Pemburu Keadilan

Pemburu Keadilan
Laka Yang Aneh


__ADS_3

Entah kenapa malam itu Prof. Ir. Sedah Prapanca bersama istrinya Prof. Ir. Lily Gayatri terkesan terburu-buru untuk bergegas mengajak anaknya, Rama, untuk ikut ke rumah paman dan bibi Rama, yakni Paman Tantular dan Bibi Rajapatni. Tepat jam 19.30 mereka mengendarai mobil meninggalkan rumahnya di bilangan perumahan dinas Badan Riset Negara di daerah Kemang Jakarta menuju rumah paman dan Bibi Rama di daerah Bintaro.


Mereka mengendarai mobil dengan rerata kecepatan 60 km / jam hingga akhirnya bisa sampai di tujuan jam 21.00. Prof. Ir. Sedah Prapanca segera mengetuk pintu rumah, dan kebetulan Paman Tantular sudah menunggu di ruang tamunya dan segera membukakan pintu untuk Prof. Ir. Sedah Prapanca sekeluarga. Kemudian Rama kecil yang masih berusia 7 tahun diajak Bibi Rajapatni untuk ke dapur supaya bisa diberikan makan malam. Sementara itu Paman Tantular terlibat pembicaraan serius dengan orang tua Rama.


Mereka tampaknya berdebat dengan serius hingga suaranya sayup-sayup terdengar hingga ke ruang makan, tempat Rama sedang menikmati makan malam dan ditemani oleh Bibi Rajapatni. Setelah makan malam Rama selesai dihabiskan, Rama menjadi agak mengantuk akibat kekenyangan dan sempat tertidur sejenak di meja makan.


Namun di sela - sela sadarnya Rama setelah dibangunkan dari tidur, Rama masih bisa melihat walaupun dengan samar  - damar ketika kedua orang tuanya mencium kening Rama sambil mengucapkan kalimat pamit pergi meninggalkan Rama di rumah Paman Tantular dan Bibi Rajapatni. Adegan pamitan itu selalu diingat oleh Rama karena saat itulah terakhir kalinya Rama melihat wajah kedua orang tuanya dalam keadaan tersenyum kepadanya.


Karena setelah itu, Rama dibawa ke ruang tidur khusus oleh Bibi Rajapatni dan kemudian Rama terlelap tidur. Sementara itu, kedua orang tua Rama yang tampak terburu - buru, meninggalkan rumah Paman Tantular menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng sekitar jam 22.00. Kecepatan mobil sengaja digeber hingga rerata 80 km / jam, dan ketika memasuki jalan tol. kecepatannya ditingkatkan menjadi 100 km / jam.


Mereka mengejar penerbangan tetakhir dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng pada pukul 01.00 dini hari dan harus menempuh perjalanan dari daerah Bintaro menuju bandara yang membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Namun ketika mereka sudah berada di jalan tol menuju bandara, tiba-tiba terjadi kecelakaan lalu lintas yang aneh.


Mobil yang mereka kendarai tiba-tiba berhenti sendiri dan semua perangkat elektronik di dalam mobil mati secara tiba-tiba," Blupp..!"

__ADS_1


Orang tua Rama menjadi sangat terkejut dan tidak tahu apa yang terjadi. Karena kecepatan mobil sebelumnya sangatlah tinggi, orang tua Rama tidak bisa mengendalikan mobilnya yang menjadi oleng lalu kemudian menabrak pagar pembatas pinggir jalan tol hingga mobil mereka peyok, "Brakkk..!! "


Mereka kaget akhirnya menabrak pagar pembatas pinggir jalan tol dengan benturan yang keras, lalu mencoba menghidupkan kembali mobilnya tersebut, tetapi tidak berhasil. Akhirnya mereka memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan kaki menuju gerbang tol terdekat untuk mencari bantuan.


Dengan sedikit luka di dahi dan tangan akibat terjepit airbag, mereka mencoba berjalan untuk mencari bantuan. Namun, ketika mereka melihat sekeliling mereka, mereka melihat hal yang aneh.


Hampir semua mobil yang melintas di jalan tol tersebut dan berada di radius 1 km dari lokasi mobil mereka, mengalami masalah yang sama. Semua perangkat elektronik dalam mobil tersebut mati secara tiba-tiba dan tidak dapat dihidupkan kembali. Sehingga banyak mobil yang chaos di jalan tol dan saling bertabrakan serta menyebabkan terjadinya tabrakan massal di jalan tol.


Setelah berusaha mencari bantuan dan tidak mendapatkan solusi, Orang tua Rama memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki tertatih - tatih menuju bandara. Mereka harus berjalan sejauh 10 km lagi, dengan membawa satu tas kerja mereka yang paling penting.


Meskipun merasa kelelahan dan khawatir, mereka tetap memutuskan untuk terus berjalan demi mengejar penerbangan internasional mereka.


Tapi baru saja berjalan sepanjang 3 km, tiba - tiba mereka disorot oleh lampu terang yang berasal dari beberapa drone yang terbang melayang rendah di atas mereka. Cahaya lampu tersebut sangatlah terang, sehingga membuat orang tua Rama menjadi silau, ketakutan dan berlari secepatnya menghindari drone - drone tersebut.

__ADS_1


Karena mereka berlari dengan ketakutan sehingga tiba - tiba tanpa disadari mereka, ada mobil asing yang juga mengalami mati mendadak dari sebelumnya berkecepatan tinggi dan oleng menghampiri lokasi orang tua Rama. Mobil yang tidak bisa dikendalikan tersebut akhirnya menabrak orang tua Rama dengan sisa kecepatannya yang masih tinggi.


Mobil itu menabrak orang tua Rama dan menyeret mereka hingga sepanjang 4 km sampai mobil terhenti tertahan pagar pembatas pinggir jalan tol. Orang tua Rama tewas seketika menjadi korban tabrakan mobil tersebut. Drone - drone yang tadinya menyoroti mereka dengan cahaya terang, kemudian terbang tinggi meninggalkan mereka dalam keadaan lampu sudah dipadamkan.


Orang tua Rama menjadi salah dua korban kecelakaan lalu lintas massal di jalan tol malam itu dari total 5 korban tewas dan 15 korban luka - luka dan 8 mobil rusak berat. Kabar meninggalnya orang tua Rama segera dikabarkan oleh polisi kepada Paman Tantular dan Bibi Rajapatni sekitar jam 4 pagi.


Mereka pun langsung bergegas dengan mengajak Rama kecil menuju rumah sakit tempat jenazah orang tua Rama disemayamkan sementara untuk memeriksa dan mengurus semuanya. Setelah dipastikan bahwa yang meninggal tersebut adalah benar - benar orang tua Rama, Paman dan Bibi Rama lalu mengurus semua administrasi rumah sakit supaya jenazah bisa dimakamkan di pagi harinya.


Jenazah orang tua Rama kemudian dibawa oleh ambulance menuju rumah Paman dan Bibi Rama sekitar jam 7 pagi. Setiba di rumah Paman dan Bibi Rama pada jam 9 pagi, jenazah orang tua Rama kemudian  disemayamkan sejenak di ruang tamu untuk selanjutnya akan dimandikan oleh pengurus masjid terdekat. Tampak hanya para tetangga rumah dari Paman dan Bibi Rama yang hadir untuk bertakziah, sedangkan para kolega dari orang tua Rama tidak tampak hadir.


Tepat jam 13.00 jenazah orang tua Rama diberangkatkan ke pemakaman umum di daerah Bintaro untuk dimakamkan. Dibantu oleh para tetangga Paman dan Bibi Rama, acara pemakaman itu bisa diselesaikan dengan baik. Rama yang mengikuti Paman dan Bibinya dari rumah sakit hingga pemakaman, hanya bisa mengikuti rangkaian kegiatan itu dengan diam. Ada rasa sedih dan kecewa dalam hati Rama melihat kenyataan bahwa kedua orang tuanya akhirnya benar - benar terpisah dengannya selamanya.


Rama tadinya hanya berpikir bahwa pamitan semalam hanya pamitan untuk pergi selama beberapa hari saja, dan pulangnya nanti orang tua Rama akan membawakan oleh - oleh mainan seperti sebelumnya yang sering diberikan mereka. Rama yang masih berusia 7 tahun tersebut, diam - diam dalam hatinya merasa sedikit marah terhadap kenyataan yang sudah terjadi. Rama kecil merasa tidak adil baginya karena sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, apalagi ketika dia melihat teman - teman seumurannya bermain - main dengan kedua orang tuanya. Inilah rasa ketidakadilan awal di jiwa Rama yang menjadi cikal bakal naluri pemberontakan Rama saat tumbuh menjadi remaja dan menyikapi setiap adanya ketidakadilan di matanya.

__ADS_1


__ADS_2