
Ig : @Anantapio26_
Bunyi dering dengan satu nama yang tertera di layar ponselnya lantas membuatnya dengan jengah mendesah panjang. Arial tidak habis pikir dengan gadis satu ini yang selalu muncul dan mengganggu segala ketenangan dan ketentraman yang sudah ditatanya dengan rapi.
"Muka-muka abis di-chat sama Nenek Lampir, nih," seru makhluk titisan penunggu terowongan Kasablanka yang baru saja datang dan meledeknya.
Arial tidak mempedulikannya dan lebih memilih untuk melenggang pergi meninggalkan sahabatnya itu lalu duduk di sofa ruang tengah.
Iya, dia lah Arial Bima Pradipta. Sosok es berjalan yang selalu menjalani hidupnya seperti air. Ia tidak pernah ingin repot-repot mengurusi hal yang tidak begitu penting, termasuk soal cinta. Hal itu pun yang membuat banyak gadis merasa patah hati karena perasannya tidak pernah Arial terima bahkan ia menganggap kalau semuanya itu adalah sampah. Sampai-sampai kedua orang tuanya pun khawatir dengan keadaan Arial yang selalu menolak gadis-gadis yang mencintainya. Mereka khawatir jika Arial menjadi seorang gay meski berulang kali menyanggahnya dengan tegas.
"Jangan aneh-aneh deh, Bun. Arial masih normal," serunya kala itu dan tidak terima dengan pernyataan dari orang tuanya.
__ADS_1
"Tetep aja. Bunda khawatir, apalagi Bunda pernah lihat kamu pelukan sama sesama jenis," sangkal Wulan dengan cepat.
Arial berdecak. "Jangan ngarang deh, Bun," tegasnya dan Wulan masih saja mencerocos pada hal yang Arial anggap tidak perlu dipermasalahkan.
"Mata Bunda masih normal, Arial dan Bunda nggak salah lihat!"
"Ya udah, deh. Terserah Bunda aja," putus Arial pasrah. lagipula mau bagaimana pun jika waktu yang belum menjawab semuanya akan sia-sia.
Biar lo nggak salah perhitungan, kalo mau nembak seseorang itu harus pake Hukum Newton III
~PHYSILOVA~
__ADS_1
Ah, kehidupannya yang monoton seketika berubah begitu saja saat gadis tengil mulai mengisi hari-harinya dengan penuh kegilaan dari segala tingkahnya. Elsa tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan perasaannya yang membeku. Meski sebenarnya Arial tidak tahan dengan gadis tengil ini, hanya saja Elsa terlalu ajaib untuk disingkirkan begitu saja. Terlebih saat dirinya malah satu kelas dengan gadis satu ini, sungguh hal itu membuatnya semakin lelah.
Salah satu hal yang menjadi sepak terjangnya untuk mendapatkan cinta Arial adalah dengan berbagai macam rumus fisika yang disulapnya menjadi rumus-rumus cinta. Walau selalu berujung pada respon Arial yang seperti es batu buatan Mang Koko, satu langkah pun Elsa tidak akan pernah mundur.
Hingga pada suatu hari Arial menyerah dan Elsa pun memenangkan pertarungannya untuk meluluhkan perasaan laki-laki es itu. Hal itu pun membuat Elsa merasa begitu bahagia. Namun siapa yang pernah menyangka jika di balik kemilaunya sosok Arial di mata semua orang ada sisi lain yang membuatnya terlihat begitu redup, yaitu masa lalunya yang pernah terjadi begitu pahit dan begitu buruk untuk dikenang.
Setelah Elsa mengetahui semuanya bersamaan dengan rasa kecewanya, akan kah ia masih mau mencintai Arial atau kah malah pergi dan melepaskannya?
Yuk, simak kisah Arial dan Elsa hanya di PHYSILOVA.
Tbc...
__ADS_1
**Selamat membaca dan semoga suka dengan ceritanya. Jangan lupa untuk memberi vote dan komentar, supaya saya bisa lebih semangat lagi untuk melanjutkan cerita ini. Terima kasih :)
a/n: Separuh Rindu**