PHYSILOVA

PHYSILOVA
PHYSILOVA 01 - Gadis Mungil Nan Tengil


__ADS_3

"Kita itu ibarat atavisme dengan kode rr pp yang berarti single. Jadi, gimana kalo kita jadian?"


~Elsa~


Arial baru saja turun dari mobilnya. Namun gadis tengil itu sudah menyambar kedatangannya sekaligus merusak ketenangan paginya dengan cara yang satu ini.


"Al. Lo harus percaya sama hukum Mendel II bahwa benci di dalam hati akan bergabung secara bebas membentuk perasaan baru yaitu cinta," cerocosnya mempertahankan agar langkahnya tetap sejajar dengan langkah lebar Arial.


Tanpa memedulikan segala ocehan gadis tengil itu Arial tetap melangkahkan kakinya melenggang pergi menuju ruang kelasnya dan meninggalkan Si Upil Mungil Elsa.


"Selamat pagi, Bosku," sambut dua sahabatnya yang seakan-akan seperti sudah menunggu kehadiran seorang pangeran datang di ambang pintu kelas. Panggil saja mereka Kevin dan Angga.


Kevin merangkul bahu Arial, begitu juga Angga. Mereka berdua mengantar Arial sampai bangkunya.


"Gue dapet info," ucap Angga melepaskan rangkulannya. Rautnya seakan telah menemukan berita yang begitu mantap jiwa dan harus cepat memublikasikannya kepada khalayak ramai.


"Info apaan?" tanya Kevin penasaran sembari melepaskan rangkulannya dan sekarang berkacak pinggang menatap Angga.


"Kalo hari ini kita upacara," lanjut Angga. Sedetik kemudian senyum menyebalkan terbit di dua sudut bibirnya.


"Al. Menurut lo hujat anak orang boleh gak, sih?" tanya Kevin meminta pendapat pada Arial.


Arial menatap Kevin lalu menyimpan tasnya di atas meja. "Nggak boleh sih sebenernya. Tapi kalo lo maksa sih boleh, lah," sahutnya amat mendukung usaha yang akan Kevin lakukan.


Kevin tersenyum puas menatap Angga. "Sini lo. Gue hujat," tuturnya mengibaskan tangannya sembari menyeringai lebar.


Namun seketika berubah beda saat … "ARIAL!" panggil gadis tengil itu sambil melangkah masuk ke dalam kelasnya yang berarti kelas Arial juga.


"****** lo! Karma masih berlaku, Bung!" cetus Angga segera berlalu keluar dari kelas setelah meraih topinya dari dalam tas.


Kevin mengurungkan niatnya untuk menghujat Angga dan malah mengalihkan perhatiannya pada Arial. "Sabar, Al. Upil Kudanil dateng," ucapnya sambil menepuk bahu Arial kemudian memilih untuk melesat pergi menyusul Angga.


Arial mengembuskan napasnya dengan kasar. Paginya selalu saja hancur dan tidak pernah ada kata damai. Namun sabar, kini ia sudah menginjak ke kelas 12. Jadi hanya tinggal menghitung bulan saja untuk dirinya bisa terbebas dari Si Gadis Tengil yang selalu mengganggu suasana hatinya.


Seringai ceria ia tunjukkan untuk Arial. "Jadi gimana? Siap untuk ikut upacara?" tanyanya begitu cerewet serta tanpa ijin ia merangkul lengan Arial dengan manja.


Arial tidak menggubrisnya. Ia melepas rangkulan Elsa dengan sentuhan tangannya yang dingin lalu melenggang pergi.


Iya, Elsa. Gadis hebat yang masih tetap bertahan mengejar cinta Arial sampai detik ini, meski laki-laki itu tetap bersikap dingin dan tak acuh kepadanya. Namun dengan tidak pedulinya Elsa terus mengejar Arial dan pantang menyerah untuk terus berusaha menanamkan rasa cinta pada laki-laki itu. Sudah dua tahun ia mengisi hari-hari Arial yang kaku dengan segala sifatnya yang dapat membekukan atmosfer di sekitarnya.


"Arial! Ih, bareng dong!" pekik Elsa segera mengejar langkah Arial.


Arial tidak memedulikannya dan terus berjalan menuju lapangan upacara.


Sampai barisan upacara disiapkan Arial memilih untuk mengambil barisan paling belakang agar terhindar dari gadis tengil Si Ratu Drama. Jujur saja, ia kapok saat Elsa beradegan pura-pura pingsan hanya karena ingin ditolong olehnya. Namun sifat tak acuhnya berhasil merusak adegan penuh drama yang Elsa susun.


Bruk!


Baru saja dipikirkan. Gadis tengil itu sudah kembali berulah dengan lagaknya pingsan saat upacara bendera tengah berlangsung. Semua mata langsung tertuju pada Arial. Mereka ingat saat Elsa pura-pura pingsan dan di tolong oleh tim PMR, gadis tengil itu malah mengamuk sekaligus mengacak-acak segala isi ruang UKS.


"Arial. Tolongin, noh!" titah Dino pada Arial.


Arial berdecak sebal. Tanpa menghiraukan ucapan Dino ia tetap fokus mengikuti jalannya upacara bendera.


Namun seseorang menariknya hingga ia tertunduk di depan tubuh Elsa. "Bawa dia ke UKS! Gue nggak mau Nenek Lampir ini ngamuk lagi. Lo inget seisi UKS rusak gara-gara dia?" ujar Mala penuh penekanan.


"Kali ini harus berhasil," batin Elsa merasa kalau kemenangan sudah berpihak kepadanya.


Arial mendengus kesal. Kenapa harus dirinya? Apa manusia tampan di dunia ini lenyap sampai harus dirinya yang menanggung? Dengan berat hati ia membopong tubuh mungil Elsa dan membawanya ke UKS.


"Yes, berhasil!" sorak Elsa di dalam hati. Kemudian matanya beraksi mencuri-curi pandang untuk menatap rahang tegas Arial yang sedang membopongnya. Pahatan Tuhan yang sempurna untuk Elsa mengagumi sosok Arial. Sosok yang dingin bak es batu buatan Mang Koko di kantin.


"Udik," maki Arial dingin sebelum melemparkan tubuh Elsa ke atas ranjang UKS. Lantas segera berlalu dari hadapan kucing betina tengil itu dan melanjutkan upacaranya yang sempat tertunda karena ulah Elsa.


Sampai upacara berakhir. Bel masuk berbunyi nyaring mengisi seantero sekolah membuat murid-murid yang lain mulai hilir mudik masuk ke dalam kelasnya kemudian duduk dengan tertib di bangku single-nya masing-masing.


Tak lama Bu Tari datang bersama dengan seorang gadis yang berdiri tak jauh di sampingnya dan terlihat begitu malu-malu. Sepertinya adalah siswi baru dari sekolah lain.


Di dalam kelas 12 IPA 1 hanya terdapat sembilan belas murid yang terdiri dari sepuluh siswa dan sembilan siswi serta di setiap kelasnya hanya menerima dua puluh anak didik. Akibat kekurangan satu murid karena harus drop out, jadi kelas 12 IPA 1 yang kemungkinan besar akan mendapatkan tambahan siswa.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


Arial mengangkat kepalanya saat mendengar suara salam dari Bu Tari, wali kelas 12 IPA 1 yang memiliki paras cantik.


"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh," jawab penghuni kelas dengan kompak.


Kemudian Bu Tari mempersilahkan cewek yang akan menjadi penghuni baru kelas 12 IPA 1 untuk memperkenalkan dirinya.


"Nama saya Yunita Endryani," ucap cewek itu setengah mati menahan gugup. "Saya siswi pindahan dari SMA Swadaya Bandung," lanjutnya. Pelipisnya mulai dibasahi keringat panas-dingin.


"Cukup. Kamu cari bangku kosong," ujar Bu Tari pada Nita lalu pandangannya beralih pada seluruh anak didik di hadapannya. "Dan ingat kalian tidak boleh gaduh apalagi sampai keluar kelas di saat menunggu KBM berlangsung," peringatnya dengan sepasan netra yang berkeliling sampai ke sudut ruang. Lalu merasa ada yang kurang dalam benaknya.


Nita langsung berjalan ke arah bangku kosong tepat di samping kiri Arial. Sesampainya Nita menyapa sopan tetangga kanan-kiri bangku single-nya.


"Iya, Bu!" sahut penghuni kelas 12 IPA 1 dengan berbarengan.


"Elsa ke mana?" tanya Bu Tari menyadari sesuatu sebelum keluar.


Semua mata melirik pada Arial hingga Bu Tari ikut melemparkan tatapannya ke arah cowok yang sekarang memilih diam.

__ADS_1


"Arial," panggilnya pada Arial. "Kamu tau Elsa ke mana?" tanyanya kemudian.


Arial menghela napasnya. "Saya nggak tau, Bu," jawabnya asal.


"Bohong Bu! Tadi aja abis berduaan di UKS," celetuk Kevin.


Arial langsung menatapnya dengan pandangan yang begitu mematikan. Sahabatnya memang gila!


"Berduaan?" ulang Bu Tari heran.


Semuanya hening kecuali Kevin. "Iya Bu, berduaan. Ibu kayak nggak pernah muda aja," sahutnya.


Bu Tari menatap Arial lagi. "Benar Arial?" tanyanya memastikan.


"Nggak Bu," jawab Arial datar dan tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


"Bohong!" sergah Kevin berlagak serius.


Angga menghela pasrah melihat raut Bu Tari yang sudah sulit diartikan. "Yah, Bu. Orang gila kayak dia dipercaya," celetuknya tentu berada di pihak yang benar.


Bu Tari menyadari sesuatu bahwa Kevin adalah sosok manusia kurang satu ons. Guru berparas ayu itu geleng-geleng kepala dan menatap Kevin penuh peringatan. Yang ditatap malah nyengir lebar sambil mengangkat kedua jarinya.


"Bercanda doang, Bu," ucapnya menyesal.


"Ya sudah. Ibu tinggal. Jangan ribut selagi menunggu guru piket kalian datang," ujar Bu Tari tidak memperpanjang masalah kejahilan muridnya.


Bu Tari keluar dari ruangan tersebut. Mata-mata jahil dari beberapa siswa mulai beraksi dengan agresif. Terutama Kevin dan Angga, Si Duo Jomblo Tulen. Jomblo karena nggak mau, tepatnya para kaum hawa di sekolahnya pada nggak mau pacaran sama Si Capit Kepiting dengan alasan terlalu sempurna. Sempurna untuk segera dilupakan!


"Sssttt!" desing Kevin memajukan tubuhnya agar dapat melihat wajah Nita.


"Hai Yunita," sapa Angga ramah. Lalu menarik bangkunya agar lebih dekat lagi dengan Nita. "Nama gue Angga Pratama. Panggil aja Angga," tambahnya menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Nita," balas Nita mengulurkan tangannya dan membalas jabat tangan Angga.


"Heh, lo! Pindah dulu ke bangku gue!" perintah Kevin pada Juno yang duduk di belakang Arial.


"Ganggu aja lo!" gerutu Juno sebelum meninggalkan bangku kesayangannya.


"Nama gue Kevin Aditya. Panggil aja Kevin," susul Kevin tidak mau ketinggalan. "Panggil sayang juga boleh," godanya sedetik kemudian.


Nita hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil.


Tidak seperti dua sahabatnya, Arial bahkan tidak tertarik untuk berkenalan dengan gadis baru yang berada di sampingnya. Ia malah menyibukkan dirinya dengan pena dan lembaran kertasnya. Hal itu membuat Nita merasa aneh dengan sikap cowok yang satu ini.


Beberapa menit kemudian Pak Tora datang bersama setumpuk buku tugas para siswanya. Kedatangannya membuat Kevin segera kembali ke tempat asalnya dan Angga kembali membenahi bangkunya.


"Selamat pagi!" sapa Pak Tora.


"Bagi namanya yang tidak Bapak panggil sebaiknya segera melunasi hutang pembayaran listrik!" tegas Pak Tora kedua matanya sibuk memilah-milah buku untuk memisahkan beberapa buku yang menurutnya adalah buku terjelek di dunia, karena hanya terisi dengan nilai doremi yang dapat membutakan mata setiap orang yang melihatnya, sebab banyaknya coretan pena dengan tinta merah.


Semua murid di kelas 12 IPA 1 sukses tertawa riuh.


"Pak. Keliatan banget kalo Bapak punya banyak tagihan hutang listrik!" seru Andre.


"Andre, mau saya coret daftar hadir kamu?" balas Pak Tora mengerikan.


"Nggak, Pak. Bercanda doang, elah ... hehehe." Andre menggeleng-gelengkan kepalanya dan terkekeh sendiri.


"Bagus." Pak Tora mengangguk kemudian menyebutkan satu persatu nama siswa yang lolos dalam tugas individu bulanannya.


Dari dua puluh siswa hanya ada delapan siswa yang lolos dalam tugas yang diberikan Pak Tora kepada muridnya.


"Kok gue gak dipanggil, ya," bisik Kevin pada Arial dan sedikit memajukan tubuhnya.


"Belum lolos. Perlu remedial," jawab Arial dengan santai. Matanya tak lepas dari kegiatan mengamati nilai sempurna di buku tugasnya.


"Sok lo!" geram Kevin kembali menegakkan tubuhnya.


⚛️⚛️⚛️


Empat jam pelajaran matematika nyaris membuat otaknya meledak. Kevin sudah habis meneguk dua gelas jus jambu merah yang dipesannya.


"Gila!" gerutunya. "Nyokap gue tau, duit jajan bisa di-stop nih gue!" tambahnya heboh sendiri. Mulutnya mulai mengunyah buah jambu merah yang menjadi hiasan di bibir gelas.


"Lo sih kebegoan," sahut Angga cuek.


Sementara Arial hanya menikmati batagor santapannya di waktu istirahat kali ini.


Kevin berdecak kesal.


"Arial!" seru Elsa jelas sedang berjalan mendekat ke arah Arial.


Arial malas menyahutnya. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu makhluk macam apa yang mengganggu waktu istirahatnya.


"Arial. Lo dipanggil Bu Ambar," ujar Elsa manja. Tangannya bergerak merangkul leher Arial dari belakang.


Arial hanya diam. Anggap saja cewek resek yang ada di belakang punggungnya itu ibarat tas ransel. Setelah menyantap satu sendok makanannya yang terakhir lantas dirinya bangkit meninggalkan kedua sahabatnya dan otomatis membuat rangkulan manja Elsa terlepas begitu saja. Karena antara Arial dengan Elsa ibarat tiang listrik dengan gagang sapu lidi.


"Gue cabut dulu," pamitnya. Kedua sohibnya mengangguk dan tidak ketinggalan untuk menggoda Arial. Arial hanya diam tidak menggubrisnya sambil terus berlalu.

__ADS_1


Sedangkan Elsa terlihat mengerucutkan bibirnya karena sebal.


Bu Ambar adalah guru fisika yang mengajar kelas 12 di SMA Dewantara. Gelar pendidikannya sudah bukan lagi sarjana ataupun magister, melainkan seorang profesor dan menjadi dosen di Universitas Indonesia. Lebih ajaibnya, otaknya terlihat lebih banyak bergerigi ketika dirontgen, menandakan bahwa otaknya lah yang paling berharga dalam hidupnya. Paling berguna bagi nusa dan bangsa.


"Permisi." Arial masuk ke dalam kantor dan segera berjalan menuju meja guru milik Bu Ambar.


Bu Ambar mengangkat kepalanya. Menatap Arial yang sedang mendekat. "Oh iya. Ibu ada perlu dengan kamu," ucap Bu Ambar tangannya mengambil beberapa berkas di dalam lacinya.


"Apa Bu?" tanya Arial seperlunya.


"Bantu Ibu untuk mengajar mata pelajaran fisika di jam tambahan setiap hari rabu dan kamis setelah bel pulang sekolah," jelas Bu Ambar.


Arial mengangguk paham.


"Ibu tidak bisa menerima nilai mereka setiap selesai ujian. Kalau kamu merasa terlalu berat. Kamu bisa meminta bantuan kepada Elsa, Yunita, dan Gilang," jelas Bu Ambar. "Yunita satu kelas denganmu, kan?" lanjutnya bertanya.


"Iya, Bu."


"Kalau begitu ini materi yang harus kamu review kembalu agar bisa mengajari mereka dengan baik." Bu Ambar memberi setumpuk kertas putih bersampulkan tulisan fisika.


Arial memungutnya.


"Jadi lusa kamu bisa mengajar mereka. Nanti Ibu akan bantu kamu."


"Baik Bu."


"Ya sudah, hanya itu. Kamu boleh kembali melanjutkan istirahat."


"Terimakasih Bu."


"Iya. Terimakasih kembali."


⚛️⚛️⚛️


Arial masuk ke dalam kelasnya. Berkategori siswa teladan karena prestasi belajar di sekolahnya terkadang membuatnya sedikit lelah. Namun semua itu harus ia nikmati dengan lapang dada. Lagipula ini kan yang menjadi langkah awalnya untuk menebus semua kesalahannya empat tahun lalu?


Suasana kelasnya begitu sunyi. Kepalanya menoleh ke arah bangku Nita. Kosong. Arial memilih untuk mencari Nita yang sepertinya tipe cewek doyan nongkrong di perpustakaan. Bergelut dengan berbagai macam tulisan dan angka seperti dirinya 


Arial berjalan menyusuri koridor kelas 12 dan berakhir di koridor perpustakaan dekat laboratorium komputer. Lalu memasuki ruangan sunyi yang hanya diisi oleh beberapa orang bernyawa, salah satunya adalah Nita.


Nita sedang duduk di deretan meja panjang paling pojok. Matanya fokus membaca buku ilmiah.


"Hai," sapa Arial langsung duduk di hadapan Nita tanpa ijin.


Nita menegakkan tubuhnya dan menaruh buku yang dipegangnya di meja, membiarkan bukunya terbuka tanpa menghilangkan halaman yang sedang dibacanya.


"Sorry ganggu. Gue mau ngasih tau kalo Bu Ambar nugasin gue, lo, Gilang, dan Elsa buat jadi tutor di mata pelajaran fisika," jelas Arial tanpa basa-basi.


"Untuk kapan?" tanya Nita. Suaranya terdengar halus dan lembut. Tapi sedikit gemetar karena harus menahan rasa gugupnya.


"Hari rabu dan kamis. Setelah bel pulang," jawab Arial seperlunya.


Nita mengangguk. Rasa gugupnya kuat-kuat ia tahan.


"Lo siap, kan?" Arial menatap Nita dengan sorotnya yang serius. "Kalo nggak siap, gua bisa bilang ke Bu Ambar buat cari orang lain yang lebih siap," lanjutnya tanpa menunggu respon Nita.


"Iya." Nita mengangguk.


"Oke. Gue tunggu lusa nanti."


"Iya. Makasih infonya."


Arial mengangguk kemudian berlalu tanpa pamit pada Nita.


Nita menenangkan jantungnya yang berdebar keras. Alasannya berdiam diri di dalam perpustakaan adalah hanya untuk meminimalisir tatapan-tatapan asing dari penghuni lingkungan sekolah barunya. Terlebih saat dia sempat mendapatkan tatapan sinis dari teman sekelasnya di hari pertamanya masuk sekolah. Tapi Kevin dan Angga saat mengajaknya berbicara cukup memberikan rasa lega.


Gadis itu menatap punggung Arial yang semakin jauh dan menghilang di balik belokan. Tubuh tinggi, atletis, berwajah tampan, berpakaian rapi, berotak encer membuat Nita cukup merasa kagum dan kesan pertamanya ... cukup membuatnya gugup. Terlebih caranya ketika berbicara, Nita mengerti cowok itu tidak tertarik dengan basa-basi.


⚛️⚛️⚛️


Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Tapi Arial baru keluar dari ruang laboratorium fisika. Ia melepas jas putih yang melekat di tubuhnya lalu melenggang menuju kelas untuk mengambil tas.


"Halo Arial!" seru gadis tengil itu muncul dengan tiba-tiba dan berhasil membuat Arial nyaris terlonjak kaget.


Laki-laki itu berdecih sebal atas kelakuan ajaib Elsa.


"Pulang bareng, yuk," ajak Elsa tetap ceria. Ia merangkul lengan Arial tanpa seijin pemiliknya.


Arial tidak menggubrisnya dan menarik lengannya untuk terlepas dari rangkulan Nenek Lampir di sampingnya.


"Al. Ayo, mobil gue mogok tadi pagi," rengek Elsa kembali merangkul Arial.


Arial menarik tangannya lagi. "Sorry, nggak ada tumpangan. Lo naik ojek aja. Nih goceng," sarannya sambil memasukkan uang lima ribuannya ke dalam saku kemeja Elsa. Kemudian segera berlalu meninggalkannya sendiri di koridor yang sepi.


"ARIAL!" panggil Elsa pada Arial yang secuil pun tidak mempedulikannya. Dengan sabar ia menatap kepergian Arial dari hadapannya.


Arial adalah sosok misterius baginya. Entah apa yang membuatnya tertarik untuk memiliki sesosok makhluk seperti es batu buatan Mang Koko dengan seutuhnya. Yang pasti ia tidak akan berhenti begitu saja sebelum mendapatkannya.


Apalagi di kala banyak laki-laki yang mengantri ingin menjadi kekasihnya. Arial justru bersikap dingin, tak acuh, dan selalu berkata pedas kepadanya. Namun, dua tahun mengejar Arial membuat hatinya semakin kebal dan lebih terlatih untuk menerima segala cacian yang Arial lontarkan untuknya. Tidak hanya Arial, bahkan semua orang di seluruh dunia yang tahu bahwa dirinya sedang mengejar cinta laki-laki dingin itu dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Banyak di antara darinya yang selalu memaki dan mengecap Elsa sebagai gadis murahan, tidak tahu diri, tengil, dan masih banyak kata caci lainnya. Namun Elsa tidak pernah ambil pusing, ini hidupnya, dramanya bersama Tuhan agar mau menakdirkannya untuk hidup bersama sosok Arial.


Tbc...


__ADS_2