dan menghantamkannya ke tubuh Ogre hingga guardian itu terlempar.


"Ayo maju Arkhan!" saat Medusa lengah sedikit, Arkhan dan Sun maju bersamaan. Arkhan menebas tangan kiri Medusa dan Sun menebas tangan kanan Medusa. Medusa melotot marah begitu melihat kedua tangannya tertebas. Tapi tak lama tangan-tangan itu muncul kembali.


Queen Heart Castle...


.


.


"Kami mendapat perintah untuk membawa kalian ke tempat Game master. Jadi kami harap kalian bisa mematuhi perintah dan jangan bertindak gegabah." Kata Yama yang sepertinya mencari cara lain untuk membawa Michael dan yang lainnya, dia tak ingin menggunakan cara kekerasan.


"Sepertinya Pak Chandra tidak ada disini…" Kata Sinta sedikit berbisik ke Michael setelah dilihatnya tak ada Chandra diantara para execute staff tersebut.


"Kau benar… Itu artinya mereka tidak mungkin mengeluarkan jurus final judge terhadap kita…" kata Angel yang merasa sedikit lega, itu artinya mereka masih ada kesempatan untuk menjelaskan.


"Kami minta kalian ikut dengan kami dan jangan membantah." Sambar Melisa yang sepertinya sudah gemas ingin membawa Michael dan yang lainnya.


"Tak akan semudah itu!" Michael berteriak keras seolah menantang para execute staff, tapi tindakannya langsung dicegah oleh Sinta.


"Michael, kita jangan melawan disini. Lebih baik kita turuti saja. Kita bisa menjelaskannya nanti bukan dengan cara yang penuh emosi!" kata Sinta meminta Michael untuk tenang dan untuk sementara mengikuti kemauan dari para execute staff.


"Baiklah! Kami akan ikut dengan kalian." Michael akhirnya sependapat juga dengan Sinta dan bersedia ikut dengan para execute staff.


.


\~o0o\~


.


"SNAKE HEAD!" Medusa menjadikan tangannya dengan bentuk seperti ular kemudian menyerang Rere. Serangan ini adalah serangan dimana tangan Medusa yang sudah berubah menjadi ular dengan cara menghujamkan kepala ularnya ke tanah berkali-kali.


Serangan yang dilancarkan ke arah Rere langsung dihindari gadis itu dengan cepat. Rere melompat ke kiri dan ke kanan dengan lincah, menghindari setiap serangan yang ditujukan kepadanya. Medusa yang kesal akhirnya menghajar Rere dengan ekor besarnya membuat gadis itu kali ini benar-benar terlempar cukup jauh.


"SNAKE HEAD!" Medusa yang melihat Rere terpojok segera menyerang gadis itu kembali dengan serangan snake head. Tapi Rika dengan cepat datang untuk menghalau serangan itu.


"Fire Wall!" sebuah dinding pelindung api membentang melindungi Rere. Fire Wall merupakan jurus perlindungan sekaligus penyerangan terhadap musuh, dimana Rika akan membentuk garis perlindungan di tanah yang dari garis itu akan muncul api. Medusa tak berani mendekati perlindungan api itu. Kesempatan ini digunakan Reza untuk menyerang Medusa.


"Snowflakes!" Reza memanggil bongkahan batu es yang sangat besar dan jatuh tepat menimpa Medusa. Bukan hanya itu, tapi Medusa menjadi beku seketika.


"Oi, Rere! Jangan diam saja! Kau ada skill tenaga dalam, kan? Cepat gunakan, selagi Medusa membeku!" kata Rika yang melirik Rere masih duduk mematung.


"Tapi apa bisa?" tanya Rere dengan ragu, masalahnya dia tidak begitu yakin kalau jurusnya akan berhasil.


"Dicoba saja, itu jurus tenaga dalam yang menyerang dari dalam, kan?" Sun meminta Rere untuk tetap mencobanya, karena mungkin justru jurus itu mampu menghancurkan Medusa.


"Double Palm Strike!" berkat dorongan dari Rika dan Sun, keberanian Rere jadi muncul. Dia menggunakan jurus tenaga dalam bernama Double Palm Strike, yaitu serangan dengan memusatkan energy alam yang dikeluarkan lewat kedua telapak tangannya, serangan ini cukup kuat dan mampu menghancurkan batu karang sekalipun.

__ADS_1


Krak...


BLAR!.


Batu es yang membekukan Medusa mulai retak dari atas sampai ke bawah… Tak lama batu es itu hancur bersamaan dengan Medusa yang berada di dalamnya.


"A-aku berhasil! Hore aku berhasil! Kisa aku berhasil!" Rere langsung melompat-lompat senang melihat jurusnya berhasil.


"Teman-teman! Kami sudah membawa penawar racunnya!" muncul Ryu dan Yumi dari dalam goa yang mengatakan kalau mereka berhasil mengambil penawar racun milik Medusa.


"Hebat! Ayo cepat kita pergi dari tempat ini, aku sudah tidak tahan dengan bau ular!" kata Rika yang meminta untuk cepat-cepat pergi dari tempat tersebut.


.


.


Mutant Forest...


.


.


"Kita sampai." Kata Joker yang berhenti di depan sebuah rumah kecil yang berada di Mutant forest.


"Tsu ada di dalam?" tanya Puput yang berdebar-debar untuk menghadapi Tsu.


"Ayo masuk!" sambar Pandu bersemangat untuk masuk ke dalam, tapi kerah bajunya langsung ditarik oleh Denis.


“Apaan sih?" tanya Pandu sambil melirik kearah Denis yang masih memegangi leher bajunya.


"Kasih kesempatan buat yang lain!" kata Denis sambil melirik beberapa orang lainnya yang sepertinya juga ingin ikut membantu di dalam pertarungan.


"A-aku juga ingin membantu… Tolong be-berikan aku ke-kesempatan." Kata Nisa meminta agar dia di ijinkan untuk membantu kali ini saja.


"Kau juga Steve!" samber Hery sambil ngedorong bahu Steve.


"Tentu saja boleh! Aku akan merasa sangat tertolong, mohon bantuannya ya Nisa, Steve!" kata Puput sambil tersenyum ke arah Nisa dan juga Steve.


"Aku juga ikut untuk menjaga Nisa." Sambar Denis dengan cepat. Pandu dan yang lain langsung mencibir dan membatin 'Bilang aja kau juga kepengen ikutan!'.


"Baiklah semuanya, ayo masuk!" kata Puput yang segera membuka pintu rumah tersebut dan masuk ke dalam bersama dengan Nisa, Steve, Denis dan Joker. Sedangkan sisanya berjaga-jaga di luar.


.


.


.


"Terima kasih atas bantuannya, dengan begini kami bisa menolong teman-teman kami!" kata Reza merasa sangat senang karena ada kemungkinan Tomi, Anna dan juga Queen Marie dapat disembuhkan dari kutukan batu tersebut.


"Tapi kalian hebat bisa mengalahkan Medusa!" puji sang Dragon Knight yang mendengar cerita dari Rika kalau mereka berhasil mengalahkan Medusa.


"Kalau begitu cepatlah kalian kembali dan berikan penawarnya pada teman-teman kalian. Karena meskipun Medusa sudah mati, tapi racun yang dimilikinya sangat kuat dan tak bisa hilang begitu saja." Saran sang Raja menyuruh agar Sun dan yang lainnya lekas kembali.


"Kami permisi dulu, sekali lagi kami ucapkan terima kasih." Kata Sun yang berpamitan untuk segera kembali bersama yang lain.


.


\~o0o\~


.


"Tsu! Kami datang untuk menghentikan percobaan gila yang kau lakukan selama ini! Berhentilah dan kembali ke Town of academy." Puput begitu masuk langsung saja menceramahi Tsu yang tampak seperti melakukan sesuatu.


"Berisik kau gadis kecil!" omel Tsu yang merasa terganggu dengan kehadiran Puput dan kawan-kawan.


"Oh… Apa kalian kemari mau menjadi sukarelawan dari percobaan ku?" sambung Tsu lagi kali ini dia berbalik untuk melihat Puput dan yang lain, terlihat seringai yang mengerikan tampak di wajahnya, membuat Puput dan Nisa mundur beberapa langkah. Tsu melesat maju menyerang.


Tsu life point : 300000/300000.


Job class : Mad scientist.


Element : Netral.


Weakness : Unknown.


Skill : Parasite, Maneater blossoms, Venus trap, Flower petal, Absorb power, Acid flower, Earth shaker.


Tsu melancarkan serangan langsung ke arah Puput. Gadis itu dengan cepat merunduk untuk menghindari serangan cepat tersebut, tampaknya latihannya yang dia lakukan bersama Joker tidak sia-sia, gerakan Puput lebih cepat dan lebih terkontrol dari sebelumnya. Puput hendak meninju Tsu tetapi Tsu langsung menahan serangan Puput, kemudian Tsu hendak memukul Puput tapi ditahan oleh Nisa yang maju ikut menyerang. Tsu melepaskan Puput dan memukul Nisa.


"Typhoon!" Steve yang membentuk Wind field disekitarnya memanggil jurus Typhoon, yaitu jurus angin besar yang akan menghantam musuh yang sudah ditargetkan. Jurus itu sukses mengenai Tsu.


"Nisa kau tidak apa-apa?" Denis yang panik segera menghampiri Nisa.


"Iya, aku tidak apa-apa." Jawab Nisa yang segera berdiri kembali.


"Flower Petal!" Tsu menyerang Puput dan yang lainnya dengan menggunakan kelopak bunga yang terbang cepat ke arah mereka.


Set…


Set …


Set...


Kelopak-kelopak bunga itu melukai Puput dan yang lainnya.


"Kalau dia terus menyerang begini kita akan sulit untuk maju dan mendekatinya." Kata Denis yang sedang berusaha untuk maju mendekati Tsu.


"Aku juga tidak bisa menggunakan skill sihir milikku!” Steve juga tampaknya kerepotan untuk mengeluarkan jurus sihirnya.


"Immune!" Joker mengeluarkan jurus Immune, yaitu merupakan jurus perlindungan ke seluruh teman dan menjadikannya kebal terhadap serangan yang bersifat serangan fisik dari musuh selama beberapa saat.


"Se-serangannya sudah tidak berasa lagi!" kata Nisa setelah menyadari serangan Tsu sudah tidak melukainya lagi.


"Bagus saatnya menyerang kembali!" Puput segera berlari untuk kembali menyerang Tsu, di belakangnya di ikuti oleh Denis yang juga memiliki pemikiran yang sama.


"Earth Shaker!" baru saja Puput dan Denis berniat untuk menyerang Tsu, Tsu sudah mengeluarkan jurus lain. Earth Shaker adalah jurus dimana Tsu akan menggetarkan tanah sehingga musuh kesulitan untuk bergerak.


"Dia benar-benar musuh yang menyebalkan!" rutuk Steve dengan kesal, sejak tadi dia selalu terhalangi untuk mengeluarkan jurus sihirnya.


Joker melemparkan kartu-kartu ke arah Tsu tapi Tsu terlindungi oleh tanaman-tanaman sulur yang berada disekitarnya. Tanaman-tanaman itu menahan kartu-kartu joker. Saat itu terlihat pemandangan yang mengerikan, tanaman yang terkena kartu-kartu Joker mengeluarkan darah, seolah tanaman-tanaman itu terluka seperti manusia.


"Hehehehe jangan terkejut dulu… Tanaman-tanaman ini adalah anak-anak kesayanganku. Keluarlah Maneater Blossoms!" kata Tsu sambil tertawa, lalu dia memanggil tumbuhan-tumbuhan lainnya yang muncul satu-persatu dan sekarang memenuhi tempat tersebut.


PLAK!.


Salah satu sulur tumbuhan itu menghantam Nisa dari belakang membuat gadis itu terdorong dari posisi berdirinya.


"Kelihatannya tanaman-tanaman itu memiliki pikiran dan jiwa sendiri, berhati-hatilah." Kata Denis memperingati yang lainnya untuk berhati-hati pada tumbuhan-tumbuhan yang tidak wajar itu.


.


.


In front of Dragon Cave...


.


.


"Aaah! Malas sekali harus melewati Dragon cave lagi!" keluh Rere yang tampaknya masih kepengen terbang sama sang naga, tapi apa daya si naga bukan mainan yang bisa digunakan dengan koin, selain itu mereka harus segera kembali.


"Uhh… " tanpa terduga Ryu nyaris terjatuh, untung saja Rika segera menopang temannya itu.


"Ryu? Kau tidak apa-apa? Apa mau istirahat dulu?" tanya Reza yang sangat mencemaskan keadaan Ryu dan segera menghampiri pemuda itu.

__ADS_1


"Tak apa-apa… Ayo teruskan jalannya… " jawab Ryubmeminta untuk segera cepat masuk ke dalam Dragon cave.


"Hei, hei… Jangan dipaksa kalau kau memang tidak kuat. Lagi pula kau juga terkena racun Medusa, kan?" kata Rika yang juga ikut mengkhawatirkan Ryu.


"Gimana kalau penawar racunnya di kasih ke Ryu dulu?" kata Yumi sambil mengeluarkan obat penawar racun yang dia ambil dari dalam goa.


"Tapi ada banyak obat, yang mana obat penawar untuk racun Ryu?" tanya Reza dengan bingung sambil memilih-milih beberapa botol yang dikeluarkan Rere.


"Coba saja satu-satu!" kata Rika asal ambil menyambar salah satu botol.


"Jangan berikan obat-obat itu sembarangan!" Arkhan segera mencegah Rika yang hendak memberikan obat itu kepada Ryu.


"Tapi kalau tidak diobati sekarang Ryu bisa…!" Rika berusaha meraih botol obat yang direbut Arkhan kembali sambil setengah berteriak, kata-katanya terputus di tengah jalan. Dia tak ingin membuat suasana jadi semakin tidak enak.


"Biarkan saya memeriksa obat-obat itu." Kata Arkhan menyuruh Rika, Reza dan Yumi untuk menyingkir sebentar, sementara dia memeriksa obat-obat itu.


.


.


.


"AAAAHHHH!" Nisa terkena serangan dari bunga-bunga tersebut yang ternyata mampu menggigit manusia. Bunga-bunga itu menggigit bahu kiri Nisa, darah yang keluar cukup banyak sehingga membuat gadis itu kepayahan.


"Nisa!" Puput segera menendang kepala bunga dari tumbuhan itu agar menjauhi Nisa.


"Maneater Blossoms!" kali ini jumlah bunga-bunga kanibal yang muncul lebih banyak dan sedang mengepung Puput dan juga Nisa.


"Kuserahkan mereka berdua pada kalian. Aku akan menyerang Tsu." Kata Joker yang segera menarik salah satu kartu yang dia keluarkan, kemudian muncul dua bilah dagger yang kini sudah berada di tangan Joker.


.


"God Hands!" Denis mengeluarkan jurus andalannya God hands untuk menyerang bunga-bunga kanibal yang sedang mengepung Puput dan juga Nisa.


"Water field! Water Drops!" Steve menggunakan jurus Water Drops kepada Puput dan Nisa, jurus ini merupakan jurus pemulihan life point terhadap teman yang dituju, dimana ada setetes air embun yang jatuh ke kepala kawan yang akan dipulihkan life point-nya.


Joker mengayunkan kedua dagger yang dipegangnya ke arah Tsu tapi dengan cepat tumbuhan-tumbuhan itu menghalangi serangan Joker. Salah satu dari kepala bunga itu terbuka dan menggigit dagger yang berada di tangan Joker, membuat Joker harus mundur ke belakang untuk mengatur strategi lain. Tanpa terduga kepala bunga-bunga itu maju mengejar Joker. Joker kembali mundur dari serangan bunga-bunga itu.


"Venus Trap!" sebuah bunga besar berwarna hijau muncul dari permukaan tanah dan segera menyergap Joker. Joker tertelan oleh bunga besar itu.


.


"Kalian berdua tidak apa-apa?" tanya Denis yang sudah berhasil menghancurkan bunga-bunga kanibal tersebut.


"Aku tidak apa-apa… Tapi Nisa mengalami pendarahan di bahunya!" kata Puput yang sekarang sedang merangkul Nisa yang berada dalam kondisi setengah sadar. Dapat terlihat jelas darah segar mengalir dari bahu kiri Nisa. Selain itu life point Nisa juga terus berkurang.


"Serahkan Nisa padaku. Aku akan menjaga life point-nya!" kata Steve memutuskan untuk menjaga Nisa agar life point-nya tidak habis.


"Tolong jaga Nisa." Balas Denis yang mempercayakan Steve untuk menjaga Nisa.


"Sekarang tinggal kita berdua, apa kau punya rencana Den?" tanya Puput sambil melirik Denis berharap temannya ini memiliki rencana, karena jujur dia sendiri bingung untuk menyerang Tsu secara langsung. Tiap mau menyerang bunga-bunga itu pasti lebih cepat lagi menghadang mereka. Dia tak bisa berharap banyak dari Joker yang terperangkap, Nisa terluka dan Steve sekarang sedang mencoba untuk menjaga life point Nisa agar tidak habis.


"Put, aku akan memancing bunga-bunga itu untuk menyerangku. Begitu ada kesempatan gunakan Azhure." Jawab Denis yang sepertinya berniat untuk menjadikan dirinya umpan. Puput mengangguk mengerti, secara perlahan dia mulai mengumpulkan kekuatannya.


.


\~o0o\~


.


"Ryu bagaimana perasaanmu? Apa yang kau rasakan?" tanya Reza penasaran, ingin tahu apa reaksi Ryu setelah meminum obat yang diberikan Arkhan kepadanya.


"A-aku… Hey, aku merasa sudah baikan! Obat penawar racun itu benar-benar berkerja!" balas Ryu dengan senang. Dia merasa tubuhnya sudah tidak sakit lagi dan dia mulai bisa merasakan anggota tubuhnya.


“Teman-teman aku sudah sembuh! Ayo cepat kita pergi!" sambungnya lagi meminta agar mereka tidak menunda-nunda waktu lagi.


.


.


.


"Kita harus bagaimana? Michael dan yang lainnya dibawa pergi, aku jadi cemas!" kata Lisa yang sekarang berjalan mondar-mandir dengan wajah gelisah.


"Aku tak menyangkan kalau kakakku akan melakukan hal seperti itu…” Erik tampaknya masih kaget dan tak percaya dengan tindakan yang dilakukan Rey, itu sama sekali seperti bukan kakaknya saja. Yang dia tau kakaknya adalah orang yang sangat setia kawan dan memiliki pendirian yang teguh, rasanya mustahil kalau Rey benar-benar meninggalkan teman-temannya seperti ini.


"Erik… Rey pasti punya alasan kenapa dia melakukan ini… Jangan terlalu dipikirkan." Lisa berusaha untuk menghibur Erik yang suasana hatinya sedang bimbang dan sedih.


"Yang bisa kita lakukan saat ini menunggu Sun dan yang lainnya...” lanjutnya lagi sambil menatap ke arah luar berharap Sun segera datang.


.


.


.


Sun dan kawan-kawan kembali melewati Dragon cave, tetapi baru setengah perjalanan mereka dihadang oleh seseorang yang tak lain adalah Chandra.


"Kalian semua, berhenti sampai disini petualangan kalian!" Chandra segera melompat dari atas salah satu batu dan dengan keras dia memukul Ryu yang tidak sigap.


"HEYAAAAH!" Rika segera menghadang Chandra yang sudah mengeluarkan senjata miliknya Lightning Sword.


"Kalian… Cepat pergi dari sini! Biar aku yang menghadapi Pak Chandra!" kata Rika yang sekarang sedang menahan Chandra.


"Tunggu apa lagi? Cepat pergi! Kalian harus segera menolong teman-teman kita! Aku bisa mengatasi ini!" sambung Rika lagi menyuruh mereka semua pergi. Walaupun berat mereka terpaksa meninggalkan Rika yang harus menghadapi Chandra.


.


.


.


Sun dan yang lainnya segera meninggalkan Dragon cave. Begitu sampai di depan goa mereka kembali di hadang, dan kali ini yang menghadang mereka adalah Riko dan Aoki.


"Aku tak bisa membiarkan kalian untuk pergi dari sini… Ikut denganku dengan baik-baik." Kata Riko yang berdiri menghadang mereka.


"Kalian pergilah… Aku akan mengatasi Riko." Kata Sun yang langsung mengeluarkan senjata miliknya dan bersiap-siap untuk menghadapi Riko dan Aoki.


"Kau pikir kau bisa mengatasiku?" tanya Riko yang sedikit terpancing emosinya dengan sikap Sun.


"Kita coba saja Riko." Balas Sun penuh percaya diri.


.


.


.


"Kita harus terus berlari! Ayo cepat-cepat!" Yumi, Rere, Reza dan Kaze berlari menelusuri semak-semak hutan. Berharap agar mereka bisa segera sampai di Queen heart castle.


"Kalian pikir dengan berlari seperti itu, kalian bisa lolos?" tampak seorang gadis tengah menghadang mereka. Dia tak lain adalah Siti dan disebelahnya muncul Kimi.


"Yumi… Cepat pergi dan bawa obat itu! Biar mereka kami yang menghadapi." Kata Rere yang segera mendorong Yumi ke arah semak-semak yang tersembunyi menyuruh gadis itu untuk segera berlari pergi.


"Kau siap Rere? Reza?" tanya Ryu yang sedang berdiri tegap siap menghadapi Siti dan Kimi.


"Aku siap. Kisa, keluarlah!" Rere akhirnya memanggil Kisa untuk membantunya dalam pertempuran.


"Aku juga siap! Kaze bersiaplah!" kata Reza yang juga menyuruh Kaze untuk bersiap.


'Kami tak akan menyerah!' batin ketiganya penuh tekad, siapapun lawannya akan mereka hadapi sekuat tenaga.


'Teman-teman… Kumohon… Kalian harus selamat!' ucap Yumi dalam hati yang berlari sambil berdoa agar teman-temannya selamat.


Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apa yang akan terjadi nanti?.

__ADS_1


__ADS_2