Rahasia Di Balik Jiwa Yang Tertukar

Rahasia Di Balik Jiwa Yang Tertukar
Episode 6


__ADS_3

Aku meninggalkan Liam, dan berjalan dengan banyak pertanyaan. Kenapa Liam menyebutkan nama Julia. Kenapa Julia lebih baik dibandingkan denganku. Sejauh apa hubungan Liam dan Julia yang tidak aku ketahui. Apa yang disembunyikan oleh Julia dariku. Aku pikir Julia sudah sangat terbuka padaku.


“Apa kau kembali dimarahi Liam” tanya Dion.


“Kenapa ?”


“Wajahmu sangat muram dan… sangat sulit untuk dijelaskan”


“Kenapa Dion?”


“Mana aku tahu, kenapa wajahmu seperti itu”


“Kau benar Dion, aku memang tidak tau apa-apa”


“Ada


denganmu Reyna, dari tadi kau melantur, apa ada masalah yang tidak bisa kau selesaikan?”


“Tidak ada Dion, ”


“Apa kau senggang besok?, bagaimana jika kita berjalan-jalan untuk sedikit menenangkan pikiranmu” ajak Dion padaku. Aku mengiyakan ajakan Dion, setidaknya berjalan-jalan sedikit membuat aku lupa akan masalah ini sementara waktu.


“Baiklah, besok pagi aku akan menjemputmu”


“menjemputku?, malam ini kau mau pergi ke mana Dion?”


“Aku ada keperluan yang tidak bisa aku tinggalkan malam ini, jadi hari ini aku tidak tidur di rumahmu. Lagi pula malam ini kau tidak sendiri di rumah, ada Liam yang menemanimu”


“Dari mana kau tau Liam akan ke rumah malam ini, apa Liam sendiri yang memberitahumu?” Dion hanya mengangkat bahu merespon pertanyaanku.


“Bisakah kau mengantarkan aku ke rumah sekarang Dion, aku malas meminta Liam untuk mengantarkanku”


“Baiklah, ayo kita pergi”

__ADS_1


Di dalam mobil, Dion tidak berhenti berbicara akan rencananya besok. Dia menceritakan segala hal yang aku rasa tidak perlu. Misalnya saja dia akan mencari semua letak toilet yang ada di kota ini, jika nanti tiba-tiba aku ingin pergi ke toilet. Selama perjalanan pulang ke rumah, aku tidak melihat sifat Dion yang menyebalkan. Dion terus melontarkan guyonan yang sangat cringe, anehnya aku merasa terhibur dengan guyonan Dion.


Sudah lama aku tidak tertawa selepas ini. Selama perjalanan aku hanya tertawa mendengar Liam berbicara. Tidak terasa akhirnya kami telah sampai di depan gerbang rumah. Aku melihat Dion tersenyum memperhatikanku.Tapi sungguh, jika saja Dion selalu tersenyum seperti sekarang aku yakin banyak wanita yang tertarik padanya, bahkan aku pun akan tertarik pada Dion.


“Apa suara tawaku mengganggu mu Dion?” tanyaku canggung pada Dion.


“Tidak Reyna, kau cantik saat tertawa lepas seperti ini”


“Aku memang cantik Dion, kau saja yang tidak sadar akan hal itu” tawaku lagi untuk mencairkan suasana.


“Aku turun dulu, terima kasih telah mengantarkan aku pulang”


“Sampai jumpa besok Reyna, akan aku pastikan besok adalah hari yang paling berkesan, sehingga sangat sulit untuk melupakannya”


Dion melajukan mobil meninggalkan aku sendiri. Aku mengelus dadaku yang berdegup dengan kencang. Ini adalah kali kedua aku merasakan hal seperti ini. Bukan itu saja, hati ku seakan tidak rela Dion pergi untuk meninggalkanku. Aku sudah mulai nyaman berada dekat Dion.


Aku memasuki rumah dengan senyum dan perasaan yang sangat bahagia. Aku bisa melupakan masalah yang telah terjadi di lokasi syuting. Senyumku memudar ketika aku melihat Liam duduk di ruang tamu dengan sebuah koper. Aku terus berjalan dan tidak menghiraukan keberadaan Liam, Liam mencengkram pergelangan tanganku dengan sangat erat.


“Maaf Reyna, tadi aku berbicara sembarangan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Aku akui, aku membuat kesalahan”


“ya sudah aku maafkan dan satu lagi sepertinya kau tidak perlu untuk kembali”


“Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu Reyna, walaupun kau marah besar padaku aku akan tetap tinggal di sini. Bukankah di sini masih banyak kamar kosong?. Aku akan menggunakan kamar di depan kamar kita”


“kamar itu sudah menjadi miliki Dion, Dion menempati kamar itu sejak pertama kali pindah ke sini. Aku tidak bisa memindahkannya begitu saja”


“Aku akan menggunakan kamar yang disebelahnya”


“Terserah” Aku meninggalkan Liam dan segera masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar aku sibuk mencari outfit yang akan aku gunakan besok. Aku sungguh tidak sabar dengan semua rencana yang telah Dion susun. Aku rasa besok adalah hari yang paling bahagia untukku. Tidak terasa aku menghabiskan waktu sampai malam hari. Sepertinya aku terlalu asik memikirkan kebahagiaan esok hari.


“Aku harap kau dapat tidur nyenyak malam ini Reyna. Kau harus mempersiapkan diri karena besok akan banyak kejutan mendatangimu” aku membaca pesan dari Dion. Kenapa aku sangat senang menerima pesan dari Dion.

__ADS_1


Tok, tok, tok


“Reyna ada kiriman bunga untukmu” aku segera membuka pintu kamar dan melihat Liam membawa titipan bunga untukku.


“Aku pikir ini dari penggemarmu, mengapa dia mengirimkan bunga krisan merah padamu”


“Terima kasih Liam” aku tidak menggubris Liam, aku mengambil titipan bunga krisan merah. Siapa yang mengirimkan bunga krisan merah di jam segini. Dari mana pengirimnya tahu jika aku menyukai bunga krisan merah.


“Aku harap kau menyukai bunga yang aku kirim Reyna, selamat tidur” aku tersenyum melihat pesan dari Dion. Aku merasa seperti kembali menjadi anak remaja yang sedang mengalami masa pubertas. Aku juga bingung mengapa aku sangat kekanak-kanakan.


Aku merangkai bunga yang diberikan Dion padaku dalam sebuah vas kaca. Aku meletakkan bunga itu di atas meja sebelah tempat tidurku. Aku memperhatikan setiap helaian daun dan kelopak bunga yang telah aku rangkai.


Tok, tok, tok,


“Reyna apa kau tidak lapar, aku sudah menyiapkan makan malam”


“Iya, aku akan menyusulmu, kau makan duluan saja”


Aku lupa jika hari ini aku belum makan apa-apa. Aku sangat sibuk dengan kegiatan terlebih dengan pikiranku. Pantas saja hari ini tubuhku sangat lemas. Sebelum makan, aku membersihkan tubuh terlebih dahulu. Aku berendam di bath up agar sedikit rileks. Seraya berendam aku memainkan hanphone dengan mendengarkan lagu menggunakan headset.


Aku terkejut ketika tiba-tiba Liam masuk ke dalam kamar mandi. Liam menepuk-nepuk pipi untuk membangunkanku. Aku berteriak karena takut Liam berbuat yang macam-macam. Liam menenangkanku dengan memelukku erat. Aku terus memberontak agar Liam segera melepaskan pelukannya.


“Kau yakin Reyna, jika aku melepaskanmu sekarang aku bisa melihat selurh tubuhmu. Ingat kau sekarang tidak mengenakan apa-apa” aku terdiam, aku lupa jika aku sedang berendam.


“Maaf aku lancang masuk ke dalam Reyna, sedari tadi aku memanggil, kau tidak menyahut. Aku juga sudah menggedor-gedor pintu kamar, karena khawatir aku mendobrak masuk ke dalam” jelas Liam padaku.


“Lain kali jika kau berendam, jangan gunakan ini” Liam melepaskan headset yang masih terpasang di telingaku.


“Sekarang kau kenakan pakaianmu, aku tunggu di meja makan” Liam melepaskan pelukannya dan segera pergi keluar.


Ketika Liam berdiri, aku spontan menutup badanku dengan kedua tangan. Sebelum pergi Liam tersenyum padaku. Aku yang bingung, akhirnya mengerti, aku masih menggunakan pakaian dalam. Aku lupa jika berendam, aku tidak pernah melepas semua pakaian, aku akan tetap menggunakan short dan tank top. Rasa kesal dan malu bercampur menjadi satu. Aku seperti orang bodo jika sudah berhadapan dengan Liam.


“Liaaaaaaam”

__ADS_1


__ADS_2