Pernikahan Tanpa Syarat

Pernikahan Tanpa Syarat
Bab 11


__ADS_3

Dua hari sudah Pram dan Mitha berada di luar kota, pekerjaan mereka pun selesai dan mereka memutuskan untuk pulang.


"Saya nggak tahu ini karena memang sudah rezekinya atau kamu yang membawa keberuntungan. Para investor mau menanamkan modal di perusahaan cabang milik kita. Harusnya sejak awal saya bawa kamu," kata Pram saat mereka berada di dalam mobil saat itu.


"Bapak bisa saja, ini kan juga karena kerja keras Bapak yang berunding dengan investor, sedangkan saya sepertinya tak melakukan apapun dan lebih pada menemani saja," ujar Mitha.


"Beberapa kali Siska juga begitu, tetapi dari para investor banyak yang menolak. Atau bagaimana kalau kamu yang menggantikan Siska saja.?


Mitha terdiam mendengar apa yang dikatakan Pram itu entah bercanda atau tidak, tetapi tetap saja mengusik Mitha. Semua perkataan yang keluar dari mulut Pram selama mereka pergi ke luar kota terus membuat Mitha kepikiran.


Entah apa yang membuat Pram mengatakan hal itu, atau entah mengapa ia sampai bisa terpikirkan sejauh itu?


"Saya hanya bercanda, kamu pasti tidak mau juga, karena pekerjaan yang dilakukan Siska juga cukup berat, dan sepertinya dia sudah akan resign dari kantor," sambung Pram.


"Ada apa sampai resign begitu, Pak?" tanya Mitha ingin tahun.


Namun, sepertinya apa yang akan dikatakan Pram sama seperti apa yang Windy katakan, yakni tentang hal buruk yang terjadi pada Siska.


"Siska sudah menikah dan tengah hamil, bisa saja saya memberinya cuti, tetapi kalau sampai melahirkan, itu akan merepotkan semuanya," jawab Pram.


Sebuah jawaban yang Mitha sendiri sudah menduganya, benar memang apa yang dikatakan Windy dan itu bukan sebuah gosip belaka.


"Begitu ya, Pak. Saya malah tidak tau itu, soalnya Siska tidak mengundang kami ke pernikahannya," kata Mitha.


"Dia nikah di luar kota juga kok, ohiya kalau kamu ada rekomendasi teman atau kenalanmu yang bisa bekerja dengan baik, suruh saja antar lamarannya."


"Baik, Pak. Nanti kalau ada teman yang membutuhkan pekerjaan saya akan suruh dia masukin lamaran."


Pembicaraan keduanya terus terjadi, bahkan sepertinya mereka kini lebih akrab dari sebelumnya.


Mitha tak pernah terlihat obrolan sedalam itu dengan Pram apalagi di luar pekerjaan, entah karena Pram yang ingin lebih akrab atau ia ingin mencairkan suasana.


Namun, tetap saja Mitha menjaga jarak dengan Pram, karena sadar posisi siapa dirinya dan siapa Pram.

__ADS_1


Perjalanan kembali memakan waktu yang sama seperti berangkat, tetapi Mitha merasakan bahwa mereka kembali cukup cepat hingga tak terasa tak lama lagi mereka akan sampai di tempat tujuan.


"Mau saya antar kamu pulang?" tanya Pram begitu mereka sampai di kota.


"Enggak usah, Pak. Bapak antar saja ke apartemen milik Windy saja, kebetulan ini juga sudah malam, biar saya nanti pulang diantar Windy, dan lagi pula ada yang mau saya urus dengan Windy." Begitu papar Mitha.


Pram mengerti dengan apa yang dimaksud Mitha. Kemudian dengan arahan dari Mitha, Pram pun membawa mobil itu menuju gedung apartemen Windy.


Tak lama kemudian mereka pun sampai, Mitha turun dari mobil dan Pram berlalu pergi dari sana.


Setelah mobil Pram tak terlihat lagi Windy pun berjalan menuju kamar milik Windy, sebelumnya ia sudah mengatakan pada Windy untuk menginap di apartemennya.


Mitha juga mengatakan pada sang mama untuk pulang besok, karena sudah larut dan ia tak mungkin pulang dengan kendaraan umum yang menakutkan bagi seorang perempuan.


Begitu Mitha sampai di depan kamar Windy, ia pun mengetuk pintu kamar itu. Tak lama kemudian seseorang yang tak lain Windy pun membuka pintu.


"Eh aku kira tadi om-om mana yang ketok-ketok pintu kamarku," kata Windy begitu melihat Mitha.


"Enggak dong, ya kan siapa tau aja," kata Windy. "Mandi dulu sana, aku mencium aroma kabel kebakar."


Mitha hanya mengaku saja tak menjawab perkataan dari Windy, ia kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang memang sudah merasa kotor dan penuh kotoran.


***


Selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian santai. Windy menawari Mitha makanan dan mereka pun makan bersama.


"Udah bilang Tante Melda kalau kamu nginap di sini?" tanya Windy saat mereka Tengah menikmati makanan itu.


"Udah, aku bilang besok bakalan pulang terus Mama ngebolehin aja, lagi pula dia pasti takut kalau aku pulang malam-malam dan sendirian," jawab Mitha.


Sebenarnya Mitha juga ingin cepat pulang, tetapi ia urungkan niat itu, lagi selama Mitha tak ada di rumah, ada saudaranya yang mengurus dan menemani sang mama, hal itu ia tak akan khawatir.


Setelah keduanya selesai menikmati makan malam itu, mereka pun akhirnya merebahkan diri di tempat tidur sambil bermain ponsel masing-masing.

__ADS_1


Mitha pun menghubungi sang kekasih yang tak lain adalah Tama dengan mengirim pesan. Tama merespon dengan cepat


"Eh Mit, selama di luar kota sama Pram, ada cerita apa?" tanya Widya kemudian pada Mita karena Mungkin ia bosan hanya bermain ponsel saja padahal saat itu ia memiliki teman.


Mitha yang mendengar pertanyaan dari Widya langsung menjawab, bahwa selama ia dan Pram pergi ke luar kota tidak ada hal yang penting yang perlu dibicarakan, tetapi kemudian Mitha ingat tentang Alden.


Mitha ingin membicarakan tentang itu, namun ia ragu hingga akhirnya ia pun hanya bertanya.


"Kamu tau gak sih kalau Pak Pram punya anak?" Begitu pertanyaan Mitha.


"Anak? Aku selama kerja di perusahaan Pak Pram gak pernah denger kalau beliau punya anak, tapi menurut berita sih Pak Pram sama istrinya itu memutuskan gak punya anak, bahasa gaulnya sekarang childfree gitu," jawab Widya.


"Oalah gitu ya."


"Emangnya kenapa?"


"Enggak ada sih, soalnya aku pas kamu tinggal di rumah Pak Pram sebelum keluar kota, aku lihat ada cowok gitu di sana."


"Pegawai atau supirnya mungkin."


"Kayaknya sih iya."


Ternyata benar apa yang dipikirkan Mitha bahwa Windy tidak tahu dan seperti apa yang dikatakan oleh Pram bahwa tidak banyak orang yang tahu bahwa ia memiliki anak apalagi jika anaknya itu seperti halnya Alden.


Meskipun Pram mengatakan bahwa ia tidak malu memiliki anak seperti Alden, tetapi sebagai orang tua ia mungkin merasa sedikit kecewa bahwa anaknya tidak tumbuh seperti anak pada umumnya.


Apalagi sampai sekarang umur Alden sudah menginjak 28 tahun yang berarti sudah selama itu Pram dan sang istri menyimpannya keberadaannya.


Hingga banyak orang berpikir bahwa mereka memang tidak memiliki anak.


Kemudian pembicaraan keduanya pun berlanjut tetapi tidak membahas tentang Pram dan juga keluarganya, kini mereka membahas tentang Siska.


Pembahasan yang dilakukan para perempuan ditambah sedikit bumbu gosip.

__ADS_1


__ADS_2