Psicopath Husband

Psicopath Husband
7


__ADS_3

"Bangun!" teriak Fitri. Dia menyiram air pada tubuh adiknya hingga Nana langsung membuka mata dan terbatuk-batuk.


Nana kini mengirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk menetralkan napas. Dia langsung menatap geram pada Fitri.


"Apa kau tidak punya sopan santun?!" teriak Nana.


Fitri berteriak memanggil Aidan, membuat Nana langsung terdiam. Jika suaminya sudah berbicara, maka dia tidak bisa membantah lagi.


"Cepat bereskan rumah. Buatkan aku sarapan, aku lapar." Wanita itu keluar dari kamar Nana, meninggalkan sang adik yang sudah basah kuyup.


Nana kini melihat ranjang yang ditempatinya sudah basah kuyup. Di saat keadaannya jauh dari kata pulih, bahkan wajah pun tampak pucat, belum lagi dengan sakit di seluruh badan yang masih terasa, dia tetap harus membereskan area rumah dan juga memasak untuk kakak juga suaminya.


Nana turun dari ranjang. Wanita itu langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan diri dan berharap apa yang dia rasakan hilang jika sudah terkena air.


Setengah jam berlalu, Nana keluar dari kamar mandi. dia menghabiskan waktu lebih lama karena kesulitan untuk membasahi seluruh tubuh. Tangannya pun masih sedikit kaku hingga butuh waktu yang lama untuk melewati proses menyegarkan diri.


Setelah selesai bersiap, dengan wajah pucatnya Nana keluar dari kamar. Di saat itu, ternyata kakak dan suaminya sedang asyik menonton televisi.

__ADS_1


Nana menarik napas kemudian menghembuskannya. Wanita itu berjalan melewati kedua orang tersebut.


"Buatkan aku sarapan berat. Aku tidak mau sarapan ringan!" titah Fitri sembari berteriak.


Nana tidak menoleh, dia tetap melanjutkan langkahnya membuat Fitri berkata, "Lihatlah Sayang, dia bahkan tidak menjawab ucapanku."


"Sudah biarkan saja," kata Aidan membuat Fitri menoleh.


"Kenapa kau membelanya? Kenapa kau tidak membelaku?"


"Aku sedang lelah, semalam bergadang menonton bola," jawabnya. dia menaikan kaki ke atas sofa kemudian berbaring dan menjadikan pangkuan Fitri sebagai bantalan.


"Semua sudah siap," ucap Nana tanpa melihat ke arah dua orang itu.


"Buatkan aku jus," titah Fitri.


Nana tidak menjawab. Dia merasa terlalu lelah hingga nyaris kehilangan kesadarannya. Namun, dia berusaha untuk bertahan dengan sisa tenaga yang ada sebelum mengisi perut.

__ADS_1


Fitri pikir Nana akan membuatkannya orange juice, tetapi saat Aidan akan berjalan ke arah meja makan, dia melihat Nana malah membawa piring yang berisi nasi goreng.


"Lihat, dia tidak menurut padaku. Aku memintanya membuatkan aku orange juice, tapi dia tidak mendengarkannya." Fitri mengadu.


"Nana," panggil Aidan seperti biasa. Dia sungguh malas untuk memberi pelajaran pada Nana hingga dia hanya memanggil istrinya tanpa melakukan apapun.


Nana sendiri tidak menjawab karena terlalu lesu. Setelah makan, dia berencana akan beristirahat di gudang agar tidak ada yang mengganggunya.


"Nana!" bentak Fitri ketika Nana tidak meyahut panggilannya.


Seketika, Fitri mendekatinya kemudian menyenggol piring di tangan Nana hingga jatuh dan isinya berceceran ke lantai.


Aidan kini mengusap wajah kasar. Dia sungguh malas mendengar keributan, tapi Fitri dengan sengaja melakukan itu.


Saat biasanya dalam keadaan seperti ini, Aidan akan menghukum Nana, tapi sekarang dia benar-benar enggan.


"Kenapa kau tidak mendengarkan bahwa aku ingin orange juice?!" teriak Fitri.

__ADS_1


Nana tidak menjawab. Dia memegang pinggiran wastafel saat perutnya tiba-tiba terasa keram.


"Darah!" teriak Fitri saat melihat darah mengucur di kaki Nana.


__ADS_2