OBAT UNTUK SUAMIKU

OBAT UNTUK SUAMIKU
BAB 8


__ADS_3

OBAT UNTUK SUAMIKU


Jam baru saja berdentang 12 kali. Aku tak bisa tidur. Sesekali berbaring miring ke kanan, lalu ke kiri. Terkadang menajamkan Indra pendengar hanya untuk berharap mendengar ketukan pintu. Lalu Mas Danu duduk di sebelahku untuk mengajak membicarakan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, hingga satu jam berlalu, ia tak muncul juga.


Kuraih HP lalu menekan nomer Mas Danu. Baru beberapa detik terdengar nada sambung, tiba-tiba dimatikan. Aku kembali menghubungi yang segera dimatikan lagi. Tenggorokanku tercekat, air mata yang belum lama mengering kembali luruh. Jemariku cepat mengirim pesan WA.


"Mas, cepat pulang."


Centang dua telah berubah menjadi biru. Ada tulisan online di profilnya, namun pesan tak juga dibalas. Tangisku semakin keras. Kupeluk bantal sambil terisak. Mas Danu pasti sangat kecewa. Bagaimana caranya menjelaskan kalau aku mencintainya?


Teringat tatapannya yang dingin saat makan malam tadi, aku menggeleng galau. Sepertinya, Mas Danu takkan mendengar ucapanku sama sekali. Faktor utama aku mau menikah dengannya memang karena iming-iming uang dari ibunya. Siapa sangka dengan bergulirnya waktu, aku malah merasa nyaman dengannya?


Aku menelan ludah, merasa sangat terpukul namun tak bisa menyalahkan jika Mas Danu menilaiku begitu negatif.


Aku beranjak duduk, membuat kopi di dapur, lalu membawanya ke ruang depan di mana buket bunga mawar yang diberikan Mas Danu tergeletak begitu saja di sofa. Teringat perhatian-perhatian yang diberikannya, hatiku bagai ditusuk-tusuk. Tadi sore, kami bahkan masih tertawa bersama. Aku meraih buket bunga lalu memeluknya sambil menangis. Sesekali menatap ke arah pintu.


Ketukan pelan di pintu spontan membuatku beranjak berdiri, melangkah cepat untuk membukanya. Wajah Mas Danu terlihat pucat. Tanpa mengatakan apa pun, ia melenggang masuk, langsung menuju kamar dan merebah.


"Mas dari mana saja?"


Hanya keheningan yang menjawab. Ia langsung berbaring memunggungi saat aku mulai merebah di aampingnya. Kutarik napas panjang lalu memeluknya dari belakang. Terasa hangat air mata yang lagi-lagi bergulir di pipi.


"Aku sayang kamu, Mas."


"Kamu hanya mencintai uangku!" ketusnya.


"Mas kok gitu." Aku berusaha tidak terisak. Tanganku memeluk tubuhnya semakin erat

__ADS_1


"Tunggu di sini dulu, Li. Ibu panggil suamimu dulu."


Aku berusaha mencegah. Tapi ibu tak mengacuhkan. Ia keluar dari taman sambil berteriak memanggil mas Danu. Aku segera menjadikan belanjaan menjadi satu plastik dan meremas tangan saat terdengar suara Ibu dan Mas Danu berjalan mendekat.


"Aku kan sedang kerja, Bu. Seharusnya ibu tak ke sini."


"Ibu hanya ambil foto."


"Kenapa harus mengajak Liana ke sini?" Nada Mas Danu terdengar keberatan.


Aku menggigit bibir. Apa Mas Danu begitu benci sampai tak mau aku ke sini? Atau ia takut aku akan menguras ATM-nya setelah tahu salah satu studionya begitu ramai?


Aku mengusap sudut mata sambil berdiri, membalikkan badan, kemudian berlari keluar tanpa tas belanjaan.


"Lii!"


"Biarkan saja, Bu. Mungkin ingin membeli sesuatu."


"Apa kalian bertengkar?"


Suara mereka menghilang seiring


Baru saja hendak memejamkan mata saat terdengar ketukan pelan, lalu bunyi pintu yang dibuka. Aku segera bangkit dari sofa lalu tanpa mengindahkan Mas Danu, segera berjalan menuju kamar. Daripada bicara terus dicueki, lebih baik seperti ini saja.


"Buatkan teh."


Aku menarik napas, kukira, marah akan membuatnya terus diam. Karena bukan tipe pemberontak, segera kubuatkan ia teh lalu meletakkan di meja tanpa mengatakan apa pun.

__ADS_1


"Belanjaanmu tertinggal. Ada di bagasi."


Aku mengangguk, lalu meninggalkannya. Selang 15 menit, ia menyusul tidur di sebelahku.


"Jangan diulangi lagi. Tadi, ibu menanyaiku macam-macam."


Masa bodoh, kataku dalam hati. Kupeluk guling lalu mencoba mengatupkan mata.


***


Aku sengaja bermalas-malasan. Usai mengerjakan semuanya, langsung ke kamar atas dan tidur. Atau lebih tepatnya pura-pura tidur. Terus kuacuhkan panggilan Mas Danu yang menyuruh membuat sarapan. Jika ia ke meja makan, ia akan menemukan rendang dari Ibu, juga masakanku yang telah tersaji siap dinikmati.


"Aku hari ini libur."


Aku tahu, sahutku dalam hati. Sudah menjadi rutinitasnya mengambil libur setiap hari Jumat. Tapi, tunggu dulu. Kenapa suaranya terdengar amat dekat? Lekas kutarik selimut sampai menutupi tubuh kemudian pura-pura tidur.


"Buatkan aku teh." Terdengar lagi suaranya yang semakin mendekat, lalu bunyi pintu yang dibuka.


"Li."


Aku terus bungkam. Ia dulu yang memulai. Meskipun aku mencoba menjelaskan, tetap saja percuma. Jadi, lebih baik seperti ini. Mengikuti maunya.


Dadaku bergemuruh saat selimut disingkap, ranjang berderit, lalu ia membalik tubuhku menghadapnya. Tangannya perlahan bergerak membelai rambutku, lalu turun ke bahu. Aku membuka mata sedikit saat merasakan embusan napasnya di wajahku. Kami bersitatap.


"Mas mau apa?"


"Jangan pura-pura tidak tahu."

__ADS_1


__ADS_2