
Rama bersekolah dan tumbuh dari umur 7 tahun bersama Paman Tantular dan Bibi Rajapatni. Kehidupan Paman Tantular dan Nini Rajapatni bukanlah berkecukupan sama seperti saat Rama bersama kedua orang tuanya di perumahan dinas Kemang. Paman Tantular yang membuka jasa servis elektronik hanya mengandalkan penghasilan tidak tetapnya dari banyak atau sedikitnya alat elektronik yang bisa diservis olehnya. Sementara Bibi Rajapatni hanyalah ibu rumah tangga yang mendukung Paman Tantular untuk merawat rumah tempat tinggalnya di daerah Bintaro.
Rama kecil dengan perawakan tubuh yang tidak besar, tumbuh menjadi pribadi yang pendiam tapi cerdas. Walaupun pendiam, tapi Rama kecil sangat aktif berkegiatan sendiri dan paling tidak suka melihat teman atau orang dizholimi.
Dengan jiwa pemberontak seperti Rama, namun tidak didukung dengan tubuh yang besar, Rama hanya menjadi bulan-bulanan dari teman - temannya saat berkelahi membela temannya yang dizholimi. Ujung - ujungnya adalah Bibi Rajapatni yang selalu merasa kuatir terhadap Rama apabila Rama sedang bermain di luar rumah, karena beliaulah yang selalu merawat luka - luka Rama akibat berkelahi dengan temannya. Peringatan dari Paman Tantular supaya Rama untuk bisa mengalah dan menghindar dari perkelahian juga tidak menyurutkan naluri Rama untuk selalu membela keadilan versi Rama kecil.
Banyak bekas luka yang masih belum hilang dari dahi Rama akibat perkelahian. Namun bekas luka tersebut tidak memudarkan aura ketampanan Rama sebagai laki - laki pemberani dan cerdas.
Rama kecil sangat menyukai segala sesuatu yang menyangkut dengan teknologi, menurun dari sifat kedua orang tuanya yang keduanya adalah insinyur. Apalagi Paman Tantular juga sering mengajari Rama cara servis alat elektronik, sehingga lambat laun Rama sudah bisa menguasai dasar - dasar elektronika walaupun baru menginjak pendidikan SD kelas 3.
Di kelas 4 SD, Rama sudah bisa membuat lampu LED dengan hanya menyambungkan LED dengan resistor dan sumber listrik untuk membuat lampu LED yang dapat dinyalakan. Di kelas 5, Rama sudah bisa membuat sistem alarm sederhana yang dapat digunakan untuk mengamankan rumah atau kantor. Dalam pembuatannya, Rama hanya perlu memasang sensor gerakan dan buzzer yang akan berbunyi ketika ada gerakan yang terdeteksi.
Sedangkan contoh alat elektronika yang dibuat di kelas 6 SD adalah pengukur suhu digital yang dapat digunakan untuk mengukur suhu ruangan atau suhu benda. Dalam pembuatannya, Rama hanya perlu menggunakan sensor suhu dan mikrokontroler untuk mengolah data suhu menjadi angka digital yang dapat dibaca pada layar LCD.
__ADS_1
Semakin besar, Rama semakin cerdas dalam menggeluti dunia teknologi, terutama yang terkait dengan Artificial Intelligence (AI). Di usia yang menginjak pendidikan SMP kelas 1, Rama sudah bisa membuat alat pengatu suhu rumah pintar, sebagai improvisasi dari alat pengukur suhu digital yang dibuat sebelumnya. Rama menggunakan sensor suhu dan mikrokontroler untuk membuat alat pengatur suhu rumah pintar yang dilengkapi dengan AI. Alat ini akan belajar dari pola penggunaan suhu dan kebiasaan pengguna untuk secara otomatis mengatur suhu yang diinginkan tanpa perlu intervensi pengguna. Alat ini dibangun Rama dan dipakai di rumah Paman Tantular dan Bibi Rajapatni sehingga rumah Paman dan bibinya akan selalu hangat terkendali.
Rama juga bisa sudah bisa membuat alat pengenal wajah, yang menggunakan kamera dan mikrokontroler untuk membuat alat pengenal wajah yang dilengkapi dengan AI. Alat ini dapat mengenali wajah manusia dan memungkinkan pengguna untuk membuka kunci perangkat dengan mudah dan aman. Kamar khusus Rama sudah menggunakan alat ini supaya bisa menjaga privacy Rama dari "gangguan" Paman dan Bibinya.
Karena Paman dan Bibi Rama yang sudah berusia lanjut, Rama lalu menciptakan alat pemantauan kesehatan pintar, yang menggunakan sensor suhu, detektor denyut nadi, dan mikrokontroler untuk membuat alat pemantauan kesehatan pintar yang dilengkapi dengan AI. Alat ini akan belajar dari pola kesehatan pengguna dan memberikan peringatan dini jika terjadi gangguan kesehatan atau penyakit. Paman dan Bibi sangatlah terbantu dengan alat ini supaya bisa memonitor kesehatan mereka.
Di kelas 3 SMP, Rama berhasil membuat robot pintar yang sederhana dengan menggunakan komponen elektronik dasar dan melengkapi dengan AI untuk membuatnya lebih pintar. Robot ini dilengkapi dengan sensor jarak dan kamera untuk mendeteksi objek dan mengambil keputusan sendiri, seperti menghindari rintangan dan mengejar objek tertentu. Robot ini menjadi cikal bakal dari rencana Rama membuat asisten virtual pribadi untuk dirinya setelah sekarang dia berusia 18 tahun .
Kecerdasan otak Rama sudah diakui oleh Paman Tantular dan Bibi Rajapatni. Itulah mengapa mereka selalu bekerja keras supaya bisa membiayai pendidikan Rama agar tidak terhenti. Untung saja, alat - alat yang dibuat oleh Rama bisa diperjual belikan sehingga bisa menambah pendapatan dari Paman Tantular, apalagi saat jasa servis alat elektronik sedang sepi.
Perkembangan mental Rama juga menjadi perhatian dari Paman Tantular dan Bibi Rajapatni. Karena ternyata Rama masih belum lupa dari ingatan atas kematian orang tuanya yang tragis serta kekecewaannya atas "ketidakadilan" takdir di masa kecilnya. Jiwa pemberontak Rama selalu dipantau oleh Paman Tantular dan Bibi Rajapatni, dengan tidak selalu lupa untuk mengingatkan agar menghindari perkelahian dalam kondisi apapun juga. Namun karena jiwa Rama yang masih puber dan belum stabil, maka nasihat dari paman dan bibinya tersebut hanya akan bisa dijaga sebentar saja, karena begitu Rama melihat ketidakadilan, jiwa pemberontak nya akan langsung keluar untuk membantu orang - orang yang tertindas walaupun fisik Rama tidak mendukung untuk berkelahi.
Tadinya Rama pernah mencoba untuk berlatih silat di perguruan "Terate Hati" saat usianya 10 tahun. Rama mencoba berlatih silat supaya tidak selalu kalah dalam berkelahi. Namun ternyata latihan tersebut hanya berlangsung hingga usia 12 tahun, karena Rama sudah sangat menyukai kegiatan rancang bangun alat elektronika sehingga mengalahkan jadwal latihan silatnya. Selama latihan silat tersebut, Rama hanya bisa menguasai dasar - dasar menghindari serangan lawan, belum sampai kepada teknik menyerang lawan.
__ADS_1
Kini waktu Rama sangat tersita oleh kegiatan rancang bangun alat elektronika, apalagi setelah kegiatan ini bisa menghasilkan uang baginya dan buat Pamannya. Setelah pulang sekolah, Rama bisa tidak beranjak keluar dari kamarnya seharian akibat sedang membuat alat elektronika baru. Apalagi kini dia juga sudah menguasai dasar-dasar AI, sehingga menambah semangat Rama untuk menciptakan banyak teknologi pintar.
Namun sore ini Paman Tantular dan Bibi Rajapatni dikejutkan oleh kedatangan dua orang yang mengaku dari Badan Riset Negara ke rumah mereka. Mereka mengantarkan beberapa arsip dan barang milik orang tua Rama yang masih tersimpan selama 11 tahun di gedung Badan Riset Negara. Mereka menganggap arsip dan barang tersebut bukan aset penting negara dan bisa dikembalikan kepada ahli waris keluarga Prof. Ir. Sedah Prapanca.
Di antara barang yang diserahterimakan tersebut ternyata ada sebuah cincin bermata batu giok ungu yang sangat indah dipandang mata. Ketika cincin itu diperlihatkan kepada Rama, lalu dicoba dipasangkan di jari - jari Rama, ternyata cincin itu sangat pas disematkan di jari manis kanan Rama. Tentu saja Rama sangat senang mendapatkan satu- satunya barang peninggalan dari orang tuanya setelah 11 tahun lamanya.
Kemudian Rama mendapatkan berkas arsip - arsip orang tuanya yang ternyata hanya berupa foto - foto saat keduanya sedang berdinas. Namun ada satu foto kedua orang tua Rama saat bersama Rama berusia 5 tahun, di bawahnya tertulis kalimat "Oscula Lapidem Nephritici Annuli Tunc Dic Bismillah ! ". Rama pun segera mengetikkan kalimat tersebut di aplikasi google ponselnya, dan kemudian muncul dari Google Translate kalimat " Cium Batu Giok Cincin Lalu Ucapkan Bismillah! ".
Rama heran dan bingung menduga arti dari kalimat tersebut. Sepertinya itu kalimat perintah dan kebetulan ada batu Giok cincin yang baru saja diterimanya. Rama menduga ini pasti ada hubungannya antara kalimat di foto tersebut dengan cincin batu Giok yang baru saja terpasang di jari manis kanannya. Rama lalu mencoba mengikuti arahan dari kalimat yang tertulis itu, sekejap lalu mencium dan mengucap Bismillah, namun tidak ada efek yang terjadi berikutnya.
Rama semakin bingung dan penasaran dengan maksud dari kalimat tersebut. Rama mencoba mengulanginya lagi, namun tetap tidak ada perubahan yang terjadi. Rama menjadi agak stres terhadap ini, dan biasanya kalau sedang stress Rama sering menggigit - gigit punggung jari manis kanannya. Kali ini dia tidak bisa menggigit - gigit punggung jari manis kanannya, karena ada batu Gio dan Rama hanya bisa menggigit - gigit kecil batu Giok yang keras itu. Rama sempat berhenti sebentar seperti tampak orang yang mencium batu Giok dan berpikir sesuatu, lalu dengan spontan dia berteriak, "Bismillah! "
Rama seperti orang yang barusan mendapatkan ide baru. Namun tanpa disadarinya, apa yang dilakukan dan diucapkan Rama tadi telah mengaktifkan sistem alat yang berada di cincin batu Giok ungu tersebut. Ring cincin batu Giok Ungu tersebut kemudian bergerak sendiri nya dan mencengkeram agak keras jari manis Rama sehingga jari manis Rama keluar sedikit darah. Darah tersebut kemudian diserap oleh Ring Cincin Batu Giok Ungu.
__ADS_1
Rama keget tiba - tiba jari manisnya terasa sakit dan berdarah. Namun sepuluh detik kemudian, tiba - tiba di telinga Rama terdengar suara, " Otentifikasi 100% komplit, dan verifikasi berhasil. Selamat siang Rama! "