
Mendengar suara pekikan Fitri, Aidan langsung berjalan ke arah dapur. Lalu benar saja, dia kini melihat darah mengucur di kaki Nana.
"Tolong." Nana berucap lirih karena tubuhnya benar-benar sudah tidak berdaya. Wanita malang itu perlahan kehilangan kesadarannya.
Aidan bergerak cepat menangkap tubuh Nana. "Fitri, ayo cepat bawa dia ke rumah sakit," ucap Aidan. Dia dengan cepat membopong tubuh istrinya lalu berlari ke luar.
***
Aidan terus melihat ke dalam ruang rawat Nana melalui jendela. Entah kenapa, saat ini dia tiba-tiba merasa begitu khawatir. Dia juga tak mengerti mengapa bisa merasakan perasaan semacam ini.
"Aidan, duduk," ucap Fitri.
Aidan yang tersadar, menoleh lalu mengangguk. Walaupun sudah duduk, pria itu tak melepaskan pandangan dari ruang rawat istrinya.
Lalu tak lama kemudian, dokter pun keluar membuat Aidan secepat kilat bangkit. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya tampak tak sabar.
__ADS_1
"Pasien hampir saja mengalami keguguran dan sangat beruntung bahwa janinnya masih bisa diselamatkan. Tapi sekarang, kondisi fisik istri Anda benar-benar lemah, bahkan kami menemukan beberapa memar di tubuhnya. Jadi, mulai saat ini dia harus bedrest total dan tidak melakukan apapun. Jika tidak, mungkin janinnya tidak akan bisa bertahan."
Begitu mendengar kabar tersebut, Aidan merasa campur aduk. Lelaki itu memang membenci Nana, tapi jika Nana hamil, tentu saja dia tidak akan tega apalagi anak yang dikandung Nana adalah darah dagingnya sendiri.
"Baik, Dok, terima kasih," jawab Aidan.
Setelah dokter pergi, Fitri langsung menghampiri kekasihnya. "Aidan, Nana hamil?" tanya Fitri memastikan karena tadi dia mendengar ucapan dokter dengan samar.
Aidan mengangguk lesu sedangkan Fitri mulai dilanda rasa khawatir. Bagaimana jika Aidan tidak lagi menuruti perintahnya? Bagaimana jika Aidan pun mendadak perhatian karena Nana sedang mengandung?
Fitri menggoyangkan tubuh Aidan yang tampak melamun, membuat pria itu kini menatapnya penuh tanya. "Suruh dia gugurkan kadungannya. Dia tidak boleh hamil anakmu!" ucapnya dengan bentakan.
Aiden diam, dia tidak terima perintah Fitri untuk menyuruh Nana menggugurkan kandungannya. Bagaimanapun, Aidan tidak mau kehilangan anaknya.
"Sudah cukup, aku sudah pusing dan janganlah merecokiku!" tegas Aidan. Dia bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Aidan menoleh pada Fitri. "Sekarang kau pulanglah dan jangan buat Nana tertekan,' ucapnya.
Secara tak terduga, sikap Aidan langsung berubah seratus delapan derajat sejak tahu Nana mengandung. Sungguh, Fitri benar-benar marah dan tidak terima Aidan menyuruhnya pulang.
Saat Aidan berbalik, Fitri tiba-tiba menyeringai. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Nana mengandung anaknya dengan Aidan.
Aidan kini masuk ke dalam. Dia menatap wajah Nana dengan hati yang terasa nyeri melihat tubuh istrinya yang begitu kurus. Wajahnya pun terlihat pucat, hingga urat-urat di kulit wanita itu tampak jelas.
Aidan menggaruk tengkuk yang tidak gatal karena menyadari bahwa semua ini adalah perbuatannya. Aidan tidak berpikir apa yang akan dia lakukan ke depannya, karena terpenting sekarang dia harus membuat Nana sehat dan melahirkan anaknya.
Aidan menarik kursi, kemudian mendudukkan dirinya di sebelah brankar.
Setelah jam berlalu, Nana membuka mata. Dia menatap langit-langit sembari mencoba mengingat apa yang telah terjadi, sampai akhirnya dia kembali terbayang akan darah yang mengalir di kakinya.
"Tunggu, apa aku ...?"
__ADS_1