Pernikahan Tanpa Syarat

Pernikahan Tanpa Syarat
Bab 10


__ADS_3

"Kamu ngapain sih ngajak ketemuan di sini?" Tama sedikit bersungut menanyakan hal itu pada Debi yang mengajaknya bertemu di salah satu resto saat jam makan siang.


"Aku kangen sama kamu, sekaligus ada hal yang ingin aku katakan sama kamu," ujar Debi tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Padahal Tama berulang kali mengedarkan pandangannya untuk memastikan bahwa di sana tak ada siapa pun yang kenal dirinya ataupun tahu bahwa dirinya adalah kekasih Mitha.


Jika sampai hal itu terjadi, maka masalah pasti akan muncul diantara dirinya dan Mitha.


"Aku sudah bilang sama kamu, jangan pernah temui aku lagi, kan dosa satu malam itu saja sudah cukup. Tak ada lagi dosa yang lain, lagi pula aku sudah punya pacar."


Tama tak bisa mengontrol ucapannya saat itu, apalagi saat bersama dengan Debi.


Awalnya ia sangsi harus bertemu dengan perempuan itu, tetapi berulang kali Debi terus mengirimnya pesan dan menghubunginya sejak pagi yang tak ia gubris.


Namun, pada salah satu pesan Debi mengatakan bahwa ia akan datang ke kantornya jika Tama tak ingin bertemu.


Tama kesal dengan hal itu, tetapi ia masih tak tahu dari mana Debi mendapatkan nomornya.


Saat ia bertanya dengan Bayu tentang itu, Bayu mengatakan bahwa ia sama sekali tak pernah memberikan nomornya pada siapapun di luar kerjaan termasuk dengan Debi.


Sebab setelah malam itu, Debi dan Batu tak pernah terlihat dengan obrolan atau bahkan bertemu lagi.


Pada akhirnya Tama datang menemui Debi sesuai dengan permintaannya.


"Aku juga gak ada niat mau ketemu kamu lagi, tapi ini harus, karena aku hamil."


Ucapan dari Debi membuat Tama tak percaya, ia membulatkan matanya dengan sempurna dan berusaha mencerna dengan baik apa yang dikatakan Debi.


"Apa?!" tanya Tama sedikit menyeru, ia meyakinkan ucapan Debi.


"Aku hamil, aku positif hamil," ujar Debi mengulang kata-katanya.


"Gila ya kamu, mana mungkin sekali main bisa hamil. Kamu hamil sama laki-laki pasti itu," kata Tama menyanggah ucapan Debi.


Tama yakin bahwa apa yang dikatakan Debi itu tidak benar. Meskipun apa yang terjadi malam itu diluar kendalinya.


"Aku memang pernah melakukannya dengan lelaki lain, tapi itu tahun lalu dan yang baru-baru ini sama kamu. Aku yakin aku hamil setelah melakukannya sama kamu."


Tama terdiam memikirkan hal itu, semuanya terjadi begitu saja. Ia tak mungkin bertanggung jawab dan menikah dengan Debi yang tak ia cintai.


Sedangkan sampai saat ini ia sangat mencintai Mitha dan bahkan berharap menikah dengan Mitha.


Namun, jika benar sampai Debi hamil, maka hal buruk pasti terjadi.

__ADS_1


"Besok kita periksa, aku mau tau kamu beneran hamil atau enggak, kalau kamu beneran hamil, kita cari solusinya."


"Periksa apa lagi, aku kan sudah bawa surat dari dokter kalau aku hamil." Debi mengingatkan Tama bahwa ada surat itu di atas meja.


"Aku gak percaya surat ini, bisa aja kamu manipulasi karena kamu mau aku menikahimu."


Debi kini yang sedikit kesal dengan tingkah laku Tama yang seolah tak ada tanggung jawabnya sama sekali dengan apa yang terjadi padanya. Padahal malam itu mereka melakukannya bersama-sama.


"Oke kalau itu maumu, besok kita periksa, kamu yang tentukan rumah sakitnya, biar kamu gak tuduh aku manipulasi kehamilan lagi."


Setelah mengatakan hal itu Debi bangkit dari duduknya, mengambil tas dan menyambar kertas hasil kehamilan yang ada di atas meja, kemudian berlalu meninggalkan Tama di sana.


Tama sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi, semuanya mendadak sampai ia tak tahu harus melakukan apa.


Dari apa yang terjadi sepertinya Debi memang benar hamil, karena dari cara perempuan itu berbicara tak ada keraguan sama sekali.


Hal itu yang membuat Tama sakit kepala, jika benar Debi hamil, maka banyak hal yang akan kacau dan berantakan.


Semua rencananya tentang pernikahan indah layaknya mimpi bersama putri dongeng akan hancur dengan mudah.


Tama sudah bersusah payah membangun kerajaannya, tak mungkin akan dirobohkan oleh penyihir yang mengaku mengandung anaknya. Bukan seperti itu yang ia inginkan diceritanya.


Tak lama Tama pun beranjak dari sana dan berlalu keluar dari restoran itu, saat seorang pramusaji membereskan makanan yang dipesan Tama dan Debi tadi, tetapi tak sempat dimakannya.


"Kenapa dibawa kembali?" tanya seorang perempuan yang tak lain adalah Lia, sebab itu restoran milik Lia.


"Begitu. Ya sudah kamu buang itu, biar gak buat kotor."


Setelah Lia mengatakan hal itu, si pramusaji tadi berlalu pergi dari sana, dan Lia kembali mengurus beberapa hal, supaya cepat pulang.


***


Tama kemudian membawa mobilnya menuju kantor lagi, karena jam istirahatnya hampir saja berakhir.


Saat dalam perjalanan kembali itu, ponsel pintarnya berbunyi, sebuah panggilan dari Mitha.


Tama memburu memasang penyuara telinga tanpa kabelnya untuk menjawab panggilan itu.


Dengan sebelumnya ia mengatur napas dan suara, lalu berucap, "Hallo, Sayang."


"Sudah makan siang? Aku baru istirahat nih," kata Mitha di ujung panggilan sana.


"Ini baru aja keluar dari tempat makan, mau balik ke kantor lagi. Kamu sendiri udah makan?" ujar Tama, ia berusaha mengendalikan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sudah makan tadi, sekarang aku di kamar, soalnya Pak Bos bilang aku harus istirahat dulu. Nanti jam tigaan ada ketemu klien lagi."


"Syukurlah kalau gitu. Jadi kapan niatan pulang? Aku kangen banget."


"Besok kayaknya, soalnya kata Pak Bos hari ini kerjaan kelar. "


"Baguslah. Kalau gitu udah dulu ya, kamu jaga kesehatan, semangat kerjanya, aku udah sampai kantor nih."


"Iya, kamu juga ya."


Setelah Mitha mengatakan hal itu sambungan telepon pun berakhir dan tak lama kemudian Tama sampai di kantornya lagi.


Ia masuk dengan gusar, kemudian duduk di bangku kerjanya yang ternyata hal itu disadari oleh Bayu.


"Kenapa? Baru ketemu sama Debi kok mukamu ditekuk gitu, ada masalah lagi?" Begitu tanya Bayu.


"Bukan lagi, tapi masalah baru." Tama mengatakan hal itu sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. "Gila pokoknya!"


Tama sedikit mengeraskan suaranya, beberapa tekan kerjanya yang mendengar hal aku memperhatikan Tama sekilas.


"Tenang dulu, ada apa sih? Cerita-cerita, siapa tau aku bisa bantu, kan."


Tama merubah posisi duduknya dan kini menghadap Bayu.


"Beneran kamu bisa bantu, Bay?" tanya Tama meyakinkan ucapan Bayu.


"Perasaanku gak enak ini, pasti ada apa-apanya."


"Beneran mau bantu gak?" tanya Tama lagi.


"Kalau bisa kubantu pasti kulakuin." Bayu ssndiri sebenarnya tak yakin dengan hal itu.


"Tolongin aku, kamu nikah sama Debi soalnya cewek itu hamil dan nyuruh aku tanggung jawab."


"Apa hamil?!!" Bayu mengatakan hal itu dengan kencang.


Refleks Tama mendendang kursi Bayu dan membuatnya terjatuh sekaligus ia diam.


Bayu mengaduh kemudian bangkit dan membenarkan kursinya.


"Sakit," keluh Bayu. "Kok bisa sih Debi hamil?"


"Gak tau aku, aku juga bingung. Gimana mau bantuin gak?"

__ADS_1


"Enggak. Gila banget ya, masa aku suruh tanggungjawab dari masalah yang kamu buat."


Air muka Tama terlihat lesu dengan jawaban Bayu yang sebenarnya ia sendiri sudah tahu akan hal itu.


__ADS_2