
Selama libur semesteran kuliah aku memutuskan untuk menginap di rumah tanteku yang memiliki dua anak balita, tanteku itu tinggal hanya berempat dengan dua anaknya dan satu suster dikarenakan sudah bercerai akibat suaminya selingkuh.
Rumah tanteku itu terletak di salah satu perumahan yang cukup elite di bandung walaupun bangunannya sudah lama dan tua, tapi desainnya masih masuk untuk rumah-rumah gaya jaman now.
Aku memang sudah sering mendengar cerita dari tanteku bahwa rumahnya itu berhantu, katanya ketika tanteku hamil mantan suaminya hampir setiap malam suka bertingkah aneh seperti orang yang kemasukan.
Kedua anak tanteku yang masih balita juga katanya sering diganggu kalau malam, terutama setiap jam 3 subuh kedua balita itu pasti menangis tanpa sebab yang jelas dan hal itu aku saksikan sendiri ketika aku nginep disana.
Malam itu kebetulan tanteku mengabari bahwa dia kayanya gak akan pulang karena ada masalah di perusahaannya yang harus segera di selesaikan dan dia nitip anak-anak.
Haripun semakin malam dan sudah waktunya anak-anak untuk tidur, aku menemani mereka tidur sambil berbincang-bincang dengan suster.
"Sus, kamu suka ngalamin hal yang aneh gak?" Tanyaku iseng ketika sudah kehabisan bahan obrolan.
"Aneh-aneh gimana mba?"
"Ya kan katanya si tante rumah ini horor cus."
"Hmm gak sih mba, kalau aku mah adem-adem aja tuh. Cuma ya emang kalau subuh anak-anak pasti nangis susah di tenanginnya, gak jelas lagi apa penyebabnya."
Aku hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban si icus, karena aku ngelihat si icus kaya yang nyembunyiin sesuatu.
"Ya udah deh cus yuk kita tidur, udah malem dan anak-anak juga udah tidur." Ajakku yang sudah mulai mengantuk.
Akhirnya aku dan icus pun tertidur, ya malam ini aku memutuskan tidur bersama icus dan kedua sepupuku di kamarnya icus karena gak ada tanteku dan aku gak enak kalau harus tidur di kamar tanteku sedangkan yang punya kamarnya lagi gak ada.
__ADS_1
Menjelang subuh aku terbangun karena pengen ke wc, aku mengerjap melihat sekelilingku karena merasa ada yang aneh.
"Cus..cus!! Bangun!" Seruku mengguncangkan tubuh suster yang sedang tertidur di sebelahku agar bangun, aku panik setengah mati saat itu karena kedua adikku gak ada di kamar saat aku bangun.
"Apa mba?" Tanyanya dengan suara datar.
"Anak-anak gak ada cus?" Tanyaku panik, seketika terlupakanlah panggilan alam yang menjadi alasan aku terbangun tadi.
"Di kamar ibu kali." Jawabnya lagi-lagi dengan suara datar yang sama sekali belum aku sadari karena terlalu panik.
Aku langsung berlari keluar kamar suster menuju ke kamar tanteku, disana aku melihat kedua adikku sedang tidur di kasur bersama dengan suster mereka.
Deg..deg..deg..
Kalau itu suster dan anak-anak, terus yang semalem tidur sama aku siapa? Batinku. Aku mendekati kasur untuk memastikan bahwa yang aku lihat tidur di kasur itu benar-benar suster dan adik-adikku.
"Hmmm.. Apa mba?" Tanyanya sambil meregangkan tubuhnya dan mengerjapkan mata ala-ala bangun tidur.
Aku tersentak dan mengingat suster-susteran yang sepertinya menemani aku tidur semalam, aku memberanikan diri untuk melirik ke luar kamar dimana ada sesosok perempuan dengan muka yang rusak sedang tertawa sambil menatapku.
"Astagaa.." Teriakku sambil buru-buru naik ke atas kasur dan memeluk icus yang aku yakini adalah icus asli, suara tawa perempuan itu sudah berhenti dan aku memberanikan diri lagi melihat ke arah luar kamar berharap perempuan itu benar-benar sudah pergi, tapi ternyata tidak, dia sekarang sedang asyik menatap ke arahku, suster dan kedua adikku.
"Kenapa sih mba?" Tanyanya kebingungan melihat tingkahku.
Ketika aku mau menjawab pertanyaan icus, tiba-tiba kedua adikku nangis dan refleks aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi.
__ADS_1
Aku membantu icus menenangkan kedua balita itu agar mereka terlelap kembali, dengan sekuat tenaga aku berusaha mengabaikan ketakutanku kepada perempuan yang masih berdiri di depan pintu kamar tanteku sambil memperhatikan kami dengan wajahnya yang rusak.
"Mba, tadi mba kenapa sih?" Tanya icus ketika kedua adikku sudah tidur kembali, membuat aku kembali melirik ke luar kamar untuk melihat apakah perempuan itu masih ada.
Syukurlah perempuan itu udah gak ada, aku berlari menuju pintu kamar dan menutupnya.
"Cus, kok icus tidur di sini sih?" Tanyaku setelah kembali ke kasur dan duduk dekat icus.
"Lah kan mba yang malem-malem bangunin saya dan ngajakin pindah kesini, katanya disana gak bisa tidur panas gak ada AC."
"Hah?" Gumamku.
"Kenapa sih mba?" Tanya icus yang sepertinya makin bingung dengan tingkahku.
Aku mulai menceritakan semuanya kepada icus dan selesai aku menceritakan kejadian-kejadian aneh itu, icus juga menceritakan bahwa semalam dia di bangunin oleh sosok yang seperti diriku dan mengajaknya serta anak-anak pindah ke kamar utama.
"Emang icus gak liat ada dua aku gitu?" Tanyaku berusaha mengejar sebuah logika. "Kan kalau icus dibangunin sama sosok yang kaya aku, icus pasti bisa lihat aku yang asli lagi tidur."
"Mana kepikiran atuh mba, namanya juga dikerjain mahluk gaib mah yang ada juga bisa jadi gak ada dan sebaliknya."
"Icus kok kayanya biasa aja sih?" Tanyaku curiga melihat respon icus yang sama sekali gak terkejut mendengar ceritaku itu.
"Bukan biasa aja mba, sebenernya saya sama ibu juga takut. Tapi gimana? Ibu juga mau pindah gak ada uang, rumah ini dijual juga lakunya pasti jatuh karena udah terkenal sama penduduk sekitar kalau rumah ini angker." Jawab icus. "Hal yang mba alamin mah udah pernah icus dan ibu alamin, icus juga pas awal kerja disini mah takut sampai nangis-nangis pengen keluar. Cuma ya icus kasihan sama ibu dan anak-anak, jadi ya icus berusaha bertahan dengan cara banyak-banyak doa."
"Jadi icus juga pernah ngalamin kaya gini sebelumnya?" Tanyaku terbelalak.
__ADS_1
"Iya mba. Dulu pas masih ada bapa, ibu pernah sekali minta tidur tidur di kamar icus karena bapa gak pulang-pulang dari rumah selingkuhannya. Waktu itu ibu ngomong ke saya kram perut lagi hamil tua si dede kan, jadi dia ngebangunin saya dan bilang mau tidur di kamar saya. Eh gak taunya pas mau sholat subuh saya liat ibu lagi tidur nyenyak di kamarnya sama kaka dengan pintu kamar kebuka, akhirnya saya mikir iya juga ya masa ibu mau tidur di kamar saya gak sama kaka lagi, ya udah karena penasaran saya gak jadi wudhu dan balik ke kamar, eh gak taunya saya ngeliat perempuan tidur tapi wajahnya rusak. Ya udah dari situ saya teriak dan nangis-nangis ke ibu." Ceritanya membuatku menghela nafas karena harapan saya bahwa itu hanyala halusinasi seketika musnah, karena takut malam itu aku memilih untuk diam menunggu pagi datang sambil menahan hasratku untuk ke wc.