Permainan Manis Bos Yang Pendendam

Permainan Manis Bos Yang Pendendam
Gosip


__ADS_3

Sorot mata hitamnya menatap nyalang pada layar komputer. Bola matanya bergerak membaca baris demi baris artikel dari setia media lokal. Acara perhelatan Direktur baru Wilde Construction Company menjadi pemberitaan yang menarik. Headline berita langsung bermunculan mengenai Evan Wilde yang bahkan menyeret nama Sabrina juga.


‘Direktur Wilde Construction Company, Evan Wilde, Putra Semata Wayang Ivan Wilde dan pewaris utama Wilde Corp ’


‘Evan Wilde, putra CEO Ivan Wilde, Bujangan Tampan dan Idaman Wanita, Berdansa dengan Salah Satu Karyawan Wanita Wilde Construction Company’


‘Sosok Karyawan Wanita yang Berdansa dengan Evan Wilde Adalah Putri Bungsu Dari CEO Saina Corp?’


‘Sabrina Davinian, Putri Bungsu Sandi Davinian, Bekerja di Wilde Construction Company sebagai Kontraktor dan Konsultan Daripada Mengikuti Jejak Ayahnya sebagai Dokter. Ada hubungannya dengan Evan Wilde?’


‘Fakta Sabrina Davinian, Korban Selamat Atas Kejadian Perampokan Yang Menewaskan Ibunya’


‘Mengingat Kembali Tragedi Beringin 20 Tahun Lalu. Putri Tunggal Saina Group (sekarang Saina Corp) Tewas Karena Perampokan’


Brina menatap datar pada layar komputernya yang menampilkan headline berita tentangnya dengan Evan. Tidak menyangka kedekatannya dengan Evan langsung tembus media dan menjadi bahan berita gosip. Terlebih dia sangat kesal ketika membaca artikel terakhir yang menyangkut kematian ibunya. Dia sudah menduganya bahwa kasus kematian ibunya akan muncul kembali.


Kematian ibunya 20 tahun lalu yang menjadi luka dan trauma bagi Brina. Kejadian yang membuat dia kehilangan sosok terpenting di hidupnya. Peristiwa perampokan yang menghebohkan seluruh penjuru negeri kala itu yang juga dikenal dengan sebutan ‘Tragedi Beringin’. Terlebih ibunya, Devi Saina adalah putri satu-satunya dari Denis Darmaji.


Denis Darmaji, kakeknya adalah profesor dan dokter bedah umum ternama di Indonesia sekaligus pendiri dari Saina Group, perusahaan yang bergerak di bidang obat-obatan dan asuransi. Yang sekarang perusahaan itu diturunkan kepada ayahnya, Sandi Davinian. Ayah Brina juga merupakan seorang dokter saraf, karena itu kakeknya mempercayakan perusahaan keluarganya diteruskan oleh ayahnya. Hingga sekarang perusahaan dari kakeknya itu telah berkembang pesat berkat usaha ayahnya.


Matanya membaca lagi artikel yang membahas Tragedi Beringin. Tragedi yang merenggut nyawa ibunya dengan beberapa luka tusuk di tubuhnya. Disebut Tragedi Beringin karena pada saat itu kepolisian menemukan jasad ibunya tergeletak dengan bersimbah darah di bawah pohon beringin yang berdiri kokoh di samping kolam luas di belakang rumah kakeknya.


Artikel mengenai kematian ibunya membuat dia mengingat kembali peristiwa perampokan dulu. Pada saat perampokan itu terjadi, Brina juga ada di tempat kejadian bersama ibunya dan dia merupakan korban selamat dari perampokan itu. Hanya dia yang selamat karena ibunya lah yang melindunginya dan menyelamatkannya.


Dadanya seketika merasa sesak. Brina menghela napasnya dengan berat saat matanya mulai berair. Saat kejadian itu, Brina selalu menyesali semuanya karena dia tidak mampu menyelamatkan ibunya. Ibunya dengan rela mengorbankan dirinya dan melindungi Brina dari para perampok.


Tanpa sadar, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. Brina lalu mengulas senyum tipis sambil menatap sebuah foto. “Aku merindukanmu, ibu.” gumam Brina menatap foto ibunya.


Brina mengusap foto berpigura ibunya yang sengaja disimpan di meja ruangannya. Meski pun sosok ibunya sudah tidak ada tetapi setiap melihat figur ibunya itu, Brina selalu mendapatkan kekuatan. Saat itu usianya baru saja menginjak 7 tahun ketika peristiwa perampokan itu terjadi. Tidak banyak kenangan bersama ibunya dan itu membuat Brina kesulitan mengingat wajah ibunya. Karena itulah dia selalu melihat foto ibunya setiap dia merindukan ibunya.


*Tok tok*


Suara ketukan pintu membuat Brina bergegas mengusap pipinya yang basah karena air mata. Dia berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya sebelum akhirnya menyuruh seseorang yang sudah mengetuk pintu ruangannya itu untuk masuk. Dia melihat Farah masuk sambil membawa berkas.


"Permisi, Mbak. Ini berkas yang Mbak minta." Farah menyodorkan berkas kepada Brina dan langsung dibaca oleh Brina. "Masalah dengan pengacara itu belum selesai juga, Mbak?" tanya Farah.


Brina mengangguk lemah. "Hmm. Dia tiba-tiba menuntut balik atas pencemaran nama baik. Entah alasan apa lagi yang membuat dia menggugatku. Padahal aku pikir masalah kemarin sudah selesai secara kekeluargaan." jelas Brina.

__ADS_1


Mengingat pengacara itu lagi, membuat Brina naik pitam. Bagaimana bisa pengacara sialan itu menuduhnya atas pencemaran nama baik di saat pengacara itu lah yang salah? Dia bahkan tidak melakukan apa pun.


Brina pikir masalah ini sudah selesai, namun tiba-tiba pengacara itu muncul dengan gugatannya. Dan dia terpaksa harus datang ke pengadilan besok lusa. Sungguh sial.


"Yang sabar, ya Mbak. Ngomong-ngomong soal gosip di kantor lagi rame, ada hubungan apa Mbak dengan Direktur baru?" tanya Farah dan Brina langsung beralih menatap Farah tajam.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Direktur baru." jawab Brina. Ini adalah jawaban Brina yang ke sekian kalinya sejak pagi tadi orang-orang menanyakan hal yang sama.


Dia sudah menduga bahwa dirinya pasti akan menjadi perbincangan orang-orang. Satu kantor sepertinya sudah mendengar soal Direktur baru yang mengajak Brina berdansa. Sejak pertama Brina turun dari mobil hingga dia tiba di ruangannya, semua karyawan menatap Brina sambil berbisik. Bahkan Brina sempat mendengar ada dari mereka yang tak segan mencelanya karena berusaha merayu Evan Wilde dengan memanfaatkan statusnya sebagai putri CEO Saina Corp.


Sikap Brina hanya biasa saja dan tak mau ambil pusing meskipun menjadi perbincangan orang-orang, tapi itu sangat membuatnya jengah. Belum lagi beberapa karyawan bawahannya yang terus bertanya dengan lugas seperti Farah ini. Yang lebih membuat Brina jengah adalah Diana yang tadi pagi memberondongnya dengan banyak pertanyaan soal Evan padanya.


Mata Farah menyipit curiga. "Benarkah? Mbak ini bukan karyawan biasa. Mbak ini anak dari CEO Saina Corp dan perusahaan keluarga Mba juga bukan musuhnya Wilde Corp. Tidak mungkin Mr. Evan Wilde secara random mengajak karyawannya berdansa. Jadi sepertinya Mba memang ada hubung---"


"Diam atau saya kurangi jatah cuti kamu!" ancam Brina segera dan membuat Farah langsung menutup bibirnya. "Kalau kamu masih ingin bergosip, sebaiknya keluar."


"Ya sudah. Maafkan saya, Mbak." Farah tersenyum lebar sebelum berbalik keluar. "Oh iya, saya lupa, Mbak." Farah berbalik menghadap Brina lagi. "Pak Andrew menelepon kalau dia ingin menemui Mbak siang ini."


"Baiklah. Terima kasih infonya."


***


Bach membuat pria itu benar-benar menikmati kedamaiannya. Meski di luar panas terik menyerang dengan kesibukan lalu lintas yang tidak pernah sepi, berkas-berkas yang dibiarkan berserakan begitu saja di meja, pria itu tampak begitu santai menikmati waktu sendirinya.


Dia tampak begitu damai dengan mata terpejam, namun dalam pikirannya saat ini, dia membayangkan sosok wanita yang membuatnya tak bisa lepas. Bayang-bayang wajah cantik dan kesal Sabrina memenuhi pikirannya.


Segera dia membuka matanya saat pintu ruangan terbuka dan sosok asistennya muncul. Bayangan Brina dipikirannya menghilang bersama lamunannya. 


"Mr. Wilde. Janji makan siang Anda dengan Mr. Fisherman besok, beliau meminta untuk mengubahnya menjadi hari ini. Bagaimana?" ucap Toni, sekretarisnya melaporkan.


"Tidak apa-apa." Evan lalu mengecek arlojinya. "Sebentar lagi waktunya makan siang. Hubungi Mr. Fisherman bahwa saya akan menemuinya dan beritahu alamat restorannya." 


"Baik, Sir." Toni segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan tugasnya.


Evan bangkit dari sofa lalu mengenakan kembali jasnya dengan rapi. Dia lalu keluar diikuti Toni menuju restoran sudah dipesan untuk makan siang hari ini.


"Apa Sabrina masuk kerja hari ini?" tanya Evan pada sekretarisnya saat mereka berada di lift.

__ADS_1


"Ms. Davinian masuk bekerja seperti biasa setelah dua minggu mendapatkan suspensi, dia sudah mulai menerima proyek baru." Jelas Toni.


"Suspensi? Karena apa?" tanya Evan.


"Ms. Davinian terlibat pertengkaran dengan pengacara klien. Namun sepertinya pengacara itu tidak terima dan mengajukan gugatan pencemaran nama baik kepada Ms. Davinian." jawaban Toni membuat Evan menatap sekretarisnya dengan terkejut. "Perusahaan bersama dengan pihak Law Firm sudah bertindak dengan melakukan mediasi antara Ms. Davinian dengan Pengacara Sinaga. Mereka sama-sama saling menerima keputusan dengan baik, tapi bagi Pengacara Sinaga sepertinya tidak."


"Kapan sidangnya?" tanya Evan lebih lanjut. Dia tidak tahu Brina terlibat masalah yang membuat Brina terkena suspensi sebagai hukumannya.


"Gugatan Pengacara Sinaga masih dalam tahap pengecekan. Pengadilan meminta kehadiran mereka berdua untuk melakukan mediasi sebelum benar-benar naik ke meja sidang." jelas Toni.


Pintu lift terbuka saat tiba di lantai lobi. Evan keluar dengan pikiran permasalahan Brina, diikuti sekretarisnya yang selalu setia mengikuti Evan dibelakang.


Evan berbalik menatap Toni. "Saya minta semua file yang berkaitan dengan kasus Sabrina, mulai dari data klien dan rincian kronologi permasalahannya." pinta Evan.


Toni mengangguk patuh. "Baik, Sir."


"Saya akan mengeceknya langsung setelah makan siang." Toni hanya mengangguk lagi.


Evan menghembuskan napasnya dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun baru beberapa langkah, matanya tak sengaja menangkap sosok Brina yang sedang bercengkrama dengan Andrew. Ekspresinya langsung mengeras.


Evan seketika terdiam dan hanya mengamati Brina dan Andrew dari jauh. Selanjutnya dia melihat Brina dan Andrew melangkah keluar gedung. Evan dalam diam terus memperhatikan mereka dengan tajam hingga mengikuti mereka ke luar.


"Mr. Wilde." panggil Toni.


"Ya?" balas Evan dengan pandangan masih tertuju pada Brina dan Andrew yang berjalan beriringan di area parkir mobil.


"Mr. Fisherman sudah tiba di restoran, Sir." ucap Toni. Sekretarisnya itu ikut memperhatikan pandangan bosnya. Dia merasakan hawa kecemburuan dari Evan.


Evan masih bergeming bahkan ketika mobilnya sudah terparkir rapi di depannya. Dia masih memperhatikan Brina dan Andrew yang masuk ke dalam mobil sampai mobil mereka pergi dan hilang dari pandangannya.


Pandangannya berubah dingin sejak melihat Brina dan Andrew bersama. Dia tidak tahu sudah berapa dekat Brina dengan Andrew sampai-sampai mereka berdua memiliki rencana makan siang bersama.


"Sir?" seru Toni memanggil Evan yang tampak masih larut dalam pikirannya.


Evan mengerjapkan matanya sekali lalu melirik Toni sekilas. "Ayo." ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.


***

__ADS_1


__ADS_2