
OBAT UNTUK SUAMIKU
Tatapanku berganti-ganti dari wajah Mas Danu lalu ke amplop berwarna cokelat yang diulurkannya. Karena aku tak juga menerimanya, akhirnya Mas Danu meletakkannya ke atas selimut yang menutupi pahaku.
"Apa ini?" Aku meraihnya lalu memandang Mas Danu yang tengah mengenakan pakaiannya.
Mas Danu menjawab singkat. "Buka."
Sambil menerka-nerka isinya, tanganku perlahan membuka benang yang melilit kancing amplop. Aku kembali menatap Mas Danu setelah mengeluarkan isinya.
"Ini apa?" Aku menatapnya bingung. Jatah bulanan belanja masih lama.
"Kan sudah lihat, itu uang."
"Iya, tapi ini maksudnya apa?" Aku terus menatapnya.
"Itu untuk yang tadi. Melayaniku."
Tenggorokanku terasa tercekat. Hawa panas menyebar dari arah dada, terus melangkak naik ke puncak kepala. Jantungku berdetak kencang seakan hendak meledak.
"Kamu anggap aku pel4cur, Mas?!"
"Aku tidak mengatakannya," sahutnya dingin. Menarik selimut untuk menutupi tubuh kami, kemudian bersidekap dan perlahan memejamkan mata.
"Tapi secara tak langsung kamu menganggapku begitu!" Sentakku.
"Bukannya kamu menikah denganku karena uang?" Ia membuka mata, menatapku sengit. "jika aku sudah tak punya uang, kamu pasti meninggalkanku." lanjutnya dengan tatapan merendahkan.
Aku menggeleng tak percaya, masih tak habis pikir ia menuduh istrinya sendiri serendah ini.
"Jadi, terima saja. Jika sesuatu darimu menguntungkanku, aku akan membayarmu."
Aku menggigit bibir bawah ku...
"Tumben nggak kerja," ucapku spontan saat Mas Danu menoleh ke arahku. Ia mengerutkan kening.
Aku mengambil botol mineral di dalam kulkas, meneguknya cepat.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak kerja? Yang penting kan aku selalu beri kamu uang."
Aku menyentak napas. Uang lagi. Uang lagi. Apa dikiranya aku benar-benar terobsesi dengan uangnya? Sudahlah. Tak guna meladeninya. Kuraih plastik transparan berisi terong ungu lalu mengambil ayam beku.
"Nanti sore ibu mau ke sini. Pura-puralah tak terjadi apa-apa."
"Ya."
"Aku akan membayarmu," imbuhnya.
__ADS_1
"Nggak perlu. Aku sayang ibu."
"Tidak usah munafik. Tujuanmu menikahiku kan karena uang. Jadi, aku akan tetap membayarmu."
Dihina terus-menerus membuatku kesal juga. Aku membalas tatapannya dengan tajam lalu berlari ke kamar mandi, mengguyur tubuh sambil terisak. Begitu usai langsung menuju kamar dan mengganti baju.
"Mau ke mana?" Ia menatapku dari atas ke bawah. Kucueki.
"Aku sudah bilang ibu mau datang," katanya lagi.
"Aku pastikan sebelum ibu datang, aku sudah kembali, Mas!" Sambil menjawab ketus, aku meraih tas.
"Kamu tidak boleh pergi. Aku tidak ijinkan." Tangannya membentang menutupi pintu saat aku hendak lewat.
"Maumu apa sih, Mas?!"
"Jangan pergi. Bagaimana bisa kamu pergi ... astaga! Kamu bahkan tak membuatkanku sarapan."
"Kamu bisa membelinya di pasar."
Ia menyentak napas. "Aku lebih suka nasakanmu. Buatkan aku sarapan. Kubantu."
Aku nyaris tertawa saat mengingatnya memetik kangkung dengan kaku, namun mencoba menahannya agar tawaku tak meledak.
"Kenapa?" Ia mengernyit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, senyum terus tersungging di bibir Mas Danu. Syukurlah kalau bertemu dengan teman lamanya bisa membuat suasana hatinya membaik. Jadi, aku tak harus merasa tegang karena ekspresinya tak sejutek 3 jam yang lalu.
"Sepertinya Mas seneng banget."
"Aku sudah lama tidak bertemu mereka.
Aku mengangguk, membalikkan badan untuk menuju kamar.
"Mau ke mana?"
"Keluar. Aku mau membeli kue kesukaan ibu."
"Aku temani."
Ditemani dia? Yang benar saja. Saat ia menjaga jarak seperti ini, itu hanya akan membuatku merasa tak nyaman.
"Nggak usah. Aku cuma ke pasar Punggur aja."
Ia mengernyit curiga. Pura-pura tak mengerti maksudnya, segera kuambil tas di kamar lalu berjalan keluar sambil merapikan jilbab.
"Kalau cuma ke pasar, kenapa harus membawa tas?"
__ADS_1
"Kan uangnya ada di sini."
"Kamu bisa mengambil dompetnya saja. Atau jangan-jangan ...." Mas Danu terus menatap penuh selidik.
"biar aku saja yang beli kue, kamu di rumah saja."
"Nggak bisa, Mas. Aku mau sekalian beli ikan dan sayuran."
"Jam tiga pasar sudah tutup."
Benar juga.
"Kamu di rumah saja!" Mas Danu melangkah cepat melewatiku. Bergegas aku mengejarnya. Ia mencapai pintu dan hampir menutupnya.
"Mas kenapa, sih?!"
"Kamu yang kenapa?! Aku libur, kamu malah mau keluyuran. Apa uang yang kukasih kurang? Jika iya, aku akan tambahi nanti untuk menyogokmu agar tidak keluyuran!"
Rasa panas menerjang ke dalam dada. Uang lagi. Uang lagi. Aku hanya tidak suka terjebak dengannya seharian dengan sikapnya yang seperti ini. Tahu-tahu, tanganku sudah terangkat lalu mendarat di pipinya. Ia menatapku tak percaya.
"Munafik!" Desisnya kesal.
"Terserah kamu, Mas. Aku mau pergi!" Aku mencoba mendorong tubuhnya menyingkir namun ia bergeming. Aku kembali mendorongnya agar memberiku jalan.
"Sudah kubilang jangan pergi!" Ia menyentakku ke sofa, aku terjatuh dalam posisi duduk. Meringis saat merasakan nyeri di perut.
"Mas ...." Aku akan kembali bangkit untuk mengejarnya yang telah menutup pintu namun mengurungkan niat karena perut bertambah nyeri. Mataku melebar saat mendapati darah merembes dari celana cokelatku. Ini bukan waktunya datang bulan.
"Mas, kembali! Maas! Maas!" Aku berteriak panik mendapati darah mengalir dari ujung kaki, perlahan jatuh ke lantai. Segera kurogoh HP dalam tas lalu menghubunginya.
"Mas! Maas! Kembali! Tolong aku!" seruku panik sambil memegangi perut begitu tersambung.
"Tidak usah pura-pura sakit, Li. Tadi kamu sehat-sehat saja."
"Mas, aku ...."
Klik. Dimatikan. Tangisku berderai. Kuusap air mata lalu menekan nomer ibu.
"Halo, Lii." Sambutnya dengan nada ceria.
"Ibu ...." Aku terisak. "Ibu ... tolong aku. Tolong aku, Bu."
Kumatikan HP saat menyadari tangisku telah bertambah kencang. Perut terasa semakin sakit dan kaku. Seperti ducengkeram. Kemudian mengendur. Begitu terus berulang-ulang.
Aku mencoba bangkit, namun rasa sakit yang sangat lagi-lagi membuatku mengernyit dan mengurungkan niat. Tiba-tiba kurasakan pandangan mengabur lalu semuanya menjadi gelap.
TAMAT
__ADS_1