
Brina menggertakkan giginya dengan keras. Satu paragraf yang menjadi penutup artikel yang dia baca, membuatnya geram. Dengusan kasar keluar bibirnya. Artikel itu benar-benar sangat menggambarkan Pengacara Sinaga yang baik dan pengertian. Sementara di satu sisi, merugikan Brina.
Secara terang-terangan artikel itu menyebutkan kemarahan Brina yang tidak bisa dikontrol dan Julius dengan baik hati masih mau menerima permintaan maaf Brina. Pengacara itu dengan licik membuat Brina seolah-olah wanita yang sulit mengendalikan emosinya. Orang-orang yang membaca ini pasti akan berpikiran bahwa Brina memiliki masalah psikologi yang serius atau dengan kata lain wanita gila.
“Ah. Dasar pengacara sialan! Dia benar-benar bertingkah dengan baik sebagai korban.” Seru Brina kesal.
Setelah ini pastilah reputasinya sebagai konsultan dan arsitek terbaik di perusahaan akan tercoreng. Bahkan nama baik perusahaan pun atan tercoreng.
Brina bisa saja balik menuntut Julius atas pencemaran nama baik karena artikel itu, namun dia masih punya nurani dan tak ingin semakin menambah masalah lagi di hidupnya. Semoga saja orang-orang akan cepat melupakan berita tentangnya.
“Nona Sabrina.” Pak Herman tiba-tiba saja masuk dan duduk di sofa Brina.
“Ada apa, Pak?” tanya Brina.
Brina sebenarnya sedikit kesal pada Pak Herman karena atasannya itu selalu masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Sepertinya pria tua itu sudah melupakan adab bertamu ke orang lain.
“Proyek untuk pembangunan villa Pak Andrew bisa ditunda dulu tiga bulan?”
“Baru saja saya ingin meminta pengajuan untuk berangkat ke Bali minggu depan untuk mengecek lahannya, Pak. Memangnya ada apa, Pak?”
“Begini.” Pak Herman mengangkat sebelah kakinya dan bertumpu pada kaki lainnya. “Pak Direktur, meminta kepada saya langsung untuk meminta kamu mendampingi beliau dalam proyek gedung rumah sakit di Jakarta Utara.”
“Saya? Bukannya Pak Irwan yang memimpin proyek itu?” Brina mengernyit bingung. “Lagipula itu bukan keahlian saya.”
Pak Herman melambaikan tangannya, menyuruh Brina untuk duduk bergabung dengannya. Brina menurutinya dan duduk di sofa berhadapan dengan Pak Herman.
"Kamu belum mendengar beritanya?” tanya Pak Herman, Brina hanya menggeleng. “Kabarnya Saina Corp akan mengambil alih dan meneruskan pembangunan rumah sakit itu.”
“Saina Corp?” kening Brina mengerut.
“Mungkin itu alasan Pak Direktur memintamu untuk mendampinginya di proyek itu.” Ucap Pak Herman. Brina hanya mengangguk, tak merespon. “Saya tidak tahu kamu harus melakukan apa, kamu bisa langsung tanya ke Pak Direktur.”
“Iya. Baik, Pak.”
Pak Herman mengangguk lalu beranjak untuk pergi dari ruangan Brina. Brina ikut berdiri dan mengantar Pak Herman keluar ruangannya. Namun saat akan menutup pintu, Pak Herman malah menahannya dan menatap Brina heran.
“Mau apa kamu?” tanya Pak Herman.
“Saya mau lanjut kerja lagi, pak.” Jawab Brina sedikit bingung.
“Kamu tidak dengar apa yang saya bilang tadi?” raut wajah Brina semakin bingung. “Kamu bisa langsung tanya ke Pak Direktur. Sekarang kamu disuruh menghadap ke Pak Direktur. Sekarang cepat pergi ke ruangannya.” Jawab Pak Herman dan langsung melengos, pergi ke ruangannya tanpa menunggu jawaban Brina.
Tatapan Brina menyipit menatap punggung Pak Herman yang semakin menjauh. Perkatan Pak Herman selalu ambigu dan membuat dia tidak mengerti arah perkataannya. Brina menghela napas lalu meninggalkan ruangannya untuk pergi ke ruangan Evan Wilde.
***
Tarikan napas kencang keluar dari mulutnya. Matanya berputar ke kanan ke kiri, mengamati seluruh ruangan Direktur. Sudah lebih dari lima belas menit, Brina menunggu Evan Wilde di ruangan Direktur. Atasannya itu tidak ada ketika Brina mendatanginya. Dia hanya disuruh untuk menunggu oleh sekretaris Direktur.
Brina lalu memilih mengeluarkan ponselnya dan membaca lagi pesan masuk dari Salsa. Kakaknya itu sejak pagi sudah banyak mengiriminya pesan masuk yang menanyakan soal pertikaiannya dengan Pengacara Sinaga.
__ADS_1
Brina tak memberitahukan keluarganya sama sekali mengenai masalahnya. Terlebih sejak bekerja, dia memilih untuk keluar dari rumah dan menyewa apartemen untuk tinggal sendiri. Untuk itu dia tidak menceritakan banyak soal masalahnya, apalagi kepada Salsa, yang akan sangat mengkhawatirkannya. Bahkan ketika Brina terkena suspensi selama dua minggu, keluarganya tidak ada yang tahu.
Pintu besar dari kayu jati yang menjadi jalan masuk ruangan Direktur terbuka. Brina yang baru selesai membalas pesan khawatir kakaknya itu, segera menutup ponselnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk.
Sang Direktur Wilde Construction Company, muncul dengan berwibawa. Brina yang sudah berada dalam posisi berdiri, seketika teringat dengan perkataan terakhir yang Evan ucapkan. Sampai saat ini dia sama sekali belum mengerti maksud dari Evan mengatakan hal itu padanya.
“Nona Sabrina.” Sapa Evan seraya melepas blazzernya dan memberikannya kepada sekretarisnya.
"Siang, Pak." balas Brina menyapa Evan.
Evan mengambil tempat duduk di sofa berhadapan dengan Brina. Matanya menatap Brina dalam diam. Dia tampak begitu mengamati Brina saat ini. Sementara itu, wanita yang sedang diamatinya, merasa gugup. Tatapan Evan membuat Brina langsung gugup.
Brina berdehem sebentar sebelum mengeluarkan suaranya. "Sebelum.. saya menanyakan maksud.. Anda memanggil saya, saya ingin membicarakan tentang mediasi saya dengan Pengacara Sinaga kemarin lusa, Pak." ucap Brina.
"Ada masalah?" tanya Evan.
"Semua masalah dan gugatan yang diajukan Pengacara Sinaga sudah dicabut dan dia sudah memafkan segala perilaku saya." jawabnya. Brina diam-diam meneliti ekspresi Evan yang hanya diam, menampilkan wajah dinginnya. "Emm.. saya sempat berbicara dengan Pak Randi. Beliau bilang bahwa saya harus berterima kasih langsung kepada Anda karena telah membantu saya melawan Pengacara Sinaga dan membuat dia menarik gugatannya."
"Sama-sama?" Evan menarik kecil sudut bibirnya dan Brina melihat itu sebagai senyum angkuhnya yang biasa. Brina benci melihatnya.
Brina tergelak. "Sebelum saya berterima kasih kepada Anda, saya ingin menanyakan sesuatu." Evan kini memasang wajah seriusnya. "Penawaran apa yang Anda berikan kepada Pengacara Sinaga agar mau mencabut gugatannya?"
Kening Evan berkerut dalam. "Apa maksud dari pertanyaanmu ini, Nona Sabrina? Apa Anda menuduh saya sudah menyogok Pengacara Sinaga?" tanya balik Evan.
Brina tertawa gugup dengan pelan. "Sebenarnya bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin bertanya bagaimana cara Anda merayu Pengacara Sinaga agar dia mau mencabut gugatannya? Saya mendengar bahwa Julius Sinaga terkenal dengan sifat keras kepalanya dan dia tidak mudah untuk diajak berdamai." Brina menghela napasnya sesaat lalu menatap Evan tepat pada iris coklatnya. "Jadi, jelas bagaimana cara Anda merayu Julius untuk mencabut gugatannya?"
"Kenapa kamu tiba-tiba penasaran, Sabrina?"
Brina memutar matanya malas. Dia sebenarnya tidak ingin berdebat, tapi pria menyebalkan yang sialnya atasannya ini, malah tertawa dan membuat Brina kesal. Dia hanya ingin jawaban dari rasa penasarannya.
Kalau pun jawaban yang diberikan Evan sesuai dugaannya, Brina harap itu tidak pernah terjadi. Dia tidak suka jika seseorang melakukan sesuatu untuk membantunya atau menolongnya. Lebih tepatnya, Dia tidak suka jika harus berhutang budi pada seseorang. Terlebih kepada Evan. Berhubungan dengan Evan hanya akan membuat hidupnya semakin rumit.
"Apa kamu menyogoknya atau... mengancamnya? Aku tahu kamu mampu melakukan semua itu!" ucap Brina dengan tegas.
Senyum sarkas Evan muncul lagi. "Tiba-tiba kamu berbicara santai. Apa kamu sepenasaran itu? Kamu seharusnya tinggal bersyukur karena masalahmu dengan pengacara itu sudah selesai. Oh, dan kamu belum berterima kasih."
"Aku ingin tahu apa yang kamu tawarkan kepada Julius setelah itu aku akan memutuskan untuk berterima kasih atau tidak. Tergantung dari apa yang kamu lakukan terhadap Julius." jelas Brina.
Evan menghela napasnya. "Anggap saja aku sebagai 'Calon Suami' kamu yang membantu 'Calon Istrinya'."
Seketika kening Brina mengerut tak suka saat mendengarnya. "Calon suami apa maksudmu?! Bukankah saat itu aku sudah jelas mengatakan bahwa aku tidak ingin perjodohan ini dilanjutkan?!" ucap Brina dengan kesal.
Bukannya tersinggung, Evan malah tersenyum dan mendengus geli. "Benarkah? Tapi aku terlanjur memberitahu ayahku bahwa aku ingin perjodohan ini diteruskan. Aku yakin kamu sudah mendengar langsung dari ayahku."
"Kamu..."
"Aku tahu kamu bertemu ayahku saat di pesta penyambutanku." Evan tersenyum lebar saat melihat wajah terkejut Brina.
Brina menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Evan ternyata mengetahui pertemuannya dengan Ivan Wilde saat malam itu. Pertemuan itu membuat Brina merasa bimbang terlebih esok harinya, ayahnya langsung menghubunginya untuk membahas perjodohannya dengan Evan.
__ADS_1
Evan beranjak dari posisinya dan mendekati Brina. Pria itu mengamati ekspresi Brina yang terlihat kesal. "Orang tua kita sudah membahas acara untuk pertemuan kedua keluarga kita dan sepertinya mereka tidak ingin menunda perjodohan ini lebih lama lagi."
Brina segera berdiri di hadapan Evan dan memberinya tatapan tajam. "Aku sudah jelas mengatakan bahwa aku ingin perjodohan ini dibatalkan. Apa yang kamu inginkan sebenarnya, Evan?! Kita bahkan tidak saling menyukai!"
"Memang tidak, tapi..." Evan menjeda perkataannya seraya matanya menjelajahi tubuh Brina dari atas sampai bawah. Bibirnya menyeringai lalu semakin mendekatkan tubuhnya dengan Brina. "Kita sudah pernah tidur bersama dan kamu tidak seburuk itu untuk menjadi istriku." bisik Evan dengan nada menggoda di telinga Brina.
Wajah Brina seketika memerah dan mendorong dada Evan dengan keras dan membuat pria itu mundur selangkah sambil tergelak pelan. "Sialan! Kamu ingin aku hajar, hah?!" ancam Brina.
"Lagipula, perjodohan ini sebagai bentuk pertanggungjawabanmu karena sudah memanfaatkan tubuhku dan kit---" Brina segera menyumpal mulut Evan seraya melirik ke arah pintu, takut jika sekretaris Evan atau siapa pun yang ada di luar ruangan Evan mendengarnya.
"Tutup mulutmu!!" desis Brina sambil menatap tajam Evan.
Tanpa Brina tahu, Evan malah tersenyum dibalik telapak tangan Brina yang menutup mulutnya. Selanjutnya, Evan dengan sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Brina dan menarik tubuh Brina agar lebih menempel pada tubuhnya.
Brina yang merasakan itu segera menurunkan tangannya dan berusaha melepaskan tangan Evan pada pinggangnya. "Evan! Apa yang kamu lakukan ini?!" Brina melirik terus ke arah pintu dan Evan bergantian. Dia merasa cemas kalau-kalau seseorang akan memergokinya sedang berpelukan. Apalagi Evan adalah atasannya.
"Tenang saja. Ruangan ini kedap suara jadi tidak akan ada yang mendengar kita." ucap Evan
Di sisi lain, Brina malah menatap Evan cemas dan panik. "Bagaimana jika ada orang lain masuk?!" Dia masih memberontak dan berusaha melepaskan tangan kekar Evan pada pinggangnya. "Evan! Lepaskan aku!"
Tanpa menghiraukan Brina, Evan malah semakin mengeratkan pelukannya dan menundukkan wajahnya agar sedekat mungkin dengan wajah Brina. Hal itu membuat Brina terkesiap hingga dia berhenti memberontak.
"Kamu tidak perlu tahu bagaimana caraku membuat Julius mencabut gugatannya." ucap Evan.
Brina menarik napas perlahan. Dengan Evan yang sedekat ini, jelas membuat Brina berdebar. Wajah tampan Evan terpampang jelas di depan wajahnya begitu dekat. Dia bahkan terbuai dengan aroma musk yang menguar dari tubuh Evan.
Sialan memang. Evan selalu saja membuatnya berdebar. "Aku hanya.. tidak suka saat orang lain membantuku."
"Yang kulakukan itu semua adalah kewajibanku sebagai calon suamimu." ucapan itu segera mendapat decakan kesal dari Brina. Hal itu membuat Evan tergelak. "Serius. Aku memang ingin menjadi calon suamimu."
"Aku tidak pernah meminta dan tidak akan pernah meminta." ucap Brina.
"Apa kamu tidak menyukaiku?" tanya Evan.
"Aku rasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya." Merasa pelukan Evan padanya melonggar, Brina segera menarik tubuhnya dan berhasil lepas dari pelukan Evan. "Sekarang beri aku alasan, kenapa kamu sangat ingin perjodohan kita tetap dilanjutkan."
"Aku menyukaimu." jawab Evan dan Brina langsung menggeleng. "Kamu tidak percaya?"
Brina mendengus geli. "Aku rasa aku pernah mengatakan hal ini. Aku tahu persis tipe pria seperti kamu ini. Pria kaya yang angkuh dan aku tahu persis, pria seperti kamu ini suka memamerkan kekayaan orang tuamu untuk menarik banyak wanita. Wajahmu memang tampan tapi tidak untukku." jelas Brina penuh sarkas lalu tersenyum angkuh.
"Kamu melakukan kesalahan lagi, Sabrina sayang." ucap Evan lalu menyeringai. Iris coklatnya menatap tajam Brina. "Aku tidak pernah mengatakan ini tapi biar aku beritahu sekarang, jangan melukai harga diri seorang pria. Kamu akan tahu akibatnya."
"Hmm. Coba saja."
Brina menyeringai, hanya sesaat karena setelah itu seringaiannya menghilang saat sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. Tubuhnya menegang dan napasnya seketika sesak. Kedua bola mata Brina melebar, terkejut, bersamaan dengan bibir Evan yang menyapu lembut bibir Brina.
Brina segera menyesali perbuatannya.
***
__ADS_1