
Jika jatuh cinta adalah sebuah anugerah, lalu kenapa ceritaku sekarang seperti sebuah kesalahan. Aku mencintai seseorang yang mustahil untuk kuajak bercerita bersama dalam satu buku. Bukan, kami bukan beda perasaan, Aku yakin kami memiliki perasaan yang sama. Ini lebih sulit dari perbedaan perasaan yang masih
bisa dibuat sama oleh takdir. Ini tentang sebuah jarak yang rumus fisika pun tak mampu memecahkannya.
Dulu aku pikir antartika adalah jarak paling jauh, Nyatanya antarakita lebih jauh dari itu. Antartika hanya beda benua sementara antarakita beda iman. Antartika menjanjikan perjalanan yang pasti berujung dimana, sementara antarakita seperti mengarungi ombak tanpa pasti didermaga mana berlabuhnya. Atau bahkan kemungkinan terbesarnya adalah kita berlabuh didermaga yang berbeda.
Apa aku harus menyerah pada keadaan ? Membiarkan semesta menertawakanku yang akhirnya mengaku kalah pada kenyataan, Merelakan ceritaku selesai tanpa sempat aku mulai, Memaksa melepas padahal menggenggamnya pun belum.
Katanya jika kita mencintai seseorang, Maka luluhkan Tuhannya terlebih dahulu. Lantas dengan cara apa aku bisa meluluhkan Tuhannya jika kenyataanya aku sajadah sementara dia rosaria ? Tuhan yang mana yang harus aku luluhkan ? Sangat rumit bagiku, tapi mungkin untuk sebagian orang ini adalah bentuk perjuangan dan
__ADS_1
pengorbanan cinta. Berjuang dan berkorban dengan menghianati Tuhan akhirnya ? Aku memilih saling menghianati perasaan masing-masing. Aku tak sampai hati merebutnya dari Tuhannya, Pun dengan aku yang tak ingin meninggalkan Tuhanku demi sebuah cerita yang dari awal kutahu sebagai sebuah ketidakmungkinan bahkan bisa jadi sebuah cerita yang salah.
Sebut aku pengecut, yang setia berdiri ditengah keragu hati, tak berani mengambil keputusan. Ini adalah
perjalanan yang jika diteruskan salah, berhenti pun seperti sulit untuk dilakukan.
Aku tak ingin berprinsip jalani saja dulu biar waktu yang menjawab bagaimana cerita kita nanti. Karena itu sama
saja aku mencoba memberikan harapan palsu tidak saja pada perasaannya tapi juga perasaannku. Aku tak mau sesumbar menjanjikannya masa depan, jika hatiku saja belum mampu tersentuh yakin. Aku tak ingin melukainya dengan selalu melafadzkan namanya disepertiga malamku namun bukan namanya yang kuikrarkan dihadapan
__ADS_1
Allah. Aku tak ingin mematahkan sebuah hati meski tau pada akhirya kita akan sama-sama terluka.
Meski bibirnya sering mengatakan memilihku sebagai bukti bahwa dia berjuang untuk cintahnya, Namun aku tak ingin dia memilihku karena cintanya kepadaku semata, aku juga harus yakin kalau dia juga benar-benar mencintai Tuhanku. Sebab seperti musim perasaan manusia juga gampang berubahnya jika tidak benar-benar mencintai Tuhannya. Tidak ada yang tau dan mampu menebak perasaan seseorang selain dirinya sendiri bukan ?
Dalam perjalanannya, aku berharap dipersimpangan itu aku dan kamu sudah berada dijalan yang sama meski
sulit. Jika kamu tak sanggup memilih, tidak apa untuk aku berjalan mundur, memberi jalan pada hati yang lain, yang bisa menemanimu berjuang tanpa harus mengukur jarak yang terlampau jauh. Dengan begitu tidak lagi ragu buatmu untuk melangkah saling menggenggam tanpa perbedaan. Untuk saat ini tidak perlu kita saling menggenggam dengan begitu erat, cukup saling merangkul memberi tempat pada mengerti, jika kelak kita benar-benar berlabuh di dermaga yang berbeda.
****
__ADS_1